Ratih dan Bagas memgucapkan terimakasih dan mereka berempat makan dengan lahap.
Selsai makan Sekar membereskan bekas makanan dan menyusul Ratih dan Bagas yang ngobrol di ruang tamu.
Kacang rebus dan es buah dibawa Sekar ke depan.
" Kenyang sudah aku ini, kayaknya perutku sudah ga muat lagi"
"Masa sih, makanmu loh sedikit, tih"
Sekar meletakkan kacang dan es diatas meja.
"Diet aku biar ga gemuk, nanti kalau gemuk malah di ejek lawong kurus begini aja masih ditolak" Ratih melirik Bagas yang sedang menyomot kacang.
Bagas tak menggubris perkataan Ratih, dia asik memakan kacang rebus dan meminum es buah. Sesekali dia melirik Sekar, ingin mengajak bicara tapi ragu.
****
Bayu Aji sedang duduk sambil melihat Sekar di dalam cermin saat Apsarini ibunda Bayu Aji masuk menemui anaknya.
"Kanjeng ibu" Bayu berdiri menyambut ibunya.
Apsarini duduk di kursi diikuti dua dayang yang berdiri disampingnya yang selalu bersamanya.
"Le, ibu mendengar hubunganmu dengan gadis desa itu"
"Sudah kamu fikirkan baik dan buruknya, le?" Apsarini menatap putranya. Rasa khawatir terpancar dari wajahnya. Dia tahu bahwa dia bukan ibu kandung Bayu Aji tapi dia sudah menganggap Bayu sebagai anaknya sendiri.
Bayu adalah putra manusia, ibunya bayu manusia seperti Sekar dan ayahnya adalah Wikradarma makhluk jin. Oleh karna itu Bayu setengah jin setengah manusia. Jika jin yang sesungguhnya tidak bisa menampakkan diri dihadapan manusia pada umumnya dengan kata lain hanya manusia yang memiliki indra ke enam yang dapat melihatnya, maka Bayu berbeda. Dia dapat menampakkan diri pada manusia kapanpun dan dimanapun. Jika dia ingin dia bisa hidup dialam manusia selayaknya manusia dan bisa hidup di alam jin selayaknya jin.
Dia memiliki umur panjang seperti jin dan memiliki kemampuan seperti ayahnya. Tapi anak jin dan manusia biasanya lahir dalam perwujudan berbeda beda. Ketika lahir Bayu berwujud ular naga.
Dia dapat berubah menjadi jin jika dia bisa bertapa ratusan tahun. Setelah pertapaannya sempurna maka dia menjadi makhluk di dua alam tapi jika gagal maka dia akan menjadi binatang biasa.
"Ibu, Bayu dan romo berbeda, Bayu bisa melindungi Sekar dan bisa mendampinginya di alam sana" Bayu tahu ibundanya menghawatirkan dia.
Konon berdasar cerita, ibu kandungnya dulu meninggal karna di celakakan oleh jin suruhan kakeknya karena kakeknya tidak mau anak keturunan jin dan manusia lahir. Dan romonya waktu itu belum memiliki kekuatan sehingga dia kalah dan tak bisa melindungi wanita yang dicintainya.
Sehingga kematian istrinya membuat Wikradarma terpuruk dan frustasi, saat itu Apsarini menjaga Bayu Aji kecil dan Wikra darma bertapa untuk menambah kekuatan dan menakhlukkan penghuni gunung Arjuna.
Apsarini memandang putranya, dia tahu bahwa membujuk Bayu akan sia sia. Anak itu memiliki sifat yang sama dengan Wikradarma suaminya yaitu jika ingin memiliki sesuatu maka itu harus terwujud.
Apsarini menghela nafas berat, " Ibu hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu, Bayu, suatu saat jika membutuhkan bantuan ibu maka mintalah. Selama ibu mampu ibu akan membantumu, le"
Apsarini berdiri dan meninggalkan Bayu sendiri.
Bayu berjalan menuju tempat tidurnya. Dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Angannya menerawang mengingat saat pertama kali dia bertemu Sekar.
Seorang anak kecil dengan rambut ekor kuda sedang susah payah mengangkat sebatang kayu tumbang yang menindis ular kecil. Wajahnya berbinar senang saat melihat ular itu terlepas dan pergi.
"Kenapa kamu lepas ular itu? Dia bisa mematukmu jika kamu tak beruntung" seorang pria dewasa mengagetkan anak kecil itu.
Bayu yang melihat tingkah Sekar kecil tak tahan untuk tak megurnya saat dia melepaskan ular kobra itu.
Anak kecil itu memandangi Bayu yang tampak asing baginya dan pakaian yang digunakan oleh orang itu sangat lucu menurutnya.
"Om tidak lihat? Ular itu terluka dan terhimpit kayu, jika dibiarkan dia akan mati"
"Tapi jika kamu dipatuknya maka kamu yang akan mati"
"Jika aku dipatuknya dan mati maka itu sudah takdirku" anak itu menatap Bayu sengit.
Saat Bayu bertemu tatap dengan anak kecil itu dia terpesona dengan mata birunya.
"Apa kamu siluman?" Bayu heran dengan iris mata anak kecil itu.
"Siluman?"
Sekar tak mengerti apa yang diucapkan oleh orang dewasa itu.
"Om, kalau kamu ga punya kerjaan pergilah dari sini jangan ganggu anak kecil kaya saya, sana pergi" usirnya dengan mengacungkan kayu kecil yang digunakan buat menolong ular tadi.
Melihat pria dewasa itu tidak bergeming, ada rasa takut di hatinya. Sekar kecil berbalik dan berlari sambil berteriak memanggil mbok Darmi.
Sejak saat itu diam diam Bayu mengawasi Sekar. Bayu penasaran dengan mata anak itu apa dia siluman atau makhluk seperti dirinya yang setengah manusia dan jin.
Tapi ternyata Sekar hanya manusia biasa, dia tumbuh normal dan menjadi gadis remaja yang sangat cantik yang mampu membuat Bayu Aji jatuh hati.
Semula dia mengawasi hanya untuk mengetahu identitas anak itu dan saat dia keladang saja, setelah hatinya terpaut dia menandai gadis remaja itu sehingga dia bisa melihat Sekar kapanpun dan dimanapun lewat cermin dan mengetahui jika dia dalam bahaya.
Dan gadis itu tidak tau jika dia sedang diawasi , dia hanya merasa beruntung ketika dia jatuh dan tidak merasa sakit atau tiba tiba ada yang menolong saat dia ada yang menggangu. Dia menganggap bahwa bapak dan ibunya di alam sana yang menjaganya.
Bayu melihat cermin yang tidak jauh darinya, disana Sekar sedang bersenda gurau dengan seorang gadis. Dari awal Bayu melihat gadis itu dia tak suka. Dia menganggap bahwa Ratih bukan orang baik.
"Pangeran aku memerlukan bantuanmu" sebuah suara memanggilnya.
"Ki Prana" batin Bayu. "Kinar" panggilnya, seorang pengawal mincul di hadapan Bayu "wonten dawuh,pangeran?" (Ada apa)
"Jaga dia selama aku pergi"
******
Disebuah sendang di kaki gunung semeru ki Prana bertarung melawan seorang putri. Perkelahian sepertinya tak seimbang. Ki Prana duduk bersila, mulutnya komat kamit membaca sesuatu.
Tiba tiba Bayu Aji muncul di samping ki Prana, "Pangeran" ki Prana membungkuk memberi hormat.
"Kenapa ki, kamu memanggilku?"
"Putri Kemuning sudah banyak memakan korban pangeran, karena tumbal pesugihannya membuat jiwa jiwa yang seharusnya pergi menjadi tawananya".
"Hahahahaha...rupanya kau meminta bantuan pada pangeran dari gunung kelud, Prana? Kau kira aku takut" seuara seorang wanita membuat Bayu menoleh dan melihat siapa sosok yang ada dihadapannya.
"Rupanya putri krmuning, putri raja Prakaswara" gumam Bayu. Sebenarnya Bayu sudah lama mendengar tentang pesugihan ular hijau di sendang telaga sari tapi dia tidak ingin mengusiknya, berhubung sekarang ada yang meminta bantuan dia mau tidak mau harus turun tangan dan membantu.
Sebuah sabetan selendang kuning meluncur kearah Bayu, dengan sigap Bayu menghindar.
"Putri, lepaskan jiwa jiwa tak berdosa itu dan berhentilah membantu manusia manusia serakah untuk menumpuk dosa maka kami akan pergi"
"Banyak omong kau Bayu, ayo keluarkan kemampuanmu yang kata orang tidak tertandingi itu. Aku ingin mencobanya"
Cahaya kuning meluncur ke atas dan menukik ke arah Bayu, Bayu bergerak kekanan dan cahaya putih keluar dari tangan kanannya beradu dengan cahaya kuning sehingga mengeluarkan bunyi menggelegar.
Putri kemuning terhuyung, "kurang ajar" tangannya bergerak ke bibirnya dan menghapus darah yang mengalir dari sudut mulutnya.
"Rang Rang, Reng Reng, keluar"
Dua sosok makhluk besar hitam muncul bersamaan dan memyerang Bayu. Dengan sigap Bayu menyambut pukulan itu dan mengenai kepala salah satu gendrowo. "Biar saya yang melawan salah satunya pangeran" ki Prana bangkit dan maju melawan salah satu gendruwo.