Ga terasa waktu sudah berlalu satu bulan, rumah mbok Darmi sudah selsai sepenuhnya. Dapurpun sudah dibongkar dan di rombak menjadi lebih bagus. Bayu datang kerumah mbok Darmi untuk kedua kali , untuk silahturahmi dan menentukan tanggal pernikahan. Rencana pernikahan diadakan dua bulan lagi.
Desas desus kalau Sekar dijadikan istri kedua beredar di desa Sumber waras, entah siapa yang memulai. Mungkin itu terjadi karena saat lamaran yang datang cuma Bayu dan Kinar tanpa di dampingi orang tua Bayu.
Mbok Darmi sedikit kecewa tapi berhubung Sekar sudah suka dia hanya bisa menerima.
"Perasaan mbok kok ga enak tentang Bayu ya nduk? Kamu sudah pernah bertemu orang tuanya kah?"
Sekar gugup "Emang kenapa toh mbok kalau misal belum ketemu orang tuanya? Toh mas Bayu masih bujang ga usah didenger omongan orang orang, kan kemaren mas Bayu bilang kalau bapak ibunya sibuk jadi ga bisa datang, yang jelas Sekar yang pertama mbok"
"Kamu tau dari mana? Lawong kamu belum pernah di bawa kerumahnya, keluarganya kaya apa atau dia punya saudara apa enggak. Siapa tahu dia sudah punya istri sama anak, wong ganteng kaya gitu kok mau sama cewe kampung toh"
"Mbok, mas bayu itu masih bujang. Sekar yakin kok kalau mas Bayu ga bohongi Sekar, tiap malam..." Sekar berhenti ngomong, dia kesalbdan langsung masuk ke kamar. Bunyi brak terdengar keras di depan.
Mbok Darmi sedikit terkejut. Perempuan tua itu cuma bisa ngelus d**a "susah lek wes kadung tresno iki"( susah kalau sudah terlanjur cinta) gumam mbok Darmi sambil lanjut mitilin jagung.
Sekar kesal sama gosip tentang dirinya sampai si mbok yang biasanya percaya sudah mulai curiga sama Bayu. Hampir tadi dia keceplosan kalau tiap malam Bayu mengunjunginya.
Sebenarnya dia pengen cerita kalau Bayu itu bukan seprti Sekar atau mbok Darmi tapi dia manusia setengah jin yang tinggalnya di atas gunung tapi dia takut si mbok syok dan malah menentang pernikahannya.
Malam Sekar bermimpi bertemu kakek kakek tua berjanggut panjang, dia memakai sorban dan duduk di bebatuan.
"Kakek siapa?" Tanya Sekar saat melihat kakek tua itu memanggilnya.
"Sini lenggah di samping buyut" kata kakek itu sambil menepuk batu disampingnya.
"Aku kakek buyutmu dari keturunan ibu, nduk"
Sekar memang ga tahu keluarga ibunya seperti apa, yang dia tahu dari cerita mbok Darmi kalau ibu sama bapaknya bertemu dikota, ibunya di bawa ke Sumber waras dan menikah disini saat Sekar masih dalam kandungan, hanya itu yang dia dengar tak lebih.
Sekar beringsut dan duduk di samping kakek tua itu.
"Ibumu dulu salah jalan, menuruti nafsu sesaat yang membuat dia menderita sampai akhir hayat dan dikehidupan setelahnya pun dia harus menderita. Hidup itu bukan tentang dunia aja,nduk. Ada kehidupan lain setelahnya"
"Sekar ga ngerti maksud dari kakek"
Kakek tua itu memandang Sekar sejenak kemudian memandang lurus kedepan.
"Saya ini buyut dari buyutnya bapaknya Wulan ibumu, memang buyut belum pernah bertemu langsung sama Wulan tapi buyut tahu karena Wulan keturunan buyut. Dulu ibumu mengandungmu karena cinta sesaat dan menikah dengan bapakmu yang bukan ayahmu, nduk. Sepeninggal bapakmu Wulan malah bunuh diri, itu dosa yang tak terampuni nduk. Melawan takdir dengan memutus kehidupan yang belum di takdirkan oleh gusti Allah"
Sekar mulai menangis mengingat Wulan ibunya.
"Sekarang kesalahan ibumu jangan kamu ulang nduk, aku tahu kamu akan menikah dengan jin dari gunung itu. Manusia dan jin itu hanya bisa hidup berdampingan tanpa mengganggu satu sama lain, kalau untuk pernikahan itu ga boleh nduk. Hidup itu pilihan, kita bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Sebelum itu terlanjur, Sekar bisa menolaknya. Nduk ingat, saat jin dan manusia menikah maka dia tak bisa bahagia dan buyut takut kalau akhirnya kamu sengsara"
"Tapi Sekar menyukainya, kek" Sekar menyeka airmatanya sambil memandang kakek disebelahnya.
"Itu hanya nafsu sesaat nduk"
"Nanti sekar pertimbangkan lagi kek, terimakasih nasehatnya"
"Datanglah temui kakekmu di kampung halam ibumu, dia bisa membatumu. Mintalah ruqyah biar kamu dijauhkan dari jin. Bilang saja kalau kamu putrinya Wulan dan kamu disuruh buyut Ahmad"
"Terimakasih kek"
Sekar tiba tiba terbangun dari tidurnya, keringat dingin membasahi tubuhnya. Ada sisa sisa air mata dimatanya saat dia mengucek matanya.
Sekar melirik jam dinding ternyata masih jam tiga dini hari. Sekar keluar dan mencari minum di dapur. Dia menyalakan lampu saat bertemu sosok Bayu yang duduk di dapur.
"Mas Bayu?" Sekar kaget.
"Aku tak bisa menembus alam mimpimu jadi aku menunggu disini"
"Kalau mbok bangun kaya mana?mas ini ngagetin aja"
Lelaki tampan dihadapannya itu tersenyum.
"Ga bakal bangun sampe pagi, percaya sama mas"
Sekar duduk di depan Bayu, dia termenung memikirkan apa yag dibilang kakek buyutnya di dalam mimpi, dia pengen cerita ke Bayu tapi di tahannya.
"Ada yang kamu fikirkan, Sekar?" Bayu menggeser tempat duduk di sebelah Sekar. Di tariknya kepala gadis itu ke dalam pelukannya. Sekar sedikit berontak tapi setelahnya hanya nurut.
"Ga papa"
"Apa ada yang menemuimu dan mengatakan sesuatu padamu?"
"Ga ada, ga perlu difikirkan"
"Aku kangen sama kamu, sepertinya ada yang menghalangi biar aku ga bisa ketemu kamu dan ga bisa liat kamu dari pagi"
"Baguslah, lagian aku ga suka kalau diawasin terus" jawab Sekar ketus
Bayu menatap Sekar tak suka.
"Jangan membuat kesal, sebentar lagi kita menikah"
"Apa perlu kita fikirkan ulang tentang pernikahan kita, mas?"
"Kamu ngomong apa sih? Emang apa yang perlu difikirkan lagi. Kita sama sama suka, atau kamu sudah tak suka lagi sama mas jadi kamu berubah fikiran?"
"Enggak, dihati Sekar cuma ada mas Bayu tapi..."
"Tapi apa?" Bayu menyela
"Mas, kita berbeda. Kamu dan aku beda dunia"
"Aku bisa jadi manusia Sekar dan selamanya bisa ada disampingmu. Nanti setelah mas menikah sama kamu, mas bakal tinggal disini sampai kita menua"
Sekar tak mau berdebat, dia diam. Hatinya merasa gelisah memikirkan tentang perkataan kakek buyutnya, apa benar jika mereka bersatu maka tidak akan bahagia? Bukankan manusia dan jin sama sama ciptaannya?
Fajar sudah mulai menyinsing, Sekar sudah selsai memasak saat mbok Darmi bangun.
"Wes matengan, nduk? Kok ga bangunin mbok toh?"
"Sekar terbangun subuh mbok dan ga bisa tidur lagi makanya Sekar masak dari pada bengong"
Bayu pergi saat matahari belum terbit, Sekar ga bisa tidur lagi jadi dia memasak untuk dia dan mbok Darmi. Sekarang mbok Darmi Sekar larang keladang, sudah tua jadi ladang dan sawah di garap sama mas Iwan nanti pas panen baru bagi hasil.
Rumput buat si ireng beli ke mas Iwan, si ireng sekarang ada temannya Sekar kasih nama putih karena bulu kambing itu berwarna putih "Biar ga kesepian ireng mbok" jawaban Sekar pas ditanya kenapa beli kambing lagi.