Pernikahan Sekar kurang beberapa hari lagi, dirumah Sekar sudah mulai banyak orang yang membantu untuk hajatan, keluarga suami mbok Darmi dari desa sebelah juga datang membantu.
Sekar asik menyiram bunga di halaman
depan saat ada sepeda motor beat merah berhenti tepat disebelahnya.
"Ratih..." Sekar melonjak kegirangan.
"Ciye calon manten sumringah wajahnya hahaha...."
"Ah kamu ini bisa aja, kapan kamu datang? Denger denger pas wisuda mas Bagas kamu dampingi ya? Wahh akhirnya gayung bersambut" Sekar menggelitik sahabat karibnya itu, tawa mereka meledak bersamaan.
"Aku tunangan sama mas Bagas" kata Ratih sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Wahhhh turut bahagia aku, ayo masuk ngobrol di dalam, di kamar aja... diluar soalnya rame"
"Assiyap..."
Mereka berdua masuk kamar dan melanjutkan tukar cerita karena mereka jarang bertemu.
"Sekar, besok kamu ikut aku ke salon ya. Mau nikah itu harus kesalon dulu perawatan"
"Ga ah, biar di rawat juga ya gini gini aja to, tih. Ga bakal berubah jadi luna maya"
"Ga... pokoknya kamu harus ikut, duit suami itu harus dihabisin jangan disimpen simpen, toh calon suamimu berduit kan? Eh suamimu itu orang mana sih? kamu ketemunya dimana?"
"Hahaha.... ga mau bocorin ah nanti kamu samperin"
"Ih enggak lah... aku sudah ada mas Bagas" Ratih mencibir.
"Iya iya.... yang cintanya sudah berbalas"
Hari menjelang sore Ratih baru pulang, gadis manis berambut panjang itu berjanji menjemput Sekar esok hari jam sebelas.
Malam sudah larut, hanya tinggal mbok Ros kakak dari suami mbok Darmi dari desa sebelah yang tinggal. Tetangga dekat yang membantu untuk persiapan acara nikahan sudah pada pulang. Sumber Waras memang kampung yang masih menjunjung tinggi gotong royong.
Biasa kalau ada hajatan, para ibu ibu dengan sukarela datang membantu tanpa di bayar. Mereka datang satu minggu sebelumnya paling lambat bahkan ada yang sebulan sebelum hajatan mereka sudah datang rewang kalau yang punya hajat orang terpandang.
Berhubung nikahan Sekar tidak ingin diramaikan cukup akad saja dan selamatan kecil kecilan jadi orang orang yang datang membantu datang tiga hari sebelum acara.
Sekar tak ingin nikahannya meriah karena kasian mbok Darmi yang sudah tua lagian dia ga punya banyak sanak saudara jadi acara mewah tak perlu.
Sekar baru akan pergi tidur saat ada suara lolongan anjing serasa menyayat hati. Ireng dan putih di kandang juga mengembik. Perasaan Sekar jadi ga enak. Tiba tiba di atas genteng ada suara "duarrr" seperti batu besar yang dilemparkan di atas rumah. Sekar melonjak dan lari keluar kamar.
Mbok Ros berdiri di ruang tamu disusul mbok Darmi yang terlihat kaget keluar dari kamar.
"Koyoe enek seng ra seneng nang keluargamu, Darmi" (sepertinya ada yang tak suka sama keluarhamu, Darmi)
Mbok Ros ini termasuk orang pintar di kampung sebelah dia kakak pertama dari suami mbok Darmi, hanya tinggal dia sendiri keluarga yang hidup.
"Enek enek wae sampean yu, ra ndue musuh aku" (ada ada saja kamu kak, ga punya musuh saya)
Tiba tiba bau melati tercium, suara lolongan anjing bersahutan diluar.
Sekar merinding, dia merapatkan tubuhnya ke mbok Darmi.
"Wes awakmu nang kini wae tutup pintune, ojo buka pintu makio krungu suara macem macem. Nduk tulung jumukne uyah! Aku arep metu nengok sopo seng mertamu" (sudah kamu disini saja tutup pintunya, jangan buka pintu walaupun terdengar suara aneh aneh. Nak tolong ambilkan garam! Aku mau keluar melihat siapa yang bertamu)
Sekar segera kedapur dan mengambil garam dan menyerahkan ke mbok Ros.
"Ati ati yu" (hati hati mbak)
"Iyo"
Wanita yang umurnya sembilan puluh tahun lebih tapi terlihat masih bugar itu keluar rumah dan menutupnya kembali.
Didalam rumah Sekar dan mbok Darmi duduk berpegangan tangan sambil terlihat cemas.
Diluar mbok Ros melihat ada wanita berambut putih lusuh, kedua payudaranya panjang sampai di lutut, wajahnya buruk penuh kpreng duduk di dahan pohon rambutan depan rumah mbok Darmi. Bau busuk bangkai tercium di hidung mbok Ros.
"Sopo kowe?" Lantang suara mbok Ros.
"Xixixixixi...aku mencium bau wangi calon manten lelembut, aku mung arep kenalan (aku cuma mau kenalan)"
"Ra enek urusan mantene putuku karo wewe gombel, ngalio ojo mrene maneh!" (Ga ada urusan pernikahan cucuku sama wewegombel, pergi jangan kesini lagi)
Mbok Ros mengambil segenggam garam dan melemparkannya ke wewe gombel dan ternyata tak mengenainya.
"Xixixixi" suara ketawa wewe gombel menggema.
Mbok Ros melempar segenggam garam lagi dan tepat terkena badannya. Lolongan kepanasan keluar dari mulut wewegombel. Dengan marah dia hendak menyerang mbok Ros, tiba tiba Sekelebat bayangan mendekat ke arah wewegombel dan memukulnya, seketika wewegombel itu menjerit kesakitan dan menghilang.
Bayangan yang membantu mbok Ros itu pergi tanpa jejak. Mbok Ros termenung sejenak. Siapa yang membantunya mengalahkan makhluk busuk itu?. Mbok Rose tak banyak berfikir dia berbalik dan mengitari rumah mbok Darmi sambil menaburkan garam yang sudah dimantrainya.
Mbok Ros masuk rumah yang disambut oleh Sekar. "Ada apa mbah? Kok saya dengar ada suara cekikikan?"
"Wes ra usah dipikir, saiki podo turu. Sesok sek akeh kerjaan" (sudah ga usah difikir, sekarang semua tidur. Besok masih banyak kerjaan)
Sekar, mbok Darmi dan mbok Ros masuk dalam kamar masing masing. Didalam kamar mbok Rose bersila, didepannya ada sebuah mangkuk yang terbuat dari batu dan nerukuran kecil. Dia membakar kemenyan didalamnya dan mulutnya komat kamit membaca mantra.
Alis mbok Ros melengkung, sopo seng wani ganggu putuku? Makhluk elek kui dikirim teko kulon, tapi sopo?( siapa yang berani mengganggu cucuku? makhluk jelek itu dikirim dari barat, tapi siapa?). Mata bathin mbok Ros tidak mampu menembus sosok yang mengirim wewegombel itu.
Sekar mondar mandir didalam kamar, tadi dia memdengar jelas suara perempuan cekikikan diluar. Tadi dia penasaran pengen mengintip tapi mbok Darmi melarangnya. Bau kemenyan menyengat dari kamar sebelah. Apa mbok Ros yang membakarnya? Ada apa ya?Sekar penasaran.Tiba tiba muncul sosok Bayu yang duduk di tepi ranjang.
"Mas bayu...." Sekar terlonjak. "Mas ini tiba tiba muncul nanti kalau ada yang tau kaya mana?" Sekar berbisik dan duduk di samping Bayu.
"Ada yang niat mengganggumu"
"Siapa?aku ga punya musuh"
"Mas belum bisa lihat, untungnya ada Kinar yang mas suruh untuk menjagamu kamu dari dekat"
Sekar bernafas lega.
"Aku tak bisa mengawasimu lagi, sepertinya ada kekuatan yang menghalangi supaya mas tak bisa melihatmu dari jauh" gurat kecemasan terlihat di wajah Bayu.
"Sudah jangan cemas, toh ada Kinar yang menjagaku, sekarang aku mau tidur"
"Tidurlah, biar mas yang menjagamu disini"
"Justru kalau mas Bayu disini aku ga bakal bisa tidur, sekarang pulang aja, ya"
Sekar menggegam tangan Bayu dengan wajah memohon. Dia menarik Bayu untuk bangun.
"Baiklah"
Bayu menghilang dalam sekejap. Kamar terasa sunyi. Suara lolongan anjing sudah tak terdengar, berganti suara jangkrik yang bernyanyi menyambut pagi.