Pagi pagi sekali Sekar bangun, malam ini dia tidak memimpikan Bayu tidak seperti biasanya, Sekar sedikit heran tapi dia tak mempedulikannya. Sekar menuju dapur dan langsung memasak membantu mbok Darmi.
Selsai masak, mbok Darmi bersiap siap pergi ke ladang. Dipanggilnya Sekar sebelum dia berangkat.
"Nduk, sini"
"Iya,mbok"
"Ini buat kamu beli baju" mbok Darmi menyerahkan uang ratusan ribu lima lembar ke Sekar.
"Baju Sekar kan masih banyak, mbok" Sekar berusaha menolak pemberian mboknya.
"Iya masih banyak..., tapi sudah ga ada yang bagus, wes ga usah ngeyel toh kalo dibilangi. Lusa katanya masnya mau datang, kamu pake baju baru biar tambah cantik"
Mbok Darmi mengelus rambut cucunya, seingat dia Sekar beli baju pas lebaran tahun kemaren, sampai sekarang belum pernah beli baju. Dan dia tahu kalau cucunya ini sedang jatuh cinta.
Perempuan yang jatuh cinta itu cenderung pengen terlihat cantik di depan sang pujaan hati, begitulah fikiran mbok Darmi, walaupun dia menyayangkan bahwa Sekar tidak jatuh cinta dengan Bagas karena mbok Darmi sangat menyukai pemuda santun itu.
Setelah mbok Darmi berangkat, Sekar bersiap siap ke pasar tidak lupa dia bawa kwitansi jual beli dari toko.
Sampai dipasar Sekar langsung ke toko emas, sepuluh menitan dia menunggu di teras toko karena setibanya disana toko masih belum buka.
"Mbak" sapa pelayan yang melihat sekar duduk diemperan toko yang sedang dibukanya. Pelayan itu mengenali Sekar yang jual emas dari mata biru gadis itu, karena di pasar tempat dia menjaga toko emas baru kali ini dia menemui pelanggan yang memiliki bola mata biru seperti Sekar.
"Mau ngambil sisa pembayaran kemaren ya, mba?"
"Iya" Sekar tersenyum canggung.
"Mbak ... mbak ini keturunan londo (belanda), tah?"
"Enggak, mbak, bapak saya asli desa sini dan ibu saya jawa barat katanya, tapi saya belum pernah kesana"
"Oh...habis mata mbaknya biru hehehe... makanya saya kira orang londo, ya udah mba, saya tinggal kedalam dulu ya, manggil pak bos" pamitnya ramah
Sekar tersenyum dan mengangguk. Tak lama engkoh yang kemaren datang menghampirinya, dia tersenyum melihat Sekar.
"Kemaren saya tunggu neneknya, tapi tak datang datang" katanya dengan logatnya yang lucu. Logat orang cina yang sedang berbicara.
"Kemaren sibuk, koh"
"Oi...ini sisanya yang kemaren ya... tujuh puluh lima juta, o iya... kalau kamu masih punya emas seperti kemaren jual ke saya semua, saya mau... emasnya bagus dan murni, langka ya..."
"Iya koh, kebetulan saya masih ada beberapa, kalau engkoh mau beli, nanti saya bawa kesini"
" oo...sip sip sip, aku tunggu ya..."
Engkoh itu menyerahkan delapan gepok uang yang dimasukkan ke dalam kresek hitam.
"Ati ati ya... perempuan bawa uang sebanyak itu sendirian, kalau bisa langsung pulang atau setor ke bank biar aman" katanya dengan logat cinanya.
"Iya koh... ini rencananya memang mau langsung ke bank, Makasih, koh"
"Iya... iya....iya"
Sekar pergi dan langsung menuju ke bank, selsai dari bank dia masuk kesebuah toko baju. Dia membeli beberapa lembar baju dengan uang yang di beri mbeok Darmi, dan sisanya tidak lupa dia belikan makanan ringan buat dibawa pulang ke rumah. Setelahnya dia langsung pulang.
"Sekar...."
Sapa seseorang di depan rumahnya, saat dia turun dari ojek.
"Mas Bagas? Sudah dari tadi?" Sekar kaget melihat Bagas yang menunggunya di pelataran rumahnya.
"Enggak, barusan aja" kata Bagas sambil menggaruk tengkuknya.
Setelah membayar ojek, Sekar mengajak Bagas duduk di teras rumah.
"Bentar ya mas, saya masuk dulu"
Bergegas Sekar masuk kedalam rumah sambil membawa belanjaannya, setelahnya dia pergi kedapur untuk membuatkan teh dan mengambil jajanan yang dia beli tadi, dia menatanya diatas piring.
"Diminum, mas, tehnya" kata Sekar setelah dia menaruh nampan di meja dan duduk di kursi didepan Bagas.
"Ada perlu apa toh mas, kok tumben kesini?"
"Ga ada, cuma pengen maen aja, pengen ketemu kamu"
"Emmmm... oh ya Ratih sudah berangkat ke kota, ya?"
"Mungkin"
"Kok mungkin sih..., mas Bagas kan sebelahan rumahnya, masa ga tahu. Dia ga pamit gitu sama mas Bagas?"
"Aku ga perlu tahu tentang Ratih, Sekar..., Yang aku pengen tahu tentang kamu, bukan dia, mas sukanya sama kamu, Sekar..."
Bagas menatap manik biru itu membuat Sekar sedikit grogi karena tatapannya.
"Sampeyan ini ngomong apa toh,mas. Sekar ga ngerti"
"Betul Sekar.. yang aku ucapin, dari dulu orang yang aku suka itu kamu bukan Ratih"
Sekar membuang pandangan, tak mau beradu tatap dengan Bagas. Ada rasa tak enak yang menyelimuti hatinya saat ini.
"Tapi Ratih yang menyukaimu bukan aku, mas" katanya pelan. Sekar menunduk sambil memainkan jari jarinya.
Bagas menghembuskan nafas kasar, dia tahu selama ini Sekar tidak pernah dekat dengan siapapun selain dia dan dia tahu Sekar tidak mau menyakiti hati Ratih karena Ratih sahabatnya dari kecil, makanya saat ini dia menolaknya. Begitu anggapan Bagas.
Sekar duduk termangu didepan tivi, menonton sinetron yang entah kisahnya tentang apa, karena sedari tadi dia hanya melamun. Setelah Bagas pamit pulang dia duduk di depan tivi dan menyalakannya tapi fikirannya entah kemana.
Mbok Darmi datang dari ladang, karena ucapan salamnya tidak ada jawaban dia langsung masuk kedalam. Di dapatinya Sekar sedang melamun di depan tivi.
"Ini apa sih yag difikirkan sampe salam mboknya ga dijawab?"
Sekar menoleh saat dirasakan tepukan halus dipundaknya.
"Eh, enggak mbok. Sudah datang toh? kok ga salam dulu"
"Oalah nduk nduk, dari tadi mbok sudah assalamualaikum kenceng kenceng tapi ga di jawab"
Sekar ketawa kecil, cepat dia kedapur untuk membuatkan teh hangat buat si mboknya. Lalu dia memasak dan menyuruh mboknya mandi dan beristirahat.
Mbok Darmi asik meminum teh hangat dan makan jajanan yang dibeli Sekar sambil menonton tivi.
"Mbok, makan yuk! Sudah mateng" ajaknya sambil mendekat pada mbok Darmi.
Makanan sederhana terhidang dimeja makan, mereka menyantap dengan lahap.
"Mbok, kata engkoh yang beli emas, dia mau beli lagi kalo masih ada emasnya, gimana kalau kita jual semua, mbok?" kata Sekar antusias
"Lah emang kamu bilang masih punya lagi kah, nduk?"
"Iya mbok, saya bilang masih ada dirumah"
"Oalah...ya terserah kamu nduk, kan yang punya kamu, nduk"
"Kita jual aja terus uangnya buat baikin rumah mbok, nanti mbok yang cari tukangnya. Rumah kita kan sudah banyak yag bocor kalo hujan, mau masak aja susah banyak yang kebanjiran"
"Yo wes, nanti mbok kerumah mas Pur. Tanya kapan dia libur, biar dia yang nukangin"
Sekar sumringah mendengar penjelasan mbok Darmi.