Sekar senang mendengar penuturan Bayu, dia berlari kesana kemari untuk memetik bunga. Matanya tertuju pada bunga berwarna putih, bunga itu terlihat lebih besar dari yang lain dan bentuknya cantik.
"Apa nama bunga itu?"
"Orang menyebutnya bunga wijaya kusuma"
"Bagus ya, aku tak menyangka ada bunga sebagus ini disini"
Dia memutiknya setangkai, ditangannya sudah penuh bunga beraneka warna. Bahkan bunga tulip yang biasa hanya dia lihat di televisi, dia bisa menjumpainya disini. Hatinya girang minta ampun.
"Kamu tahu? Aku tak pernah berlibur sekalipun dari aku kecil. Kalau teman temanku liburan , aku menghabiskan waktu diladang bersama mbok" Raut wajah Sekar berubah menjadi sedikit mendung.
"Ambillah sesukamu dan sebanyak yang kamu mau"
Bayu mencoba menghibur Sekar
"Ah...ini sudah cukup, akan kurangkai untuk si mbok, pasti dia senang. Kita duduk disana yuk!"
Sekar menarik tangan Bayu, menuju bangunan pendopo yang berada di tangah tengah kebun.
Bangunan panggung itu memiliki lantai kayu ulin dengan pilar yang di ukir cantik. Sekar duduk lesehan dan menata bunganya dengan antusias. Sementara Bayu duduk disebelahnya sambil memandanginya.
Bunga putih paling besar dia letakkan ditengah, disusul dengan bunga bunga kecil beraneka warna di sekelilingnya, "cantik" gumamnya lirih. Setelah puas dengan bunga rangkaiannya, Sekar mengikatnya dengan tali rumput yang sudah disiapkan.
"Cantik, ga?" Rangkaian bunga itu dia sodorkan ke depan Bayu untuk meminta pendapatnya.
"Emmm.... cantik" jawab Bayu sambil mengangguk.
Senyum Sekar mengembang saat melihat anggukan pemuda itu.
"Bisa tidak kamu memanggilku dengan sebutan 'mas'?"
"Hah..." Sekar tak mengerti
"Itu.., seperti kamu memanggil temen laki lakimu itu, aku kekasihmu tapi kamu memanggil aku nama, sementara dia hanya teman tapi kamu memanggilnya 'mas'"
"Oh itu... mas Bagas itu lebih tua tiga tahun dariku makanya aku memanggilnya mas, sementara kita sepertinya seumuran, jadi memanggil nama saja ga pa pa, ya kan?"
Bayu ingin tertawa mendengarnya tapi dia menahannya. Gadis dihadapannya ini memang polos, bagaimana jika dia tahu kalau umurnya sudah lebih dari beratus ratus tahun. Apa dia akan memanggilnya eyang buyut? atau dia akan syok dan lari menjauh darinya.
Diraihnya kepala gadis itu dan di sandarkannya di pundaknya " pokoknya mulai sekarang kamu memanggil aku harus dengan sebutan 'mas'"
Sekar menoleh memandangi wajah tampan disampingnya, "oke...oke...mas Bayu.." diucapkannya nama "mas Bayu" dengan penekanan dan mimik mengolok.
Bayu gemes dengan tingkah Sekar, dikacaknya rambut gadis itu dan dicubitnya hidung mancungnya.
"Au...sakit tau!" Sekar meringis kesakitan
Spontan Bayu mengelus hidung gadis itu yang memerah. Matanya bertemu dengan manik biru, dia terpana, sangat cantik. Wajah Sekar terpampang jelas didepannya. Dalam diam dia mendekatkan wajahnya ke arah Sekat, di kecupnya bibir merah kecil nan ranum gadis itu.
Sekian detik ciuman itu menjadi semakin dalam. Dilumatnya pelan dan ditelusuri setiap rongga mulut gadis pujaannya.
Dua makhluk yang saling mencinta sedang melepas rasa, detak jantung keduanya saling berpacu. Bayu melepas ciumannya dan menjilat bibirnya untuk menetra rasa manis yang ditinggalkan oleh bibir gadis itu.
"Lusa aku akan kerumahmu, menemui mbokmu untuk meminta restu"
"Hu'um" sekar membenamkan wajahnya di d**a bidang pemuda tampan di sebelahnya. Detak jantungnya masih berdetak kencang akibat ciuman barusan. Wajahnya memerah karena malu. Ini merupakan ciuman pertama untuknya. Rasa manis itu masih dia rasakan sekarang.
***
Hari menjelang senja saat Sekar sampai didepan rumahnya. Dia menoleh, melambai kepada Bayu yang tersenyum padanya.
"Tok...tok.." suara langkah mbok Darmi terdengar mendekat.
"Baru pulang, nduk?"
Sekar mengangguk dan langsung menuju kamar. Mbok Darmi ingin bertanya tentang bunga yang dibawa gadis itu tapi dia urungkan melihat Srkar yang berlalu begitu saja.
Sekar merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dipeganggnya bibir merahnya, saat mebayangkan ciumannya dengan Bayu. Ada yang berdesir didalam perutnya. "Ah...apa ini yang dinamakan jatuh cinta" gumamnya dalam hati.
Gadis lugu itu menggeleng geleng sambil tersenyum. Dia menutup wajahnya malu, membayangkan wajah tampan sang pujaan hati.
Gegas Sekar bangkit dari tempat tidur, menyambar handuk dan berlalu kekamar mandi. Diabaikannya tatapan aneh mbok Darmi.
Senandung lagu cinta terdengar dari kamar mandi, mbok Darmi megernyitkan alis melihat tingkah aneh cucunya sejak kepulangannya barusan. Tersenyum sendiri bahkan saat dia melongok kekamar gadis itu, dia mmelihat sekar geleng geleng sendiri.
"Nduk"
"Dalem (apa), mbok?"
"Kamu tadi habis ketemu nak Bagas toh?"
Mbok Darmi berfikir kalau cucunya ini sedang jatuh cinta. Sama sepertinya dulu saat jatuh cinta pada Sukarlin, suaminya yang sudah tiada. Dan laki laki yang difikirkan mbok Darmi adalah Bagas, setahu dia hanya Bagas yang akhir akhir ini dekat dengan cucu gadisnya.
"Eggak, mbok"
"Oh...kok koyok wong lagi kasmaran" (kok kaya orang lagi jatuh cinta" lirih mbok Darmi.
"Apa, mbok?"
"Enggak, dah cepet makan sana! Embok ada nyayur ikan tongkol pedas kesukaanmu"
Setelah makan Sekar duduk disamping mbok Darmi, menemani wanita tua itu menonton sinetron kesukaannya.
"Mbok, tadi Sekar belum ke pasar"
"Lah terus Sekar tadi dari mana sampe sore?"
"Kerumah Ratih hehehe" Sekar sedikit ragu karna harus berdusta pada mboknya.
Mbok Darmi melihat ketidak jujuran Sekar, walau gimana dia tahu saat sekar berbohong dan saat gadis itu jujur. Dia menghela nafas.
"Oh...yo wes"
"Besok ya, Sekar ke pasarnya? Embok mau ikut?"
"Embok belum selsai nyiram jagungnya, kamu aja ya , nduk"
Sekar memandang tv tapi fikirannya pada Bayu yang mau ketemu mboknya lusa. Dia bingung gimana cara menceritakan Bayu pada si mboknya ini.
"Mbok"
"Hemmm"
"Lusa mbok di rumah kah?"
"Kenapa?"
"Mbok pernah Sekar ceritain orang yang ngasih telur emas itu, kan?"
"Iya, nak Bayu kalo ga salah ya namanya?"
"Iya mbok, nah si mas Bayu ini lusa mau kerumah ketemu mbok buat kenalan"
Wajah mbok Darmi berubah jadi serius, dia menatap cucunya "Jujur sama mbok, tadi Sekar dari mana?"
Sekar salah tingkah "Anu mbok, tadi Sekar habis ketemu sama mas Bayu" Gadis itu menggigit bibirnya.
" Jadi bunga yang kamu bawa itu dari dia?"
"Iya,mbok"
Mbok Darmi terlihat kecewa.
"Nduk, mbok ga pernah ngajarin kamu berbohong, si mbok kecewa sama kamu, nduk" Dia bangkit dari duduknya dan menuju ke kamar.
Cepat Sekar megikuti ke kamar mbok Darmi. "Maafin Sekar mbok karena ketemu mas Bayu diam diam"
Wajah memelas Sekar membuat mbok Darmi tak tega.
"Lah terus dia orang mana, nduk?"
"Emm" Sekar bingung harus menjawab apa.
"Ya wes, lusa mbok ga keladang kalau dia mau datang menemui mbok" wanita tua itu mengalah saat melihat cucu cantiknya kebingugan.