Mobil mulai melaju. Rasya mengemudi dengan tenang melalui jalan yang masih juga setengah berkabut. “Hei … gimana ceritanya kamu bisa ikut Desta motoran?” tanyanya penasaran. “Dia yang ngajak, kebetulan aku juga lagi butuh healing,” jawab Kirana. “Apa yang harus di-healing?” Rasya melirik Kirana sesaat. “Biasalah … capek soal kerjaan.” Kirana menoleh ke samping jendela. Matanya tertuju pada hamparan kebun sayuran. “Kenapa nggak minta ditemanin aku?” Rasya seperti kecewa. “Soalnya dadakan, nggak direncanain. Takutnya, Bapak juga sibuk,” kilah Kirana. “Kalau kau yang minta, pasti aku usahakan nggak sibuk,” tampik Rasya. “Masa, sih?” Kirana tidak percaya. “Biasanya, bagi lelaki itu pekerjaan adalah nomor satu yang nggak bisa ditinggalkan.” “Aku ‘kan bukan lelaki yang biasanya.” Rasya

