Passing chime lift berbunyi, menandakan mereka sudah sampai di lantai yang dituju. Kirana melepaskan diri, dan menyeka air mata dengan syal di lehernya. Pintu baja itu kemudian terbuka, dan ia melangkah keluar, kikuk dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Ia teringat Friska. Kenapa Ardana memeluknya, serta mengapa ia tidak menolaknya? Ardana mengikuti langkahnya memasuki ruang apartemen berkamar satunya yang berantakan. Bekas minuman dan makanan kemarin, masih tergeletak di meja. Ia bergegas membersihkannya. “Maaf berantakan. Aku nggak beres-beres sebelum pergi semalam.” Kirana membuang semuanya ke tempah sampah. Ardana tidak berkomentar. Ia duduk di kursi. Matanya mengitari apartemen tipe studio yang tak seberapa luas. Selesai mencuci tangan, Kirana menarik kursi dari meja ker

