Ucapan Ardana tak luput membuatnya tersanjung. Siapa yang tidak. Namun, ia masih cukup waras untuk tetap berpijak pada dunia nyata. “Kakak sudah terikat komitmen!” pekik Kirana. “Kakak akan menyakiti hati Kak Friska, dan mempermalukan keluarganya juga keluarga Kakak sendiri. Kita sudah dewasa, jangan lagi menuruti emosi.” Kirana mencoba membuka mata hati Ardana yang seperti sedang terbutakan. “Lalu, bagaimana dengan kamu?” Pandangan Ardana penuh rasa khawatir. “Aku akan baik-baik saja. Suatu hari nanti, aku yakin pasti akan menemukan pendamping juga.” Kirana tersenyum optimis. “Dengan Rasya?” tanya Ardana. “Aku belum tahu dengan siapa.” Kirana tak berani berspekulasi. Hubungannya dengan Rasya belumlah jelas. “Apa yang kurang dari Rasya? Kulihat dia baik, dan sepertinya sangat memuja

