Bertahan diatas Pengkhianatan

592 Kata
Setelah anak-anak terlelap, aku menceritakan semuanya pada ibu. Ia menangis dan tidak menyangka kalau suamiku akan seperti itu. Suamiku dinilai sangat baik dan peduli pada keluarga, jauh dari citra buruk yang senang menggoda wanita. Esoknya aku kembali seorang diri, anak-anak aku titipkan pada ibu. Di perjalanan aku merasa hancur dan tidak tahu harus seperti apa saat berbicara dengannya. Ketika berada di rumah, ia sedang duduk menonton televisi dan aku duduk di sebelahnya. “Siapa wanita itu?” tanyaku, ia emosi dan mengeluarkan kata-k********r kepadaku. “Kamu itu sama aja kaya tetangga, tidak percaya sama suami sendiri! Apa aku terlihat seperti orang yang gemar selingkuh?” Teriaknya. Aku bersyukur anak-anak dititipkan pada ibu, aku tidak ingin mereka melihat kejadian seperti ini. Ia terus memaki dan kemudian mendorongku ke dinding. Hampir saja aku mati karena kehabisan napas saat tangannya sudah mencengkeram leherku. Setelah puas memaki, ia pergi meninggalkanku yang terduduk dan menangis di lantai. Aku merasa hancur saat itu, ia tidak kembali hingga dua malam. Terbersit pikiran untuk menyudahi hidupku. Spontan aku ambil tali di gudang dan kusimpul di atas sebuah kayu di dekat kamar mandi. Saat leherku sudah berada di dalam simpul tali, seorang tetangga membuka pintu rumahku secara tiba-tiba untuk membagikan kue ulang tahun anaknya. Ia teriak histeris saat melihat aku melakukan percobaan bunuh diri. Teriakkannya mengundang tetangga dan mereka menolongku untuk turun dan menghentikan aksi itu. Aku menangis histeris karena merasa sudah tidak kuat menjalani hidup, tetapi banyak tetangga yang meminta aku untuk bersama dan kuat demi anak-anakku. Aku baru tersadar mereka masih tinggal bersama ibu, hanya memikirkan mereka saja membuatku menangis. Kabar kalau aku melakukan percobaan bunuh diri pun sampai di telinga suamiku. Ia menangis dan meminta maaf atas perbuatannya, ia tidak ingin ditinggalkan olehku. Ia tidak ingin menyudahi pernikahan kami, responsku hanya diam. Aku hanya mendengarkan dan tidak bergeming dari tempat dudukku. Selama sebulan ia melayani kebutuhanku, aku depresi berat. Banyak tetangga yang menghakimi suamiku, aku tidak peduli. Ibuku yang setiap hari menelepon dan menyuruhku untuk kuat. Aku mencoba untuk kuat dan bangkit, sakit rasanya tetapi semua harus aku tepis demi anak-anakku. Aku tidak akan merelakan suamiku untuk wanita lain, rugi rasanya menyerahkan begitu saja. “Saat dia susah sudah kudampingi sepenuh hati dan setelah sukses masa aku serahkan begitu saja,” pikiranku terus berkecamuk. Mungkin terdengar jahat, tetapi itulah caraku untuk bertahan dan bangkit dari depresiku. Sudah satu minggu anak-anakku tidak bersekolah dan aku tidak ingin membiarkan itu terlalu larut. Aku menjemput mereka dan kembali ke rumah. Aku bersikap seperti biasanya kepada suamiku, menyediakan kebutuhan dan melayani layaknya seorang istri. Tiga tahun setelah itu, aku pikir ia sudah jera karena sempat dikucilkan warga tetapi ternyata tidak. Aku kembali menemukan bukti kalau ia menjalin kasih dengan seorang wanita di lingkup ia bekerja. Aku belajar dari pengalamanku, aku tidak ingin terpuruk dan ditertawakan oleh selingkuhannya. Akhirnya, aku meminta dibelikan rumah di sebuah komplek yang cukup elite. Ia mengabulkannya, kemudian aku meminta beragam tas branded dan selalu pergi bersama teman-temanku. Ia pun tidak marah dengan sikapku. Semakin lama, anak-anak semakin besar dan mereka pasti akan mengerti kebenaran di dalam rumah tangga orang tuanya seperti apa. Aku mulai mencari kesenanganku sendiri. Aku sisihkan sebagian uang untuk ditabung dan diinvestasikan, jaga-jaga kalau semua akan berakhir buruk. Aku mulai membeli banyak barang atas namaku, termasuk rumah, mobil, dan beberapa kendaraan lain. Aku semakin sering menemukan bukti kalau suamiku berselingkuh bahkan dengan tiga hingga empat wanita. Tetapi aku tetap memperlakukannya seperti biasa, melayani dan memenuhi kebutuhan dia. Aku sudah tidak peduli dengan cinta, aku hanya melakukan kewajiban dan mempersiapkan masa depan anak-anakku dengan baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN