Part 11 Amari

1239 Kata
Pertanyaan sama yang pernah diajukan oleh temanku dulu. Ia gadis manis berusia lima belas tahun dengan rambut pendek. Namanya Cloenere Andres. Ia teman yang menyenangkan dan bertingkah konyol. Namun, pertemanan kami terhalang oleh sesuatu yang tidak bisa kuhindari. Malam itu sama dengan peristiwa yang dialami Anson. Ada arwah jahat yang ingin mengambil jiwanya. Aku dan Zie memang berhasil menyingkirkan makhluk jahat itu berkat bantuan Ubel Mogens. Akan tetapi naas, Cloe mengetahui siapa kami sebenarnya hari itu. Ia ketakutan dan histeris. Terpaksa Ayah menghilangkan semua ingatan Cloe tentangku. Sejak peristiwa itu Ayah mengajak kami pindah hingga akhirnya aku bertemu Anson. "Katakan padaku, siapa kamu sebenarnya?" Anson menarik lenganku dan membiarkan sepedanya jatuh. Wajah kami begitu dekat hingga aku bisa mencium harum tubuhnya dan mendengar detak jantungnya. Jantungku berdetak cepat seperti diburu sesuatu. "A--pa maksudmu? A--ku tentu manusia," gagapku karena matanya tajam menelisik ke arahku. Anson melepas tanganku dengan kasarnya, ia mendecih dan mengambil sepedanya,"Aku tahu ada hal yang kamu rahasiakan. Aku akan mencari tahu siapa kamu sebenarnya." Bagaimana aku bisa mengatakan padanya? Terkadang kejujuran tidak membawamu lebih baik. Hal itu berlaku terhadapku. Aku terlalu takut mengetahui kenyataan jika ia tahu keluargaku. "Cepat naik! Kita akan terlambat." Tanpa Anson sadari sebenarnya aku menahan air mata. Hidup yang aku jalani saat ini tidak bisa mengubah apapun. Aku bukan manusia normal. Keluarga Amari merupakan korban dari masalah. Masalah yang hingga kini terus menghalangi kami bagaikan dinding yang tidak bisa disentuh. Kami harus memberikan ingatan yang hilang terhadap orang yang mengetahui kemampuan ini dan pergi menjauh. "Aku hanya ingin hidup seperti manusia normal, Tuhan,"ujarku dalam hati. ***** Sejak Coraline dimusnakan oleh Ubel Mogens, para hantu yang tinggal di sekolah ini menghindariku bahkan ketakutan. Pernah aku bertanya salah satu dari mereka,"Mengapa kalian menghindariku?" Bapak tua yang pernah kutemui menjawab jika mereka tidak mau berurusan dengan seseorang yang kenal dengan Ubel. Karena Ubel akan mencari mereka yang nakal dan suka mencelakai manusia. Okelah .... setidaknya diriku merasa aman dari gangguan walau aku tahu mungkin hanya sementara. "Lean, kemari," panggil Ailee di ambang pintu. Aku yang sedang asyik membaca berusaha mengabaikannya. Jika ia memanggil itu artinya ada hal penting yang mendesak dan harus dilakukan. "Aduh ini anak. Ke sini sebentar." Ia menyeretku dari bangku. "Apa sih, Aile? Kamu tidak mengerjakan tugas lagi? Atau kamu mendapatkan telepon seseorang?" Dengan enggan kuseret langkah kaki mengikuti Aile. "Sudah ikuti saja aku. Nanti kamu bakal tahu, kok." Terpaksa aku mengekorinya dari belakang. Rambut pirang Aile yang dikuncir satu terlihat bergoyang seirama dengan langkah kakinya dan sesekali mengomel yang tidak terdengar jelas. Aile mengajakku ke lapangan di mana sudah banyak anak-anak berkerumunan dan meneriaki nama seseorang. "Cepat hajar anak itu, Zie!" Di tengah lapangan ada Zie bersama anak-anak dari kelas sebelahnya. Entah apa yang sedang terjadi, Zie tidak melawan perkataan kasar mereka dan terlihat santai. "Ini yang ingin kutunjukkan padamu,"beritahunya dengan cemas. "Memangnya ada apa?" "Aku dengar ada kakak kelas yang menyukai Zie dan orang yang pakai jaket itu mantannya. Ia tidak terima jika mantannya menyukai Zie,"bisik Aile hati-hati. "Lalu apa masalahnya?" Memang Zie dulunya idola para murid anak perempuan di sekolah. "Ya ampun ini anak! Mereka akan menghajar Zie. Mereka itu atlet karate yang memenangkan kejuaraan di sekolahnya dulu." "Kok kamu tahu?" tanyaku dengan santai. "Seharusnya kamu khawatirkan Zie bukannya santai. Bagaimana kalau wajah tampannya terkena bogem mentah?" Aku berusaha menahan tawa dan tidak ingin membuat Aile tersinggung. Zie bisa segalanya, tetapi ia tidak mau pamer kekuatan. Tenang saja yang bakalan kalah bukan Zie karena pemuda sombong itu bukan lawannya. Sekali hentakan saja, mereka akan jatuh. "Tubuhnya terbuat apa, ya? Hebat sekali Zie bisa menangkis semua serangan,"decak Aile dengan mata terbuka lebar. "Ayo Zie kalahkan mereka!" Sorakan dari penggemar Zie bergema di lapangan. "Hebat sekali kakakmu itu," celetuk Davis--teman sebangku Aile--sambil tepuk tangan. Benar kataku, bukan? Lihat saja mereka meringis kesakitan saat tubuh mereka jatuh ke tanah. Pokoknya jangan coba-coba melawan Zie jika tidak mau dihajarnya. Ia memang pendiam, cuek dan irit bicara, tetapi jangan cari masalah dengannya. "Bubar semuanya!" Itu teriakan Mr. Hans sang guru BP. Dengan tongkat di tangan yang ia acungkan, kerumunan anak-anak serentak berhamburan pergi. Anak-anak di sekolah ini tidak mau berurusan dengannya. Mr. Hans dijuluki 'Tuan Sogokan' di mana ia selalu membela yang kaya untuk mendapatkan uang. "Tuan Muda Amari, ikut saya ke kantor!" bentaknya pada Zie, "Dan kalian juga ikut." Hanya ada luka kecil di sudut bibirnya kalau ketahuan Ibu pasti kena omel sepanjang hari bahkan sampai esoknya. "Zie, kamu baik-baik saja?" tanyaku cemas. Zie hanya tersenyum dan mengacak rambutku. Itu tandanya ia dalam keadaan baik. Aku yakin sekali besok Ayah dan Ibu akan mendapat surat dari Mr. Hans. "Beruntungnya jika ada gadis yang menyukai Zie. Ia terlihat keren dan cool,"puja Aile bangga. Cloenere adalah cinta pertama Zie hingga kini. Namun, ia tidak lagi mengenali Zie lagi setelah Ayah menghapus semua kenangannya. Sulit bagi Zie untuk bisa berpindah ke lain hati. "Kamu senyum sendiri. Ada yang aneh?" Kusingkirkan wajah bulat Aile dari hadapanku saat ia bertanya tidak penting. Bel masuk pelajaran selanjutnya sudah berbunyi dua kali dan kami harus bergegas. Saat mataku mengarah ke atap bangunan ada Anson berdiri bersama gadis yang kulihat di rumahnya. Kupikir ia pasti menyaksikan keributan tadi. Aku melambaikan tangan padanya, Anson melengos. Padahal diriku bukan menyapanya melainkan pada gadis itu. Ya, sudahlah memang Anson teman yang sulit dipahami. ***** "Selama ini kamu anak yang tidak menyusahkan Ibu, Zie. Jadi mengapa dirimu berbuat hal memalukan itu?" Aku jadi tidak bisa ayam panggang ini dengan santai hanya karena Ibu mengomel. Jelas ia marah karena ada surat BP memanggil Ayah dan Ibu datang esok. Mr. Hans memang menyebalkan. "Matikan dulu ponselmu jika kita sedang di sini. Kamu paham, Lean!" Perkataan Ibu berhenti sejenak tatkala ponselku berdering. "Sudah aku pelankan suaranya," kataku menunjukkan pada Ibu. Lalu aku lanjut makan walau sebenarnya penasaran isi pesan Anson. Ayah yang rambutnya dipenuhi warna putih dengan kumis tipis hanya bisa menghela napas. Mungkin ia pikir setelah pindah, masalah terus datang menimpa. "Zie, Ayah tahu kamu itu orang yang sabar di banding saudaramu lainnya. Apa yang sebabnya dirimu menghajar anak itu? Pasti ada alasannya, bukan?" Kulirik Zie sambil mengigit ayam panggang, tampak wajah Zie tanpa ekspresi menatap hidangan di depannya. Memang yang dikatakan Ayah itu benar. Zie paling bisa menahan emosinya. "Jawab Ayahmu, Zie!" "Mereka yang mencari masalah dulu. Salah satu dari mereka berpikir jika aku menyukai mantan pacarnya," jawab Zie datar. "Lalu dirimu menghajarnya?" tanya Ayah lagi. "Tentu saja, Yah. Aku paling tidak suka mereka memakai kekerasan." "Zie, Ayah tahu pasti kamu berbohong. Zie yang Ayah kenal tidak akan menghajar atau memukul lawannya. Nak, Ayah tidak tahu apa yang selama ini kamu rasakan. Akan tetapi, kami meminta padamu selama kita tinggal di sini. Pakailah topeng untuk menutupi rahasia kita. Jangan ada yang mengetahui jika dirimu berbeda." "Iya aku tahu, Yah." Sesaat yang terdengar suara permainan Lois di ruang tengah. Kebiasaannya setelah makan malam, ia akan bermain sebentar lalu tidur. "Lean, ajak Lois naik ke kamar. Ayah dan Ibu ingin berbicara dengan kakakmu." Dengan terpaksa Lois menghentikan permainannya dan mengikutiku,"Aku akan main di kamarmu. Sebentar kok." Tanpa persetujuan dariku, ia langsung menyalakan laptop dan bermain. Oh, ya aku hampir lupa isi pesan Anson. Senyumku mengembang ketika membacanya. ["Temui aku di atap sekolah waktu istirahat."] Hayo untuk apa Anson mengirim pesan? Apa ia mau berteman dengan Leanne? Sebenarnya rahasia apa sih yang disembunyikan keluarga Leanne? Penasaran? Nanti akan dibuka satu persatu. Part Selanjutnya "Topeng"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN