Part 10 Siapa Kamu

1209 Kata
Intinya saat ini aku tidak suka berhadapan dengan makhluk bernama Ubel. Mereka terbagi menjadi tiga. Pertama, dia yang disebut penjemput roh ( Devosh ). Kedua, dia sering mengawasi manusia yang memiliki keanehan ( Issac ) dan terakhir ini yang tidak kusukai. Dia pengambil makhluk yang nakal dan menggiring mereka ke neraka ( Mogens ). "Senang bertemu denganmu lagi, Nona Amari," ujarnya dengan menyeringai. Giginya tampak tajam. "U--ntuk apa anda ke sini?" tanyaku gugup. Sesekali aku melirik ke bawah meja, berharap dia tidak menemukan Anson. Sial. Dia seakan mengikuti pandangan mataku dan tersenyum sinis karena menemukan sesuatu yang tampak menyenangkan baginya. "Tenanglah! Aku tidak akan menyakiti temanmu, Nona." Huft.... setidaknya aku lega mendengarnya. "Lalu untuk apa anda datang ke sekolah ini?" Dia berputar-putar mengitariku dan berbisik dengan nada yang terdengar mengerikan. Dari mulutnya keluar asap. "Menjemput makhluk yang nakal." "Sia--pa?" Aku agak bergerak mundur saat wajahnya mendekat. "Gadis muda bernama Coraline." Aku mengernyitkan dahi. Kesalahan apa yang diperbuatnya sehingga Ubel ingin memusnahkan? "Dia menyukai teman manusiamu itu dan hendak membawanya ke dunianya," ujarnya dengan menunjuk meja. "Tidak mungkin Coraline membawa Anson ke dunianya," kataku tidak percaya. "Karena gadis itu menyukai temanmu!" tegasnya dengan suara yang membahana. "Kalau gadis itu tidak menyukai temanmu, dia tidak akan sampai mencelakai orang yang berada di dekatnya," timpalnya lagi. Berada di dekatnya aku benar-benar merasakan aura yang tidak nyaman. Matanya yang merah menyala bagaikan membakar tubuhku seketika. Jika memang benar yang dikatakan Ubel, berarti selama ini Coraline sudah merencanakan. Aku langsung menghampiri Anson yang berada di bawah meja. Jangan sampai Coraline mengambil jiwanya. "Tenanglah ... aku membuatnya tertidur sejak tadi. Ia tidak akan tahu tentang ini." Aku sedikit merasa lega mengetahui Anson tertidur pulas bagai bayi yang meringkuk. "Bawalah temanmu sekarang. Aku akan mencari gadis itu." Setelah berucap, dia langsung melesat seperti angin. Pintu-pintu kelas saling terbuka dan tertutup sendiri saat Ubel melewatinya. "Cepat bawa temanmu, Nona Amari!" teriaknya dari kejauhan. Bagaimana bisa aku membawa Anson dalam keadaan tertidur? Memapahnya hingga ke rumah itu tidak mungkin. Namun, mau tidak mau aku harus melakukannya. "Ayo, kita pulang, Anson." Aku memapahnya pelan. Ternyata ia lebih tampan jika diam seperti ini tanpa bicara dengan nada ketus. "Ia milikku, Lean! Jangan membawanya pergi!" Tiba-tiba saja Coraline sudah ada di depanku. Dia terlihat beringas dan licik. Rambutnya berkibar diterpa angin, wajahnya terlihat marah dan siap menerjangku. "Kamu tidak bisa mengambilnya, Coraline! Ia bukan milikmu." "Sejak aku bertemu dengannya di gerbang, ia sudah menjadi pasanganku!" Emosinya meluap. "Jadi kamu sengaja mendekatiku?" Coraline menunjukkan wajah aslinya sekarang. Dia bukan lagi gadis centil, tetapi monster yang menyeramkan. Embusan angin yang dia hentakkan membuatku dan Anson jatuh bersamaan. "Selamanya dia milikku!" Tubuhnya melayang kian mendekat. Aku tidak punya kekuatan apapun untuk melawannya. "Ubel .... anda di mana?" Aku terpaksa memanggilnya. Memangnya dia melayang ke mana? "Siapapun yang menghalangiku, mereka akan mati!" ancamnya, kukunya yang runcing menggores wajahku dan rasanya perih. "Anson bukan milikmu, Monster!" Aku berteriak sekuat tenaga. Coraline menertawaiku dengan ejekannya, dia ingin sekali meraih Anson. Namun, kupeluk dengan kedua tangan agar dia tidak bisa mengambilnya. Si ketus diam tidak bergerak. "Serahkan Anson sekarang!" Teriakannya membahana dan jemari runcingnya siap melukaiku. Saking takutnya aku menutup mata dan mungkin ini akhir hidupku di tangan monster. Akan tetapi, tidak terjadi apapun pada kami. Kubuka salah satu mata dan .... "Kamu tidak apa-apa, Dik?" Aku lega karena Zie datang bersama Lois dan menjawab pertanyaannya, "iya aku baik-baik saja." "Gadis hantu itu sudah dibawa pergi oleh Ubel,"sahut Lois santai sembari memainkan permen karetnya. "Bagaimana bisa kamu berteman dengannya, Lean?" tanya Lois dengan menggerutu. "Ya ... mana kutahu!" "Sudah jangan ribut. Sekarang kita harus membawanya pulang," kata Zie, aku membantunya agar Anson berdiri dan merangkulkan tangan kanan di bahu Zie. "Bantulah Zie, Lois. Ia tidak akan bisa memapahnya sendiri," pintaku padanya walau sebenarnya ia enggan. "Aish ... selalu aku yang ketiban sial karena masalahmu!" Pada akhirnya mereka berdua memapah Anson sampai dalam mobil. "Bagaimana kalian datang ke sini?" tanyaku. "Zie yang tahu. Bukankah ia bisa melihat masa depan?" sahut Lois dengan bersidekap. "Terima kasih, Zie." Zie hanya mengacungkan jempolnya dan tersenyum menatapku dari kaca spion. Sebelum mobil meninggalkan halaman sekolah, kulihat awan gelap yang mengelilingi gedung perlahan mulai memudar meskipun hujan deras. Memang sedikit aneh karena hanya gedung sekolah saja yang tertutup awan gelap dan tebal. Ya ... itulah ulah Ubel. ***** Ketukan jari Ibu di meja membuat kami terdiam. Ayah yang biasanya ramai waktu sarapan kini tidak berkutit. Mata Ibu menatap tajam padaku. "Jelaskan pada Ibu apa yang terjadi kemarin, Leanne Lavender Dulcie Amary!" Suara ibu terdengar lantang. Kalau Ibu menyebut nama panjangku itu artinya ia sedang marah besar. "Bukan salahnya, Bu," bela Lois, tetapi pelototan mata Ibu membuatnya tertunduk. Jangan ikut campur. "Sudahlah Gle. Kita akhiri saja, ya. Bukankah putri kita selamat," sahut Ayah meredakan emosi Ibu. Kulirik Zie yang tetap asyik memakan roti burgernya tanpa sedikitpun berbicara. "Apa kamu tahu kesalahanmu!" tegas Ibu tetap menatapku. Aku menggangguk lemah,"iya Bu. Aku tahu." "Ibu tidak pernah melarangmu berteman dengan siapapun. Hantu, manusia atau makhluk lainnya," Ibu berhenti sejenak mengambil napas,"hanya saja tidak boleh melebihi batas." Untuk kali ini aku menolak perkataa Ibu,"Apa salahnya, Bu? Aku hanya membantunya dari makhluk jahat yang akan mengambil jiwanya." "Cukup berteman tanpa membantunya," kata Ibu lagi. "Apa salah jika kita membantu?!" Ibu menggebrak meja,"tapi bukan membantu dalam urusan yang ada hubungannya dengan makhluk halus, Leanne!" bentak Ibu. "Gle, sudahi perdebatan ini," perintah Ayah. "Apa kalian tidak ingat peristiwa lalu? Apa perlu Ibu ingatkan lagi, Lean!" Biasanya Zie akan membela. Namun, ia dan Lois memilih diam. "Iya ... aku ingat, Bu. Aku hanya tidak ingin peristiwa lalu terulang lagi," isakku. Saat ini aku benar-benar kesal dengan Ibu. "Cukup Lean! Cukup gadis itu yang menjadi korban terakhir akibat ulah kita. Jangan sampai kesalahan itu terulang lagi." Ibu melangkah pergi, Ayah mencoba menenangkanku. Tangannya kutepis kasar dan memilih berangkat sekolah pagi ini dengan rasa kesal. "Ingat Lean! Dirimu dan pemuda itu berbeda,"lanjut Ibu sebelum aku keluar dari pintu. ***** "Butuh tumpangan?" Anson menghentikan laju sepedanya saat berpapasan denganku menuju sekolah. Aku langsung menggangguk setuju. "Aku tidak ingat sepenuhnya peristiwa semalam. Aku hanya ingat kita terjebak di sekolah akibat cuaca dan dirimu meracau soal hantu." "Kukira kamu tidak ingat,"sahutku dari belakang. "Waktu kamu menyuruhku bersembunyi di bawah meja, tiba-tiba saja aku seperti mengantuk sekali." Aku tersenyum kecut. Itu semua ulah Ubel membuatnya tertidur. "Memangnya ada apa di sekolah kita kemarin?" Anson berhenti hanya untuk menanyakan peristiwa kemarin, ia ingin tahu penyebabnya. Kamu tidak perlu tahu, Anson, sahutku dalam hati. "Aku juga tidak ingat karena pingsan. Yang aku tahu kita sudah ada di dalam mobil kakakku." Aku berbohong. "Ta--pi sebelum aku tertidur, telingaku sempat mendengar dua orang bicara." "Bicara apa maksudmu?" Semoga ia tidak dengar pembicaraanku dengan Ubel. "Suara pria yang mengatakan 'Menjemput makhluk yang nakal'." "Aku tidak dengar apapun, kok." Lagi, aku berbohong. "Jangan berbohong, Gadis Aneh! Aku tahu kamu tidak pingsan. Sebelum kesadaranku habis. Ada seorang pria dan gadis saling bercakap. Gadis itu dirimu." "Kamu salah dengar mungkin,"sanggahku agar ia percaya. Anson menepikan sepedanya setelah aku turun dari boncengan, melihatku dengan pandangan was-was. "Boleh tanya satu hal padamu?" Aku menggangguk. "Siapa kamu sebenarnya?" Aku menelan ludah. Tidak bisa menjawab. Banyak rahasia di keluarga Leanne. Salah satunya tidak boleh berteman melebihi batas. Sebenarnya apa maksud dari Ibunya Leanne? Part Selanjutnya "Amari"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN