Part 9 Ia Tersenyum

1124 Kata
Lois tidak masuk sekolah hari ini. Sakit katanya--padahal tidak, jadi aku harus berjalan kaki dengan langkah gontai menuju sekolah. Zie bolos untuk hari ini. Lagi-lagi malas ada pelajaran olah raga. Ckckck .... bilang saja tidak suka. "Naiklah...." Suara sepeda berderit berhenti di depanku. "Apa?" Aku terkejut mendengarnya. "Aku hitung sampai tiga jika tidak naik. Kutinggal dirimu," ujarnya tanpa menoleh padaku. Pandangannya lurus ke depan. Tumben nih anak. Kerasukan apa ia setelah pulang dari Indonesia? "Satu ... dua ... tig---" Aku langsung duduk di boncengannya. Anson segera melajukan sepedanya dengan pelan. Aku tersenyum geli karena ini pertama kalinya ia menawarkan tumpangan. Sepanjang perjalanan kami hanya membisu dengan menikmati pemandangan pepohonan. Sesekali ia meminta maaf jika ada tanjakan dan hampir membuat oleng sepeda. Aku tidak mengira ia berubah, tidak seperti Anson yang dulu. "Mana adikmu?" tanyanya memecah keheningan. "Eh? Oh, mereka sakit," jawabku gugup. Kok aku jadi seperti ini, sih? "Nanti pulanglah bersamaku," sahutnya lagi. Aku menunduk malu mendengarnya. "Zie memintaku untuk mengantarkanmu pulang." Senyumku berubah masam. Kukira ia berubah. Ternyata ini atas perintah Zie. Pantas saja ia bersikap tidak biasanya. Mulutku komat kamit menahan kesal. "Turunlah...." perintahnya, "nanti tunggu aku di sana sepulang sekolah," tunjuknya di pos satpam. "Terima kasih," jawabku malas. Anson menuntun sepedanya dan meninggalkanku berjalan sendiri. Memangnya aku ini apa? Disuruh menunggu di post satpam. "Hayo ... diantar siapa?" Aile bertanya sambil menyikut lenganku. "Tumben pemuda aneh itu mau memberimu tumpangan?" "Ia dapat perintah dari Zie," jawabku dengan menendang kerikil. "Zie kakakmu yang tampan itu, ya?" Saat mengatakan 'Zie' wajahnya berubah memerah. "Heum..." "Boleh tidak minta nomer teleponnya?" tanyanya menaikkan alis. "Lebih baik kamu tanyakan sendiri, ya." "Memangnya kenapa?" Ia berhenti dan memegang tanganku. "Ia tidak suka ada orang yang menyimpan nomernya. Benci, lebih tepatnya, ujarku dalam hati. Ada guratan kecewa di wajahnya, tetapi ia berusaha mengerti. "Akan kuminta sendiri sama Zie,"katanya mantap. Aile segera menggandengku menuju kelas. Bunyi belnya memekikkan telinga. Zie memang tidak pernah menyimpan nomer teman-temannya. Ia mengatakan melakukan hal itu sia-sia belaka. Di ponsel pun hanya terdapat nomer keluarga saja. Kalau aku? Ambil praktisnya saja. Jika mau berteman denganku maka nomernya tersimpan. ***** Lima hari sudah aku tidak bertemu Coraline, ia menghilang bersamaan dengan keberangkatan Anson. Kukira hantu centil itu mengikutinya, tetapi siang ini dia tidak menampakkan wujud padaku. Biasanya dia senang menatap Anson dari samping hingga pulang sekolah. Saat kupanggil namanya, tidak sahutan apapun. Apa dia sudah pergi, ya? "Kamu lihat apa sih? Dari tadi kuperhatikan matamu terus memandang jendela," celetuk Aile sambil melihat arah jendela. "Hanya ingin menikmati pemandangan saja," jawabku dengan berbohong. "Pemandangan apa, Lean? Dari tadi mendung gelap begitu," ujarnya seraya menengadahkan kepala.  Saat Aile mengatakan hal tersebut seketika aku jadi ingat sesuatu. Tidak seperti biasanya awan gelap menyelimuti langit dalam waktu lama. Biasanya akan turun hujan, tetapi tidak kali ini. Dari pagi hingga menjelang sore hujan tidak turun juga. "Tumben tidak turun hujan. Cuaca yang aneh," gerutu Aile melangkah pergi. Memang aneh, pikirku. ["Lean, ini pertanda buruk. Mungkin akan ada sesuatu nanti."] Aku terima pesan dari Zie dari rumah. Netraku menangkap sesuatu yang tidak biasa di langit. Tampak sekelebatan bayangan yang mengelilingi angkasa. Ada apa ini? ["Mohon perhatiannya, Anak-anak. Hari ini akan badai besar yang melanda kota. Diharapkan kalian berbenah dan pulang segera."] Pengumuman dari pengeras suara membuat yang lain gaduh dan berebut pulang. Aku pun ikut bergegas dan memasukkan buku dengan asal. Aku pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Dulu ada Zie, tapi ia ada di rumah sekarang dan tidak bisa menolongku. "Cepat pulang, Lean. Wali kota sudah memperingatkan kita untuk segera pulang," teriak anak-anak lainnya. Mereka semua berhamburan keluar ketika suara petir dan kilat menyambar menjadi satu. Kepanikan melanda yang lain bahkan ada yang belarian. "Pulanglah bersamaku. Aku akan mengantarkanmu." Kali ini aku tidak mau berdebat dengannya. Aku hanya ingin pulang dan menghangatkan diri di depan perapian. Anson menggandeng tanganku. Kilatan cahaya terus menyala bagaikan ledakan yang terdengar di seluruh penjuru lorong. "Ubel yang lain akan datang, Lean. Cepat pergilah sebelum dia menemukanmu." "Coraline?" Langkahku terhenti ketika ada bisikan nyaring dan tegas. "Ada apa?" tanya Anson heran. "Tidak apa-apa," jawabku pelan. Kami sudah berada dekat dengan jalan keluar ketika pintu itu tertutup sendiri seperti ada yang mendorongnya. Anson mencoba membukanya. Sekuat apapun pintu ini tidak bisa dibuka. Kami terjebak. "Bersembunyilah Lean. Dia akan datang sebentar lagi." Itu suara Coraline. Kuedarkan pandangan mencarinya, tetapi tidak ada. "Kamu di mana, Coraline?" teriakku membahana. "Siapa Coraline?" tanya Anson bingung. "Cepat bersembunyi, Lean!" "Dia menyuruh kita bersembunyi." "Siapa Coraline itu? Untuk apa kita bersembunyi?" Kutarik tangannya mencari tempat dan satu-satunya yang paling dekat adalah ruang arsip. Untuk saat ini aku diliputi rasa takut. Aku tahu siapa yang dimaksud Coraline. "Nanti akan kujelaskan. Sekarang kita harus bersembunyi." Suasana sekolah semakin gelap dan sialnya kami berada di sini hanya karena terlambat selangkah menuju pintu keluar. Hujan sudah turun dengan kilatan petir. "Kita harus mencari jalan keluar bukannya bersembunyi," dengkusnya kesal sembari menggeser meja yang sengaja kusandarkan. "Jangan Anson. Dia akan datang. Bersabarlah sedikit." "Siapa 'dia' yang kaumaksud?" Apa ia bakal percaya jika kukatakan yang sebenarnya? Aku takut ia tidak percaya. "Jawab aku! Kalau tidak aku akan keluar." "Dia ... Ubel." "Siapa Ubel? Apa dia penjahat?" Aku menggeleng dengan menundukkan kepala dan berharap tidak tanya lagi. "Lalu siapa?" "Dia bukan sepertimu. Dia makhluk yang tidak bisa kamu lihat dengan mata normal," jawabku jujur. Semoga ia paham. "Maksudmu ... hantu?" Aku menggangguk dan ia malah tersenyum. Sekarang aku yang heran dengannya. Temanku yang lain jika membicarakan hantu akan takut. Anson malah melebarkan senyumannya. "Kamu tidak takut?" tanyaku ragu. "Aku tidak takut karena aku tidak percaya dengan keberadaan mereka." "Dia berbeda, Anson. Dia bukan hanya hantu, tetapi lebih tepatnya iblis." "Simpan omong kosong itu untuk dirimu. Aku tidak percaya." Anson tidak mengerti. Ia lalu menggeser meja dan membuka pintu. "Ah ... sial. Pintunya macet. Dasar sekolah tidak bermutu!" ujarnya penuh kekesalan. "Pintu itu tidak bisa terbuka, Anson. Mau dibuka atau didorong seperti apapun tidak akan bisa karena ada sesosok yang menahannya dari luar." Kini dia yang tidak kuharapkan kehadirannya sudah berada di depan pintu. Ubel yang pernah kutemui di rumah jauh berbeda dengan Ubel yang sekarang. Dia pemarah dan tidak segan menghancurkan makhluk lainnya dalam satu genggaman. Mogens namanya. "Dengar, Nona Aneh. Aku tidak percaya dengan ocehanmu itu." Lampu neon perlahan mulai meredup dan suhu ruangan semakin dingin. Pintu terbuka dengan kasar dan mendorong Anson hingga jatuh ke belakang. "Apa-apaan ini?" Anson mengomel karena tiba-tiba pintu terbuka sendiri. "Bersembunyilah Anson. Aku mohon." Entah karena suara lemari yang bergerak sendiri akhirnya ia menyembunyikan diri di bawah meja. Angin kencang menerpa wajahku dan bau busuk langsung menyergap di hidung. Aku tahu ia mulai mendekat dengan mata merahnya. "Senang bertemu denganmu lagi, Nona Amari." Apa yang terjadi selanjutnya? Siapa yang akan menolong Leanne dan Anson? Part selanjutnya "Siapa Kamu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN