Ayah sudah menunggu di ruang tamu dengan ekspresi tidak biasa. Ia tidak suka jika anak-anaknya pulang terlambat. Dengan suara berdehem yang terdengar itu artinya aku harus mendekat dan menjelaskan keterlambatanku.
"Maaf Yah. Aku tadi mampir sebentar ke rumah Anson. Ia sedang berduka," ucapku dengan menunduk bagai orang ketahuan mencuri. Ayah memang akan bersikap tegas jika anak-anak pulang di atas jam enam kecuali meminta ijin dulu.
"Lain kali jangan pernah pulang terlambat lagi. Kamu paham, Nak?" kata Ayah melunak.
Aku hanya menggangguk. Sekilas kulihat Lois hanya duduk di anak tangga. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Matanya tertuju pada lantai dan tidak mendengar saat kupanggil.
"Ada apa dengannya, Zie?" tanyaku saat berpapasan dengan Zie di dapur. Ibu sedang menyiapkan sesuatu untuk makan malam.
Zie mengangkat bahunya menandakan ia tidak tahu apapun juga. Jadi aku memilih diam saja. Biar ia cerita sendiri nantinya, pasti terjadi sesuatu.
"Lean, tolong bantu Ayahmu. Ia sedang terluka," panggil ibu yang berdiri memegang sebaskom air hangat dan peralatan P3K.
Kemarin Ayah tidak sengaja menginjak paku sehingga membuat kakinya terluka dan perlu dijahit. Ayah tidak pernah ke dokter, ia menyuruhku untuk melakukannya semua. Segera kuambil baskom air hangat dari tangan Ibu. Di antara anak Ayah dan Ibu, hanya aku yang diberi kepercayaan oleh mereka untuk melakukan tugas sebagai perawat. Dulu aku pernah menjadi asisten dokter. Dari sana aku belajar mengobati luka.
Telapak kaki Ayah yang baru kemarin kujahit agak terbuka. Mungkin terlalu memaksakan dirinya berjalan menuju tempat kerja. Padahal sudah kukatakan untuk beristirahat, tetapi ia tidak mau. Itulah Ayah yang memang keras kepala.
"Adikmu lagi sensitif," canda Ayah dengan melirik Lois. Ayah kami memang suka bercanda sedangkan Ibu orang yang serius.
"Yah...." panggilku sambil menjahit lukanya.
"Hmm..." Ia berdehem saja seraya melihatku.
"Apa Ayah dan Ibu tidak bosan menjalani hidup seperti ini?"
"Bagaimana dengan dirimu, Nak?" Ayah balik bertanya.
"Perasaan itu terkadang ada, Yah. Aku bosan setiap hari harus menyembunyikan siapa aku sebenarnya," ucapku jujur.
"Pasti ada rasa bosan hinggap di diri kita. Menyembunyikan tentang kita dan merahasiakan kemampuan yang kita miliki. Namun, kita harus tetap menjalani kehidupan ini. Kamu atau kita tidak bisa memilih jalan hidup yang kita lalui."
"Jadi ...."
"Sudah tidak usah dibahas lagi, Lean. Kamu 'kan sudah tahu jawabannya. Jangan bertanya lagi," omel Lois seraya naik ke kamarnya. Aku mengernyitkan dahi. Ada apa dengan adikku itu?
"Ada apa sih dengan anak itu?" desis Zie dengan menggeleng kepala melihat Lois yang mengomel.
"Jalani saja hari-harimu seperti biasa, Nak. Jangan terbeban dengan hal yang tidak bisa kita atasi," kata Ayah menepuk bahuku dan berjalan tertatih menghampiri Ibu.
Mungkin benar kata Ayah. Aku harus menjalani hidup ini seperti biasa dan berteman dengan banyak orang selagi aku bisa. Aku harap Anson mau berteman denganku.
"Ayo ... kita makan dulu. Panggil adikmu, Zie," teriak Ibu dari dapur. Padahal kami mendengarnya tanpa pakai teriak segala. Ah ... Ibu mungkin sama sensitifnya dengan Lois karena hari ini.
*****
Bagi kebanyakan manusia normal mungkin melewati hutan seperti ini akan merasa ketakutan. Namun, ini jalan satu-satunya menuju tempat yang setiap tahun kami kunjungi. Tidak ada jalan lain lagi.
"Jangan dorong kursi rodanya dengan cepat, Lois," kata Ayah memberitahu. Karena Ayah masih belum bisa berjalan maka ia menggunakan kursi roda.
Zie dan Ibu berjalan di depan dengan obor di kedua masing-masing tangan mereka. Aku dan Ayah berada di belakang dengan Lois yang masih diam. Biasanya ia paling banyak bicara dan bercerita mengenai penampakan yang ada di hutan ini meski ia tidak bisa melihat.
"Lois, kamu kenapa?" Aku mensejajarkan langkah agar bisa bicara dengannya.
"Kamu takut?" tanyaku dengan menyentuh bahunya.
Aku tidak bisa melihat perubahan raut wajahnya karena pencahayaan yang tidak terang. Yang bisa aku rasakan saat ini mungkin ia gusar menghadapi kenyataan di depan kami nantinya.
"Aku juga sama denganmu, Lois. Tiap tahun perasaan ini tidak bisa aku hilangkan. Aku berharap sih tidak ada perayaan semacam ini, tetapi kamu tahu sendiri, 'kan? Ibu tidak bisa dibantah."
Kami sama-sama diam dalam heningnya hutan. Embusan angin begitu dingin dan terasa lembab. Perjalanan kami masih jauh, masuk lebih dalam dan tempat itu berada di tengah hutan. Tiap tahun inilah yang harus kami lalui. Zie berada paling depan memudahkan perjalanan kami. Maklum hutan ini jarang dilewati penduduk. Rumornya banyak hantu yang bergentayangan di sini.
"Sedang apa manusia berada di sini?"
"Apa mereka juga sama seperti kita?"
Dengarlah dan rasakan kehadiran mereka yang mengintip di balik pepohonan, itu bukan rumor. Mereka memang ada dan mengawasi kami. Mereka juga melayang di sampingku.
"Apa kamu melihat mereka, Lean?"
"Tentu saja, Yah. Mereka sedang mengawasi kita," jawabku pelan.
"Kami bisa mendengarmu, Gadis Muda." Sepelan apapun suara ini, mereka selalu mendengar.
"Sudah jangan dihiraukan. Mereka tidak akan mengganggu perjalanan kita," sahut Ayah agar tidak memedulikan makhluk penunggu hutan.
Mereka menemani perjalanan kami hingga sampai tujuan. Tidak pernah sekalipun mereka mengganggu hanya sekedar mengawasi dari atas atau balik pohon.
"Tempat yang tidak menyenangkan." Lois yang diam kini mulai bicara dengan nada tidak suka.
Zie meletakkan dua obor di tempatnya lalu mempersilahkan Ibu berjalan ke depan. Di sampingnya ada Ayah yang berusaha berdiri dan hampir saja jatuh, untung Zie sigap menahan tubuh Ayah. Aku dan Lois berdiri di belakang.
"Apapun akan kulakukan asal tidak berada di tempat ini," dengkusnya.
"Ingat Lois! Sejauh apapun kamu pergi, dirimu tidak bisa menghindari. Kamu paham!" ujar Ibu tegas dalam perkataannya. Jangan pernah membantah atau melawan perkataan Ibu, ia akan marah.
Suara burung hantu dan serigala saling bersahutan menambah kesan seram di sekitar hutan ini. Di sini hanya ada kami dan yang lainnya-- di belakangku adalah mereka yang tak tampak. Mereka mengawasi kami.
"Ibu sangat merindukan Amarielyn. Andai ia masih di sini," katanya dengan terisak.
"Ayah juga merindukanmu, Lyn." Ayah juga ikut bersuara.
Di gundukan tanah yang berumputan di mana di bawahnya ada pintu kecil menuju suatu ruangan terbaring gadis muda yang sudah meninggal. Ia adalah Amarielyn Islean Amari-- kakak pertamaku.
Amarielyn, gadis muda dengan lesung pipi yang cantik dan bola mata cokelatnya yang indah. Ia kakak yang sangat baik sekali, tidak pernah membantah dan menjadi anak kesayangan Ibu.
Hari itu tidak pernah kulupa, ia mengorbankan dirinya untuk keselamatan kami. Rumah kami dibakar oleh seseorang yang tidak dikenal.
"Jika bukan karenanya, kalian tidak akan berada di sini sekarang," ucap Ibu lagi. Kami diam tanpa memberi komentar.
Ibu bagaikan orang gila ketika ia meninggal dan butuh beberapa tahun memulihkan kehidupan kami sejak kehilangan. Aku juga merasa sangat sedih ketika dirinya pergi. Bahkan diriku ingin sekali melihatnya lagi, tetapi ia tidak pernah menampakkan dirinya padaku. Aku berjalan ke depan dan meletakkan bunga Lavender di makamnya.
"Ini Aku, Lyn. Maukah kamu datang menemuiku walau hanya sekali saja?"
Sebenarnya ada apa dengan keluarga Amari?
Mengapa ada yang tidak suka dengan mereka?
Oh, ya nanti akan ada sesosok yang hadir di tengah keluarga Leanne. Siapakah dia? Amarielyn atau sesosok lainnya? Di tunggu saja.
Part Selanjutnya "Dia tersenyum".