"Kamu sudah berteman dengan tetangga sebelah, Dik?"
Aku menggeleng dengan mulut manyun. Seminggu mencoba akrab dengannya terbilang susah. Ketika aku mendekat, ia menjaga jarak. Ketika kuajak bicara, ia hanya berdehem saja.
"Itu artinya ia tidak mau berteman denganmu karena kamu aneh," sindir Lois sekenanya sambil melirikku.
"Enak saja kamu bicara seperti itu. Pokoknya aku sudah berusaha berteman dengannya," jawabku menggerutu.
"Suatu saat nanti ia akan meminta tolong padamu, Dik. Tunggu saja," ujar Zie dengan menyantap roti bakarnya.
"Wah ... wah ... Zie melihat yang akan terjadi lagi," celetuknya, Zie menjitak keningnya.
"Aduh Ibu.... Zie menjitakku." Lois selalu mengadu perbuatan Zie pada Ibu.
"Kalian ini selalu ribut tiap pagi. Tidak bisa, ya, sarapan tidak usah pakai ribut?"
Ayah yang baru selesai mandi terlihat kesal oleh ulah kami, ibu tidak menanggapi. Mungkin sudah biasa baginya melihat kami seperti ini.
"Hari ini kalian jangan pulang malam. Ingat! Hari ini hari apa," timpal ibu tanpa menghadap kami.
Perkataan Ibu membuat kami diam semua. Kami tentu saja ingat mengenai hari ini. Hari yang membawa sejarah bagi kehidupan kami.
"Dan ... kau Lois. Jangan lagi membawa temanmu yang usil itu ke rumah. Apa kamu paham?" sambung Ibu menatap tajam Lois.
Lois hanya tertunduk sambil mengunyah rotinya. Aku yang tidak paham tidak berkomentar apapun.
"Temannya hampir saja mengambil bola kristal milik Ayah," bisik Zie pelan di telingaku.
"Jika kalian sudah selesai sarapan, cepat berangkat sekolah. Zie, antar adik-adikmu pakai mobil," sahut Ayah menyerahkan kunci pada Zie.
Kalau Ayah berkata tegas dan tidak bercanda di pagi hari--kebiasaan Ayah--maka itu artinya ada sesuatu yang tidak boleh kami ketahui. Lois tidak banyak bicara di mobil, biasanya ia paling cerewet. Kami sama-sama diam sampai sekolah.
"Jam pulang nanti tunggu aku di taman sekolah. Kita pulang bersama," kata Zie sebelum melajukan mobil ke tempat parkir.
Aku dan Lois menggangguk bersamaan. Sebenarnya penasaran dengan kejadian Lois dan temannya, tetapi aku tidak mau bertanya.
"Kamu ingin tahu kejadian kemarin, 'kan?" Lois melirikku, ia paham betul jika aku ingin tahu.
"Aku mengajak Danny kemarin ke rumah. Aku tidak menyangka ia itu usil. Sewaktu kutinggal ke kamar sebentar, ia masuk ke ruang kerja ayah lalu menemukan bola kristal itu. Aku tidak tahu pasti persisnya bagaimana, tiba-tiba ia menjerit ketakutan. Untung ada Ayah di rumah," ungkitnya menjelaskan kejadian kemarin.
"Lalu apa yang dilakukan Ayah?" Kami masih tetap mengobrol sambil berjalan kaki menuju kelas.
"Ya ... kamu tahu sendiri, 'kan? Ayah melupakan ingatan Danny mengenai sosok yang ia lihat."
Bola kristal itu mungkin terjatuh dari tangan Danny dan memunculkan Ubel yang menakutkan. Beruntunglah dirinya bertemu Ayah yang bisa membuat dirinya melupakan kejadian kemarin. Salah satu kemampuan tersembunyi yang dimiliki Ayah adalah dapat memberikan lupa ingatan pada seseorang. Apa ia hebat? Mungkin menurut kalian hebat, tetapi tidak baginya.
"Ingat! Kalian harus menungguku di taman sepulang sekolah," perintah Zie menghampiri kami dan langsung kabur setelah menjitak kepala Lois.
"Aku masuk dulu," kata Lois pelan seraya masuk kelas.
Kelasnya berada di atas sedangkan kelasku berada di lantai tengah. Kukira Lois menyadari kesalahannya, ia tidak banyak bicara hari ini.
*****
Hari ini Anson tidak bersemangat. Bahkan saat dipanggil Mr. Wason, ia hanya melamun. Tatapannya satu arah dan tidak fokus. Aku ingin bertanya, tetapi ia diam.
"Hei ... kukira cowok anehmu itu lagi ada masalah," celetuk Aile berdiri di sampingku.
"Apa kamu tahu apa yang terjadi dengannya?" sambung Olivie--ia menyukai Anson--sambil bersidekap.
"Aku tidak tahu," jawabku singkat.
Anson semakin terlihat aneh ketika sesekali ia menengok ke halaman luar. Apa yang sedang dicarinya? Andai aku ini Zie, mungkin aku bisa tahu isi pikirannya.
"Maaf, saya keluar sebentar. Tadi ada telepon dari wali murid." Mr. Wason baru saja menerima telepon dan mengharuskan dirinya keluar.
"Wali murid siapa, Pak?" tanya anak-anak ingin tahu.
Mr. Wason meletakkan kacamatanya dan menghampiri Anson yang masih dalam keadaan membisu, "Saya turut berduka, Anson. Nenek anda baru saja meninggal."
Kami semua terdiam dan memandang Anson sedih. Kalian tahu, bukan rasanya ditinggal oleh orang yang kita cintai? Kemudian Mr. Wason memeluk Anson dan menepuk punggungnya memberi kekuatan.
"Pulanglah, Nak. Saya sudah meminta ijin pada wali kelasmu."
Anson membereskan bukunya lalu pamit pada Mr. Wason. Sepeninggalnya, aku jadi teringat perkataan Zie beberapa minggu lalu jika neneknya akan meninggal. Belum lagi Lois yang mencium bau melati. Oh, ya bicara mengenai bau melati, aku sempat merasakan bau yang menyengat dari bunga putih itu.
"Terima kasih sudah mau berteman dengan cucuku, Nak." Wanita dengan syal dan rambut putihnya berbisik di telinga dan melambai padaku setelah itu hilang menembus dinding kelas.
*****
Aku menyempatkan mampir sebentar ke rumah Anson sebelum mereka sekeluarga terbang ke Indonesia. Ah ... aku jadi merindukan salah satu kota yang terkenal dengan rendangnya. Entah kapan aku bisa ke sana lagi.
"Permisi ..." Aku mengucap salam dan mengetuk pintu. Kurasa mereka belum pergi.
Seorang pria berambut hitam menyambutku dengan senyuman hangatnya, "Kamu pasti temannya Anson, bukan?"
"Iya Tuan Narve. Saya turut berduka cita, Tuan."
"Masuklah, Nak. Istri saya sudah cerita mengenai dirimu dan hanya kamu yang pertama kali mau berteman dengan Anson," ujar Tuan Narve senang walau aku tahu ada guratan kesedihan di matanya.
"Apa kalian akan berangkat malam ini?" tanyaku basa-basi.
Tuan Narve menggangguk sambil mempersilakan aku duduk sementara itu ia memanggil istrinya di kamar. Nyonyo Narve tampak kusut dan tidak terlalu sehat. Namun, ia menyempatkan diri untuk bertemu denganku.
"Maaf, ya, Lean. Saya jadi seperti ini."
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya hanya menyampaikan turut berduka cita saja mengenai Nenek Anson."
Belum lama aku di sini, Nenek Anson berada di samping Nyonya Narve. Sekarang aku tahu mengapa Anson dapat berbicara Bahasa Indonesia. Ternyata sang ibu merupakan penduduk asli sana sedangkan sang ayah merupakan orang Irlandia.
"Nah ini Anson. Ia baru selesai beberes," kata Tuan Narve di anak tangga.
Aku yang baru saja duduk mendapatkan kejutan lagi di dalam rumahnya. Ini mataku yang salah atau memang benar adanya. Di belakang Anson ada sesosok yang sangat menyerupai dirinya, tetapi ini perempuan dengan rambut sebahu. Gadis itu tersenyum padaku.
"Lean, kamu tidak apa-apa, Nak?" Nyonya Narve menyentuh lengan ini ketika melihatku melamun.
"Oh.... saya baik-baik saja," jawabku gugup.
"Untuk apa kamu datang ke rumahku?" tanya Anson ketus, Tuan Narve sampai menghela napas mendengar anaknya bicara seperti itu.
"Karena aku...." Sejenak aku berhenti tatkala melihat gadis itu kian mendekat, "Aku ingin mengucapkan turut berduka cita saja. Apa tidak boleh?"
Ayah maupun Ibunya serba salah saat Anson mengusirku padahal aku tidak punya salah. Salah memangnya mengucapkan rasa simpati?
"Baiklah aku akan pergi. Jaga dirimu." Aku pamit dengan diantar ayahnya sampai pintu.
Tuan Narve menepuk punggung tanganku, "Bertemanlah dengannya, Nak. Ia butuh teman untuk mencairkan hatinya yang beku." Aku menggangguk dan meng-iya-kan permintaan ayahnya.
Sebenarnya tidak masalah bagiku Anson mengusir dengan cara seperti itu. Akan tetapi, ada hal yang mengganjal tentang gadis yang kutemui tadi. Apa hubungannya dengan Anson? Apa dia keluarganya dan menjadi hantu?
Aku ingin bertanya pada Anson, tetapi pluit Zie memanggilku dari atas kamar. Mau tidak mau aku harus menunda dulu dan kemungkinan akan bertanya pada Zie.
Siapa gadis yang menyerupai Anson?
Lalu hari apa yang dimaksud Sang Ibu?
Part Selanjutnya "Ini Aku"