Coraline selalu mengikuti ke mana saja dan hal itu memantik kedatangan makhluk lainnya yang ingin melihatku dari dekat. Istirahat kedua, kuputuskan untuk menenangkan diri di atap sekolah di mana terdapat taman yang indah. Rasanya sangat capek jika menanggapi ocehan mereka.
"Ah ... tenangnya di sini!" teriakku penuh kepuasan sambil merenggangkan tangan.
Kusandarkan punggung di bangku dan bernyanyi kecil mencairkan suasana yang sepi. Anak-anak lain enggan ke sini, mereka senang bergosip di kelas. Aku berusaha memejamkan mata sejenak, tetapi celetukan seseorang membuyarkan lamunan.
"Suaranya jelek sekali!" Dengan santainya ia mengejekku dari kejauhan. Suaranya begitu jelas terdengar, meski ia berada beberapa meter. Rasanya aku ingin meninju sekarang.
Anson yang merebahkan tubuhnya di bangku tidak menyadari kedatanganku. Ia menutup matanya menggunakan topi dan tersenyum sinis. Mungkin dirinya pikir aku kabur karena malu. Ia tidak tahu mengenai diriku.
"Ini suaraku. Memangnya ada masalah denganmu?" Anson terkejut mendapati diriku berada di depannya.
Aku berkacak pinggang dan menudingnya dengan telunjuk, "Kamu pikir dirimu juri? Jangan mengejekku terus. Paham!"
Anson mendecih dan berdiri. Tubuhnya yang jangkung membuatku harus mendongak. Memang ia pemuda yang tampan walau tampangnya menyebalkan.
"Sudah tahu suara jelek, masih saja bernyanyi. Bahkan binatang akan berlarian mendengarnya." Pemuda yang menjengkelkan ini menghina suaraku. Aku sadar jika suara ini tidak semerdu Celine Dion, tetapi nyanyianku masih bisa didengar oleh telinga.
"Sana minggir!" Anson menyenggol bahuku tanpa perasaan.
Aku menghadang jalannya ketika berada di pintu dan melihatnya dengan jengkel sekali,"Aku tidak punya salah padamu. Mengapa kamu selalu memusuhiku?"
Sikap jutek dan ketusnya hampir membuatku emosi, tetapi aku sadar kalau itu tidak akan membuahkan hasil. Ia memang pemuda dingin, jutek dan ketus. Ia tidak bisa dilawan dengan bantahan.
"Karena aku tidak menyukai gadis sepertimu sejak awal ketika kulihat dirimu berbicara sendiri di depan gerbang. Kamu adalah gadis sinting," ujarnya dengan menunjukkan tanda orang gila.
Aku berusaha memendam amarah dan menghela napas, ia membalasnya dengan menyunggingkan senyum sinis dan berlalu dariku. Bersiul bagaikan orang yang tidak bersalah serta menutup pintu besi dengan kasar.
"Kukira ia pemuda baik dan murah senyum. Tidak tahunya ia sama anehnya denganmu, ya?" Coraline malah tertawa melihat pertengkaran tadi.
Aku meninggalkan Coraline yang terus melayang dan mengikutiku hingga ke kelas. Mungkin Anson memiliki alasan lain tidak menyukai diriku. Masa gara-gara berbicara sendiri, ia tidak menyukaiku. Alasan yang tidak logis.
*****
Petang ini aku harus pulang sendiri, Ailee bersama teman lainnya menonton bioskop. Ia mengajakku, tetapi kutolak. Bioskop tempat yang kuhindari selain rumah sakit. Seperti biasa lorong sekolah yang sudah sepi dan nyanyian dari mereka yang tak jelas sungguh tidak menyenangkan.
"Ternyata masih ada manusia yang bisa melihat kami, ya?" Kakek tua yang melayang menyempatkan diri untuk bertanya. Padahal aku sudah pura-pura tidak menatapnya.
Aku selalu diingatkan Ibu agar tidak sembarangan mengajak bicara makhluk tak kasat mata. Namun kali ini, aku ingin menyapanya.
"Mengapa anda tidak pergi, Tuan---?"
"Smith. Panggil saja Kakek Smith, Nona," jawabnya dengan senyuman. Kakek Smith hantu ramah dan sabar. Itu yang kurasakan saat bicara dengannya.
"Masih ada hal yang ingin aku tunggu di sini."
"Siapa? Seseorang atau makhluk yang sama dengan anda, Kek?"
Kakek Smith tersenyum menanggapi pertanyaanku.
"Tentunya bukan manusia, Nak. Mana mungkin aku menunggu manusia yang sudah mati di tahun 1950?"
"Lalu siapa yang anda tunggu?"
"Arwah istriku. Mungkin dia tersesat hingga tak menemukanku," kekehnya dengan bercanda.
Aku bukannya pulang malah mengobrol dengannya di lorong yang sudah mulai gelap. Dia banyak bercerita di masa mudanya melawan perang dunia pertama. Lubang peluru yang ada di dahinya menandakan jika dia meninggal karena tembakan.
"Maaf, Kakek Smith. Aku harus segera pulang," pamitku padanya.
Aku hendak melangkah pulang saat Kakek Smith menanyakan sesuatu, "Nona, sudah berapa lama kamu bisa melihat kami?"
Aku menoleh ke belakang, "Sudah lama sekali, Kek."
Tak terasa waktu telah berlangsung lama bagi keluargaku harus hidup seperti ini dan menyembunyikan kebenaran tentang kami. Namun, kami tetaplah kami yang tetap menjalani kehidupan layaknya manusia normal.
"Sampai jumpa esok, Lean." Coraline melambaikan tangannya saat aku sudah sampai gerbang. Aku membalasnya.
Lois tidak setia saudara, ia malah pulang duluan. Aku sudah menyuruhnya menunggu sebentar. Kebetulan pulangnya sama denganku. Dasar Lois yang tidak sabaran akhirnya pulang saat aku lagi piket membersihkan kelas.
Jarak sekolah menuju rumah memang tidak terlalu jauh. Kalau berjalan kaki mungkin membutuhkan dua puluh menit untuk sampai. Kuputuskan untuk pulang sendiri, meski hari sudah gelap. Jangan dikira aku sendirian, ya. Beberapa dari mereka menunjukkan eksitensinya dengan mengajak bicara. Biasanya tidak pernah kutanggapi, akan tetapi kali ini berbeda.
"Hanya manusia seperti dirimu yang bisa menolong pemuda itu."
"Siapa kalian yang maksud?" Aku tidak paham arah pembicaraan dua hantu yang ada di depanku ini.
"Itu--- Pokoknya kamu harus ke sana segera, Lean," ucap salah satu hantu bergaun eropa.
Seharusnya tidak kuturuti permintaan mereka. Namun, kecil hati ini mengatakan ada sesuatu yang sedang terjadi. Aku segera berlari mengikuti dua hantu yang menunjukkan jalan.
"Siapa kalian? Siapa di sana!"
Dari kejauhan terdengar suara yang familiar. Sesosok pemuda mengibaskan sesuatu ke udara sambil berteriak. Dari kacamata manusia biasa tampak tidak terjadi apapun. Namun, mataku menangkap sesosok bayangan hitam sedang mengerjainya.
"Makhluk itu mengerjainya ketika sampai di sini."
"Bukannya kalian bisa melakukannya?"
"Jika kami bisa mengusir makhluk itu, tidak mungkin kami memanggilmu."
Ah ... dasar. Inilah yang tidak kusukai dari kemampuan ini. Kadang mereka sering meminta tolong padaku tanpa kenal waktu. Datang dan pergi dengan sesuka hati.
"Anson ....!" Aku meneriaki namanya agar makhluk itu menjauh. Untunglah bayangan hitam itu melesat pergi melihat kedatanganku.
Ia terduduk dengan tangan yang menutupi kepalanya serta bergumam tidak jelas. Aku menyentuh bahunya, ia terkejut akan tetapi tanganku ditepisnya.
"Anson, kamu baik-baik saja?"
Seakan tidak terjadi apapun, ia berdiri dan menuntun sepedanya menuju arah pulang. Ada apa dengannya, sih? Aku menanyakan dengan sopan, ia malah menghiraukanku. Seharusnya ia mengucapkan rasa terima kasih bukannya bersikap acuh.
"Anson .... tunggu aku!" teriakku memanggil namanya. Ia tidak menoleh padaku. Kencangnya suaraku tidak ia gubris.
"Anson, kamu kenapa tadi?" Padahal aku sudah tahu kejadiannya.
"Bukan urusanmu," jawabnya ketus.
Aku berjalan di sampingnya dan tidak banyak bicara lagi. Kami saling terdiam hingga sampai rumah. Anson berhenti sejenak ketika berada di depan rumahku.
"Aku sudah tidak punya hutang lagi denganmu. Masuklah," katanya tanpa menatapku. Apa wajahku jelek? Sampai-sampai berbicarapun, ia tidak mau menoleh atau memang sudah sifatnya.
Setidaknya ia masih punya hati nurani tidak meninggalkanku di jalan tadi. Dalam hal ini, biarlah kumaafkan atas sikapnya yang menyebalkan.
"Terima kasih,"sahutku pelan sebelum Anson menuntun sepedanya dengan perlahan.
"Anson ..." Anson berhenti sejenak, "Apa boleh aku berteman denganmu?"
Sekali lagi aku dibuatnya kesal, ia tidak mau menjawab pertanyaanku,"Terserah kamu saja. Pokoknya aku ingin berteman denganmu!" teriakku padanya.
Aku tidak peduli ia mau berteman atau tidak. Masa bodoh, pikirku. Aku akan terus mendekatinya agar mau berteman denganku.
Sebenarnya Anson juga memiliki rahasia loh. Mengapa ia bersikap seperti itu kepada Leanne?
Nantikan terus cerita ini ya.
Part selanjutnya "Boleh Berteman?"