Part 5 Mencoba Berteman

1045 Kata
Semalam benar-benar menguras tenaga kami. Makhluk bertaring berkepala manusia itulah yang menjadi ulah selama ini di ternak kami. Dia bukan vampire atau hantu. Makhluk itu menyebut dirinya sebagai penghisap. Bukankah itu sama saja? Dia menyukai darah binatang karena lezat. Menurutku itu menjijikkan. Dia kehausan sehingga mencari minum darah. Tapi 'kan jangan menguras habis darah ternak kami. Awalnya, dia tak mau diajak kompromi sama sekali. Sesuka hatinya dia mau melakukan apa dan kami tidak boleh mengurusnya. Namun jika dibiarkan terus, makhluk itu akan semakin merajalela. Dia akan menghabisi ternak milik warga lainnya setelah ternak kami habis. Andai Ayah tak memiliki bola itu kemungkinan kami tak akan selamat. Selain berguna untuk pemanggil arwah, benda tersebut dapat memberikan perlindungan. "Aku sampai sekarang masih kesal dengan makhluk bertaring itu," dengkus Lois sambil duduk. Tentunya sambil mengambil setangkup roti. "Enak saja dia mengatakan kalau kita itu sama sepertinya," lanjutnya dengan muka yang ditekuk dan tak luput mulutnya penuh dengan makanan. "Dia tak akan mengganggu ternak kita lagi, Lois. Ayah sudah membuang sedikit kemampuannya untuk menghisap darah sehingga waktu bulan purnama saja, dia akan merasa haus." Ibu menjelaskan secara detail pada Lois. "Lagipula kau penakut. Bersembunyi di belakang Ibu," ejekku senang melihatnya bertampang masam. "Sudah jangan ribut. Kasihan ayah kalian yang lelah. Biarkan ia tidur," ucap Ibu agar memelankan suara kami. "Zie, hari ini antarkan kedua adikmu ke sekolah. Kalian 'kan satu sekolah." "Huum ...." Zie memang tak bisa membantah perkataan Ibu walau sebenarnya ia tak suka mengantarkan kami. Ia kakak yang paling aneh, tetapi perhatian. ***** Zie itu tepat waktu dan buktinya kami sudah di sekolah tiga puluh menit sebelum bel berdentang. Ia akan marah jika kami terlambat satu detik saja. Baginya waktu itu sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan. "Turunlah. Aku akan memarkirkan mobil ini." "Yeay kita kepagian," ujar Lois tak suka, "hanya ada aku, kau dan----." "Hei ... itu bukannya tetangga sebelah?" Lois berlari menghampiri Anson yang menuntun sepedanya. Pemuda jangkung itu terkesan acuh saat Lois menyapanya. Ia asyik berjalan tanpa memperhatikan kami yang berada di sampingnya. "Hai Anson. Apa kamu suka pai buatan ibuku?" tanyaku basa-basi. Ia menuntun sepedanya, enggan menoleh padaku. "Oh ... namamu Anson?" Lois mengajaknya bicara, tetapi ia malah diam saja. Bukannya menjawab, ia malah melirik tajam. Kalau bukan makhluk itu tidak memintaku untuk berteman dengannya, sudah kupastikan kepalanya melayang hari ini. Enak saja ia mengacuhkanku. "Kalau ditanya itu jawab, Bung," timpal Lois dengan menyikut lengannya. Anson memalingkan wajahnya ke arahku, "tidak enak." Rasanya aku geram saat ia mengatakan pai buatan Ibu tidak enak. Keterlaluan sekali anak ini. Rasanya ada air mendidih di kepala ini. Padahal tetangga kami dulu mengatakan pai Ibu yang paling lezat. "Anson, kamu memakai wewangian melati, ya?" Lois mengendus layaknya hewan yang mencium makanan. Kelakuan anehnya mulai keluar, pasti ada hal yang terjadi. "Hei ... apa-apaan ini!" Mukanya merah menahan marah saat Lois melakukan hal itu. Memang kalau dilihat secara normal, kelakuan Lois membuat tidak nyaman. Kalau Lois bertingkah seperti itu maka ada seseorang yang tak tampak di belakang Anson. Namun, aku tidak melihat keberadaan mereka. "Anson, apa ada di keluargamu yang menyukai bau melati?" tanya Lois antusias. "Kalian ini aneh sekali." Kelihatannya ia marah dan langsung pergi menaiki sepeda. "Jelas-jelas aku menciumnya kok. Ih ... dasar orang aneh." "Neneknya akan segera meninggal," timpal Zie tiba-tiba seraya berjalan mendahului kami. Pantas saja makhluk bertudung itu ada di rumah Anson. Apa dia akan menjemputnya? Ah ... untuk apa kupikirkan? ***** Tahun ini aku di kelas delapan dan sekelas dengannya. Itu sangat tidak menyenangkan. Ia duduk di depan, Mrs Wanda yang menyuruhnya. Kurasa guru bertubuh gemuk itu menyukai Anson yang menurutnya tampan. Lagipula beliau belum menikah. "Ia pemuda tampan yang pernah aku temui," puji Coraline si hantu centil sudah ada di samping Anson. "Aku suka kamu," bisiknya di telinga Anson dengan cengirannya. Tampaknya Anson terganggu oleh kehadiran Coraline. Ia menggaruk telinganya dan menoleh ke kanan. "Sayang, ia tidak bisa melihatku." Coraline menyandarkan lengannya di bahu kanan Anson. Aku hanya bisa melihat Anson iba ketika ia mengusap bahunya dan bergidik. Coraline mengganggu saja. "Jangan mengganggunya lagi, Coraline. Kasihan dia," ucapku pelan agar tidak terdengar. Aku tidak menyangka kalau Coraline adalah hantu yang jahil. "Manusia ini tampan dan lucu, Lean. Masa, sih aku tidak boleh berteman dengannya?" jengkelnya dengan melayang ke sana kemari. "Ia tidak sama denganmu. Lagipula kamu itu menggangguku sekarang." Kini giliranku yang merasa kesal dengannya. Tingkah lakunya menyebalkan. Mrs Wanda melempar kapur padaku karena melihatku berbicara di tengah pelajaran. Teman-teman memandangku aneh. "Jangan berisik, Nona Amari!" Setelah puas memarahiku, ia kembali menulis soal di papan tulis. Gara-gara hantu usil akhirnya aku dicap aneh lagi oleh teman lainnya. Coraline hanya tertawa menyaksikan aku yang malu di atas lemari. Tempatnya selalu di sana seraya memperhatikan kami. Ailee menyikutku dan berbisik di telinga, "Ada hantu, ya?" Aku menggeleng serta memberi jawaban bohong, "Aku bermimpi." "Oh, kukira ada hantu. Lagipula mana ada hantu, 'kan," cibirnya tak percaya. Anson menoleh ke belakang dan tersenyum mengejek seakan ia mengganggapku gila. Mengapa anak yang memiliki kemampuan ini selalu dianggap aneh? Anson bahkan jelas-jelas memberikan tatapan tak sukanya kepadaku. ***** ["Iya Nek. Aku akan mengunjungimu di sana waktu libur semester."] Aku tak sengaja menguping percakapan Anson dengan seseorangnya--mungkin neneknya, menggunakan bahasa yang kukenal. Ia terlihat cemas dari nada bicaranya. "Selain berbicara sendiri, hobimu juga menguping." Aku ketahuan olehnya dan itu membuatku malu. "Aku tidak sengaja lewat belakang kantin, kok." Aku mencari alasan yang mudah agar tidak ketahuan. "Mana ada gadis sepertimu ke sini? Bilang saja kamu mengikutiku." Ia berucap sinis seraya menudingku dengan jari telunjuknya. "Ya sudah aku memang menguping," jawabku jujur menahan kesal. "Ckckck ...." Anson menyimpan ponselnya di saku celana lalu menjaga jarak seakan menghindariku. "Aku hanya ingin---" "Ingin apa?" tanyanya kasar sambil menoleh padaku. "Mengapa kamu bisa Bahasa Indonesia?" Anson mengernyitkan dahinya dan menanyakan hal secara beruntun. "Dari mana asalmu? Mengapa kamu bisa tahu? Apa kamu menyeldikiku?" "Karena aku pernah tinggal di negara dua musim itu beberapa tahun lalu," sahutku bangga karena pernah tinggal di sana walau sebentar. Kakek buyutku dari Ayah merupakan orang asli Indonesia dan menikahi gadis Irlandia. Jadi aku bisa disebut bule campuran. L "Tingkahmu seperti menyelidiki seseorang. Apa itu pekerjaan tersembunyimu?" Aku tak menggubrisnya, aku tak ambil pusing. "Apa kamu sedang berbicara dengan nenekmu?" tanyaku antusias. "Kurasa nenekmu orang yang menyenangkan," ujarku berusaha mencairkan suasana yang kaku saat ini. "Tidak perlu tahu!" Anson berjalan ke arahku dan sedikit menyenggol lengan. Ia mungkin tidak suka dengan pertanyaanku. "Aku hanya ingin berteman denganmu. Apa tidak boleh?" Padahal permintaanku cuma itu saja. Apa susahnya sekedar menjadi teman obrol? Anson berhenti dan menyahut dengan nada ketus. "Aku tidak ingin berteman dengan gadis aneh sepertimu." Ternyata Leanne pernah tinggal di Indonesia. Apa itu sebabnya Leanne dan Anson saling terhubung? Part selanjutnya "Masa Bodoh"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN