Seharusnya ini menjadi kencan pertama dan tak terlupakan bagiku, tetapi kenyataannya tidak seindah yang kubayangkan. Anson terus menggenggam tanganku meski kami sedang duduk menonton. Bukan mereka yang tidak tampak yang kutakutkan melainkan sesosok pria yang terus mengikuti ke mana saja aku pergi. Para arwah penasaran terasa enggan keluar dari persembunyian, mereka bersembunyi di balik dinding atau di lukisan. Sebenarnya siapa pria tersebut? Jika dilihat selintas, perawakannya dan tingginya seperti Ayah. Aku yakin sosok itu tidak muda lagi. "Aku tidak bisa ke sana. Ia bisa melihatku juga, Lean." Ternyata sosok itu juga bisa melihat Ruby dan itu semakin membuatku penasaran. Sepanjang film diputar aku tidak bisa menikmati. Sepasang mata milik sosok itu terus memandangiku di ujung dekat lay

