"Sepertinya syal buatan Ibuku mengingatkan ibumu pada sesuatu," ucapku pada Anson sehabis makan malam. Anson mengajakku duduk di teras, aku duduk di ayunan sedangkan ia berdiri di samping. Ada geliat aneh dari gesture tubuhnya. "Tadi ibu menunjukkan selembar foto kakek di masa remaja dan tebak apa yang kulihat, ternyata syal itu bukan hanya mirip tapi sama." "Ya, mungkin saja ada yang pernah membuatnya. Siapa tahu Ibuku pernah belajar merajut dengan orang yang sama dengan orang yang membuat syal untuk kakek." Semakin hari aku semakin pandai menutupi kebohongan dalam keluargaku dan tidak tahu sampai kapan harus berkata sejujurnya. Akankah ia menerimanya? "Heem ... mungkin juga, ya." "Sudah ah ... jangan bahas itu lagi," potongku agar ia tidak membahas syal lagi. Anson mengacak ponik

