Part 13 Anson

1124 Kata
Pagi ini aku ditemani Zie berkunjung ke rumah sakit di kota. Suasana tempat ini membuatku tidak bisa bernapas lega. Ada begitu banyak arwah-arwah penasaran yang memandang kami dari dekat maupun jauh. "Apa mereka manusia? Atau sama seperti kita?" "Mereka berbeda seperti manusia lainnya." Selintingan kalimat yang tidak ingin kudengar terus saja mengganggu dan baru berhenti ketika kami berada di depan meja resepsionis. "Ada yang bisa kami bantu, Anak Muda?"tanya salah satu perawat pria. "Kami mau berkunjung, Pak,"jawab Zie pada intinya. "Keluarga atau teman?" "Teman,"jawabku langsung. "Atas nama siapa?" tanya perawat wanita yang bertubuh gemuk di sebelahnya. "Autumn Lavichie, Bu Angel." Namanya tidak sesuai dengan sikapnya yang memandang kami aneh dan sedikit marah. Mungkin mengganggunya di saat sarapan pagi. "Kalian temannya?" "Katakan saja jika kita berteman sudah lama dan baru mendengar kabarku sekarang." "Iya saya teman masa kecilnya, Bu. Saya baru dengar kabarnya baru-baru ini,"ujarku pura-pura menangis. Untung Autumn membantuku. Zie yang super cuek itu malah pergi dan memilih duduk di ruang tunggu sembari membaca bukunya daripada menolongku. "Gadis itu ada di ruang A231. Batas waktunya hanya dua puluh menit, Nona. Isi list kunjungannya sebelum masuk." Wanita itu menyerahkan lembaran kosong dan harus aku isi. "Kamu mau ikut, Zie?" Zie mengangkat tangannya dan memberi tanda jika ia tidak mau ikut. Akhirnya aku yang harus berjalan sendiri di lorong yang dipenuhi dengan mereka yang tidak tampak. "Itu aku yang sekarang. Aku terus tumbuh, tetapi tidak bisa hidup." Sekarang aku berada di depan gadis yang memakai baju rumah sakit, terbaring tidak berdaya dengan selang monitor jantung dan alat bantu pernapasan. Rambut sebahu dan tubuhnya ringkih membuat diriku bersedih. "Kamu cantik, Autumn,"pujiku padanya. "Kata Anson aku ini jelek. Ia sering memanggilku dengan 'Katak hijau' karena sewaktu kecil aku senang melompat." Aku tertawa renyah mendengar pengakuan jujur Autumn. Ia gadis yang berhati hangat dan suka bercanda. Jauh sekali dengan Anson. "Anson sebenarnya pemuda yang baik dan penyayang, Lean. Sayang ia berubah dan menutup dirinya ketika kecelakaan menimpa diriku. Ia selalu menyalahkan dirinya hingga aku seperti sekarang ini." "Mengapa kamu tidak menampakkan dirimu di hadapannya? Biasanya saudara kembar memiliki ikatan yang kuat," seperti Amarielyn dan Zie, ujarku. "Aku sudah mencoba, tetapi tidak berhasil. Aku menunggu selama beberapa tahun agar ada yang mau berteman dengan Anson. Akhirnya dirimu datang, Lean." "Aku tidak yakin bisa menolongmu, Autumn. Aku takut ia tidak percaya." "Gunakan kemampuan yang dimiliki Lois, Lean. Pertemukan aku dengan Anson malam ini." Apa bisa Lois dimintai tolong untuk membuka mata batin Anson? Bagaimana jika anak itu menolak? Mengapa aku jadi bingung sendiri? "Aku akan membantumu, Kakakku yang manis." Si cecenguk kecil ini tiba-tiba saja sudah ada di depan pintu. Bagaimana ia bisa datang ke sini? "Aku datang ke alam bawah sadarnya kemarin." Pernyataan Autumn memberiku jawaban atas kedatangan Lois di rumah sakit ini. "Bagaimana kamu bisa masuk, Lois?" "Aku katakan saja jika barangmu ketinggalan,"ujarnya enteng sambil membawa bunga. Padahal aku tidak sempat membelinya tadi. "Lebih kamu keluar saja deh. Nanti ketahuan sama petugas jika kamu kelamaan di sini," usirku halus. "Aku memang mau keluar. Oh, ya Anson sebentar lagi datang. Kamu tidak pergi, Lean?" "Beberapa langkah lagi ia akan mendekat. Lebih baik kamu pergi dulu daripada si sombong itu mengusirmu secara kasar." Lois mengetahui kedatangan seseorang melalui penciumannya yang tajam. "Pergilah Lean. Nanti malam kita bertemu di rumahku." Lois segera menyeretku keluar dengan tergesa karena Anson sudah hampir sampai. Kami bersembunyi di antara ruang A231 dan A233 yang dipisahkan lorong sempit. Aku melihat sosoknya yang memakai jaket lavender dengan earphone di telinga masuk ke kamar pasien. "Sudah jangan melihatnya terus. Air liurmu bakalan deras tuh," canda Lois menutup mulutku dengan tissue. Kalau bukan di rumah sakit sudah kujitak kepalanya agar dirinya sadar sudah meledek. ***** "Jadi ... sudah berapa lama kalian menikah, Tuan Narve?" Pertanyaan sama yang selalu diajukan Ayah jika diundang tetangga dan aku selalu mengingatnya. "Panggil saja Luce," jeda Tuan Luce sebelum memulai lagi, "Kami sudah menikah hampir dua puluh satu tahun." "Bagaimana dengan kalian?" tanya Nyonya Aylee menatap Ayah dan Ibu. Ayah memandang Ibu dan menggenggam jemarinya lalu menciumnya, "Sudah sangat lama. Bahkan kami tidak ingat," canda Ayah dengan senyuman yang mengembang. "Kalian ini memalukan melakukan itu di sini," desis Anson tidak suka. "Jangan seperti itu, Nak. Itu ekspresi cinta mereka," cela sang Tuan Luce. "Memang dirimu tidak pernah jatuh cinta?" sindir Lois menjulurkan lidahnya, kusikut lengannya agar tidak terjadi keributan. Ayah dan Ibunya sampai tertawa mendengar Lois mengatakan hal itu padahal aku takut mereka terusik dan marah. Namun, kenyataannya mereka mengatakan sambil bercanda jika Anson dijauhi para gadis karena ada hantu yang mengikutinya. "Lucu sekali para gadis itu, Greg," kekehnya sambil mengambil minum. Ayah dan Ibu menimpali dengan bercanda juga. Aku hanya tersenyum kecut. Jadi inikah yang dikatakan Autumn kalau dia sedang mencari seseorang? Di anak tangga kulihat dirinya berdiri, tersenyum padaku dan mengedipkan mata. "Mereka takut padaku saat kumintai tolong." Iya pasti mereka takut karena bagi siapa saja yang tidak biasa melihat penampakan akan ketakutan. "Anakmu tampan, Luce. Pasti jika ada anak perempuan wajah mereka akan mirip dan cantik tentunya," sungging Ayah pelan. Tuan Luce dan Nyonya Aylee menghentikan makan mereka sehingga membuat kami tidak nyaman dengan situasi ini. Aku jadi serba salah. "Anak kami kembar, Greg. Namun, saudari kembar Anson sedang koma di rumah sakit. Ia gadis kecil kami yang cantik dan ...." "Tidak usah diteruskan, Luce,"potong Ayah tidak enak hati. "Ia anak kesayangan kami. Harta berharga bagai berlian. Mungkin jika tidak koma, ia akan tumbuh sepertimu, Lean,"ungkap Nyonya Aylee. "Maaf jika kami membuatmu bersedih, Aylee," ucap Ibu sambil menggenggam jemarinya. Nyonya Aylee menyeka air matanya dan tersenyum pedih. "Andai aku menjaganya dulu tidak mungkin ia jatuh dari ayunan,"isaknya mengenang masa lalu. Prankk!!! Suara sendok yang dibanting membuat kami tersentak kaget dan menoleh ke arah Anson. "Maaf ... aku sudah selesai," pamitnya sambil mendorong kursi dengan kasar. "Anson!" bentak Tuan Luce agak marah. "Sudah tidak apa-apa, Luce. Kami yang salah telah mengingatkan kembali kenangan sedihnya," ucap Ayah menengahi. Aku, Lois dan Zie hanya diam. Takut memberi komentar yang membuat tersinggung. Jadi Ibu menyuruh kami menunggu di ruang tamu sedangkan Ayah bersama Tuan Luce berada di ruang kerja. Mereka mau membahas pekerjaan. Sementara Ibu membantu Nyonya Aylee di dapur, ia memintaku untuk menemui anaknya di kamar sekedar berbincang. Aku melangkah pelan naik menuju kamarnya. "Anson ... apa kamu sudah tidur? Aku boleh masuk?" Terkunci dari dalam saat kucoba membukanya dan tidak sahutan apapun. "Anson dalam keadaan marah." Apa ini waktu yang baik untuk bicara dengannya? "Kurasa kita butuh waktu lagi, Autumn. Tenanglah kami pasti menolongmu." Tidak ada gunanya berlama-lama di depan kamarnya. Menurut Autumn jika kembarannya marah membutuhkan waktu sampai berjam-jam. Aku mengundurkan diri dan pamit pulang ke rumah terlebih dulu. Apa Leanne berhasil menjalankan misinya? Apa Anson akan percaya? Part selanjutnya "Mencari Masalah"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN