Part 14 Mencari Masalah

1277 Kata
Senin lebih cepat daripada yang kuperkirakan. Aku benar-benar tidak menantikan hari ini di mana harus bertemu dengannya. Minggu kemarin, Anson tidak menampakkan batang hidungnya di taman ketika seluruh warga menyambut hari musim dingin. Kebiasaan warga sini adalah merayakan pergantian musim walau masih lama dengan bernyanyi, memasak dan berdansa. "Kami tidak semangat hari ini, Lean?" celetuk Lois sembari mengambil sepatu di rak. "Heum ..." "Karena masalah Anson?" "Iya ... seperti itulah. Aku tidak yakin ia mempercayai ucapanku," keluhku pada Lois. "Semoga sukses dengan misinya,"kekehnya sambil mengacungkan dua jempol ke arahku. Kelakuannya menyebalkan. Hari ini Zie membolos lagi. Ia mau bolos berapa kalipun, nilainya selalu memuaskan Ibu. Otaknya memang encer beda denganku. "Zie ... aku berangkat!" teriakku padanya yang tengah asyik membaca di ruang tamu. Perkataanku diacuhkannya. Itulah Zie meski hujan badai atau cewek cantik ada di depannya, ia akan fokus membaca. Aku langsung melangkah keluar karena Lois sudah menunggu. Hari ini Ayah memperbolehkan Lois membawa sepeda motor matic. Lois begitu senangnya mengendarai motornya sehingga kami sampai lebih cepat dari biasanya. Aku yakin motor baru ini akan berubah nantinya di tangan Lois. Ia akan merobak total habis. "Hai ... Anson. Aku mencari...." Ucapanku terpotong saat Anson menyeretku menuju ruang rapat di sebelah kelas kami. Kebetulan keadaan kelas masih sepi, aku tidak mau Aile mengetahuinya. Ia ratu gosip--itu baru kuketahui. "Untuk apa Ayahmu menyinggung soal saudaraku!" katanya dengan mata yang menyalak. Aku tidak bisa bergerak bebas saat ia menyandarkan tubuhku ke dinding lalu mengurungku dengan kedua tangannya. "Dari mana kamu tahu namanya Autumn. Aku tidak pernah mengatakan pada siapapun!" lanjutnya lagi. Tatapannya begitu menakutkan. "Aku tidak senang ada orang yang mencampuri urusan keluargaku," sambungnya bernada emosi. Di belakangnya ada Autumn yang melihat Anson sedang marah, gadis itu menatap kembarannya dengan sedih. Kami saling beradu pandang sesaat sebelum ia melepaskan tangannya. "Apa kamu sudah selesai bicara, Anson?" Sebisa mungkin aku bertanya pelan dan menatapnya dengan lembut. "Katakan padaku sekarang! Dari mana kamu tahu tentangnya?" Setelah memilih kata yang tepat dan menimbangnya, mungkin inilah kebenaran yang harus aku katakan dengan jujur. "Aku melihatnya ketika kedua kalinya aku mampir ke rumahmu. Kebetulan saat itu Autumn berada di belakangmu." "Aku tidak percaya!" ketusnya sambil menyeret kursi lalu mendudukinya. "Aku tahu manusia normal tidak akan mempercayainya, tetapi ada kalanya mereka harus percaya jika ada dua dunia yang berbeda. Satu dihuni manusia sedangkan yang satu ditempati oleh mereka yang tidak tampak," jelasku padanya. "Jika tidak ada buktinya aku tidak akan percaya," ungkitnya. "Susah memang mengatakan hal ini kepada manusia seperti dirimu," celetuk Lois yang tiba-tiba saja datang. Padahal pintu terkunci dari dalam. Apa ia menggunakan kekuatan teleportasinya? "Bagaimana caramu masuk?" tanya Anson terkejut sampai hampir terjengkal dari kursinya. "Ah ... itu. Aku menggunakan kekuatanku. Kamu pasti heran, ya?" Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tindakan Lois yang kelewat batas. Kekuatan yang ia miliki ini sebisa mungkin harus dirahasiakan. "Aku bisa membuka mata batinmu untuk melihat Autumn. Benar begitu, Autumn?" Lois tidak bisa melihat Autumn yang menggangguk saat berada di sampingku. Anson melihat sekeliling, tetapi ia tidak menemukan yang dicari. "Apa benar kalian bisa mempertemukanku dengannya?" "Iya tentu saja," sahutku pelan. "Tapi bagaimana bisa?" "Kami ini keluarga yang aneh, Anson. Kamu mungkin tidak akan percaya dengan semua kekuatan yang di...." Terpaksa aku memotong perkataannya. "Maksud kalian?" tanyanya tampak penasaran. "Maksud Lois, kami dianugerahi sesuatu oleh Tuhan untuk bisa membantu sesama atau mereka yang tidak tampak," ucapku menengahi. "Baiklah ... mungkin aku bisa mempercayainya jika sudah ada buktinya. Sekarang lakukan itu padaku!" perintahnya tidak sabar. "Hei ... tenang, Bung. Hal itu tidak bisa dilakukan cepat. Kita perlu persiapan. Bagaimana kalau malam ini?" Anson menggangguk,"Lakukan saja di rumahku malam ini. Awas jika kalian berbohong." Anson berlalu dari hadapan kami sesaat setelah bel berdentang keras. Anak-anak terheran-heran melihat Anson keluar dari ruang rapat seorang diri karena aku bersembunyi. "Mau ikut denganku berteleportasi, Lean?" Dulu aku tidak mau ikut dalam permainan Lois yang bisa berpindah tempat dalam waktu cepat. Namun, kali ini aku menyetujuinya. Anak-anak di sini senang bergosip jika ada berita terbaru. ***** "Kalian tidak membawa papan Ouija?" Pertanyaan yang seharusnya tidak Anson ajukan. Bahkan tidak menggunakan media itu sekalipun, kami bisa memanggil arwah atau makhluk tak kasat mata lainnya. "Untuk apa?" tanya balik Lois sambil mengambil kacang almond di meja belajar Anson. "Ya ... untuk memanggil arwah." "Tidak usah, Kawan. Aku dan Lean sudah cukup kok," sahutnya dengan mulut yang dipenuhi makanan. "Bagaimana caranya? Yang aku lihat di televisi memakai media," sela Anson bersidekap. "Sudah lakukan saja, Lois. Autumn sedang menunggu kita." Aku menyelanya agar permainan ini segera dilakukan. "Oke, kita duduk di bawah. Oh, ya apa pintu kamarmu sudah di kunci?" tanya Lois yang mendapatkan anggukan Anson. Terakhir kali kami melakukan ini ketika Lois kehilangan anjing kecilnya dan bodohnya ia memanggil arwah hewan peliharaannya hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Memang aneh anak itu. "Komdu til okkar ... komdu til okkar. Andi kallđur af mér." ( "Datanglah pada kami ... datanglah pada kami. Roh yang terpanggil olehku ). Bahasa Islandia yang Lois ucapkan begitu lancar. Itu adalah mantra untuk memanggil sesosok yang tidak tampak yang ingin bicara dengan kita. "Tule Nyt ..." Gerakan jemari Lois yang menyentuh dadu bergerak sendiri dan menampilkan sebuah kata 'I am here.' Aku tahu Autumn sudah hadir di tengah kita saat ini. "Anson, kembaranmu sudah di sini,"kataku berbisik pelan. Anson menolehkan kepalanya ke kanan maupun ke kiri, tetapi ia belum bisa merasakan kehadiran Autumn. "Mana? Jangan membohongiku dengan permainan gila ini." "Sabarlah, Anson. Jadi orang itu harus bersabar. Memang menurutmu mudah menampilkan Autumn di hadapanmu?" sungut Lois berdecak kesal. Lois mengambil botol kecil berisi air suci pemberian Ayah yang berfungsi untuk membuka mata batin seseorang yang ingin melihat mereka yang tidak tampak. "Ini apa?" tanya Anson tidak suka saat Lois meneteskan air suci tersebut ke keningnya. "Katamu ingin melihat Autumn! Duh ... temanmu ini sangat mengesalkan, Lean." Aku mengangkat bahu dan tidak mau ambil pusing. Begitulah Anson yang kukenal. Tidak mudah didekati oleh siapa pun. "Tunggulah beberapa saat. Kau akan melihat saudarimu," sambung Lois seraya menuntaskan keripik yang belum ia habiskan. "Kucing galak ..." Aku terkejut mendengar panggilan Autumn untuk kembarannya. Lois terlalu sibuk mendengarkan lagu di headset sedangkan diriku menyaksikan pertemuan mengharukan ini. "Autumn? Kau kah itu?" Anson berbalik dan melihat Autumn sedang berdiri di hadapannya kini. Perlahan ia mendekat dan hendak menyentuhnya, tetapi Autumn tidak bisa disentuh. "Mengapa aku tidak bisa menyentuhmu?" "Dunia kita sudah berbeda, Anson." "Mengapa kau baru datang sekarang? Apa kau tahu kalau aku sangat merindukanmu?" Tanpa terasa air mataku menetes dan terenyuh. Mungkinkah Zie juga merindukan kembarannya? "Aku masih menunggu seseorang yang bisa membantuku untuk bertemu denganmu, Anson." "Lalu kau mendatangi Lean dan Lois? Mengapa kau tidak datang sendiri padaku?" Emosi Anson meluap dan isakan tangis terdengar. Autumn tersenyum manis dan berusaha menyentuh wajah Anson. "Aku sudah datang padamu dengan memberikan tanda, tetapi kau tidak peka akan kehadiranku." "Maksudmu?" "Tiap malam aku menyelimutimu, menjatuhkan pensil kesayanganku dan menuliskan namaku di bukumu. Namun, selalu kau anggap sebagai angin lalu." "Karena aku tidak percaya akan hal itu, Autumn." Sekarang ini aku bagaikan menyaksikan sebuah drama yang memilukan antara dua saudara yang berbeda dimensi. Aku juga tidak mempercayai jika si cuek Anson dapat menitikkan air mata. Seharusnya kufoto dirinya saat menangis. "Ingat Autumn waktumu tidak banyak di sini,"sahut Lois mengingatkan. "Sekarang saatnya memberitahu Anson, Autumn,"timpalku berada di tengah mereka. "Memberitahu apa?" "Anson, tolong lepaskan aku pergi, ya. Aku sudah lelah berada di dunia ini." Ketika Anson hendak mengucapkan kalimat, tiba-tiba saja ada suara yang menggelegar di kamar ini. Suara yang aku kenal dan ditakuti oleh makhluk seperti Autumn. Gadis tembus pandang itu bersembunyi di belakangku. "Akhirnya aku menemukanmu. Pandai sekali kau bersembunyi selama ini, Autumn." Siapa yang dimaksud Lean? Berhasilkah Autumn membujuk Anson untuk melepasnya pergi? Di tunggu saja kelanjutannya. Part selanjutnya "Melepaskan dengan Rela."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN