Aduh celaka ini, si Ubel Mogens dan Issac malah datang tanpa diundang. Makhluk ini malah mengincar Autumn untuk dimusnahkan terutama Mogens.
"Sekali lagi aku tanya padamu, Nona. Di mana kau bersembunyi selama ini?"
Ubel Mogens berusaha mendekati Autumn yang bersembunyi di belakangku. Dia berjalan pelan dan saat tatapan kami beradu pandang, dia menyeringai menunjukkan giginya yang runcing.
"Nona Amari, menyingkirlah darinya. Kau sudah tahu jika makhluk seperti dirinya tidak boleh terlalu lama berada di sini?"
Aku ingin Lois turut membantu untuk berbicara dengannya, tetapi ia malah meringkuk di bawah meja. Sial memang memiliki adik yang penakut. Lenganku dipegang oleh Ubel Issac agar tidak ikut campur.
"Kau tidak berhak mengambilnya dariku, Makhluk jelek!"
Anson yang terbuka mata batinnya berbicara lantang pada Ubel Mogens. Jelas saja makhluk itu terpancing emosi dan mendecih di depan Anson.
"Karena kau, adikmu tidak mau pergi. Apa kau tahu jika dirinya sudah meninggal? Kau saja yang tidak rela. Dasar manusia!"
"Kembalikan adikku sekarang!" perintah Anson penuh amarah.
"Jangan lakukan itu, Ubel Mogens." Aku memohon ketika melihatnya mengangkat tongkat untuk melukai Anson.
Autumn maju ke depan dan meminta agar tidak menyakiti saudaranya.
"Aku akan ikut denganmu. Akan tetapi, berikan aku waktu untuk berpamitan padanya." Autumn menoleh ke Anson yang berdiri di sebelah Ubel Mogens.
"Iya berikan waktu terakhirnya,"pintaku memohon.
Ubel Mogens melunak, menyembunyikan tongkatnya dan berjalan mundur ke belakang.
"Aku akan memberi kalian waktu satu jam. Setelah itu tidak ada lagi permohonan, Nona Amari."
Anson ingin meminta yang lebih, tetapi Autumn tidak memperbolehkan. Ini sudah waktunya Anson belajar melepaskan Autumn untuk ke dunia yang lebih tenang.
"Kami akan tunggu di luar," kata Ubel Mogens dengan suara keras.
"Katakan pada adikmu yang penakut itu. Mengapa ia masih takut dengan kehadiran kami?" tanya Ubel Issac sebelum menghilang di kegelapan malam.
Seharusnya kau tanyakan sendiri. Bukan bertanya padaku. Sejak dulu Lois memang ... agak sedikit takut bertatapan dengan Ubel. Ah, sudahlah jangan membahas itu dulu. Sekarang yang penting urusan Anson dan Autumn.
*****
Si penakut berpamitan dulu pulang ke rumah tanpa menungguku. Badannya saja yang besar, tetapi nyalinya ciut jika berhadapan dengan hal semacam ini. Mengapa anak itu menjadi keluarga Amari? Penakut sekaligus gemar makan.
Satu jam memang waktu yang sebentar untuk mengucapkan salam perpisahan. Anson seakan tidak mau melepas kepergian kembarannya. Seberat apa pun perpisahan ini, mereka harus menerima.
"Apa kau tidak bisa tinggal lebih lama di sini, Autumn?"
"Tidak bisa, Anson. Waktuku di dunia sudah hampir habis. Beritahu Ibu dan Ayah untuk melepasku, ya."
Terlihat aneh memang jika menyaksikan Anson dengan suara yang menahan tangis merangkul Autumn. Aku tahu rasanya melepas orang yang kau sayangi. Sangat tahu karena hal itu menyakitkan.
"Apa sudah selesai?"
Ubel Mogens yang datang mendadak selalu mengejutkan kami dan dia sudah berada di sampingku dengan ciri khasnya membawa tongkat.
"Aku sudah siap, Tuan," jawab Autumn seraya melepas rangkulan Anson.
"Autumn, apa aku masih bisa melihatmu?" tanya Anson ragu.
Gadis berpakaian putih itu hanya mengulas senyuman dan mengedipkan mata. Dia melayang melewatiku dan Ubel Issac menggandengnya.
Kedua makhluk itu mengangkat tongkatnya dan sekali hentakan, angin mengelilingi mereka yang membuat hilang seketika. Mereka telah berhasil membawa Autumn menuju tempat yang seharusnya.
"Kau baik-baik saja?"
Aku menanyai keadaan Anson yang terpengkur di lantai. Diam dengan isakan yang sangat pelan.
"Kalau kau ingin menangis. Menangislah, Anson."
Ia tidak menjawab pertanyaanku hanya menatap kosong luar jendela. Entah apa yang sedang ia lihat.
"Aku ingin sendiri. Pulanglah dan terima kasih untuk bantuannya."
"Tapi ...."
"Aku ingin kau pulang. Tinggalkan aku sendiri," sahutnya pelan tanpa melihatku.
"Baiklah. Besok aku akan menyuruh Lois menutup mata batinmu."
Sebenarnya aku ingin lebih lama di sini. Aku penasaran hal yang dilakukan Anson dan Autumn selama satu jam di kamar rahasia mereka. Apa yang mereka bicarakan? Mungkin nanti Anson mau membaginya.
*****
"Bagaimana caranya gadis sepertimu meyakinkan Anson untuk melakukan ini?"
Tuan Luce tidak mempercayai anaknya bisa melakukan hal ini dan menanyaiku menerus seakan tidak percaya.
"Hanya sekedar berbicara dari hati ke hati," ucapku berbohong.
"Kau tahu, Nak? Susah sekali meyakinkan Anson untuk merelakan kembarannya. Tiga tahun lalu saat aku dan ibunya memutuskan untuk mencabut selang oksigen Autumn, Anson mengancam kami untuk bunuh diri."
Aku terkesiap mendengarnya. Separah itukah Anson menanggung beban itu?
"Paman, boleh tahu mengapa Autumn seperti ini?" tanyaku pelan. Ya, agar tidak menyinggung.
Tuan Luce diam sejenak, memandang dan memegang tanganku.
"Tidak usah menceritakannya, Paman. Jika itu tidak mampu dilakukan," potongku cepat.
"Ketika mereka berusia sepuluh tahun, Autumn terjatuh dari ayunan. Anson yang sedang bermain bersama temannya tidak berhasil menyelamatkannya saat tubuh kecil Autumn terpelanting jauh dan jatuh ke tanah dengan benturan keras."
Oh ... inilah sebabnya di kening dan bagian belakang Autumn berdarah dan terbuka. Aku bisa memahami dan merasakannya ketika melihat orang yang kita cintai terkena bahaya.
"Kami berusaha membawa Autumn ke kota. Ya, kau tahu jika di desa tidak ada peralatan medis yang canggih. Namun, sayang Autumn terlambat ditangani. Menurut dokter, putri kecil kami mengalami koma. Tempurung kepalanya pecah dan benturan itu mengenai selaput tipis di otak. Secara medis, Autumn dikatakan sudah meninggal. Akan tetapi detak jantungnya masih berfungsi. Bertahun-tahun kami menunggu keajaiban. Sayangnya tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan itu," jelas Tuan Luce menggenggam jemari Autumn.
"Tuhan pasti menginginkan yang terbaik untuknya, Tuan," kataku yang turut berada di sampingnya.
"Tuhan mengirimkanmu untuk menyadarkan Anson, Nak."
Apa benar yang dikatakan Tuan Luce? Apa Tuhan masih mengganggapku ada untuk menolong Anson?
Sore ini disertai awan gelap yang menyelimuti sejak pagi tadi, kami melepas selang kehidupan Autumn dan merelakan ia pergi untuk selamanya. Autumn sadar jika dirinya sudah meninggal secara medis beberapa tahun lalu, tetapi usaha kuat dari kembarannya membuat Autumn menunggu.
"Autumn menitipkan ini untukmu," kataku ketika kami sedang menyiapkan pemakaman Autumn di rumah sakit.
Sebuah patung mini berbentuk rupa Anson dan Autumn sejak kecil kuserahkan pada pemiliknya. Sebelum Autumn pergi, ia menyuruhku mengambil barang di bawah ranjang yang dilekatkan di ujung kaki ranjang.
Anson mengernyitkan dahi, bingung dan memegang patung itu dengan pandangan tajam.
"Dari mana kau mendapatkannya?"
"Autumn yang menyuruhku untuk memberikannya padamu."
Dari penglihatanku, benda itu menyimpan kenangan indah yang tersimpan rapi di benak Anson.
"Terima kasih," ucapku buru-buru.
"Sama-sama," jawabku seraya beranjak dari kursi kayu.
"Maksudku ... bukan masalah benda ini."
Aku berhenti, menoleh ke belakang dan menatapnya.
"Terima kasih sudah mempertemukan aku dengan Autumn. Ucapkan juga rasa terima kasihku pada Lois."
Aku hanya tersenyum menanggapinya dan mengangkat jempol. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah sakit, seperti ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikiran ini. Aku lupa hal itu. Namun, saat melihat Lois yang menjemputku. Baru aku tersadar.
"Lois ... kau harus segera menutup mata batin Anson!"
Akhirnya masalah satu sudah selesai. Tapi masih banyak masalah di luar sana yang harus di hadapi Lean. Ikuti perjalanan kisah Lean di cerita ini.
Part Selanjutnya "Gangguan"