Part 16 Gangguan

1117 Kata
Kelemahan dari kemampuan yang dimiliki Lois akan melekat selamanya pada orang itu selamanya jika tidak ditutup dalam jangka waktu dua hari. Lois memang bisa membuka atau menutup mata batin seseorang, tetapi hal itu harus dilakukan secepatnya. Jika tidak segera dilakukan bisa gawat. "Lois, kamu cari di sana. Aku akan mencarinya di krematorium." Saat aku tiba di tempat persemayaman, Anson tidak ada di sana. Kata Nyonya Aylee, ia mau ke kantin. Namun, di kantin atau di tempat lainnya tidak tampak Anson. Aku berharap ia tidak melihat sesuatu yang mengerikan di sepanjang tempat ini. "Kau mencari pria muda berpakaian biru, bukan? Ia ada di sana, Gadis cantik." Wanita muda dengan noda darah di perutnya menunjukkan keberadaan Anson. Dia menunjuk suatu tempat di lorong paling ujung. "Selamatkan pria itu sebelum penghuni tempat ini mengetahui keberadaannya." Teriakan menggema memperingatkanku agar cepat menemukan Anson. Aku tahu sosok penunggu dan penghuni rumah sakit ini sejak awal. Dia akan mengganggu siapa saja yang datang ke 'rumahnya' dan menakuti tiap pengunjung jika mereka lengah. "Anson ...." Aku memanggil dengan suara keras agar ia mendengar. Tempat yang dimaksud wanita itu tak lain adalah ruang otopsi. Untuk apa ia datang ke sana? Yang aku khawatirkan, ia dipanggil secara sengaja. Namun untuk apa? "Anson, kamu di mana?" Berulang kali aku memanggil, tetapi tidak ada jawaban. Baru saja aku membuka mulut, terlihat Anson berada di sudut pintu masuk ruang otopsi. Ia meringkuk dengan kedua tangan yang di kepala. Anson terkejut dan wajahnya pucat saat kuhampiri. Ada hal yang sudah terjadi padanya. Ulah makhluk yang usil. "Apa tadi kamu melihat Autumn? Ia memanggilku ke sini." Sosok yang memanggilnya bukanlah Autumn melainkan gadis remaja yang menyaru menjadi Autumn. Sosok yang menyeramkan itu sengaja menuntun Anson untuk mengikutinya. "Aku menginginkan pria ini menjadi milikku!" Dia menyeringai dengan mulut yang robek. Mata yang berlubang dan kanan yang buntung menyebabkan makhluk ini menyeramkan. "Kau tidak bisa memilikinya. Dunia kalian berbeda," ucapku yang melihatnya berdiri di samping Anson. "Aku bisa melakukan apa saja agar ia bersamaku." Aduh ... makhluk ini keras kepala. Iya aku tahu gadis ini kesepian karena sudah puluhan tahun mendekam di rumah sakit. Namun, tidak seperti ini juga caranya, bukan? Sudah jelas dunia mereka berbeda. Apalagi mana aku rela Anson diambil olehnya. "Ayo, kita pergi Anson." Aku berusaha membuat Anson bangkit dan mengapit lengannya. "Aku tidak mengijinkanmu membawanya!" Ternyata gadis ini kekuatannya luar biasa. Dia bisa memanjangkan tangan kirinya dan membuat Anson ditarik ke belakang. Anson mulai kehilangan kesadaran saat gadis itu mulai meniup sesuatu. "Siapa saja yang datang ke sini. Tidak dapat kembali lagi dengan utuh." Tawanya membuat telinga ini sakit dan tidak akan kubiarkan dirinya mengambil Anson. "Dia tidak bisa menjadi milikmu. Mengapa kamu masih keras kepala?" Aku berusaha mendekat, tetapi rupanya dia sudah mempunyai rencana lain. Hentakkan kakinya mampu menggoyangkan lantai dan asap tebal membuatku sesak. Mataku perih sekali. Ketika kubuka, mereka sudah tidak ada di sana. Aku tidak tahu ke mana gadis itu membawa Anson. Sial sekali hari ini. Aku tidak punya kekuatan lain yang dimiliki Lois atau Zie. "Dia membawa pacarmu ke tempatnya." Wanita muda yang kutemui memberi petunjuk agar masuk ke ruang otopsi. Mana bisa aku ke sana? Bukankah itu daerah terlarang? "Lihatlah dengan seksama tempat ini, Gadis Muda. Kamu ragu untuk masuk, bukan?" Memangnya ada apa dengan tempat ini? Tapi ... tunggu dulu. Saat aku masuk, tempat ini terlihat bersih. Namun, sekarang sarang laba-laba dan bangkai tikus ada di mana pun. "Tempat ini sudah lama tidak digunakan. Mungkin hampir lima belas tahun," ujar wanita itu yang masih melayang. "Dia pandai menyembunyikan dirinya dari kejaran makhluk penangkap hantu dengan menyamar menjadi manusia." "Lalu bagaimana aku bisa menangkap?" tanyaku tak sabar. "Entahlah ..." Wanita tidak menjawab pertanyaanku malah melayang menjauh dariku. Tidak ada waktu lagi. Aku harus melakukannya sendiri tanpa bantuan dan berharap ada seseorang yang menolong. "Ubel, aku tahu kau tidak akan suka. Tetapi ada makhluk jelek akan mengambil Anson. Jadi ... aku minta datanglah sekarang." Sebelum masuk, aku memanggil Ubel berharap setidaknya makhluk bertanduk itu menolong. Saking pengap dan lembabnya ruang otopsi ini membuat batuk. Aku sedikit terkejut mendapati tempat ini dipenuhi oleh kaum lelaki yang sudah meninggal. Sebenarnya gadis itu makhluk apa? Tatapan arwah yang menyedihkan menandakan jika mereka adalah korban dari gadis tengik itu. Heran saja dengannya yang sudah meninggal masih saja menggoda lawan jenisnya. "Cepat temukan dia sebelum jiwanya diambil oleh Alissa," ucap pemuda jangkung yang menunjukkan jalan. "Terima kasih, Arion," jawabku yang mengenali namanya dari seragam sekolah. "Jika sudah selesai dengan urusanmu, bantu kami mencari jalan pulang. Kami terkurung lama di sini," sambungnya lagi. Aku mengiyakan dan berjanji akan membebaskan jiwa mereka ke tempat yang lebih tenang. Sekarang yang lebih penting mencari keberadaan Anson dan Alissa nama hantu itu. Tempat yang ditunjuk oleh Arion ternyata berada di bawah meja otopsi. Sialnya lagi di sana gelap sekali dan tangan ini harus meraba mencari saklar lampu. Tepat di anak tangga ketiga, aku berhasil menyalakannya. "Alissa, aku tahu kau ada di sini. Keluarlah hantu tengik!" teriakku dengan suara gemetar. Jujur, aku takut. Di ruang bawah tanah ini terdapat kasur, meja, kursi dan berbagai boneka. Aku merasa sepertinya ada seseorang yang di kurung di sini. "Anson ...." Aku melihat Anson duduk dengan mata terpejam di sebelah tempat tidur. "Anson, bangunlah!" Aku menepuk wajahnya agar ia sadar. Sekeras apa pun aku memanggil atau menepuknya, ia tidak kunjung membuka matanya. "Aku mohon buka matamu, Anson," panggilku berusaha menahan tangis. "Sebentar lagi ia akan menjadi milikku dan berada di sini." Mendadak Alissa berada di belakang dan menarik rambut panjangku. Dia membenturkan tubuhku ke dinding. Aku meringis menahan sakit. "Ternyata kau tidak memiliki kemampuan apa pun, Lean," tawanya mengejek. "Untuk apa kau membunuh mereka?" tanyaku menatapnya. Alissa berada di samping Anson menyeringai sembari tertawa lantang. "Aku membenci mereka. Mereka membuat hidupku seperti ini!" "Tapi itu bukan salahmu dan kau sudah menyalahi aturan, Alissa." Alissa melayang menghampiriku. Tatapannya yang tajam menunjukkan kemarahan yang tertahankan. "Kalian yang salah!" Alissa semakin mendekat dan semua benda berjatuhan, dia menggeram dan melotot. Kini tangan yang dingin berusaha mencekik leherku. Dia mengangkat tubuhku ke atas hingga menyentuh dinding. Aku meronta karena napas yang tercekik. "Kaum lelaki itu menjijikkan semua. Aku membencinya!" Aku tidak tahu lagi siapa yang akan datang menolong. Rasanya diriku akan pingsan saat ini juga. "Kata siapa lelaki itu menjijikkan, Nona Alissa Trenson?" Sayup-sayup aku mendengar suara Ubel Issac diikuti langkah kaki milik seseorang yang kukenal. Secuek dan sedingin apa pun, ia tetap kakak yang selalu menolong saudaranya. "Kau baik-baik saja, Dik?" Aku menggangguk pelan, berpaling pada Anson sejenak dan mata ini terasa berat sekali. Untuk kali ini aku tidak bisa membantu. Tubuhku lelah. Apa yang terjadi pada Lean? Mengapa ia tidak memiliki kekuatan lain seperti kedua saudaranya? Masa lalu apa yang dimiliki si hantu Alissa? Temukan jawabannya di part selanjutnya. Part selanjutnya Hadiah dari Anson.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN