"Hai adik centil. Apa kabar?"
"Aku kira kau akan menggunakan kekuatanmu itu. Nyatanya kau malah memilih tidak menggunakannya. Ada apa denganmu, Adikku?"
Lyn? Dia datang dalam mimpiku. Sudah lama rasanya aku tak melihat dirinya. Dia berbeda kini dengan yang dulu. Tampak cantik walau banyak luka di tubuhnya. Tatapannya begitu menghangatkan diriku.
"Lyn, kami merindukanmu. Mengapa kau tak pernah datang menemui kami?"
Lyn hanya mengulas senyuman tipisnya dan mengacak poniku yang menjadi kebiasaannya untuk menunjukkan rasa sayang. Lyn duduk di samping, pakaian biru kebanggaannya menjadikan dirinya bukan seperti hantu.
"Leanku, aku memang sengaja tidak pernah datang menemui kalian. Namun, aku selalu melindungi kalian dari atas. Jangan mengkhawatirkan diriku yang sudah bahagia."
Lyn memelukku erat sekali seakan tak ingin lepas. Aku meluapkan rasa rindu dengan menangis. Jemarinya terasa dingin saat menghapus air mata ini.
"Maafkan aku, Lyn," lirihku pelan.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Lean."
"Tapi karena aku...."
"Itu bukan kesalahanmu, Leanku. Sudah tugasku sebagai anak pertama melindungi saudara dan orang tuanya. Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu atas tragedi itu. Tetaplah menjadi anak yang periang dan tersenyum."
Belum sempat aku membalas ucapannya, Lyn menghilang digantikan suara tangisan Ibu yang meraung. Memangnya ada apa denganku?
Meski terasa berat, kupaksa saja mata ini membuka untuk melihat gerangan yang terjadi. Netraku menangkap Ayah yang memeluk Ibu sedangkan Lois duduk termangu di sofa. Ada apa denganku?
"Ibu ..." Aku memanggilnya dengan suara pelan.
"Oh Tuhanku, Lean!"
Ibu mengusap wajahku dan menciumnya bertubi-tubi seakan diriku baru terbangun dari koma sangat lama. Aku merasa sakit di seluruh tubuh dan tulang terasa lepas.
"Selamat datang kembali, Anakku."
Ayah menggenggam jemariku erat dan mencium kening. Aku ingin tahu peristiwa yang sebenarnya. Namun, mengantuk membuat mataku kembali tertutup. Biarlah nanti kutanya setelah sadar.
*****
Mataku memang terpejam, tetapi telinga ini mendengar keributan yang terjadi di kamar. Ayah yang sibuk menyahut perkataan Ibu, Zie yang ribut dengan Lois hanya urusan remote tv dan Anson yang selalu datang tiap pagi sebelum sekolah.
"Putri tidur, kamu sudah lama loh berada di sini. Apa tidak capek?"
Sayup kudengar Lois mengomel karena hari ini gilirannya menjaga di rumah sakit. Ia memang bukan tipe orang yang suka menunggui seseorang kecuali ada camilan yang menemani.
"Kamu mau tahu berapa lama di sini?"
Lois menunjukkan angka dua diikuti dengan gerakan bibirnya yang mengatakan dua minggu. Jadi selama itukah aku tertidur? Aku masih belum banyak bicara karena ada luka di leher.
"Untunglah ada Zie dan Ubel Issac yang menolong kalian. Anson hanya menderita memar di tubuhnya. Kamu yang paling parah karena hantu itu hampir saja melumpuhkan semua kekuatanmu," jelas Lois yang bisa kudengar saja tanpa bisa bicara.
"Ternyata Alissa itu korban pelecehan dari kakak seniornya waktu dia menjadi perawat magang di sana. Dia dibunuh di ruang otopsi dan kasusnya ditutup begitu saja karena pelakunya orang beruang," sambung Lois menceritakan perihal Alissa sehingga menjadi makhluk yang jahat.
"Oh, ya Anson tiap hari datang ke sini hanya untuk menjengukmu. Kukira pemuda itu cuek, tetapi ia perhatian juga padamu, ya?" Lois meledek sambil mengunyah es krim. Mulutnya dipenuhi butiran kacang.
"Cepat pulih dan kembali ke sekolah. Ailee tiap hari menanyakan kabarmu. Tapi ia takut ke rumah sakit untuk melihatmu," ocehnya sambil menyendok lagi es krim tersebut.
Andai aku bisa bangun dari tempat tidur, bantal ini sudah kulempar ke arahnya. Adik yang tukang banyak bicara dan mengomel. Bukannya membantuku untuk pulih, ia terus saja memberiku kekesalan.
"Aku akan ke kantin membeli roti untuk camilan di malam hari."
Aku menarik napas dan hanya bisa mengelus d**a atas perlakuannya. Makan adalah hobi nomer satu di kepalanya.
*****
Malam ini aku mendengar dengkuran Lois di sofa. Aku ingin tidur, tetapi tidak bisa. Sejujurnya melihat Lois tertidur dengan perut besarnya membuatku ingin tertawa. Baru kali ini diriku melihat Lois tidur.
"Ada apa kau senyum-senyum sendiri?"
Aku melebarkan mata dan kesal saat Ubel Issac dan Morgens sudah ada di depanku. Mereka seenaknya masuk tanpa mengetuk pintu.
"Bisakah kalian mengetuk atau sekedar mengatakan permisi kalau mau datang?"
"Itulah kami, Nona. Jangan memaksa kami melakukan yang tak bisa kami lakukan," ujar Ubel Morgens dingin yang disambut tawa Ubel Issac.
Sia-sia memang bicara dengan makhluk menyebalkan seperti mereka.
"Oh, ya bagaimana bisa Alissa tidak bisa kalian tangkap?"
Sudah lama ternyata Alissa tinggal di dunia manusia dan pandai menyembunyikan diri.
"Dia bersekutu dengan iblis agar bisa menyamar menjadi layaknya manusia," ujar Ubel Morgens.
Kulihat Ubel Issac sedang mengusili Lois yang tertidur. Percuma mengganggu si gendut yang terlelap, ia tidak akan bisa merasakan apapun.
"Lalu apa Alissa sudah dihukum?"
"Tentu saja. Pertanyaan macam apa itu?"
Jika bukan karena Ubel Issac makhluk yang melindungi kami, sudah kulempar bantal ini.
"Aku hanya bertanya. Apa tidak boleh?" Aku sewot mendengarnya.
"Sudah sekarang, kau tidurlah."
Akhirnya mereka pergi meninggalkanku sendiri. Lebih baik mereka tidak ada di sini daripada mendengar ocehan tak jelas Ubel Issac.
*****
Dua minggu terbaring di kasur membuat badan ini terasa pegal. Dari laporan Ayah yang diajukan pihak polisi, ada beberapa sekumpulan orang yang mencelakai aku dan Anson padahal kenyataannya bukan seperti itu. Bagaimana mungkin kami mengatakan hal yang sebenarnya?
Alissa si hantu itu dibawa oleh Ubel. Ya ... memang Ubel yang mampu menaklukkan makhluk bandel yang mencelakai manusia.
"Ini ada hadiah dari Anson. Pemuda itu memberikannya padamu waktu kamu tertidur," ucap Ibu sembari menyerahkan kotak seukuran cincin.
"Apa isinya, Bu?" tanyaku dengan gerakan bibir.
"Entahlah. Buka saja, Lean. Mungkin itu hadiah ucapan terima kasihnya padamu," lanjut Ibu lagi sambil membereskan pakaianku ke tas. Hari ini aku diperbolehkan pulang.
Aku akan membukanya nanti setelah sampai rumah. Tidak seperti biasanya Anson bersikap seperti ini. Namun, apa ada daya. Tangan usil Lois merampasnya dariku dan langsung membuka tanpa ijin.
"Apa ini? Apa kalian jadian, ya?"
Pertanyaannya sontak membuat Ibu berhenti dari kegiatannya semula dan menatapku penuh arti. Anson memberiku sebuah kalung berliontin bulan sabit dan di tengahnya ada inisial namaku.
"Aku hanya berteman dengannya," jawabku pelan tanpa mau ribut dengan Lois.
"Kamu tahu, bukan? Jika kita hanya bisa berteman saja tanpa hal lebih?" Lois mengguruiku padahal Ibu hanya diam saja.
"Iya aku tahu."
"Jangan sampai ia tahu siapa kita sebenarnya, Nak. Sudah cukup satu orang saja yang mengenali kita." Ibu mengelus rambutku dengan kecupan hangat di kening.
"Pakailah kalungnya. Jangan membuang pemberian orang," sambung Ibu sambil mendorong kursi roda.
"Bu, beberapa malam lalu aku bermimpi Lyn. Dia datang menemuiku."
Ibu tak menjawab, tetapi bisa kurasakan gerakan kursi roda yang didorong terasa lamban. Aku tahu ia merindukan Lyn selama ini.
"Ibu kira Lyn tidak akan datang lagi," ujar Ibu terdengar pelan.
"Apa Ibu tidak ingin dengar apa yang sudah kami perbincangkan?" tanyaku menoleh ke belakang. Ibu menitikkan air mata.
"Pasti Lyn mengatakan tidak perlu merindukan dirinya, bukan?"
Aku menggangguk dan kembali menatap ke depan. Ah, Ibu pasti merindukan anaknya yang selama ini sudah pergi. Ibu pandai menyembunyikan perasaannya.
"Sudahlah jangan bahas itu lagi. Ibu yakin Lyn sudah bahagia di sana. Sekarang yang perlu kita bahas adalah mengenai dirimu dan Anson. Ceritakan nanti di rumah bagaimana bisa kamu membuat Anson berubah."
Kuambil kalung itu dari kotaknya. Lama terdiam aku memandang dengan seksama. Aku memang tidak boleh menyukainya dan hanya bisa berteman saja. Bibirku tersenyum karena setidaknya ia sudah membuka hati.
"Ayah dan Zie sudah menunggu di lobby. Jangan beritahu ayahmu kalau ada yang memberikan hadiah. Bisa-bisa ia akan marah," kata Ibu dengan nada bergurau.
Aku akan mampir ke rumahnya esok dan mengucapkan rasa terima kasih pada Anson.
"Ayah merindukan anak gadis ini," sahut Ayah sambil menyentil hidungku.
Ayah menuntunku sampai masuk mobil, sesaat sebelum meninggalkan lobbi. Aku melihat Lyn, dia melambaikan tangannya dan memberikan kecupan.
=Bersambung=
Terima kasih sudah membaca. Beri komen dan tap love-nya. Tanpa kalian, saya bukanlah siapa-siapa.