Part 18 Mari Kita Berteman

1166 Kata
Aku kira setelah keluar dari rumah sakit bisa sekolah, tetapi dokter masih melarangku. Jadi total tiga minggu diriku tidak sekolah dan itu sungguh membosankan. Sesekali Ailee dan teman kelas datang untuk melihat keadaanku. Oh, ya ada hal yang aneh semenjak peristiwa ini. Anson tiap pagi selalu menyapa. Malam minggu, ia menyempatkan diri mengajariku pelajaran yang tertinggal. "Semua teman-teman sudah merindukanmu. Pasti mereka senang melihatmu besok," kata Anson malam ini saat ia memberi setumpuk tugas yang belum kuselesaikan. "Apa ada hal-hal yang tidak aku ketahui selama absen?" tanyaku ingin tahu. Anson sedikit menaikkan alisnya dan mengangkat bahu bidangnya. Ia mengatakan tidak ada hal apa pun. Semua berjalan seperti biasa. Namun, aku merasa janggal atas pernyataannya. Entahlah seperti ada sesuatu di pikirannya. "Besok aku jemput. Ayah memperbolehkanku membawa mobilnya. Kurasa adikmu bisa ikut juga," tawarnya sembari berpamitan di depan pintu. "Anson, apa kamu tidak ingat peristiwa di rumah sakit itu?" Sekali lagi, ia hanya mengangkat bahunya dan menggeleng. Sebenarnya apa yang terjadi sebelum aku pingsan? "Aku hanya ingat pertemuanku dengan Autumn saja. Setelah itu aku tidak ingat apa pun," katanya menyakinkan. "Kamu sudah merelakan Autumn?" "Iya semua karenamu. Terima kasih, ya," lanjut Anson sambil menutup pagar rumahku. "Jangan lupa besok sekolah. Aku jemput." Anson melambaikan tangan dengan sunggingan senyuman. Aku melihatnya sampai ia menghilang di balik pepohonan yang membatasi rumah kami. "Ubel Issac yang menghilangkan ingatannya mengenai peristiwa itu, Dik." Zie tiba-tiba saja sudah di belakang dengan bersidekap. "Jadi ia tidak ingat lagi?" Zie menggangguk dan mengedipkan mata. "Yuk ... masuk. Sudah hampir gelap. Bukankah kamu tidak suka gelap?" Zie menaruh tangan kanannya di pundakku. Kami berjalan menuju rumah. Cuaca semakin dingin saat memasuki bulan Desember. ***** Ternyata dugaanku benar. Suasana sekolah ini tidak seperti biasanya. Bukan karena cuaca melainkan ada sesuatu yang belum aku ketahui penyebabnya. "Apa yang kamu lihat, Lean?" Lois ikut menengadahkan kepalanya saat kami berada di pintu masuk sekolah. "Aku merasa aneh saja, Lois," jawabku menolah padanya yang masih menyantap pisang. "Selama aku absen. Apa ada peristiwa yang tidak aku ketahui?" Aku mendesaknya agar menjawab pertanyaan ini. "Entahlah. Bukankah aku tidak bisa melihat mereka secara langsung? Aku hanya mencium dan merasakan ada air yang keluar dari tanah," sahutnya enteng. "Melihat siapa?" Anson yang tadi memarkir mobil kini berdiri di sampingku dengan mimik serius seakan ingin tahu. "Melihat sesuatu yang tidak bisa kamu lihat," sahut Lois lagi sambil mengisi absen. Sekolah ini memang mengharuskan tiap muridnya untuk mengisi kehadiran melalui fingerprint. Seperti perusahaan di tempat Ayah bekerja dulu. "Apa maksud Lois?" Aku hanya bisa menjawab ala kadarnya saja, "Hanya Lois yang tahu." Langkah kaki ini semakin asing saja walau temanku dan guru masih sama wajahnya. Masuk dan duduk di kelas terasa berbeda, senang bisa sekolah lagi dan mendengarkan gosip dari Ailee yang selama ini aku hanya menjadi pendengar yang baik. Aku bukan tipe orang yang suka membicarakan keburukan seseorang. ***** Di luar tampak gelap walau masih siang. Sudah dua hari ini cuaca tidak stabil. Menurut Ayah akan ada badai besar nanti. Aku berharap itu tidak terjadi karena menakutkan. "Mau ikut ke kantin? Di sana ada menu baru," ajak Anson dan Otniel bersamaan. Mereka itu sudah bagai saudara. Aku mengiyakan karena drum perutku berbunyi mengikuti irama lagu yang terpasang di tiap sudut pintu kelas. Biasanya Ailee dan Minee gadis blasteran Korea-Scotlandia mengajakku pergi. "Kata gosip yang aku dengar pelaku p*********n kalian itu melarikan diri? Kok bisa, ya?" tanya Otniel. "Aku malah tidak ingat sama sekali. Terakhir yang kuingat ada dua lelaki yang membawa kami ke ruang bawah tanah di rumah sakit. Terkesan aneh sih," sahut Anson. "Apa kamu juga tidak ingat, Lean?" tanya Otniel sambil melirikku. Aku yang berada di tengah hanya bisa menggeleng. Tak mungkin aku menceritakan sebenarnya. Tidak ada yang bakal percaya dengan ucapanku. "Ya sudah tidak perlu diingat lagi. Benar tidak, Lean?" sahut Anson menepuk pundakku. "Kamu mau makan apa, Lean? Biar aku pesan. Kamu duduk saja." "Terserah kamu saja, Otniel. Aku ke kamar mandi dulu." Kantin di siang hari selalu ramai oleh murid-murid yang melahap makanannya dan anak-anak kecil yang tidak tampak bermain dengan riang. Itulah sebabnya aku sangat jarang sekali ke sini karena tempat ini dipenuhi manusia dan mereka yang tak terlihat. Suara riuh para murid terdengar jelas di kamar mandi. Ya setidaknya bisa mengusir hawa dingin yang mengitari. Aku membasuh wajah saat kran air mengalir dan semua bilik terbuka. Pasti ada yang datang sebentar lagi. Makhluk apa lagi yang akan kuhadapi kali ini? Tepat di belakang, kulihat kabut dan dentingan lonceng. Kabut itu menyerupai asap yang sedang mengelilingi seseorang. Aku balik badan ternyata yang menyambut kehadiranku di sini tak lain adalah Ubel Issac. Dia berdiri dengan memegang tongkat di kanan kiri dan lonceng yang digoyangkan. "Sedang apa anda di sini? Pergilah! Aku tidak mau ada yang tahu mengenai kemampuanku ini," pintaku. Ubel Issac tidak menjawab malah mendekatiku. Tatapannya yang begitu menghujam membuat bergidik. Tangan kanannya dia arahkan pada leherku. Matanya hitam pekat seakan ingin menelan. Wajahnya memang tampan walau dia makhluk dengan tanduk di pundak. "Apa yang sedang anda lakukan?" Jemarinya menyentuh lembut leherku seraya mengucap kalimat yang sulit dipahami. Mungkin dia membaca doa atau mantra. "Menyembuhkan bekas luka akibat ulah Allisa," ucapnya datar. "Ibuku bisa menyembuhkannya," sanggahku. Tidak nyaman rasanya saat dia menyentuh leherku. Terasa dingin bagai es di seluruh tubuhku ketika dia membaca sebuah mantra. Entah mengapa seketika aku merasa lebih ringan dan tidak ada rasa nyeri di tenggorokan. "Aku sudah menyingkirkan sisa kekuatan gaib dari tubuhmu. Lain kali jika tidak mengatasi makhluk seperti itu. Panggil namaku berulang kali," katanya sebelum menghilang antara kabut. Ubel-ubel yang kukenal sebagai makhluk tak berperasaan ternyata memiliki hati bagai manusia. Adakah alasan yang disembunyikannya? "Tetaplah berteman dengan Anson apa pun yang terjadi nantinya." Suara Ubel Issac bergema di kamar mandi. Di satu sisi ada Ibu yang tidak mengijinkan untuk terlalu dekat dengan Anson. Di sisi lainnya ada Ubel Issac yang menyuruh berteman. Ah ... entahlah aku bingung. ***** Selesai makan siang, Otniel meninggalkan kami dulu. Sementara itu aku dan Anson menghabiskan jam istirahat di taman. Ada hal yang ingin ia bicarakan. "Oh, ya sejak kapan kamu memiliki kemampuan dapat berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata?" "Sejak kecil." "Apa kamu tidak takut dengan mereka?" tanyanya dengan bergidik. Aku menggeleng,"Pertama memang takut, tetapi lama-lama sudah kebiasaan." "Sebelum bertemu denganmu, aku tidak percaya akan hal-hal di luar nalar. Kukira semua itu hanya cerita saja untuk menakuti anak kecil," tepisnya dengan terkekeh. "Bukankah pernah kukatakan jika dunia kita memiliki dua alam," sahutku memberitahunya jika hal itu memang ada. "Ya kamu benar. Hanya dibatasi oleh benang tipis, ya. Aku malah tak menyangka bisa bertemu dengan Autumn." "Apa dirimu sekarang bahagia?" Aku berpaling menatap wajah tirus yang memandang sekumpulan anak-anak bermain basket. Hatiku berdesir ketika mata kami beradu pandang. "Tentu saja. Aku bisa melepaskan beban yang selama ini menyiksa. Jika bukan karena dirimu, mungkin aku tidak pernah bisa merelakan Autumn." "Terima kasih, Lean," lanjut Anson. Kali ini kubisa melihat Anson tertawa lepas. Bebannya terangkat yang selama ini dipendam sendiri. "Lean,...." "Iya ada apa?" "Mari kita berteman baik." =Bersambung= Part selanjutnya "Mereka datang"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN