Part 19 Mereka Datang

1254 Kata
Seharusnya ini menjadi liburan yang menyenangkan. Akan tetapi hanya karena nilai matematika hancur parah sehingga Mrs. Helena mengharuskan beberapa anak termasuk aku, harus masuk sekolah. Ya ... walau masuknya seminggu dua kali. Namun, itu membosankan untuk diriku yang tidak bisa menikmati libur musim dingin. "Sayang sekali, ya waktu pembagian otak tentang matematika. Otakmu tidak terangkut," ledek Lois saat aku berpamitan padanya untuk ke sekolah. "Lalu apa bedanya dengan dirimu yang tidak bisa lari?" Aku ikut meledeknya. "Lari saja seperti siput," sambungku lagi berusaha menahan tawa melihat wajah Lois yang memerah. "Awas nanti. Kuadukan pada Ibu," katanya berusaha melawanku. "Dasar anak bayi. Sudah besar masih saja suka mengadu pada Ibu." Aku mencibir seraya menjulurkan lidah. Senang rasanya kalau menggoda Lois yang bertingkah seperti anak kecil jika bertengkar denganku. Ia tidak berani beradu mulut atau meledek Zie begitu juga denganku. Kami sungkan padanya. "Sudah sana cepat pergi. Lihat tuh si cuek menjemputmu di depan," ujar Lois dengan mulut penuh popcorn. "Makan terus saja sampai perutmu pecah selama liburan ini," ejekku lagi. Lois berteriak memanggil Ibu dengan suara cemprengnya. Ia mengadu karena aku telah melukai harga dirinya yang bertubuh gendut. Dari luar aku mendengar teriakan Ibu. "Jangan ganggu adikmu lagi, Lean!" ***** "Keluargamu lucu juga, ya?" Anson berbicara sambil menyetir sepeda. Ia sengaja mengantar dan menjemputku. Sejak peristiwa itu, kami menjadi teman baik. Kadang ia mengajariku rumus matematika yang tidak dipahami oleh otak tumpul ini. Sedangkan aku akan mengajari dirinya memahami bahasa asing. Bahasa asing memang menjadi keahlianku. Aku sangat menyukai pelajaran tersebut. "Ya begitu keluargaku. Mereka tidak hanya lucu, tetapi menggemaskan. Apalagi si Lois itu yang sukanya makan. Namun, jarum timbangannya tidak pernah beranjak dari angka 78," sahutku. "Apakah Zie memang seperti itu orangnya?" Zie, ia bukan orang yang cuek dan dingin sebenarnya. Namun, kejadian yang menimpanya beberapa tahun membuat Zie menjarak jaga dengan orang sekitar kecuali pada keluarganya. "Zie kehilangan saudara kembarnya sewaktu rumah kami kebakaran dan...." Zie berhenti mendadak sehingga kepalaku terbentur punggungnya. "Oh maaf, Lean. Aku tidak sengaja." Aku terpaksa turun dan kami berjalan beriringan menuju sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh. "Jadi Zie memiliki kembarannya? Sama sepertiku?" Aku hanya bisa berdehem saja. "Sejak kehilangan Lyn saudaranya kembarnya, Zie mulai menjaga jarak pada semua orang yang ditemuinya. Ia lebih memilih membaca di perpustakaan atau mendengarkan musik di taman daripada berkumpul. Untungnya di rumah ia bisa menjadi anak dan saudara yang baik." "Maaf karena aku tidak tahu kalau Zie mengalami hal yang mengerikan dalam hidupnya." Sambil berjalan, aku menoleh padanya. Saat ia menatap kembali, aku merasa canggung. Ah, perasaan apa ini? Kami hanya berteman dan tidak lebih dari itu. "Zie orangnya baik kok. Ia senang membantu orang yang membutuhkannya. Cobalah berteman dengannya. Kalian memiliki kesamaan bukan?" "Aku akan mencobanya," jawab Anson. Anson mengantarkanku sampai gerbang sekolah. Ia tidak mengikuti pelajaran tambahan karena otaknya yang pandai. Beda denganku yang selalu lemot dalam hal apa pun. "Nanti aku tidak bisa menjemputmu. Kakekku datang berkunjung sore ini. Maaf, ya." "Aku bisa pulang sendiri, Anson." Kekehku melihatnya merasa tidak enak hati. Anson mengayuh sepedanya meninggalkanku seorang diri di gerbang sekolah. Di musim liburan, gedung ini tampak suram dan sunyi hanya ada segelintir anak-anak yang sama denganku untuk memulai pelajaran tambahan selama dua minggu. "Kurang satu minggu lagi." Aku memacu semangat diri sendiri. Aku berjalan dengan malas menuju kelas di lantai dua. Bukan karena enggan naik melainkan kehadiran mereka yang membuatku tak nyaman. Namun, kali ini ada yang berbeda. Pria tua penjaga lift dengan wajah terbakar tidak menampakkan wujudnya. Bahkan anak kecil yang sering meminta tolong padaku untuk membuka lift tidak ada. Di mana mereka semua? Ini sangat aneh sekali. "Leanne ...." Ternyata pria tua itu sedang bersembunyi di bawah anak tangga sebelah lift. Dia memanggilku dengan pelan sambil jarinya diarahkan ke bibir. "Ada apa?" tanyaku seraya menghampiri. "Mereka akan datang. Kami harus bersembunyi. Kedatangan mereka membuat kami takut." "Siapa yang anda maksud?" Hantu yang aneh. Mereka sudah meninggal dan menjadi hantu penasaran, tetapi malah takut terhadap sesuatu. "Kami memanggilnya Eye Piper. Mereka tidak seperti Ubel. Cepat pergi dari sini, Leanne." Aduh ... siapa lagi Eye Piper itu? Mengapa hidupku tidak ada tenang-tenangnya selama ini? Ada saja masalah yang harus di hadapi. "Aku tidak tahu siapa Eye Piper itu?" "Mereka makhluk penyamar yang akan mengurung kami di kegelapan bawah tanah dan menjadikan kami b***k uang." "Kami tidak akan bisa lagi berkeliaran dan menuruti semua perintahnya." "Cepat pergi sebelum mereka melihatmu!" Pria tua meringkuk ketakutan dan sesekali mengedarkan pandangannya ke segala arah. Rasa takut jelas tersirat dari wajah pucatnya. "Hei ... Lean. Sedang apa kamu di sana?" "Memangnya ada apa di bawah tangga sana?" selidik Elisa penasaran. "Oh itu. Pulpen terjatuh." Panggilan Ailee dan Elisa membuat pria tua tersebut hilang. Mau tidak mau aku harus berbohong pada mereka. Mana mungkin anak modern seperti mereka percaya. "Ya sudah. Masuk, yuk! Si Mrs. Helena sudah ada di parkiran," celetuk Ailee sembari mendorong tubuhku agar jalan lebih dulu. Di kelas pun, aku tidak bisa berkonsentrasi. Kelasku juga sangat sunyi. Kalau beberapa hari lalu, masih terdengar suara mereka yang memanggil atau hanya sekedar lewat. Namun, kali ini tidak satu wujud yang menampakkan diri. Apa sebegitu menakutkan Eye Piper itu? "Baiklah anak-anak. Karena kita akan memasuki bulan Desember seminggu lagi maka saya memutuskan kalian tidak usah datang di pelajaran minggu depan. Selamat berlibur." Sorakan teman yang lain tidak mampu mengusir pikiran yang berkecamuk. Aku penasaran tentang Eye Piper itu. Apa dan siapa mereka sebenarnya? Selama ini belum pernah mendengarnya. "Lean, pulang, yuk," ajak Ailee sambil beberes buku ke tasnya. Terlihat senang karena liburan kali ini, ia akan ke mengunjungi New Zealand. "Kalian saja dulu. Aku masih ada tugas piket kelas," sahutku karena hari ini jadwal piket kebersihan. "Kami tinggal, ya. Awas jangan sampai malam di sini. Ada hantu," canda Mark idola kelas. Setelah langkah kaki mereka menghilang, aku segera mengangkat kursi ke meja, menyapu lantai dan bersenandung mengusir sepi. Aku berhenti sejenak ketika terdengar seruling yang dimainkan oleh beberapa orang. Dengan gagang sapu yang masih ada di tangan, aku keluar dan mencari sumber suara. Lorong kelas semakin sepi dan hanya terdengar suara napasku saja.  "Mengapa kamu tidak pulang, Anak Manis?" "Cepatlah pulang." Pria tua yang kutemui tadi memperingatkan agar diriku pulang secepatnya. Namun, rasa penasaran malah membuatku tetap tinggal di sekolah. "Kamu akan menyesalinya nanti." Suara seruling semakin dekat dan itu tepat di belakangku. Sekumpulan orang berjubah dan bertudung hitam meniup seruling. Di tengahnya ada sesosok yang tidak kukenal. Seorang wanita dengan tampilan aneh. Ada semacam ranting di kepalanya. Kuperhatikan lagi ternyata ranting itu menyatu hingga di bawah telinganya. Manusia atau makhluk apa dia?  Kini wanita itu ada di depanku. Tidak ada senyuman. Tatapannya sangat datar tanpa ekspresi. "Kita berjumpa lagi, Nona Amari." Tunggu dulu ... dari mana dia mengenalku? "Anda siapa? Dari mana mengenalku?" Wanita ini memang tampilannya tidak seseram makhluk lainnya. Namun, aura kegelapan sanggup membuatku bergidik. "Kau lupa siapa aku?" "Maaf tapi aku tidak kenal dengan anda." "Seharusnya kau mengenalku. Karena...." Dia memotong ucapannya, melihatku dengan memiringkan kepala dan mengejek melalui tatapannya. "Kurasa ayahmu tidak memberitahu, bukan?" Ayah kenal dengan wanita ini? Siapa dia? "Apa kalian Eye Piper?" Wanita bergaun biru gelap itu tertawa sinis seakan mengejek pertanyaanku. "Kami memang Eye Piper sang pengambil arwah untuk dijadikan b***k. Namun, aku berada di sini bukan untuk mengambil mereka. Aku ingin bertemu denganmu." Bertemu denganku? Memangnya ada apa dengan diriku? Kok jadi aneh begini. Dari arah berlawanan, terdengar derap langkah dan wangi parfum yang kukenal. Ia berlari ke arahku sambil berteriak. "Jangan ganggu dia, Serenity!" Hayo siapa yang menolong Leanne? Siapa wanita bernama Serenity itu? Penasaran? Simak terus cerita ini. Part selanjutnya "Mengapa harus kami?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN