Ayah datang terburu-buru, menghampiri dan menyuruhku bersembunyi di belakangnya. Seruling yang dimainkan pengawalnya memekik telinga. Teriakan penghuni tak kasat mata turut membuat suasana tambah menyeramkan.
"Hentikan segera Serenity!"
Ayah membentak wanita yang bernama Serenity itu, tetapi bentakan Ayah tak menghentikan tawanya.
"Oke akan kuhentikan, Greg." Ia mengangkat telunjuknya dan seketika tiupan berhenti
"Lama tidak berjumpa, Greg. Kira-kira sudah berapa tahun atau...." Tubuhnya ia condongkon ke depan, menatap Ayah dengan seringai.
"Apa yang kau inginkan dari anakku?"
Ayah terus memegang tanganku dari belakang. Ia sempat berbisik agar tidak melepaskan genggamannya. Tentu saja aku menurut kali ini. Entah ada sesuatu yang bakal terjadi.
"Hemm ... tidak ada yang aku inginkan dari Leanne. Hanya saja aku ingin menemuinya. Lama sekali tidak berjumpa gadis kecilmu ini. Dulu saat kau membawanya padaku, ia di ambang kematian. Sekarang anakmu itu sehat sekali, bukan?"
Kapan aku berada di pintu maut? Selama ini aku sehat saja. Wah bohong nih si penyihir cantik.
"Ya, aku berterima kasih karena kau telah menyelamatkan anakku. Tetapi, aku mohon jangan ganggu dia. Leanne tidak tahu apa pun," pinta Ayah seakan memohon.
Serenity mendengkus lalu mengelus pipi Ayah. Dari tatapan mata yang beradu pandang, sekilas aku melihat masa lalu saat Ayah sedang berbincang dengannya di suatu tempat.
"Rupanya kekuatanmu bisa menembus masa lalu, Nona. Tidak sia-sia aku menyelamatkanmu."
"A-pa ...." Ayah mencengkal lenganku agar diam.
"Ayah, apa maksudnya?"Mulutku tidak bisa diam karena penasaran.
"Jangan ikut campur, Nak. Ini urusan ayah dan dirinya."
Serenity berputar mengelilingi kami dengan rambut rantingnya sembari mengamati kami bagai musuhnya yang siap untuk diterkam.
"Jadi ... kau tidak memberitahunya, Greg?" tanyanya seraya menggaruk kepala yang ditumbuhi ranting.
"Nanti akan ada waktunya."
"Ingat perjanjian kita, Greg. Jangan pernah melanggarnya," sahutnya sambil membelai rambut panjangku, "Aku akan pergi dulu."
"Selama ini aku mau pun istriku tidak pernah melanggar perjanjian, bukan? Jadi jangan khawatir," ucap Ayah lesu.
"Itulah yang aku suka darimu, Greg. Kau pria yang bertanggungjawab," timpal Serenity yang berjalan menuju barisan pengawalnya.
Aku lega setidaknya Serenity tidak mengambil penghuni sekolah ini. Ada wajah kelegaan ketika kulihat makhluk tak kasat mata yang bersembunyi di dalam loker.
"Oh, ya. Ingat satu hal lagi. Jangan biarkan anakmu itu memiliki perasaan pada orang lain terutama seorang pria," ketusnya sebelum menghilang dengan iringan seruling.
Ayah jatuh terduduk dengan air mata yang hampir keluar. Ia langsung memeluk erat dan menepuk punggungku pelan.
"Ayah, apa kau baik-baik saja?"
Ayah merenggangkan pelukannya sambil menatapku lekat. Tangan kekarnya menepuk bahuku dan berdiri tanpa mau berkata apa pun setelah peristiwa yang kualami hari ini.
"Ayah, apa yang sebenarnya terjadi? Perjanjian apa yang Ayah lakukan?" Aku mencercanya agar Ayah menjawab.
"Ayah akan jelaskan waktu perjalanan pulang. Ayah harap kau tidak terkejut."
Aku hanya menggangguk dan menuntunnya karena kulihat Ayah begitu lemah atau mungkin syok.
"Kau masih ingat kebakaran rumah kita dulu?"
Rangkulan Ayah mampu menghangatkan diriku yang mulai menangis. Mengingat kembali peristiwa itu sama saja membuka kenangan pahit yang ingin kami lupakan.
"Waktu Ayah, Ibu dan dua saudaramu sudah berada di luar. Kau dan Lyn terjebak di dalamnya. Kami yang berada di halaman belakang tak mampu menyelamatkan kalian. Apa lagi para warga sudah mengepung depan rumah. Saat itu Lyn mendorong tubuhmu yang pingsan jatuh dari lantai dua. Ayah menangkapmu walau keadaanmu tidak sadarkan diri. Lyn mengorbankan dirinya di rumah yang terbakar."
Aku mulai terisak dan air mata sudah berjatuhan. Kakak Lyn rela mati demi diriku. Ia mengorbankan tubuhnya terbakar dan dilahap habis oleh api.
"Sebelum api melahap tubuhnya, Lyn menyuruh kami pergi sejauh mungkin dan menemukan seorang wanita bernama Serenity untuk menyelamatkanmu. Ternyata Serenity adalah guru Lyn. Ayah tidak tahu jika anak itu mempelajari hal-hal gaib dan sihir."
"Lalu Ayah membawaku ke tempatnya?"
"Tentu saja, Nak. Ayah dan Ibumu tidak mau kehilanganmu. Kami akan melakukan apa saja untuk membuatmu kembali hidup."
"Lalu perjanjian apa yang kalian lakukan untuk menghidupkanku kembali?"
"Apa aku akan menjadi budaknya?" lanjutku penuh emosi.
"Tidak, Nak. Wanita memberi kita kehidupan seperti sekarang dengan beberapaa syarat." Ayah diam sejenak, memelukku kembali seraya berkata yang mengejutkan.
"Syarat apa, Yah?"
"Kau akan menggantikan dirinya suatu hari nanti."
"Ini gila Ayah. Aku tidak mau menjadi seperti Serenity!" Luapan emosi kutuangkan dalam tangisan. Aku tidak bisa menerimanya.
"Maafkan kami, Lean. Hanya itu jalan satu-satunya agar kau dan keluarga lainnya selamat. Ayah mau pun Ibu juga tidak mau melakukannya. Apa kau tahu hal ini juga menyiksa kami?"
Baru kali ini kudengar Ayah menangis sesenggukan dengan mengusap punggung tanganku.
"Kebakaran di rumah itu disengaja oleh seseorang agar kita meninggal. Penduduk termakan gosip, mereka mengganggap kita adalah keluarga penyihir. Tentu kau masih ingat peristiwa yang menewaskan puluhan penduduk dan penduduk menuduh keluarga kita mengikuti aliran sesat."
"Ta--pi bagaimana mereka tahu? Kita warga yang baik selama tinggal di sana."
"Salah satu penduduk tidak sengaja melihat Lyn masuk hutan untuk menemui Serenity. Lyn menyukai dunia sihir dan hal yang tidak masuk akal, tetapi kakakmu itu bukanlah pengikut sekte. Jangan salahkan kakakmu, Leanne. Mungkin ini sudah takdir kita."
Aku membalas usapan lembut Ayah dan berusaha menenangkannya. Aku tahu maksud Ayah baik. Tidak ada orang tua yang tega melihat anaknya mati begitu saja.
"Serenity itu makhluk apa, Ayah?"
"Yang jelas dia bukan iblis atau setan. Dia sama seperti kita, Leanne."
"Tapi mereka yang ada di sekolah mengatakan jika Serenity akan menjadikannya b***k dan dikurung di bawah tanah."
"Ya itu benar, Leanne. Namun, Serenity hanya mengambil mereka yang jahat untuk dikurung di bawah tanah."
"Apa dia sama seperti Ubel?"
"Yang membedakan hanya tindakannya saja. Ubel akan langsung menghancurkan rohnya sedangkan Serenity hanya mengurungnya di bawah tanah," kata Ayah memberitahu.
Kami diam sejenak sambil melanjutkan perjalanan menuju rumah yang hampir dekat. Ayah terlihat kusut hari ini.
"Dari mana Ayah tahu jika Serenity akan datang?"
"Ubel Issac yang memberitahu. Makhluk itu datang secara mendadak waktu ayah di kebun."
Sepertinya aku berhutang banyak padanya. Makhluk rupawan itu bahkan menyembuhkan luka di leher akibat si hantu Alissa. Jujur, aku takut dulu padanya. Kedatangannya yang tiba-tiba selalu mengagetkan dan tanduknya membuat ngeri walau ditutupi jubah.
"Ayah, apa aku akan seperti dirinya?" tanyaku ragu.
Ayah menghentikan langkahnya dan memegang kedua pundakku, "Ayah percaya kau tidak akan seperti Serenity."
"Lain kali jika kau bertemu dengannya, janganlah takut. Karena dia, kita bisa selamat."
"Aku hanya takut jika ada yang mengetahui kita sebenarnya, Yah."
"Selama Ubel dan Serenity membantu, tidak akan ada yang tahu jika kita bukanlah manusia biasa."
Melihat tatapan Ayah yang meyakinkan, aku percaya semua akan baik-baik saja. Aku tidak tahu masa depan yang akan datang, tetapi setidaknya diriku lebih waspada menghadapi masalah.
"Ayo, kita masuk. Ibu sudah membuatkanmu salad buah."
Itu sedikit masa lalu keluarga Leanne yang mulai terkuak. Satu persatu masalah berat akan dihadapi Leanne dan Anson ke depannya.
Part selanjutnya "Kunjungan Yang Mengejutkan."