Sarapan pagi ini sama seperti biasanya. Tidak ada yang membicarakan peristiwa kemarin bahkan Lois ikut diam. Biasanya dirinya yang paling aktif bicara. Mungkin kurasa mereka sudah tahu, tetapi tidak mau membahasnya.
"Kalungmu indah, Nak. Apa temanmu yang memberikannya?" tanya Ayah dengan candaannya.
Sontak aku tersedak, Ibu melirikku agar tidak bicara sedangkan Zie hanya menatapku saja.
"Bu--bu...."
"Jangan berbohong padaku, Nak. Ayahmu ini tahu dari siapa kalung itu," ujar Ayah dengan tersenyum.
Aku lupa jika Ayah dan Ibu memiliki kemampuan melihat suatu benda yang terhubung oleh pemiliknya.
"Yeah, Ayah benar sekali. Kalung itu memang dari Anson. Kalau dipikir lagi kurasa Anson mulai menyukaimu, deh," celetuk Lois tanpa bersalah.
Kami saling bersitatap, ingin rasanya aku menjitak kepala Lois dengan sendok dan menyumpal mulut embernya dengan saos sambal. Semakin lama anak ini semakin keterlaluan.
Ayah terbatuk kecil dan memandang kami sebelum beranjak dari meja makan bersiap untuk ke kebunnya pagi ini.
"Terima pemberian orang boleh saja asal...." Ayah menoleh padaku sesaat. Aku paham yang dimaksud olehnya.
"Lain kali jangan menerima pemberian dalam bentuk apa pun, Dik," respon Zie mengiyakan ucapan Ayah.
Aku pasrah, tertunduk dalam diam dan tidak menjawab perkataan mereka. Aku memilin pakaian dan tangan Ibu menyentuh jemariku. Ada kecemasan yang terpancar di matanya.
"Iya, aku paham. Tapi bolehkah aku hanya berteman saja dengannya? Selama ini aku tidak pernah berteman dengan lawan jenis. Ibu dan Ayah selalu melarang. Untuk kali ini saja," pintaku sambil memohon.
"Kamu, 'kan sudah pernah berteman dengan lawan jenis beberapa tahun...." Ucapan Lois terpotong ketika tatapan tajam Ayah terarah padanya. Ia langsung memukul bibirnya sendiri.
"Ayah akan mengijinkanmu kali ini. Tapi kau harus ingat dengan perjanjian kita, Leanne. Tidak boleh lebih dari itu," tandas Ayah, berlalu dari hadapan kami.
Aku masih memilih diam di kursi setelah Ibu membereskan semua sisa peralatan makan kami. Lois mungkin bermain mobile legend di kamarnya sedangkan Zie membantu Ayah di kebun.
"Ada kalanya kita perlu berteman dengan yang lainnya terutama lawan jenis agar kamu bisa memahami isi pikiran pria. Tidak hanya Ayah atau saudaramu saja. Ayah dan ibu tidak pernah menyuruhmu untuk berteman dengan anak perempuan saja. Namun, dirimu dan pria harus ada batasannya," tutur Ibu lugas.
Ibu duduk di samping dan menyibak poniku dengan senyuman hangatnya. Jika dulu aku sering curhat pada Lyn, kini hanya Ibu di rumah. Tempatku untuk curhat masalah wanita.
"Sayang, kau tidak ingin kejadian dulu menimpa temanmu lagi, bukan?"
Aku menunduk, meremas jemari dan membiarkan air mata terjatuh hingga membasahi bawahan.
"Kau dan Anson berbeda. Kita pun di sini juga sementara dan beberapa tahun kemudian akan pindah. Kami tahu ini sangat berat untuk kau atau saudaramu hadapi. Kita menghindar dan pergi sejauh mungkin jika ada yang tahu kehidupan kita sebenarnya. Ibu mohon padamu, Sayang. Jangan ada lagi kejadian seperti dulu lagi," pungkas Ibu mengacak rambut dan mencium keningku.
Aku tidak bisa berkata lagi ketika Ibu sudah berbicara seperti itu. Dulu aku memiliki teman dekat pria. Kami saling mendukung satu sama lain dan belajar bersama. Namun, suatu peristiwa membuat Ayah menghilangkan semua ingatannya tentangku. Sejak saat itu Ayah dan Ibu melarangku tidak boleh terlalu dekat dengan teman pria.
"Leanne, kamu ada di rumah?"
Itu suara Anson dari luar. Ibu menghentikan kegiatannya mencuci piring, mengeringkan tangan dan berjalan menuju asa suara.
"Oh kamu, Nak. Leanne ada di dalam. Kamu mau masuk?"
"Tidak Nyonya. Saya hanya mau mengantarkan oleh-oleh dari kakek saya yang tinggal di Indonesia. Mungkin kalian suka."
Aku mendengar percakapan mereka dari ruang makan. Aku masih malas untuk bertemu dengannya. Biar Ibu saja yang berbicara.
"Ya ampun. Lama sekali kami tidak meminum ini." Ibu terdengar bahagia dari suaranya.
"Iya saya ingat kalau Lean mengatakan jika keluarga kalian pernah tinggal di sana. Ya, kurasa tidak ada salahnya untuk berbagi."
"Ucapkan terima kasih saya pada kakekmu, Nak."
"Iya Nyonya sama-sama."
Saat Ibu menutup pintu, aku tahu Anson sudah kembali ke rumahnya. Ibu bersenandung kecil sambil memegang beberapa bungkusan.
"Anson menyuruhmu ke rumahnya nanti. Ada hal yang mau ia bicarakan," kata Ibu menepuk pelan bahuku.
"Sudah lama ayahmu tidak meminum kopi ini. Pasti ayahmu suka," ucap Ibu senang sebelum aku beranjak pergi.
*****
Di dunia ini ada hal yang perlu dirahasiakan tanpa harus dibuka lagi. Pembicaraan di meja makan seketika mengingatkan kembali kenangan yang ingin kuhapus. Dulu sekali aku punya teman waktu tinggal di negara yang memiliki dua musim tersebut. Alvin, ia anak pemilik kontrakkan saat kami berada di sana. Kami berteman dan sering menghabiskan waktu bersama. Hingga suatu hari tanpa sengaja sang adik mengetahui kemampuan keluargaku.
Sebelum kami menghilang dari kehidupan mereka, Ayah dan Ubel menghilangkan semua ingatan Alvin dan Cloe. Alvin cinta pertamaku sedangkan Zie menyukai Cloe adiknya. Semua tidak berjalan sesuai rencana.
"Tak terasa sudah lama kejadian itu, bukan?"
Aku menoleh dan mendapati Ubel Issac di sampingku. Kali ini kulihat dirinya berbeda. Tidak ada tongkat atau tatapan tajam. Dia datang memakai jubah tanpa ditutupi kepalanya.
"Ada apa? Heran lihat aku seperti ini?"
Aku memanyunkan bibir dan berjalan menjauhinya. Bukannya pergi malah mengekor bagai kucing di belakangku.
"Bisa tidak sih jangan mengikutiku, Tuan Ubel!" Aku agak kasar saat berkata.
"Aku punya nama selain Ubel, Leanne. Ubel hanya nama kiasan saja."
Di saat seperti ini, dia malah bercanda. Aku baru tahu di balik sikap dinginnya tersimpan sisi lain. Ah, apa peduliku sih?
"Memangnya aku perlu tahu?" tanyaku ketus, meliriknya tidak suka.
"Itu karena dirimu selalu saja memanggil kami Ubel. Padahal kami memiliki nama masing-masing," sahutnya.
"Oh begitu,"jawabku datar.
"Lalu anda tidak bertugas?" lanjutku sembari melihatnya. Kupikir rambutnya sama dengan yang lainnya ternyata seluruhnya putih bagai salju.

"Ada kalanya aku ingin seperti yang lainnya. Bebas tanpa mengemban tugas berat," ucapnya sambil menerawang jauh ke depan, memandang hamparan kebun milik Ayah.
Aku menarik napas panjang, benar katanya. Terkadang aku juga ingin melakukan hal yang kusukai tanpa ada beban.
"Lean, ternyata kamu di sini. Aku tadi ke rumahmu," panggil Anson dengan napas tersengal.
Aku panik karena ada Ubel di sini. Jika Anson melihatnya bisa celaka dirinya.
"Tenang saja. Temanmu tidak bisa melihatku. Baiklah ... aku tidak akan mengganggu," katanya beranjak pergi. "Oh, ya namaku Issac." Dia berkedip sebelum berubah menjadi burung cantik.
"Ini kebun sayur dan buah milik keluargamu? Luas juga, ya?"
Aku menggangguk menanggapi pertanyaannya. Hasil bumi inilah yang dijual Ayah untuk memenuhi kebutuhan kami.
"Ada apa memanggilku?"
"Ada yang aku perkenalkan padamu. Kakekku baru datang dan ia akan menginap di rumah. Aku menceritakan semua hal yang kejadian saat dirimu mempertemukanku dengan Autumn."
"Untuk apa? Bukankah urusan kita sudah selesai?" Entah mengapa saat ini aku malas berbicara pada siapa saja.
"Ia ingin tahu tentangmu, Lean. Sebentar saja."
Benar kata Autumn, Anson yang sekarang lebih terbuka padaku walau terkadang cara bicaranya masih ketus dan dingin.
"Hanya sebentar saja. Oke?"
Anson menyimpulkan senyumannya. Hatiku berdesir ketika tangannya menyentuh kulit. Aku berharap tidak menaruh perasaan padanya.
Kami beriringan menuju rumahnya. Rumah bercat putih dengan pagar kayu dan bunga lavender mempermanis tampilan. Di kursi goyang kulihat pria tua baya melambai pada kami.
"Itu kakekku, Lean. Aku kenalkan dirimu, ya," ajak Anson menuntunku.
Aku terkesiap melihat pria tua yang dipanggil kakek oleh Anson. Jantungku berdegup cepat dan keringat dingin membasahi telapak tangan.
"Hai ... kau pasti Leanne. Saya kakeknya Anson dari Indonesia. Panggil saja kakek Alvin."
Siapa Alvin? Mengapa Leanne terkejut?
Ada yang tahu?
Part selanjutnya "Rahasiaku"