Bagian 3

2011 Kata
Just show what you feel. – Abyan Cetta Orland Liburan semester telah dimulai. Queen sekeluarga berlibur ke pantai yang jaraknya sekitar sepuluh km dari rumah penduduk. Sudah menjadi kebiasaan setiap libur semester keluarga ini mengunjungi wisata-wisata yang ada di daerahnya. Pada semester ini, Queen berhasil menjadi juara kelas dan lulus dengan predikat siswi dengan nilai dan prestasi paling banyak. Sejak kelas satu Queen sudah mengikuti berbagai macam perlombaan. Mulai dari bidang akademik hingga olahraga. Oleh karena itu, ayahnya sangat bangga. Walaupun sering menang, tetapi Queen tetap rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Namun, hal itu membuat sang ibu kesal karena Queen telah mengambil seluruh perhatian dan kasih sayang Abrisam. Namun, hal berbeda dialami oleh Anna, adiknya. Anna tidak seperti Queen, nilainya tidak terlalu bagus dan prestasinya pun sedikit, tapi Anna memiliki banyak teman karena mudah bergaul. Prestasi yang dimiliki hanya di bidang seni saja. Anna sangat pandai melukis, ia pernah meraih juara pertama lomba melukis tingkat provinsi. Sayang, Abrisam tidak begitu perhatian dengan Anna. Pantai adalah wisata kesukaan Queen. Ia selalu merasa tenang dan bahagia kalau sudah melihat pantai. Pergi ke pantai ini hanya membutuhkan kira-kira satu jam perjalanan. Sesampainya di sana, Queen langsung berlari menuju tepi pantai diikuti Anna, Lianne, dan Abrisam. Queen langsung bermain air dan berenang. Begitu pun Anna. Anna dan Queen sudah basah kuyup. “Ayo kita bikin istana pasir!” ajak Anna kepada Queen. Queen mengangguk. “Kamu bikin pagar pembatas saja, biar aku yang buat istananya,” ucap Anna sambil asik menyusun pasir dengan ember kecil yang sudah mereka persiapkan. “Iya,” jawab Queen. Matahari mulai di atas kepala. Lianne menyuruh keduanya untuk makan siang dulu. “Anna, Queen makan siang.” Anna dan Queen langsung berlarian menghampiri orang tuanya. Mereka makan dengan ikan bakar dan berbagai macam seafood. Tak lupa dengan minuman air kelapa dan soda gembira. Pantai yang mereka datangi ini bukanlah pantai yang memiliki ombak besar sehingga tidak memerlukan pemecah ombak yang banyak itu. Namun, tetap saja akan ada ombak yang datang akan menyeret ke laut tanpa terduga. Setelah makan siang, Anna dan Queen lanjut bermain air. Saat sedang asik-asiknya bermain air, ombak yang cukup besar mendatangi semua yang sedang bermain di tepi pantai. Mereka yang menyadari bahaya besar pun berlarian pergi dari situ, tapi Queen masih terlalu asik bermain air hingga Abrisam mendatangi dan menyeretnya. Namun terlambat, ombak itu sudah menghantam keduanya. Abrisam memegang Queen erat-erat dan dengan tenaga yang tersisa, Abrisam menahan Queen agar tidak hanyut ke laut. Hal yang dilakukan Abrisam pun berbuah manis, Queen berhasil bertahan. Ia merangkak menuju pantai lagi. Namun, Abrisam harus ikut terseret ke laut dan baru ditemukan beberapa jam kemudian karena tubuhnya tersangkut di sebuah karang. *** Bel pergantian pelajaran berbunyi. Beberapa anak dari kelas lain berlalu lalang di koridor. Ada yang menuju kantin, ada yang menuju kamar mandi, ada yang menuju perpustakaan, ada juga yang hanya nongkrong di depan kelas, tapi tidak untuk siswa-siswi kelas 10-8. Para siswi meninggalkan kelas menuju ruang ganti karena pelajaran berikutnya adalah olahraga, sedangkan para siswa berganti baju di kelas. Hal itu biasa mereka lakukan dengan kesepakatan. Mereka sepakat untuk menggunakan kelas sebagai ruang ganti secara bergantian tiap minggu. Queen, Nada, dan Mika berjalan beriringan menuju ruang ganti. Mereka saling mengobrol dan tertawa. Saat baru saja masuk ke bilik ganti, Queen mendapatkan sebuah pesan yang membuatnya kaget seperti waktu itu dan terdiam. ‘Masa-masa indah di masa lalu selalu menyenangkan ya?’ – Hanna Zainisa Dia menepis segala pemikiran buruk meski ia tahu nama yang tertera di pesan itu. Ponselnya kembali disimpan. Ia buru-buru memakai seragam olahraga. Mood-nya tidak sebaik tadi, ia lebih banyak diam hingga membuat kedua temannya terheran-heran. Ketiganya kembali menuju kelas untuk menyimpan seragam sebelum bergabung dengan yang lain di lapangan. Nada dan Mika berbincang sepanjang koridor, sedangkan Queen hanya berjalan dengan tatapan kosong. Tangannya mengeratkan tas jinjing yang berada di pelukannya. Kepalanya dipenuhi dengan banyak tanda tanya dan kekhawatiran. Raut wajahnya berubah tiap detik dan hal itu disadari kedua temannya. “Ya nggak, Queen?” tanya Nada meminta pendapat, tapi tak didengarkan oleh yang ditanya. “Queen lo kenapa?” tanyanya lagi, tapi hanya tidak ada jawaban. Kedua teman Queen saling bertatapan. Mereka merasa ada yang salah dari pandangan Queen. Nada menyenggol lengan Mika yang berada di tengah. “Queen kenapa, sih, Mik?” bisiknya. Mika menoleh dan hanya mengendikkan bahu. “Queen,” panggil Nada saat mereka sudah sampai di depan kelas. Alisnya berkerut. “Queen!” panggilnya lagi sambil menepuk pundaknya. Mata Queen membulat kaget. Respons yang sudah diduga keduanya. Queen melamun. “K-kenapa?” Nada menepuk dahinya pelan. “Nggakpapa. Buruan taruh tas, udah ditunggu Pak Alden, nih.” Queen mengangguk. Ia buru-buru menaruh tasnya ke dalam loker meja dan bergegas ke lapangan. Pak Alden membunyikan peluitnya sebanyak tiga kali, tanda waktu berganti seragam telah selesai. “Ayo sini cepat berkumpul semuanya!” Beliau adalah guru yang terkenal paling disiplin dan tegas. Beliau juga merupakan guru yang paling disegani oleh murid-murid di SMA Pegasus. Tidak ada yang berani menentangnya, kecuali seorang siswa. Ya siapa lagi kalau bukan Abyan Cetta. Hanya laki-laki itu yang berani menatap wajah Pak Alden dengan berani. Pak Alden bersedekap. “Hari ini saya akan mengambil nilai praktik kalian semua. Permainan bola basket teknik dribbling dan shooting. Dimulai dari absen awal.” Semua murid kelas 10-8 mengeluh dan saling berbisik satu sama lain. “Abel maju. Yang lain tunggu di situ,” tunjuk Pak Alden ke pinggir lapangan. Abel yang sedang malas mengangkat tangan. "Pak, sesekali dari absen akhir dong. Masa saya terus yang duluan," protesnya. Pak Alden menjawab, "Ya sudah kamu ambil nilai setelah absen terakhir." Tangannya mencoret kertas yang dipegangnya membuat yang lain tidak berani membantah lagi. Semua siswa pun menuruti apa kata Pak Alden. Proses pengambilan nilai kali ini terbilang cukup cepat karena semua siswa kelas 10-8 memang kebanyakan merupakan anggota tim basket. Kini giliran Queen yang memulai pengambilan nilai. Ia mulai menggiring bola ke arah ring, kemudian melakukan shooting. Ia tidak melakukan banyak gaya seperti teman-teman yang lain karena ia hanya bisa dasar-dasar bermain basket. Itu saja perlu latihan yang cukup intens dengan Adrian. Tanpa sepengetahuan Queen, ada seseorang yang mengamatinya. Diam-diam seseorang itu tersenyum, walaupun hanya senyum kecil. Sedangkan di seberang, ada seseorang yang juga sedang mengamati orang yang tersenyum pada Queen. Ia sedikit mencurigai orang itu, tangannya mengepal di samping badan, ekspresi santainya berubah menjadi sedikit lebih kaku. Seseorang menepuk pundak Adrian dari belakang. “Cabut.” Adrian pun melangkah meninggalkan area itu dengan hati gelisah. *** Maafkan diriku yang selalu menyangkal Maafkan diriku yang tak pernah mengakuinya Tapi untuk kali ini, izinkan aku untuk menyuarakan isi hati ini meski tanpa harap, juga tanpa balas izinkan aku untuk berbagi rasa denganmu Saat rindu menggebu, tak terbalas Saat bimbang ini selalu terbayang izinkan aku untuk merangkai kata dalam kesunyian agar menjadi sebuah ungkapan; aku menyayangimu lebih dari ini Lebih dari apa yang telah kita jalin selama ini Maaf karena aku masih terlalu takut mengungkapnya karena aku tidak siap untuk menerimanya  “Queen.” Queen baru saja menyelesaikan puisi yang ia buat kemarin malam saat Nada muncul dari luar kelas dan memanggilnya. Queen mendongak. “Apa?” Perempuan berambut pendek itu menghampiri Queen, disusul oleh Mika. “Dicari Adrian,” jawabnya sambil menyeruput jus. Queen melongok. “Di depan. Lagi ngobrol sama Aurel,” jelas Nada. Queen menyimpan puisi itu di laci meja dan berjalan menemui Adrian. Saat ia sudah berada di luar kelas, Adrian yang sedang mengobrol di kursi bersama Aurel. Mereka terlihat sangat akrab. Queen berdeham. Adrian dan Aurel menghentikan obrolan mereka. “Gue masuk dulu ya, Kak,” ucap Aurel tersenyum kemudian meninggalkan mereka berdua. “Ada apa?” tanya Queen to the point. Mood-nya yang hancur semakin hancur melihat keakraban Adrian dan Aurel tadi. Adrian menarik tangan gadis itu. “Sini duduk.” “Apa sih ini, jelek banget,” ucap Adrian memainkan pipi Queen. “Senyum dong,” lanjutnya menarik sudut bibir Queen. Kesal, ia menarik tangan Adrian dari mukanya. “Ck, nggak mau ah.” Adrian mengernyit. Adrian memaklumi bila lawan bicara Queen adalah orang lain, tapi ini dia sendiri yang sedang berbicara dengan Queen. Perempuan itu tidak seperti biasanya. “Lo PMS ya? Jutek amat.” Ia memainkan rambut Queen. “Nggak usah tarik-tarik, ih!” sahut Queen kesal akan kejailan Adrian. “Gue masuk kalo nggak ada yang penting,” putusnya sambil berdiri. Matanya sedikit melirik ke arah Adrian. Laki-laki dengan seragam yg sedikit berantakan itu ikut berdiri dan menahan lengan Queen. “Dasar galak.” Setelah Adrian mengucapkan dua kata itu, Queen menarik tangannya dan masuk ke kelas. Tanpa ia duga, Adrian beteriak. “NANTI PULANG SEKOLAH TEMENIN GUE KE TOKO BUKU!” Ia memutar bola mata dan menghela napas kasar untuk kesekian kalinya. *** “Cepetan dong Nad, gue males jalan sama siluman bebek,” ucap Queen sambil mendorong pelan bahu Nada yang sedang mengikat sepatu. “Lo jalan duluan aja deh, Queen. Ntar gue susul.” “Yaudah.” Baru beberapa langkah Queen meninggalkan Nada, seseorang meneriaki namanya. “QUEEN!” Queen terus berjalan, mengabaikan teriakan orang yang ia hindari hari ini. “QUEEN!” Ia mempercepat langkah dan hampir berlari. Namun, kaki pendeknya tak mampu melangkah lebih lebar lagi hingga siluman bebek mencekal tangannya. “Gue bilang temenin gue ke toko buku. Lo kenapa, sih, ngehindar gitu?!” ucap Adrian saat mereka telah berhadapan. “Nggak mau, A!” tolak Queen, menghempaskan cekalan tangan Adrian. Perempuan itu mengalihkan pandangan ke arah lain. “Gue beliin komik deh,” bujuk Adrian. Ia menatap intens gadis di hadapannya. Queen menggeleng. “Yaudah journal book?” tanya Adrian. Queen menggeleng lagi. “Terus apa?” tanya Adrian gemas. “Es krim,” jawab Queen datar. Ia menampilkan wajah cuek, padahal sejak tadi ia menahan senyum atas tawaran yang diberikan Adrian. “Nggak. Es krim nggak sehat, nanti lo drop,” peringat Adrian. Queen memanyunkan bibir. Adrian tidak pernah tega melihat ekspresi cemberut itu. “Yaudah iya es krim, tapi dikit aja,” ucap Adrian mengalah. Queen bersorak pelan. “Yes!” Mereka berdua pun menuju parkiran untuk berangkat ke toko buku. Sepanjang perjalanan Queen tidak membuka mulutnya untuk bersuara. Ia sibuk menghabiskan es krim yang telah dibeli, sedangkan Adrian fokus menyetir. “Buruan, Queen! Lama banget sih jalannya,” keluh Adrian yang telah beberapa langkah di depan Queen. “Iya sabar,” jawab Queen menyusul Adrian malas-malasan. Sesampainya di toko buku, Queen super super badmood. “Ngapain lo beli buku sejarah gitu? Anak IPA mana butuh,” tanya Queen heran melihat Adrian membeli beberapa buku sejarah dan sastra. “Gue cuma beli komik, sisanya titipan,” jawab Adrian. “Siapa?” tanya Queen penasaran. “Temen,” jawab Adrian. Queen hanya ber-oh ria. “Siapa?” tanya Queen setelah menimang-nimang bertanya atau tidak. Ia menjajari langkah Adrian yang sedang menuju kasir. “Mau tau aja apa mau tau banget?” goda Adrian. Queen hanya mendengkus kesal. “Suka-suka lo deh.” “Dih gitu aja ngambek,” ledek Adrian sambil memencet gemas hidung Queen. “Bodo,” sungutnya. “Gue mau pulang,” ucap Queen sambil menarik-narik lengan Adrian. "Jatuh hati tidak pernah bisa memilih, Tuhan yang memilihkan. Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi, bahagia adalah bonus." – Fiersa Besari, Garis Waktu. Niat hati hanya iseng melihat sekeliling, pandangan Queen jatuh pada tulisan yang terpajang raksasa persis di atas kasir tempat mereka membayar. Tulisan itu dipasang untuk mempromosikan buku karya Fiersa Besari yang kini sedang naik daun. Setelah membaca itu, Queen meneguk ludah dengan kasar. Ia melirik Adrian sekilas. “Dah, yuk,” ajak Adrian sambil menggandeng tangan Queen. Secara refleks, ia menarik tangan dari genggaman Adrian dan langsung berjalan menuju eskalator. Sudah badmood, disindir tulisan pula. Hampir beberapa langkah lagi Adrian berdiri sejajar dengan gadis itu. Queen sedang menunduk dan memainkan ponselnya. Karena tidak sabar, Adrian merangkul dan mengajaknya keluar dari kawasan mall. Biasanya Queen selalu mengoceh tentang apapun yang menarik perhatiannya di jalan. Namun, kali ini sikapnya membuat Adrian bingung. Tanpa Adrian ketahui, Queen baru saja mendapat sebuah pesan asing yang kesekian kali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN