Without you, i've got no hand to hold. – Queena Brylee Juliana
“Queen!” panggil Kirana.
“Ya, Nek?” jawab Queen. Ia menghampiri neneknya yang sedang merajut.
“Kamu tolong siram tanaman di depan ya, habis itu tolong ke supermarket. Bahan untuk berjualan besok sudah menipis,” suruh wanita lansia itu.
“Apa aja yang harus dibeli, Nek?” tanya Queen.
Kirana menghentikan kegiatan merajutnya sejenak, lalu tersenyum. “Nanti nenek beri list-nya. Kamu siram tanaman dulu,” jawabnya dibalas anggukan oleh Queen.
Kirana sangat menyukai semua yang berbau alam. Itulah mengapa halaman depan rumahnya terdapat macam-macam jenis tanaman. Yang paling ia favoritkan adalah tanaman Calathea. Tanaman ini berasal dari Colombia dan Venezuela di bagian negara Amerika Selatan dengan namanya yang populer sebagai prayer plant atau peacock plant. Kirana membeli tanaman ini saat ia mengunjungi kakaknya yang berada di Venezuela. Tanaman ini disebut dengan julukan prayer plant karena pohon ini sensitif dengan kondisi gelap. Di saat hari mulai gelap daun Calathea ini akan menggulung.
Kesukaan Kirana berbau alam ini juga diturunkan kepada cucu tersayangnya. Queen sangat menyukai apapun yang berbau alam dan berwarna hijau. Ia merawat tanaman-tanaman itu dengan telaten.
“Sudah selesai?” tanya Kirana menghampiri cucunya.
“Dikit lagi, Nek.”
“Sini nenek aja yang lanjutin. Kamu ke supermarket aja,” ucap wanita lansia itu sambil mengambil alih alat penyemprot dan memberikan selembar kertas berisi list barang yang harus dibeli.
“Pewangi, pengharum ruangan, deterjen, sabun cuci tangan, pasta gigi, ....” Satu per satu barang ia cek dengan benar agar tidak ada yang terlupa.
Ia lantas mendorong trolli menuju rak sabun dan mengambil barang-barang yang ada di list. Dari banyaknya barang yang ada di list, ada beberapa barang yang habis di supermarket.
“Sabun sudah, daging-dagingan sudah, telur sudah, minyak juga sudah,” gumam Queen sambil mengecek kembali barang yang tertera di list.
“Apalagi yang belum?” Queen bertanya pada diri sendiri. “Hm, kayaknya udah semua,” jawabnya.
Setelah yakin kalau tidak ada barang yang terlupa, Queen mendorong trolli ke kasir.
Supermarket ini letaknya tidak begitu jauh dari kediaman Queen, Ia dan neneknya sering berbelanja di sini. Karena sudah lama dan sering berbelanja di sini, para kasir pun sudah mengenal mereka.
“Hai, Queen,” sapa seorang kasir yang bertugas.
Queen menyerahkan paper bag yang cukup besar. Supermarket ini sudah tidak lagi menggunakan kantong plastik. Kalau pembelinya tidak membawa kantong sendiri, otomatis mereka akan disuruh membeli paper bag yang ramah lingkungan atau mereka akan dibungkus menggunakan kardus bekas yang harganya hanya Rp 200,00.
“Halo, Mbak,” balas Queen sambil mengeluarkan barang-barang yang ada di trolli.
“Sendirian? Mana nenek?” tanya kasir itu. Tangannya lincah mengambil dan memindai barcode barang belanjaan itu.
“Nenek di rumah lagi ngurus tanaman,” jawab Queen.
“Oh begitu. Udah lama ya kalian nggak belanja di sini,” ucap kasir yang berkerudung itu. “Udah nih, nggak ada tambahan?” tanya Rani dibalas gelengan olehnya. “Totalnya Rp 276.850,00.”
Queen merogoh kantung celana untuk mengambil kartu debit. Tangannya mengangkat tas belanjaan dari meja kasir ke dalam trolli.
Berat banget.
Setelah menerima kembali kartu debit, struk pembayaran, dan bonus kupon, Queen mengucapkan terima kasih kepada Mbak Rani.
“Iya sama-sama. Salam untuk nenek di rumah,” ucap Mbak Rani melambaikan tangan dan membalasnya dengan jari yang melambangkan “OK.”
Queen keluar dari supermarket itu dengan mendorong trolli. Paper bag ia letakkan pada trolli agar lebih mudah dibawa.
Saat menuju supermarket tadi Queen memesan ojek online. Berhubung barang belanjaannya banyak, ia memutuskan untuk memesan taksi online. Namun, pandangannya tertuju pada seseorang yang ia kenal. Orang itu berlari kecil ke arahnya.
“Wah, udah selesai belanjanya?” tanya Abyan. Rambutnya terlihat acak-acakan.
Queen mengangguk. “Iya.”
Ia mengalihkan pandangan ke arah ponsel untuk mengatur titik jemput.
“Trus lo ngapain di sini? Nunggu jemputan?” tanyanya lagi. Lagi-lagi Queen hanya menjawab iya.
“Lagi pesen ojek online,” lanjutnya setelah menekan tombol order.
Saat ia hendak menyimpan kembali ponselnya, tiba-tiba Abyan berkata, “Lo cancel aja, gue anterin lo pulang. Mumpung gue lagi bawa mobil.”
“Hah? Nggak perlu kok,” tolak Queen.
Tapi Abyan tetap memaksanya. “Udahlah gapapa, tapi tunggu bentar ya gue mau beli snack dulu.”
“Iya, deh,” jawab Queen, kemudian terpaksa membatalkan pesanan.
Setelah kurang lebih sepuluh menit menunggu, Abyan memberikan beberapa paper bag kepada gadis yang menggunakan cardigan cokelat itu. “Nih, buat lo nyemil.”
Queen mengerutkan alis, tangannya sudah bersiap untuk menolak. “Udah ambil aja,” ucap Abyan sambil menaruh kantung belanja itu ke trolli.
“Tunggu di sini ya, gue ambil mobil dulu.” Abyan berjalan menuju parkiran mobil sambil membawa satu kantung belanjaannya.
“Kesambet apa tu bocah,” gumam Queen. Pasalnya ia dan Abyan jarang sekali berinteraksi.
Ia mengecek barang belanjaannya dan ketika melihat kantung yang diberi Abyan tadi, matanya melotot. “Banyak banget.” Isi kantung itu ada berbagai macam makanan dan minuman ringan.
Bunyi klakson mobil membuatnya mendongak, kemudian menenteng tiap-tiap belanjaannya. Baru mau mengangkat satu kantung, Abyan sudah mengambil alih.
“Cewek tuh nggak boleh bawa yang berat-berat.”
“Thanks ya, sorry jadi ngrepotin,” ucap Queen sambil memasang sabuk pengaman.
“Santai aja, kita kan temen,” jawab Abyan sambil menginjak pelan pedal gas.
Queen mengangguk dalam diam. Tidak tahu harus menimpali apa. “Rumah lo di mana?” tanya Abyan saat sudah keluar dari area supermarket.
“Kompleks perumahan Heiz Grup.”
Selama perjalanan tidak ada percakapan yang berarti. Abyan fokus menyetir dan Queen asik sendiri dengan pikirannya.
Sesampainya di depan rumah Queen, Abyan membantu membawakan barang belanjaan perempuan itu ke dalam rumah. Dia disambut ramah oleh Kirana.
“Kamu temannya Queen, ya? Namanya siapa?” Kirana mengajak Abyan bersalaman.
Abyan balas tersenyum. Tidak perlu bersusah payah utnuk mengakrabkan diri. “Iya Nek, saya Abyan, temen kelasnya Queen.”
“Oh gitu, terima kasih ya sudah mau bantu dan antar Queen pulang,” tutur Kirana tulus. Tidak ada yang tahu kalau pandangan yang diberi Kirana saat ini adalah sebuah penilaian.
Abyan mengangguk. “Sama-sama, Nek.”
“Ya sudah, kalau gitu saya pulang duluan,” pamitnya pada Kirana. “Queen, gue pulang duluan.”
“Iya, Nak Abyan. Hati-hati di jalan,” pesan Kirana dan dibalas anggukan oleh Abyan.
Setelah mengatakan itu Kirana kembali ke dapur, sementara Queen mengantarkan Abyan sampai pintu gerbang.
“Sekali lagi thanks ya,” ucap Queen.
“Selow aja kali,” kekeh Abyan.
Pemandangan itu dilihat oleh seorang laki-laki yang saat ini sedang mendengkus kesal di atas motor melihat keakraban keduanya. Ia mengurungkan niat untuk main ke rumah sahabatnya.
***
Kebiasaan Queen dan Adrian saat akhir pekan adalah bersepeda saat pagi hari. Biasanya Adrian akan menunggu Queen di depan rumah gadis itu pukul enam pagi. Namun, hari ini ia tidak melihat keberadaan sahabat laki-lakinya itu. Queen sudah mengeluarkan sepeda, ia menuntun sepeda hingga beberapa langkah. Sesekali ia menengok ke belakang, memastikan bahwa Adrian benar-benar tidak melupakan hari ini.
Saat hendak menaiki sepeda, ia mendengar suara orang sedang berlari. Queen menengok ke belakang lagi dan dilihatnya Adrian sedang berlari. Namun, dugaan Adrian akan berhenti dan mengucapkan selamat pagi untuknya tinggallah angan karena Adrian sama sekali tidak melihat bahkan meliriknya sedikitpun.
Senyum yang tadinya ditujukan ke sahabatnya itu kini berganti dengan wajah sendu. Berbagai pertanyaan timbul di benak Queen. Mengapa Adrian tidak menggunakan sepedanya? Mengapa Adrian tidak menyapanya? Bahkan melihat saja tidak. Ada apa dengan Adrian? Akhirnya Queen memutuskan untuk mengendarai sepeda dan menyusul ke arah Adrian pergi. Ia mengayuh dengan sekuat tenaga karena sudah tertinggal jejak.
Jalanan yang mereka lalui sudah ramai pengendara, baik sepeda motor maupun mobil. Jika sudah seperti ini, ia harus berhati-hati. Queen belum pernah bersepeda hingga ke jalan besar seperti ini karena Adrian melarangnya. Tentu saja ia tidak akan membiarkan sahabatnya terluka akibat tidak lihai menjaga keseimbangan.
Keseimbangan dalam bersepeda Queen kini sangat mengkhawatirkan. Bila tersenggol sedikit saja, maka sudah dipastikan akan terjatuh.
Benar saja, Queen terjatuh tidak lama setelah ada anak kecil berlari berlawanan arah dengannya.
Brukk...
“Shh,” ringis Queen sambil mengubah posisinya menjadi terduduk sedangkan anak kecil yang tadi menabraknya sedang ditenangkan oleh kakaknya karena menangis tersedu-sedu.
“Mbak nggakpapa?” tanya salah seorang pejalan kaki yang kebetulan sedang lewat sekitar situ. Beberapa orang yang lain menepikan sepedanya.
Luka yang didapat Queen cukup besar di bagian lutut dan siku, kakinya juga sepertinya terkilir.
Queen hanya tersenyum menanggapi pertanyaan yang diberikan orang itu. Orang-orang yang tadi membantu kini sudah tidak lagi mengelilinginya. Queen mencoba bangun dan menahan rasa sakit di kaki.
“Shh,” ringis Queen lagi.
Andai Queen membawa ponselnya, ia akan langsung menelpon Adrian untuk menolongnya. Mengingat Adrian, ia jadi ingin menangis. Matanya sudah memerah, siap dikeluarkan kapan saja.
“Aduh! Mbaknya bisa naik sepeda nggak, sih? Ini adik saya jadi luka-luka kan,” ucap kakak si adik yang tadi menabrak Queen. Perasaannya mulai tidak karuan. Ia ingin segera pulang dan menenggelamkan diri di tumpukan bantal untuk mengusir rasa malu dan bersalahnya.
“Harusnya teman saya yang bilang seperti itu,” sahut seseorang yang Queen yakin adalah Adrian. Ia mendongak dan tersenyum tipis pada Adrian. Lega sekali melihat Adrian ada di sampingnya.
“Kalo nggak bisa naik sepeda jangan naik sepeda, Mbak. Membahayakan yang lain tau nggak!” seru perempuan itu pada Queen tanpa menghiraukan ucapan laki-laki yang sudah siap pasang badan.
“Maaf,” ucap Queen menundukkan kepalanya.
“Ngapain minta maaf, sih?” protes Adrian. Adrian membantu Queen berdiri dan lagi-lagi ia meringis.
“Diem, A!” peringat Queen. “Kami duluan ya, maaf sekali lagi,” pamit Queen kepada kakak beradik itu.
Mereka meninggalkan tempat itu dengan mengendarai sepeda. Queen duduk di boncengan dengan posisi miring dan Adrian yang mengayuh sepeda.
“Kamu kenapa, sih, bisa jatuh gitu?” tanya Adrian mencairkan suasana yang sedikit canggung di antara mereka.
“Harusnya aku yang nanya kenapa kamu ninggalin aku?” balasnya. “Kamu nggak naik sepeda, aku dilewatin gitu aja, terus malah marah-marah sama orang tadi,” lanjut Queen.
“Kamu cerewet, Q!” seru Adrian yang dibalas pukulan ringan di punggung oleh Queen.