Is it accidently? – Dinda Claretta Prameswari
Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah setelah dua minggu tidak masuk sekolah, alias libur. Hari ini pula hari pertamanya menginjakkan kaki di halaman SMP Merdeka. Hari pertamanya ini diawali dengan kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS).
Beruntungnya, pengurus MOS tahun ini bukanlah kakak kelas yang suka memamerkan senioritasnya. Namun, para gurulah yang menjadi pengurus MOS. Queen menghela napas lega.
Kini Queen dibingungkan dengan luasnya halaman serta gedung. Ia bingung harus melangkahkan kaki ke kiri atau ke kanan. Hingga tubuhnya terdorong ke depan karena ada yang menabraknya dari belakang.
“Aduh!” Queen mengaduh.
“Sorry sorry. Gue nggak sengaja,” ucap gadis dengan rambut dikucir dua–sama seperti Queen.
Queen menanggapinya dengan tersenyum tipis.
“Lo anak baru juga?” tanyanya setelah mengamati penampilan Queen yang sama dengannya.
Queen mengangguk.
“Dapet kelas apa?” tanyanya lagi.
“Lavender,” jawab Queen.
Gadis itu memekik. “Wah sama!”
“Yaudah yuk bareng, kebetulan gue udah tau tempatnya,” ajaknya antusias sambil menggenggam tangan Queen, membuatnya tersenyum lebar.
Perlakuan gadis berkucir dua itu seketika membuatnya nyaman berada di sekolah ini. Yang Queen tau pasca perkenalan singkat tadi, nama gadis itu adalah Hanna Zainisa.
“Queen,” panggil Hanna.
“Ya?” jawabnya.
“Duduk bareng gue ya di sana,” ajak gadis itu sambil menunjuk meja keempat dari depan.
Queen mengangguk setuju.
Selama penjelasan peraturan dan juga materi oleh guru pembimbing, mereka mendengarkan dan mencatat hal-hal penting yang akan diperlukan untuk menjalankan misi berkelompok.
Misi ini dilakukan secara berkelompok, terdiri atas empat anggota. Tiap-tiap kelompok memiliki misi yang berbeda. Penentuan kelompok diacak oleh guru sehingga mereka harus berkenalan dengan orang baru dan menjalin chemistry.
Untungnya Queen dan Hanna satu kelompok, ditambah dua orang baru, yaitu Stella dan Calista. Kelompok mereka mendapatkan sebuah misi yang sederhana. Mereka hanya harus mengumpulkan pita-pita berwarna pelangi yang sudah tersebar di penjuru sekolah. Untuk menyelesaikan misi, mereka harus mengumpulkan clue dari pita pelangi yang sebelumnya.
“Kita dapet misi untuk ngumpulin clue dari pita pelangi nih,” kata Calista yang tadi maju untuk mengambil undian.
“Oke, gini. Dulu, kakak gue pernah dapet misi semacam ini juga. Yang perlu kita lakuin adalah ngumpulin pita pelangi sebanyak-banyaknya, habis itu kita kumpul lagi untuk mecahin permasalahan yang ada di pita terakhir,” ucap Stella memberi masukan.
“Oke boleh. Kita bagi jadi dua kelompok gimana?” usul Queen.
“Yap. Gue setuju, biar lebih cepet dan nggak kesasar,” tambah Hanna.
Keempat orang di kelompok tersebut lalu berpencar ke arah yang berbeda. Stella dan Calista menuju bagian belakang sekolah, sedangkan Queen dan Hanna menuju gerbang sekolah.
***
Queen menggeplak bahu Adrian. “Aw! Pelan-pelan dong! Sakit tahu,” keluh Queen sambil meringis.
“Yes, Your Grace,” sahut laki-laki itu sambil masih mengobati kaki dan tangan yang terluka.
Sejak insiden jatuh dari sepeda tadi, Adrian tidak langsung membawa Queen pulang ke rumah perempuan itu. Ia malah membawa Queen ke rumahnya. Kebetulan penghuni rumah Adrian hanya ada pembantu dan Leon, kakaknya. Sedangkan orang tuanya sedang berada di luar kota untuk menghadiri acara keluarga.
Sepanjang jalan Adrian berkali-kali mengomeli perempuan itu, dari berbagai macam nasihat hingga sumpah serapah dikeluarkannya. Namun, Queen tak begitu mendengarkan.
“Kaki lo masih keseleo nggak?” tanya Adrian.
Ya, sepertinya keadaan sudah mulai normal. Dari yang sebelumnya saling menggunakan sapaan aku–kamu, sekarang menjadi lo–gue.
“Mana gue tau!” jawab Queen dengan sedikit menaikkan nada bicaranya. Wajahnya berubah galak. “Dari tadi gue kan nggak boleh berdiri,” dengkusnya. Matanya menatap tajam laki-laki yang memegang kotak obat di depannya.
“Dih, gitu aja marah,” jawab Adrian malas. Ia mulai memijit pelan pergelangan kaki Queen.
Queen mendengkus dan meringis kemudian. “Siapa juga yang marah.”
“Kenapa muka lo gitu?” tanya Adrian melihat raut wajah perempuan itu menahan sakit.
Aduh si b**o mijetnya nggak pake perasaan.
“Sakit b**o,” cetus Queen kesal.
“Heh!” tegur Adrian sambil memukul kaki Queen, membuat perempuan itu mengaduh. “Omongan lo tuh dijaga ya, astaga. Perempuan nggak boleh ngomong kasar,” nasihat Adrian sambil menunjuk bibir Queen. “Perlu mulut lo gue sekolahin?”
“Apaan sih, A! Ngapain lo peduliin omongan gue, orang tua gue aja nggak peduli,” jawab Queen. Ia menurunkan kakinya dari paha Adrian. “Gue mau pulang,” sahut Queen.
“Lo mau nenek lo ngliat kaki cucunya pincang?” tanya Adrian menantang, Queen hanya bisa diam.
Adrian s****n. Adrian s****n.
“s****n lo,” umpat Queen. Adrian kembali mengambil kaki Queen yang tadi belum selesai dipijat. "Mulut," celetuk Adrian mengingatkan. Ia tidak suka sahabatnya itu berkata kasar. Tidak sesuai sekali dengan namanya.
Mereka saling diam. Adrian fokus memijat kaki Queen, sedangkan Queen asik menonton televisi.
“Aduh aduh. Adek gue perhatian banget sih sama cewek, sampai dipijetin gitu kakinya,” ucap laki-laki yang baru datang dan langsung mengganggu dua orang yang sedang sibuk. “Gue juga mau dong. Pegel nih habis naik gunung,” lanjut kakak Adrian itu.
“Hai, Queen,” sapa Leon. Queen menengok sekilas dan tersenyum menyapa Leon, kakak Adrian.
“Pijet sama Mbak Aminah aja sono! Ganggu aja,” jawab Adrian.
“Halah gayaan lo,” seru Leon, berlalu ke kamarnya.
“A,” panggil Queen.
“Hm,” jawab Adrian dengan gumaman.
“Mau ke perpustakaan rumah lo,” ucap Queen pelan.
Adrian menyerngit. “Ngapain?”
Queen memainkan perban yang membalut lukanya. “Ya mau baca buku, gue dah lama ngga ke perpustakaan,” jelas Queen.
Adrian menyingkirkan tangan Queen dari luka di lutut perempuan itu. “Jangan dimainin.”
“Ya makanya ayok ke perpustakaan,” ajak Queen. Ia sudah memasang wajah semelas mungkin agar laki-laki itu luluh.
“Ngga ada koleksi baru, Q,” terang Adrian. Ia enggan di perpustakaan rumahnya. Tepatnya, itu adalah perpustakaan milik ayah dan ibu Adrian. Adrian hanya menitip buku bacaannya dalam sebuah rak di perpustakaan itu.
“Nggakpapa. Ayok ih,” ajak Queen sambil menarik-narik tangan Adrian.
Akhirnya Adrian menurut dan mengikuti kemauan gadis itu.
***
Hari ini seorang Abyan akan mendapatkan masalah dari guru BP yang terkenal galak karena ia telah mengelabui satpam yang berjaga dengan memanjat pagar. Ya, Abyan baru saja datang ke sekolah pada pukul 08.00 WIB.
Saat Abyan sedang berjalan mengendap, ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang perempuan.
“Kalo jalan pake mata dong!” seru perempuan itu. Namun, Abyan tak mengindahkannya. Abyan melihat perawakan perempuan itu dari atas sampai bawah, lalu diulangi lagi sampai membuat perempuan itu membentak Abyan.
“Heh! Ngliatinnya biasa aja. Gue tau gue cantik,” ucap perempuan itu sombong.
Idih.
Abyan melihat perempuan itu dengan tatapan tidak suka.
Rambut perempuan itu berwarna ombre coklat tua dan muda, sedikit bergelombang dan cukup bervolume. Iris matanya berwarna coklat terang, bibirnya dipoles oleh liptint pink. Seragam OSIS-nya tidak dipakai dengan rapi, kedua lengan seragamnya ia lipat, seragamnya pun tidak dimasukkan dengan baik ke dalam rok, bahkan ia menggunakan rok span yang potongannya diatas lutut sekitar 2 cm.
“ABYAN!” panggil Bu Lilis, guru BK. Teriakan itu menginterupsi Abyan yang sedang memandangi perempuan di depannya. Karena ia tak mau masuk ruang BP, ia kabur melewati perempuan itu dengan gaya yang tak kalah angkuh.
“Aneh banget sih jadi orang,” gumam perempuan itu.
“ABYAN JANGAN KABUR KAMU YA!” teriak guru yang sudah menempuh usia lanjut itu. Ia tak mengindahkan keberadaan perempuan yang dilewatinya.
Di sisi lain, ada seorang laki-laki yang diam-diam mengamati pergerakan perempuan yang bertabrakan dengan Abyan tadi. Ia menyunggingkan senyum smirk-nya.
Suatu kebetulan yang menyenangkan.
Perempuan itu melanjutkan langkah kakinya menuju ruang tata usaha. Di ruang tata usaha, ia menyerahkan beberapa dokumen yang diberikan mamanya tadi pagi ke karyawan yang bertugas. Setelah selesai dari ruang tata usaha, ia disuruh langsung masuk ke kelas barunya.
Berhubung ia tidak tahu tentang sekolah ini, ia memutuskan untuk tidak masuk kelas. Anak baru itu memutuskan untuk berjalan-jalan di sepanjang koridor yang dilaluinya. Kebetulan ia berpapasan dengan Lucas di koridor kelas sebelas.
“Dinda? Dinda Claretta Prameswari?” tanya Lucas menebak.
Pertanyaan itu membuat perempuan yang bernama Dinda menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Baru kali ini dia bertemu dengan seseorang yang langsung mengetahui namanya tanpa perkenalan terlebih dahulu. “Kok lo tau nama gue?”
Lucas hanya mengendikkan bahunya cuek. “Nggak ada yang gue nggak tau.”
Setelah mengatakan hal itu, Lucas berjalan meninggalkan Dinda. Ia menatap kosong orang itu. Kenapa laki-laki di hadapannya itu bisa tau nama panjangnya?
“Tunggu! Lo siapa?” tanya Dinda angkuh.
Sombong juga nih bocah.
“Lucas Varen. Panggil gue Lucas,” jawabnya tanpa memandang perempuan itu. Setelah mengatakan hal itu, Lucas kembali melangkahkan kakinya.
“Tunggu! Lo tau kelas 10-8?” tanya Dinda.
“10-8?” ulang Lucas. “Iya,” jawab Dinda singkat.
“Gue anter,” ajak Lucas. Dinda mengangguk tanda jawaban.
Bukankah itu tadi pertemuan yang unik? Bahkan Lucas tau nama panjang murid baru itu, sedangkan perempuan itu hanya berpikir tidak mengerti mengapa laki-laki itu mengetahui namanya. Tidak ada yang tau nama panjang Dinda selain keluarga dan teman-teman masa SMP nya dulu. Ataukah ....