Don't think I can keep it all in. – Queena Brylee Juliana
Berkali-kali sudah ketenangannya diusik oleh berbagai pesan singkat seperti ancaman, bahkan ia pun hafal dengan nomor asing itu. Queen selalu tahu bahwa pesan itu dikirimkan pada tanggal lima setiap bulan. Belum pasti memang maksud pesan itu, tapi ia berusaha menerka dan mengaitkannya dengan segala sesuatu, seperti kematian kawan lama misalnya.
“Kaki lo kenapa dah?” tanya Nada melihat Adrian memapah Queen. “Pincang?” lanjut Mika.
Adrian yang mengantar Queen sampai depan kelas menyahut. “Jatuh dari sepeda.” Ia hanya tersenyum miring menanggapi keingin tahuan mereka.
Jawaban Adrian membuat keduanya menahan tawa, sedangkan Queen mencubit gemas lengan laki-laki itu. “Diem lo.”
“Lo lagi belajar naik sepeda?” tanya Nada memastikan yang dibalas dengan pelototan Queen. “Enak aja lo.”
Mereka kembali tertawa mendengar jawaban itu. Ada sensasi tersendiri ketika melihat sahabat yang sedang kesusahan kesal karena digoda terus.
“Oke, udah ya. Belajar yang rajin,” pamit Adrian yang akan kembali ke kelasnya sambil menepuk puncak kepala sahabatnya. Queen mengangguk malas walaupun di dalam hatinya sudah berdegup tidak karuan.
Entah kebetulan atau bagaimana, Aurel, teman satu kelas Queen, melewati mereka berempat. Melihat Aurel hendak masuk kelas, Adrian menyapanya. “Pagi Aurel.”
Aurel menghentikan langkahnya, tersenyum, dan membalas sapaan Adrian. “Pagi Kak.”
Setelah sapaannya dibalas, Adrian berbalik meninggalkan mereka. Suasana hati Queen tadi sangat baik karena diantar sampai depan kelas. Walaupun hal itu sering Adrian lakukan, tapi untuk hari ini Queen merasa spesial–tidak sampai sahabat laki-laki satu-satunya itu menyapa perempuan lain di depannya. Bahkan beberapa hari setelah mereka berkenalan dan berbincang, Adrian sudah membelikan perempuan itu sebuah buku, sedangkan Queen? Ia harus merengek dulu baru dibelikan. Jadi, wajar kan kalau Queen merasa kesal?
Kalau saja kaki Queen tidak sakit, ia pasti akan menghentakkan kaki karena kesal. Berhubung kakinya masih sakit, kekesalannya hanya terlihat dari raut wajah. Nada dan Mika yang melihat tingkah laku Queen hanya bisa saling menatap bingung. Aurel? Perempuan itu sudah masuk kelas dengan wajah cerianya setelah disapa oleh Adrian.
***
Dinda Claretta, anak baru SMA Pegasus, sudah membuat heboh satu sekolah. Jelas saja menghebohkan. Tidak ada peraturan yang membolehkan siswanya untuk mengecat rambut, tapi Dinda? Dia malah mengecat rambut bagian belakangnya dengan warna merah muda.
Ia memasuki halaman sekolah dengan gaya yang angkuh. Orang-orang yang baru melihat keberadaan Dinda memandangnya dengan banyak tanda tanya, bahkan nyinyiran pun terucap dari mulut mereka. Belum banyak tidak tahu kalau Dinda adalah anak baru di SMA Pegasus.
“Itu anak baru? Gila sombong banget.”
“Dia siapa sih? Nyebelin banget mukanya.”
“Gila cantik banget woy.”
“Kok dia berani sih ngecat rambut gitu?”
“Itu Dinda bukan, sih, yang katanya anak baru?”
Berbagai macam tatapan tidak suka tertuju padanya, bahkan ada yang terang-terangan melontarkan cibiran. Namun, semua itu hanya dianggap angin lalu oleh Dinda.
Matanya mendelik ke arah siswa yang melihatnya dengan tidak santai. “Apa lo? Sirik aja.”
Apa sih yang kalian pikirkan tentang sebuah pertemuan? Kata orang pertemuan pertama itu sebuah kebetulan, tapi bagaimana dengan pertemuan selanjutnya? Kebetulan yang berkali-kali atau kehendak Tuhan?
Mungkin hal itu sedang terlintas di pikiran Dinda karena dari sudut mata ia melihat Abyan mengikutinya sejak memasuki koridor. Di koridor itu sudah banyak orang yang juga menuju kelas masing-masing. Sesampainya di tengah koridor, Dinda menghentikan langkahnya. Ia berbalik yang otomatis menghentikan langkah kaki Abyan.
“Ngapain lo ngikutin gue?” sarkas Dinda. Ucapannya cukup keras sehingga membuat orang-orang di sekitarnya memandang mereka aneh.
Abyan yang tadinya mendengarkan lagu lewat earphone mau tidak mau harus melepasnya. “Ngomong apa lo?”
“Ngapain. Lo. Ngikutin. Gue?” ulang Dinda memperjelas kata per kata. Senyum smirk-nya tertuju untuk laki-laki itu. Sejauh ini, tidak ada yang berani menentangnya, bahkan walinya sekali pun.
“Halu lo,” balas Abyan cuek. Ia memasang kembali earphone-nya dan melewati Dinda yang cengo begitu saja. Siswa-siswi SMA Pegasus yang melihat hal tersebut kemudian menertawai Dinda. Matanya melirik mereka tidak suka.
Wah, bener-bener tu cowok. Belum tau gue kayaknya.
Dinda menghentak-hentakkan kakinya kesal lalu tak lama ia menyusul Abyan. Hatinya diliputi rasa marah dan tidak terima. Egonya tergores oleh tanggapan yang diberikan Abyan.
Kelas 10-8 terkenal dengan kepintaran sekaligus kejahilannya, apalagi para penghuni kelas bagian belakang. Baru saja Abyan sampai pintu kelas, ia sudah disambut dengan keributan teman-temannya di belakang. Bola matanya memutar malas.
“Woy, Yan.”
“Yan, Yan, ada anak baru katanya.”
“Ho’oh, cewek katanya.”
“Cantik juga euyy.”
“Tapi katanya, sih, bermasalah.”
Seruan itu hanya didengarkan Abyan tanpa mau membalasnya. Ia langsung mendudukan diri di kursi yang sudah hampir satu tahun di tempatinya. Tak lama setelah itu, anak baru yang sejak tadi diperbincangkan masuk ke kelas. Kedatangannya langsung membuat mereka semua terdiam. Dengan cuek, Dinda duduk di seberang Abyan karena hanya itulah tempat yang tersisa.
Bel masuk berbunyi masih lima menit, tapi sebagian penghuni kelas 10-8 sudah duduk rapi di tempatnya, tak terkecuali Queen, Mika, dan Nada. Walaupun sudah duduk dan siap menerima pelajaran, mereka masih asik mengobrol karena tempat duduk mereka yang juga berdekatan.
***
Waktu pulang sekolah masih tiga jam lagi, tetapi semua murid di kelas 10-8 sudah tidak kuasa menahan kantuk. Apalagi pelajaran terakhir ini adalah geografi. Pelajaran yang membuat penghuni kelas 10-8 pusing tujuh keliling. Peta dan keluarganya sangat membuat rasa kantuk yang mereka rasakan semakin menjadi.
Langkah kaki Bu Bos sudah terdengar dari jarak sekitar lima meter. Heels-nya beradu dengan lantai sehingga menimbulkan suara yang cukup keras.
“Selamat siang anak-anak,” sapa Bu Bos sebelum memulai materi.
“Siang Bu,” jawab anak-anak 10-8. Jam pelajaran terakhir adalah pukul 14.00 WIB. Jam riskan karena pada pukul itulah saat-saat paling nikmat untuk tidur siang.
“Maaf hari ini saya tidak bisa mengajar kalian sampai akhir karena saya harus persiapan untuk diklat minggu depan. Sebagai gantinya, saya beri tugas untuk mengerjakan persentasi dan makalah secara berkelompok,” terang Bu Bos.
Setelah mengucapkan itu, terdengar teriakan-teriakan yang tertahan. Siapa lagi kalau bukan penghuni 10-8 yang paling suka jam kosong.
“Kelompok terdiri dari empat orang berdasarkan tempat duduk depan belakang ya,” lanjut Bu Bos. Teriakan-teriakan pun mulai memenuhi gendang telinga Bu Bos.
“JANGAN, BU.”
“NGGAK MAU, BU.”
“DIACAK AJA BU, BOSEN SAMA MEREKA TERUS.”
“NGGAKPAPA, BU. DEPAN BELAKANG AJA.”
“PAKE APLIKASI AJA, DEH, BU BIAR ADIL.”
“Stop, stop. Jangan teriak-teriak. Terserah kalian saja, asalkan tugasnya selesai. Kelompok harus jadi sebelum saya pergi,” jelas Bu Bos.
Bu Bos masih di kelas, sepertinya ia sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Kacamata yang bertengger di hidungnya menandakan bahwa Bu Bos sedang tidak bisa diganggu. Oleh karena itu, ketua kelas dan sekretaris mengambil alih diskusi pembuatan kelompok pada tugas ini.
“Ya udah sekarang mau gimana, nih?” tanya Jay, si ketua kelas.
“Udahlah hitung satu sampai delapan aja,” seru Delvin.
“Aplikasi aja, lah,” usul Eriska.
“Yang lain gimana, nih?” Jay meminta pendapat teman-teman yang lain.
“Aplikasi.”
“Iya, aplikasi aja.”
“Ngikut gue mah.”
Mereka menyerukan pendapat dan Jay menuliskannya di papan tulis. Kemudian ia beralih kepada seorang perempuan yang sedang fokus membaca buku.
“Menurut lo gimana, Queen?” tanya Jay pada Queen yang mendapat sorakan dari satu kelas.
“MODUS LO.”
“GAS TEROOS.”
“IRI BILANG BOS!” ketus Jay kesal.
Bu Bos menatap mereka dengan tatapan tajam. “Jangan berisik.”
“Aplikasi aja,” jawab Quen menghindari teriakan-teriakan yang membuat sakit telinga.
“Ya udah Ris, lo yang ngacak ya,” suruh Jay pada Eriska, si sekretaris.
“Hm, ya.” Eriska langsung mengeluarkan ponsel dan memainkan aplikasi itu. “Gue acak, kalian bilang stop ya.” Yang lain menyetujui.
“STOP!” seru mereka. Eriska langsung menghentikan aplikasi mengacak itu dan langsung menuliskannya di papan tulis beserta materi yang harus dikerjakan tiap-tiap kelompok.
“Oke, jangan lupa dikerjakan tugasnya. Dua minggu lagi persentasi dan kumpulkan makalah. Jaga ketenangan, tidak boleh pulang sebelum bel pulang berbunyi.