I need more hours with you. – Adrian Adinata.
Hari ini adalah hari paling berat untuk semua siswa kelas 10-8 karena semua jadwal pelajaran yang ada di hari ini mengadakan ulangan harian dadakan.
“Tega ya guru-guru hari ini, nyusahin aja.”
“Ini praktikum sekalian ngga hari ini nih biar gue mampus sekalian.”
“Sumpah ya, hari ini ngeselin banget.”
“Ini guru-guru pada ngerjain kelas kita apa ya.”
“TOLONG! Otak gue udah mau kebakar, nih!”
Itulah keluhan-keluhan siswa kelas 10-8 hari ini. Sungguh, mereka tidak menyangka hari ini akan menjadi hari buruk bagi mereka. Dari lima hari sekolah, Selasa memang pelajarannya sungguh tidak berperikesiswaan, katanya. Setiap Senin sampai Kamis ada lima mata pelajaran yang akan diajarkan, sedangkan Jumat hanya ada empat.
Secara kebetulan, tiga mata pelajaran yang paling rumit berada di hari yang sama. Selain itu, ketiganya memiliki bobot pelajaran yang paling lama. Kimia, Biologi, dan Fisika.
Karena sudah pusing dan otak tidak bisa berpikir secara waras, hampir semua siswa kelas 10-8 melakukan tarian-tarian yang aneh di koridor kelas sepuluh, tidak terkecuali Queen.
Namun, Queen menghentikan tarian “gila”-nya. Melihat Queen berlari, Nada dan Mika pun saling bertatap bingung. “Queen ngapain?”
“ADRIAN!!” teriak Queen sedikit berlari mengejar Adrian di koridor.
Adrian mengikuti ekstrakurikuler basket yang dilaksanakan setiap hari Selasa dan lapangan basket berada di sebelah gedung kelas sepuluh. Queen mengejar Adrian untuk mengajaknya pulang bersama sambil mampir beli es krim kesukaannya.
“GUE BASKET, QUEEN.” Adrian terus berlari menuju lapangan basket. Laki-laki itu memang mengikuti hampir semua esktrakulikuler bidang olahraga, sedangkan Queen hanya mengikuti eskul karya ilmiah.
Queen menghentikan larinya. “Terserah lah,” gumam Queen kesal. Ia membalikkan badan dan meninggalkan Adrian yang berlari makin jauh.
***
Setelah gagal mengajak Adrian membeli es krim, Queen memutuskan untuk pulang. Ia kembali ke kelas hanya untuk mengambil tas, lalu ia pergi meninggalkan Nada dan Mika yang masih bingung. Sedangkan Adrian fokus melatih adik-adik kelas yang tidak lama lagi akan mengikuti sebuah pertandingan.
Ekstrakurikuler basket selesai pukul 17.00 WIB. Adrian berkali-kali mencoba menghubungi Queen. Ia pikir Queen akan menunggunya, tapi chat, telepon, bahkan video call dari Adrian pun tidak ada satu pun yang direspons oleh perempuan itu.
Di kamar, Queen hanya mendengarkan musik keras-keras dari genre mellow hingga rock. Karena terlalu kesal, akhirnya ia menangis sambil memaki-maki Adrian. Merasa cucunya sedang tidak baik-baik saja, Kirana menelepon seseorang yang mungkin bisa menenangkan kesedihan Queen.
Hanya beberapa menit setelah ditelepon, Adrian sudah muncul di halaman depan rumah sahabatnya bersama dengan mobil jazz kesayangan. Waktu Adrian sampai, Queen masih menangis.
“Tuh, bujukin keluar, sejak pulang sekolah dia ngurung diri di kamar,” ucap Kirana.
Adrian mendengarkan penuturan nenek itu, kemudian mengangguk. Adrian sudah mengetuk pintu kamar Queen berkali-kali, tetapi tidak dihiraukan oleh Queen. “Queen buka pintunya,” pinta Adrian.
“Aku bawa es krim sama coklat nih,” rayunya. Suara isak tangis mulai mereda ketika mendengar dua makanan tersebut., tapi Queen masih belum mau membukakan pintu untuk Adrian. “Buka, Queen!” pinta Adrian sedikit menegaskan suaranya.
Tidak lama setelah itu, suara kunci pintu terbuka terdengar. Dengan mata sembab dan hidung merahnya, Queen menyilangkan tangan di depan d**a. “Apa?” tanyanya ketus. “Pulang, gih!” usirnya.
“Lah kok ngusir, sih?” protes Adrian. “Nek, Adrian disuruh pulang sama Queen nih,” adu Adrian pada nenek yang sedang asik di dapur.
“Queen!” tegur nenek. Queen melirik tajam Adrian,
Queen pun semakin kesal dan kembali masuk kamar sambil mengunci pintu.
“Ini es krim sama coklatnya gimana?” tanya Adrian. Tangan yang masih menenteng kantung belanja itu hendak ia berikan kepada Queen sesaat sebelum pintu tertutup.
“Masukin kulkas!” balas Queen dengan teriakan.
“Kebiasaan banget, sih,” gumam Adrian menahan kesal. Adrian pun memasukkan es krim dan cokelat itu ke dalam kulkas.
Nenek membawa dan menaruh hasil masakannya ke ruang makan. “Kalian ini kenapa, sih, ribut terus? Malu didenger tetangga,” nasihat nenek.
“Biasa ... ngambekan, Nek,” adu Adrian sambil menutup kulkas.
Queen yang mendengar aduan itu berteriak, “Ngadu aja terus!”
Tidak ada yang tahu ekspresinya saat ini. Setelah mengunci pintu, sebenarnya ia menyunggingkan senyum tipis mengingat Adrian yang membawa makanan kesukaannya.
“Queen sini keluar dulu. Diselesaiin masalahnya,” ajak nenek.
Dengan patuh, Queen menuruti kata nenek. Ia membuka pintu, tetapi hanya kepalanya saja yang muncul.
“Kamu kenapa, sih, pulang sekolah tadi langsung ngurung di kamar?” tanya Kirana memastikan. Queen tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai dan sesekali melirik tajam Adrian.
“Queen,” panggil nenek.
Dengan bibir yang mengerucut, akhirnya Queen menjawab. “Adrian tadi nggak mau nemenin Queen beli es krim, Nek.”
Kirana menghela napas. Ia kira telah terjadi sesuatu, ternyata hanya masalah es krim. Ia sampai menggaruk dahinya yang tidak gatal. “Udah sekarang kalian selesaiin berdua. Nenek mau nyuci ke dapur,” ucap Kirana. “Inget ya, jangan teriak-teriak!” pesannya.
***
Paginya, Adrian yang biasanya membawa motor, kali ini membawa mobil yang semalam ia pakai. Ia ingin sedikit memanjakan sahabatnya itu sebagai tanda permintaan maaf.
“Pagi, Nek,” sapa Adrian pada Kirana yang sedang menyiram tanaman.
“Pagi,” jawab Kirana. Seakan mengerti kedatangan Adrian, Kirana lantas memanggil Queen.
“Queen, Adrian udah di depan,” panggil Kirana sambil berteriak. Meskipun umurnya sudah mencapai kepala tujuh, tetapi jiwa Kirana masih seperti umur tiga puluhan.
Mendengar teriakan neneknya, Queen mendengkus dan bergegas mengikat tali sepatunya. Perempuan berambut kepang itu menuju halaman rumah menemui nenek dan Adrian. Tanpa berbasa-basi lagi, ia langsung pamit pada Kirana. Begitu pun Adrian.
“Queen berangkat, ya, Nek,” pamitnya sambil mencium punggung tangan Kirana.
Hal itu juga dilakukan oleh Adrian. “Adrian pamit juga ya Nek.”
Kirana mengangguk. Ia melihat keakraban keduanya. Adrian yang membukakan pintu untuk cucunya dengan senang hati.
Bisa banget ambil hati.
Tidak seperti biasanya mereka saling diam. Sepanjang perjalanan, Queen dan Adrian tidak terlibat dalam pembicaraan. Sebenarnya Adrian sudah mencoba membuka obrolan, tetapi Queen sengaja tidak menanggapinya. Pada akhirnya, Adrian memutuskan untuk menyalakan radio. Padahal ia bukan tipe yang mendengarkan musik di dalam mobil. Namun, usahanya sia-sia. Queen malah memasang earphone.
Sesampainya di sekolah, Adrian berniat membukakan pintu untuk Queen. Namun, ia kalah cepat. Perempuan itu sudah lebih dulu membuka pintu sendiri dan kabur darinya.
Tingkah Queen makin membuatnya bingung bukan main. Di parkiran, Adrian bertemu dengan Aurel. Mereka saling sapa dan sedikit berbincang. Namun, tanpa mereka sadari, Queen mengamati keduanya dari jauh.
“Queen!” panggil Nada dari dalam kelas. Queen menoleh sambil masih menggendong tas biru kesayangannya dan menghampiri Nada. “Apa?”
“Lo ngapain di situ tadi? Udah mau bel,” tanya Nada. Ia pun kemudian menaruh tas dan duduk. “Mika mana?” tanya Queen, tidak melihat keberadaan Mika.
“Nggak tau,” jawab perempuan bersurai hitam kecokelatan itu. Tidak berselang lama, bel masuk berbunyi.
***
Ponsel Queen bergetar saat pelajaran kimia yang sedang membahas unsur dan golongan dalam tabel periodik. Ia memberi tahu perempuan di sebelahnya bahwa ada panggilan dari Mika. “Gimana, nih, diangkat nggak?” tanya Queen.
“Udah angkat aja. Lo izin ke kamar mandi gitu. Buruan sana,” suruh Nada berbisik.
Akhirnya Queen meminta izin ke toilet dan mengangkat panggilan Mika. “Mika, lo dimana? Kenapa ga sekolah?” tanyanya berbisik.
“Gue lagi jemput abang gue di bandara,” Mika menjawab. Terdengar pemberitahuan kedatangan armada pesawat dari balik telepon. Terdengar pula percakapan samar antara Mika dengan seseorang.
Queen berdeham untuk mengode perempuan di seberang telepon.
“Eh, Queen! Udah ya, abang gue udah sampai, nih. Nanti gue telepon lagi. See you.” Sambungan telepon berakhir begitu saja.
Ia bersyukur Mika baik-baik saja. Queen kembali ke kelas dan berniat untuk memberitahu Nada. Namun, lagi-lagi ia mendapatkan sebuah pesan asing.