I’ve been thinking so much. Help. – Queena Brylee Juliana
Hari ini dimanfaatkan oleh ketiga orang bersahabat untuk bersenang-senang. Rumah Mika menjadi tempat berkumpul mereka. Hari libur harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Mereka berkumpul di kamar Mika yang ukurannya 42 m². Dinding di kamarnya dipasangi wallpaper bernuansa laut. Perempuan itu memiliki hobi unik dan cukup ekstrem, yaitu diving. Ia mengoleksi beberapa pernak-pernik yang ia beli di beberapa pulau yang pernah disinggahi.
Selain menyukai laut, Mika juga sangat menyukai hal-hal berbau Korea. Di kamarnya, ada satu spot yang digunakannya untuk memajang poster grup kesukaannya. Grup yang ia sukai adalah EXO dan Blackpink. Kedua grup idol tersebut sangat mendunia sekarang.
Banyak poster EXO dan Black Pink yang menghiasi sudut ruangan itu. Tidak hanya itu, ia juga mengoleksi beberapa photocard. Sering kali ia menyisihkan uang untuk membeli koleksi itu, bahkan tidak jarang pula ia tidak jajan.
“Mika, gue baru tau lo sesuka itu sama Korea,” ucap Nada tidak habis pikir. Perempuan dengan sling bag cokelat itu menatap poster-poster itu dengan kagum. “Lo ngabisin berapa duit?” tanya Nada.
“Nggak tau.” Mika mengendikkan bahu.
“Kenapa lo suka banget sama mereka?” Queen menunjuk poster di atasnya.
“Yah, habisnya gara-gara suka mereka, gue jadi nggak stress lagi. Cobain, deh,” jawab Mika sambil membujuk keduanya.
“Gue nggak yakin nyokap bokap ngizinin gue fangirling-an gini,” ucap Nada dengan lesu. Keduanya menyemangati Nada dengan menepuk-nepuk pundak.
Mereka bertiga mulai melakukan kegiatan quality time. Mereka mengawalinya dengan masker wajah. Ini baru pertama kali dilakukan karena baru kali ini mereka mendapatkan kesempatan untuk quality time.
“Eh, lo berdua tau nggak, gue kemarin ketemu sama Aurel di restoran,” ucap Mika membuka obrolan sambil masih membenarkan posisi sheetmask-nya.
Kemarin sepulang dari menjemput kakaknya di bandara, Mika menghabiskan waktu bersama keluarga karena sudah hampir lima tahun mereka berpisah. Kakaknya, Mike, harus melanjutkan studi S2 di Belanda dan belum pernah pulang ke Indonesia sama sekali. Hanya sesekali Mika dan orang tuanya pergi ke Belanda untuk mengunjungi sang kakak.
“Terus kenapa?” tanya Nada tidak paham. “Gue liat Aurel datang sama Adrian,” jawab Mika, tapi kali ini ia memelankan intonasinya dan melirik Queen sekilas.
Queen jelas kaget, tapi ia berhasil menutupi dengan baik. Ketika mendengar berita itu, ada rasa iri dan tidak terima yang ia rasakan. Queen pikir selama ini Adrian menjadikannya prioritas sampai kapanpun. Namun, rupanya Adrian tidak berpikir seperti itu. Ia menghela napas sedikit berat, berusaha agar kedua sahabatnya tidak mengetahui.
“Lo salah liat kali, Mik,” tukas Nada, “mana mungkin Adrian jalan sama cewek selain Queen?”
Di antara mereka bertiga, Nada lah yang paling skeptis. Ia sulit mempercayai suatu hal kalau tidak melihatnya secara langsung. Malah kadang berbagai alasan digunakan untuk menyanggah, sekalipun ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri.
“Mana mungkin salah liat, mereka nyamperin gue malah,” pungkas Mika tidak terima.
“Masa sih? Mereka sodaraan kali,” sanggah Nada lagi.
“Mana mungkin! Adrian kan cuma punya satu kakak laki-laki,” balas Mika ngotot.
Nada dan Mika berdebat seolah-olah Queen tidak terlihat. Ia tidak berniat melerai dan menghentikan keduanya karena pikirannya sedang melayang. Anggapan Queen mengenai sikap sahabat laki-lakinya belakangan ini jadi semakin tidak karuan. Mungkin sudah saatnya ia mulai menjaga jarak. Lagi pula, laki-laki itu pasti juga butuh waktu berduaan dengan calon gebetannya.
“Eh, lo berdua nggak lapar apa?” tanya Queen setelah keduanya selesai berdebat.
“Lapar, nih,” jawab Mika. “Lima menit lagi kelar kok,” lanjutnya setelah melihat timer di ponsel.
“GUE BM BURGER!” teriak Nada tiba-tiba.
Teriakan Nada membuat Mika dan Queen tertawa. Untungnya, mereka menggunakan sheetmask bukan yang bubuk. Bisa-bisa kamar Mika penuh dengan bubuk masker.
“IYA, TAPI GAUSAH PAKE TERIAK!” balas Mika berteriak, lalu ketiganya tertawa bersama.
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam bersama, Nada dan Queen memutuskan untuk pulang. Nada dijemput oleh supirnya, sedangkan Queen pulang menggunakan taksi online. Tadinya, Mika sudah bersiap untuk mengantar Queen pulang, tetapi perempuan itu menolaknya.
Perjalanan dari rumah Mika ke rumah memakan waktu sekitar 30-40 menit. Taksi online itu datang tiga menit setelah Queen menekan order.
“Kalo udah di rumah kabarin gue ya,” pesan Mika.
Di sepanjang perjalanan Queen hanya mendengarkan musik menggunakan earphone. Ia memperhatikan jalanan, tapi ia merasa jalan yang dilalui bersama driver ini asing. Karena merasa ada yang janggal, ia mengecek kembali aplikasi taksi online yang digunakannya.
Queen rasa ini adalah mimpi buruk yang kesekian. Titik dari taksi online yang ia pesan berada di depan rumah Mika. Aneh.
Ini benar-benar aneh.
Sekarang, taksi online itu menuju jalan tol. Tanpa pikir panjang, ia langsung mencoba menghubungi Adrian. Nada sambung ketiga, Adrian mengangkat sambungan itu. Dengan nada bergetar, ia memberitahu Adrian.
“A! Aku nggak tau ini lagi di mana.”
Driver taksi online itu sepertinya mengerti kalau Queen sudah menyadari kejanggalan semua ini.
“Kamu tenang dulu, aku cari location-mu,” ucap Adrian menenangkan.
“Tapi aku takut, A,” bisik Queen. Matanya mencuri pandang ke arah pengemudi.
Sang pengemudi itu mempercepat laju mobil, membuatnya makin tidak tenang. Rasanya ia ingin menjerit.
“Queen, loudspeaker-nya tolong diaktifin,” suruh Adrian. Queen pun menurutinya.
“CEPAT BERHENTI DI POS PENJAGAAN TOL JALUR PERTAMA! INI PERINTAH! ATAU POLISI AKAN MENANGKAPMU!”
Setelah Adrian mengatakan hal itu, ia memutuskan sambungan telepon. Hal itu membuat Queen semakin tidak tahu harus berbuat apa, selain merapal doa dalam hati. Sayup-sayup Queen mendengar pengemudi itu berkata, “Berani-beraninya dia ngancem gue.”
***
Queen tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Adrian tidak mengangkat teleponnya tadi. Tubuhnya sudah gemetaran karena tidak sengaja melihat senyum smirk yang diberikan pengemudi itu. Ia ppikir nomor plat antara mobil yang menjemput dan yang ada di aplikasi berbeda itu sudah biasa karena beberapa kali mengalami, tapi tidak mengalami kejadian apapun.
Queen sama sekali tidak menaruh curiga. Namun, lama-kelamaan ia menyadari kalau ada yang tidak beres. Ketika memutuskan untuk menghubungi Adrian, Queen sama sekali tidak berpikir panjang. Kontak laki-laki tersebut berada paling atas, makanya ia langsung menekan panggilan.
Saat menelepon Adrian, perasaan yang tidak karuan mulai sedikit tenang. Setelah Adrian berbicara kepada si pengemudi, tak lantas membuatnya lega. Masih ada rasa was-was, takut kalau si driver ini nekat dan malah membawanya semakin jauh.
Sang pengemudi itu menuruti perintah Adrian, ia menurunkan Queen ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Pos penjagaan tol jalur pertama. Si pengemudi langsung tancap gas setelah Queen menutup pintu.
Selama kurang lebih sepuluh menit ia menunggu sang sahabat datang. Di sana, petugas pos yang berbaik hati menemaninya. Kelegaan meliputi hati Queen karena Adrian tidak benar-benar melupakannya.
“Q!”
Seorang laki-laki yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Queen berjalan cepat, lalu memeluk Adrian yang baru saja keluar dari mobil. Sejak dulu pelukan Adrian selalu menenangkannya. Entah apa yang terkandung dalam diri laki-laki itu, tetapi Queen selalu bernapas lega saat bersamanya.
Adrian membalas pelukanku. “Kamu nggak apa-apa ‘kan?” tanyanya khawatir. Queen hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Setelah pelukan singkat itu, Adrian berjalan menuju pos penjagaan untuk menemui petugas. Queen tidak melepaskan tatapannya pada laki-laki itu. Lagi dan lagi ia harus merepotkan Adrian.
***
“Kamu kenapa, sih, nggak mau dianterin Mika pulang?” tanya Adrian sambil menyetir.
Queen baru saja menyelesaikan cerita singkat mengapa ia bisa mengalami kejadian seperti itu. Tidak semuanya diceritakan, hanya beberapa bagian penting, seperti mobil pesanan yang tidak sesuai nomor pada aplikasi dan wajah pengemudi yang memakai masker dan topi.
“Enggak, takut ngrepotin,” jawab Queen sambil memainkan kukunya. Saat ini ia tidak berani menatap Adrian. Aura laki-laki itu membuat nyalinya ciut.
“Terus kenapa kamu nggak minta aku untuk jemput?” Adrian masih bertanya.
Sebentar lagi, mereka sampai rumah Adrian. Tadi, Adrian berkata kalau nenek Queen sedang ada urusan sehingga Kirana meminta Adrian untuk menjaga cucu kesayangannya itu selama beberapa hari. Nenek juga sudah menitipkan kunci rumah pada Adrian.
“Kok nggak dijawab?” tanya Adrian.
Queen menatap sekilas laki-laki yang sedang fokus menyetir itu. “Aku nggak mau ganggu kamu,” jawab Queen akhirnya. Tidak mungkin Queen mengadu bahwa ia merasa diduakan olehnya.
“Sejak kapan pemikiranmu jadi kayak gitu?” selidik Adrian. Tidak biasanya Queen berkata seperti itu. Seperti ada yang disembunyikan, tapi Adrian masih tidak menyadari itu.
Queen mengendikkan bahu.
Tanpa sepengetahuan Adrian, ada pesan masuk yang diterima Queen. Bunyi pesan itu seperti ancaman. Setelah membaca pesan itu, perasaan Queen kembali gelisah. Ia merasa tidak tenang. Pesan itu lagi, dari nomor yang sama. Nomor yang beberapa minggu lalu mengiriminya pesan mengatas namakan teman masa lalunya, Hanna Zainisa.