Cause you’re my euphoria. – Adrian Adinata
Hari ini SMA Pegasus menggelar sebuah orasi. Orasi ini dilakukan oleh calon ketua OSIS yang beberapa hari lalu berhasil melewati berbagai macam seleksi. Tahun ini SMA Pegasus mengajukan lima orang calon ketua OSIS, calon terbanyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Siswa kelas sepuluh hingga kelas dua belas, beserta semua guru diharuskan berkumpul di ruang audit.
Ruang audit merupakan ruangan terluas setelah lapangan indoor di SMA Pegasus. Ruang audit terletak di sebelah laboratorium fisika. Ruangan ini biasanya digunakan untuk penerimaan murid di tahun ajaran baru, rapat antara guru dengan wali murid, atau rapat siswa-siswi SMA Pegasus yang akan menyelenggarakan event.
“Bagi yang sudah datang silakan menempati tempat duduk. Bebas,” pesan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.
Pesan itu ditaati oleh semua siswa, kecuali kelas dua belas yang masih ribut tidak jelas.
“WOI, sini!” seru seorang kakak kelas, namanya Bintang. Dia dikenal dengan kegantengan dan sifatnya yang cool, dia juga masuk salah satu geng di SMA Pegasus, namanya Eliar. Geng ini sudah dikenal oleh semua siswa-siswi SMA Pegasus dan juga sekolah lain.
“WOI, TANG! UDAH DI SINI AJA LO!” seru kakak kelas lainnya. Seruan lain makin membuat ruang audit itu riuh.
“KOK LO NINGGALIN GUE, SIH?!”
“WOI ELAH LO BERDUA GUE CARIIN KEMANA-MANA JUGA!”
“ABANG BINTANG! DINO DATANG!”
“GELI NO!”
“HEH DINO! BAYAR UTANG LO!”
“ANJIR SI DINO NGUTANG!”
“DINO NGUTANGAN!”
“MALU-MALUIN AJA LO, NO!”
“HEH! DIEM LO PADA!”
Seruan mereka membuat bingung orang-orang yang ada di audit. Mereka menikmati kebersamaan tanpa memedulikan yang lain. Wakil kepala sekolah, Pak Dodit, yang mengomando sesisi audit menginterupsi seruan mereka. “Bintang! Suruh teman-temanmu diam!”
Teguran dari wakasek itu membuat anak-anak kelas dua belas tenang, tidak seribut tadi. Queen, Mika, dan Nada duduk bersebelahan. “Eh gila, ya, Kak Bintang itu ketua geng Eliar, kan?” tanya Mika diikuti anggukan Queen dan Nada.
“Mereka keren, ya,” puji Mika.
“Keren dari mananya? Suka ngrusuh, sih, iya!” tandas Nada.
“Eh, tapi gue denger Adrian masuk geng itu ya?” tanya Mika. Queen mengangguk malas.
“Tapi dia cuma numpang nama doang,” kilah Queen sebal. Yang Queen tau, Adrian itu memang masuk ke geng Eliar. Laki-laki itu diajak bergabung karena dulunya Bintang adalah teman akrab saat SMP. Hanya saja reputasinya tidak semencolok anggota yang lain.
SMA Pegasus dikenal dengan kepengurusan organisasi yang baik, khususnya OSIS. Oleh karena itu, para calon ketua OSIS harus memiliki sikap dan tanggung jawab. Hal itu akan terlihat dari seberapa suksesnya event tahunan yang diadakan oleh SMA Pegasus. Event-event itu di antaranya, try out untuk siswa SMP yang ingin masuk SMA Pegasus, pekan olahraga antar SMA, pameran seni, dan pentas seni.
“Kenapa lo nggak duduk sama Adrian?” tanya Lucas pada gadis di sebelahnya itu. Mata laki-laki itu melihat sekitar untuk mencari keberadaan orang yang dimaksud.
Yang ditanya menjawab dengan ketus. “Mata lo buta? Tuh, liat Adrian lagi sama temen-temennya.”
Beruntung suasana audit cukup riuh, sehingga obrolan mereka tidak didengar oleh yang lain. Terlebih, saat ini mereka duduk persis di belakang Queen dan teman-temannya. Lucas dan Aurel terlihat sangat akrab. Tidak ada yang tahu hubungan keduanya.
“Pokoknya lo harus deketin dia terus!” titah Lucas pada Aurel. Matanya menatap tajam perempuan di sebelahnya.
“Iya. Tenang aja, gue udah punya strategi,” jawab Aurel tenang. Perempuan berdagu lancip itu tersenyum sinis. Seperti ada yang sedang ia rencanakan.
Setelah membicarakan hal itu, keduanya bergelut dengan pikiran masing-masing.
Orasi dimulai dengan sambutan dari kepala SMA Pegasus, Pak Yayan. Setelah itu, pemandu acara mempersilakan kelima calon untuk memperkenalkan diri ke atas panggung. Para calon diambil dari kelas sepuluh dan sebelas. Kelas dua belas tidak diizinkan mengambil bagian untuk organisasi ini karena kesibukan mereka menjelang ujian universitas. Berhubung ujian nasional sudah ditiadakan, maka guru-guru memperketat belajar para siswanya untuk masuk universitas.
Tiap-tiap calon harus menyampaikan visi dan misinya dengan durasi sepuluh menit. Setelah kelima calon menyampaikan visi misi, MC akan membuka sesi tanya jawab. Sesi tanya jawab inilah yang dimanfaatkan para siswa untuk tidur atau asik sendiri. Orasi ini sudah berjalan cukup lama dan membosankan bagi hampir semua siswa. Dari jam istirahat kedua hingga bel pulang mau berbunyi, acara ini masih berlangsung.
“Putra! Sini,” panggil wakasek pada seorang anggota kedisiplinan. Organisasi di SMA Pegasus cuku banyak, salah satunya adalah kedisiplinan. Organisasi ini adalah organisasi independen di luar tanggung jawab OSIS.
“Ya, Pak?” tanya Putra sopan.
Organisasi ini dibentuk oleh BK dan bertugas untuk menjadi polisi di SMA Pegasus. Geng Eliar sangat tidak menyukai organisasi tersebut. Hubungan mereka seperti air dan api, tidak akan pernah menyatu.
“Kumpulkan anggota disiplin untuk bertugas,” suruh Pak Dayat, wakasek bidang kesiswaan.
Salah satu tugas yang paling dibenci geng Eliar adalah sidak berkala yang hampir seminggu sekali dilakukan. Para anggota kedisiplinan akan menyidak barang-barang yang tidak boleh dibawa ke sekolah dan mencatat nama siswa yang pakaiannya tidak mengikuti aturan. Nama-nama itu akan diserahkan ke BK untuk ditindak lanjuti.
Perintah Pak Dayat ditanggapi dengan baik oleh para anggota kedisiplinan yang lain. Mereka memakai rompi khas perpaduan warna merah dan hitam dan mulai menjalankan operasi.
“Heh, lo! Anak kelas sepuluh!” panggil seorang anggota kedisiplinan pada seorang siswa yang sedang berkelana dalam mimpi.
Abyan tidak menggubris panggilan itu. Tangan kanannya ia gunakan untuk menutup mata, sedangkan yang lain berada di atas perut.
“Heh! Bangun lo!” suruh anggota kedisplinan yang lain.
“AH! Lo berdua ganggu!” ucapnya kesal. “Pergi sono!” usirnya sambil melambaikan tangan yang berada di atas perut sebagai kode agar mereka pergi.
Mereka bertugas untuk patroli dan mengawasi siswa-siswi yang melanggar ataupun membuat kerusuhan. Sialnya, Abyan dan organisasi itu juga bagaikan air dan api. Abyan yang tidak pernah menaati aturan dan mereka yang menegakkan kedisiplinan.
“Awas lo, ya!” ancam Abyan. Ia mendudukkan diri dan menghela napas kasar. Abyan sedang menatap sengit salah satu anggota kedisiplinan yang memergokinya sedang tidur siang. Alhasil, Abyan menjadi salah satu yang harus mendapat hukuman dari warga sekolah, selain anggota Eliar tentunya. Mereka harus menampilkan bakat bernyanyinya di panggung audit.
Memalukan, batin Abyan jengkel.
***
Setelah orasi selesai dan bonus penampilan dari Abyan dan juga Eliar, para siswa diperbolehkan pulang. Suasana kelas 10-8 sedang riuh karena penampilan mengagumkan teman-temannya.
“WOI, YAN! ASIK ABIS!”
“SAMPINGAN LO NYANYI DANGDUT, YAN?”
Seisi kelas terbahak, sedangkan Abyan menatap tajam mereka. Namun, tidak ada yang takut akan tatapan itu karena mereka tahu kalau Abyan hanya kesal biasa.
“YANG DIGOYANG DIGOYANG YANG! ASIK!”
“AYO, YAN GOYANG LAGI!”
“LO MENGHAYATI BANGET!”
“GUE SPEECHLESS, YAN!”
“ITU TADI ABYAN ‘KAN? BENERAN ABYAN?”
“NGAKAK WOI!”
“AH! GAADA AKHLAK LO SEMUA!” seru Abyan kesal diledek teman-teman sekelasnya.
Queen pun ikut tertawa karena gurauan teman-temannya. Tidak sampai di situ saja, mereka juga masih saling berteriak karena Dito, yang memiliki jadwal piket hari ini, belum piket sama sekali.
“DADAH TEMAN-TEMANKU SAYANG! DITO GANTENG MAU PULANG DULU!” pamitnya pada teman-teman yang lain. Dengan santai, ia melangkahkan kaki keluar kelas dan kabur begitu saja.
“WOI, DITO! PIKET DULU LO!” seru Jay.
“JANGAN KABUR LO, TO!”
“DITO PIKET!” teriak Eriska menggema.
“ANJIRLAH SI DITO!”
“AH! Si Dito kebiasaan!” keluh Mika. Kesal karena Mika juga mendapat jadwal piket hari ini. Mau tidak mau anggota piket yang lain harus menyelesaikan tugas yang harusnya dikerjakan Dito.
“Kalian langsung balik?” tanya Mika sambil menyapu.
“Iya,” Queen dan Nada menjawab bersamaan.
“Eh! Gue balik duluan, ya. Udah dijemput,” pamit Nada pada kedua sahabatnya.
“Take care, Nada!” Keduanya berpesan pada Nada.
“GUYS GUE BALIK DULUAN, YA!” Perempuan itu juga pamit dengan teman-temannya yang lain.
“YO!”
“HATI-HATI, NADA!”
“LANGSUNG BALIK, NAD! JANGAN MANGKAL!”
“s****n,” kekeh Nada meninggalkan kelas.
Queen masih membereskan barangnya dan membersihkan laci meja.
“Queen, lo mau balik?” tanya Mika.
“Iya. Gue mau bantuin nenek masak,” jawab Queen sambil memasukkan beberapa buku ke dalam tas. “Gue duluan, ya, Mik,” pamit Queen.
Saat Queen selangkah lagi keluar kelas, Adrian mengagetkannya dengan suara yang cukup keras.
Queen terlonjak. “Untung jantung gue nggak copot,” sinisnya.
Adrian terkekeh. Tangannya hendak mengacak rambut perempuan itu, tetapi Queen lebih dulu menjauhkan kepalanya. “Sorry, habis lo nggak fokus gitu,” ucap Adrian membela diri.
Akhirnya, Adrian merangkul Queen erat. “Dah, yuk, pulang!” ajaknya.
***
Bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Anak-anak kelas 7,8, dan 9 sudah berhamburan keluar kelas untuk mengisi perut kosong. Kebanyakan dari mereka tidak pernah sarapan. Takut telat, begitu alasan yang sering mereka berikan. Padahal, para guru sudah mengingatkan mereka untuk tidak melewatkan sarapan karena sarapan itu penting bagi tubuh.
Termasuk Queen. Queen selalu melewatkan sarapan karena ia harus mengantar adiknya pergi sekolah dulu. Jadi, akan terlambat kalau harus sarapan.
“Queen! Tungguin gue!” teriak Hanna sambil berlari menghampiri temannya itu. Saking semangatnya, Hanna tidak memperhatikan sekitar. Alhasil, ia tidak sengaja menabrak Dinda yang sedang membawa mangkok panas.
Kejadian itu dilihat oleh seluruh pengunjung kantin. Dinda adalah siswa kelas tujuh yang paling popular karena hampir setiap hari berurusan dengan masalah dan BK.
Setelah Hanna menabrak dan menumpahkan isi mangkok yang dibawa Dinda tadi, suasana di kantin menjadi ricuh. “HEH! LO CARI RIBUT SAMA GUE?” tantang Dinda.
Hanna yang tidak mau bermasalah pun minta maaf. “S-sorry Din, gue nggak sengaja.” Hanna sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya. Banyak tatapan yang diberikan untuknya, apalagi ditambah wajah Dinda yang sudah memerah.
Dinda berkacak pinggang dengan wajah angkuh. “LO PIKIR GUE BAKAL MAAFIN LO GITU AJA?”
“LO!” tunjuk Dinda. “NGGAK AKAN GUE LEPAS GITU AJA!” hardiknya.
“LO AKAN TERUS BERURUSAN SAMA GUE!”
Banyak pasang mata yang melihat kejadian itu. Tidak sedikit juga yang bisik-bisik melihat kelakukan Dinda. Dinda histeris sendiri, sedangkan Hanna masih menunduk. Queen yang sedang pesan makanan itu melihat keributan di pintu kantin. Ia menghampiri Hanna. “Lo nggak denger dia minta maaf?” tanyanya datar membela Hanna.
“GUE NGGAK PEDULI! GUE NGGAK TERIMA!” ucap Dinda mutlak. Ia menatap Queen tidak suka.
“Jadi orang jangan suka dendam, Din. Bikin penyakit,” ingat Queen yang ada di sebelah Hanna. Setelah mengatakan itu, ia menarik tangan Hanna masuk ke kantin dan mengabaikan tatapan orang-orang yang ingin tahu.
Kata-kata yang dilontarkan Queen membuat seisi kantin takjub, tapi tidak untuk Dinda. Baginya, kata-kata itu telah menyinggung hati seorang Dinda Claretta.
“Sorry, ya, Queen,” lirih Hanna.
“It’s okay Han. Gue bakal jagain lo terus,” yakin Queen.
Sejak saat itu, kehidupan Hanna dan Queen tidak jauh-jauh dari Dinda dan masalah.