Penumpang Misterius dan Kejar-kejaran Maut
Citra Kirana Dewi, gadis cantik berusia sembilan belas tahun yang punya sifat agak liar. Ya, benar-benar nakal.
Saat sebagian besar orang sudah terlelap dalam mimpi, ia justru baru saja pulang dari arena balap liar, adrenalinnya masih mendidih. Motor kesayangannya melaju perlahan menyusuri jalan yang mulai sepi dan lengang.
Namun langkahnya harus terhenti. Di kejauhan, tampak sesuatu tergeletak di tengah jalan. Bentuknya tak jelas, tapi cukup membuatnya menurunkan kecepatan.
"Sepertinya ada yang tidak beres," gumam Citra sambil menutup visor helmnya. "Aku capek. Malas cari ribut malam-malam begini."
Ia berniat memutar balik arah. Jalan sedikit lebih jauh bukan masalah, asalkan tak perlu berurusan dengan masalah mendadak.
Baru saja setang diputar, tiba-tiba seseorang melompat naik ke jok belakang. Gerakan yang begitu cepat dan tiba-tiba membuat Citra refleks mengerem mendadak. Belum sempat bertanya, sesuatu yang dingin dan keras kini menekan punggungnya.
"Jalankan," suara pria itu terdengar berat dan datar. "Jangan banyak tanya."
"Siapa kau?" seru Citra, kesal sekaligus terkejut. Namun tak ada nada takut yang terselip di suaranya.
Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. "Jangan memaksaku kehilangan kesabaran."
Rahang Citra mengeras, lalu ia menjawab dengan nada datar. "Turun dari motorku sekarang atau..."
"Kubilang jalan!"
Nada suara pria itu tajam, menusuk telinga. Citra menghela napas panjang—bukan karena takut, melainkan untuk menenangkan pikiran agar bisa berpikir cepat. Ia sendirian, tak tahu siapa yang mungkin mengintai dari kegelapan. Namun satu hal yang ia yakini: ia tak akan pernah tunduk begitu saja.
"Baiklah, kalau begitu kita jalan sekarang," ucap Citra sambil menyunggingkan senyum miring.
Tanpa menunggu lama, tangan kanannya menarik tuas gas dalam-dalam. Ban belakang motor berdecit nyaring saat melaju kencang, guncangan tiba-tiba itu hampir membuat penumpang di belakang terlempar kalau saja tak segera mencengkeram erat jaket Citra.
"WOY!!" teriak pria itu kaget.
Citra hanya menyeringai di balik helmnya, sempat menoleh sekilas ke belakang.
"Kau yang suruh jalan, kan? Ya aku jalan," ucapnya pelan, terdengar seperti ejekan halus.
Motor melaju membelah jalanan sepi. Lampu merah diterobos begitu saja, tikungan tajam dilalui tanpa ragu. Citra memacu kendaraannya seolah sedang kembali bertanding balapan—hanya saja kali ini penumpangnya bukan kawan, melainkan ancaman tak dikenal.
Pria di belakang makin gelagapan, berusaha menjaga keseimbangan. Namun Citra tak memberi ampun. Ia sengaja membuat lajunya tak stabil, berharap orang asing itu mulai kehilangan kendali.
Di dalam kepalanya, pikiran Citra berputar cepat. Siapa orang ini? Kenapa tiba-tiba naik ke motorku dan membawa ancaman? Tapi satu hal yang pasti: ia bukan tipe gadis yang bisa diatur semena-mena.
"Kau gila ya?! Pelan sedikit saja tidak bisa!" seru si pria, mulai kehilangan kendali emosinya.
"Kau yang salah naik ke motor orang. Bukan aku yang salah mengendarainya," balas Citra santai.
Beberapa detik kemudian, matanya menangkap sebuah lorong sempit di sisi kiri jalan. Jalan kecil yang jarang dilewati, penuh polisi tidur, dan permukaannya cukup curam. Tanpa ragu sedikit pun, Citra membelokkan setang tajam ke arah sana.
Motor sedikit oleng, namun masih bisa dikendalikan dengan baik. Si pria di belakang makin panik, cengkeramannya semakin erat.
Citra tersenyum tipis.
"Pegangan yang kuat ya, Tuan. Sebentar lagi akan seru."
"Hei!! Apa yang kau—"
Belum sempat kalimat itu tuntas, tubuh pria itu terguncang hebat. Motor menghantam polisi tidur yang cukup tinggi, dan Citra sama sekali tak mengurangi kecepatan. Pria itu terlempar sedikit ke atas, lalu jatuh kembali ke jok dengan hentakan keras. Satu tangannya hampir terlepas dari pegangan.
"ARGHH! KAU GILA SEKALI!" makinya, kini terdengar bercampur ketakutan.
Citra justru terkekeh pelan. Bukan karena senang menyiksa orang, tapi karena ia tahu sekarang si pengancam itu tak lagi memegang kendali penuh. Ini dunianya. Motornya. Jalannya. Permainannya.
"Hati-hati, masih banyak polisi tidur di depan," ucap Citra santai seolah tak terjadi apa-apa.
Dan benar saja, satu demi satu gundukan kembali menggetarkan motor. Pria itu berteriak kesal sekaligus takut, namun Citra terus melaju. Ia tak benar-benar bermaksud mencelakakan siapa pun, tapi ia juga tak akan pernah sudi menurut pada ancaman.
Setelah beberapa saat yang terasa begitu lama, lorong itu melebar dan berakhir di sebuah lapangan kosong. Gelap, namun cahaya remang bulan cukup untuk melihat sekeliling.
Tiba-tiba Citra mengerem mendadak. Pria itu hampir terjungkal ke depan, namun Citra sedikit menahan laju motor agar ia tak benar-benar jatuh.
"Nah," katanya dingin. "Sekarang kau turun. Satu... dua..."
"Gadis kecil, kau terlalu nakal. Dan kau akan mendapatkan balasannya," bisik pria itu sambil menyeringai mencekam.
"Silakan saja, aku tak takut. Sekarang, turun dari motorku!"
Pria itu tak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke arah belakang, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, rahangnya mengeras sempurna.
"Kau tuli ya?!" seru Citra sekali lagi.
"Jalankan lagi, sebelum mereka datang dan menghabisimu," ucap sosok itu tegas.
"Biarkan saja, aku tak takut mati."
Pria itu tak kehabisan cara. Dengan senyum miring, ia berbisik seraya mempererat pelukannya di pinggang gadis itu. "Sebelum itu terjadi... aku tak akan membiarkanmu pergi begitu saja."
Mata Citra membulat lebar. "Tidak mau!"
"Cepat jalan!"
Tanpa diperintah dua kali, Citra kembali memacu motornya. Tak lama kemudian, deru kendaraan terdengar dari kejauhan—beberapa motor dan mobil mulai mengejar mereka.
Citra melirik kaca spion. Lampu-lampu kendaraan itu mendekat dengan cepat. Terlihat sekumpulan pengendara dan satu mobil van tanpa plat nomor yang memburu mereka. Beberapa sosok tampak mengacungkan senjata api.
"Sialan!" desis Citra. "Siapa kau sebenarnya?!"
Pria di belakang menarik napas panjang, berat namun mantap. "Belok kanan! Masuk ke gang sempit itu!"
Naluri Citra sempat menolak, namun instingnya berteriak untuk menuruti perintah itu kali ini. Ia membanting setang ke kanan. Motor melesat masuk ke gang sempit berkerikil, dikelilingi bangunan tua dan tiang listrik yang tampak reyot.
Tiba-tiba suara tembakan memecah keheningan malam.
DOR! DOR-DOR-DOR!!
Peluru menghantam dinding kiri dan kanan. Debu serta serpihan batu beterbangan ke segala arah. Suara logam yang dipantulkan peluru bergema keras di lorong sempit itu.
"A-APA ITU?!" jerit Citra, kini mulai histeris.
"Tembakan! Mereka sudah menemukan kita!" balas pria itu. Napasnya memburu. "Sial..."
Citra seketika benar-benar diliputi kepanikan. Tangannya gemetar hebat di setang, motor mulai oleng tak terkendali. Napasnya tercekat, matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku... aku tidak sanggup..."
"Tenang!" Pria itu mencengkeram bahunya erat, tubuhnya sendiri pun bergetar menahan perih. Suaranya parau dan berat.
Citra menoleh sejenak. Baru saat itu ia sadar, pakaian pria itu basah kuyup oleh darah—terutama di bagian samping perut dan lengan kirinya.
"Kau... kau terluka?!"
"Sudah, fokus saja!" bentaknya, terdengar jelas sedang menahan nyeri yang luar biasa. "Aku tidak akan mati kalau kau tidak bertingkah bodoh sekarang."
BRAK!
Sebuah peluru menghantam jendela di atas mereka. Suaranya menggelegar memekakkan telinga.
"Mereka menembak beneran! Mereka menembakku!!" Citra nyaris menangis histeris.
"Hei! Fokus! Mereka mengejarku, bukan kau!" Pria itu membungkuk, bersandar lemah ke punggung gadis itu. Tubuhnya makin lemas, namun suaranya tetap tegas memerintah. "Tapi kau bisa ikut mati kalau kau tidak tenang sekarang!"
Citra menahan napas dalam-dalam. Meski ketakutan, ada sesuatu dari nada suara pria itu—yang tegas, penuh luka, namun entah mengapa terdengar jujur—yang memaksanya mencoba menenangkan diri. Ia menggenggam setang lebih erat, berusaha mengatur napasnya kembali.
Tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari belakang.
BRAK!
Salah satu motor pengejar kehilangan kendali di tikungan sempit, melaju terlalu cepat, lalu menabrak tembok. Namun dua lainnya masih terus memburu.
DOR! DOR!
Peluru kembali menghantam aspal tepat di dekat ban belakang mereka.
"Ya Tuhan!" teriak Citra.
"Rem sekarang!" bentak pria itu. "Cepat!!"
Citra mengerem mendadak. Ban belakang berdecit kasar menahan gesekan dengan jalanan. Dengan gerakan tertatih dan berat, pria itu turun dari jok belakang. Lengan kirinya kaku tak bergerak, namun tangan kanannya masih kokoh memegang pistol. Darah terus menetes dari perut dan lengannya, membasahi aspal.
Namun ia tetap mengangkat senjatanya dengan mantap.
DOR! DOR!
Tembakan pertamanya meleset, namun dua tembakan berikutnya tepat sasaran. Motor pengejar pertama terguling, pengendaranya terhempas keras ke trotoar.
DOR!
Satu tembakan terakhir menghantam ban depan motor kedua hingga pecah. Pengendaranya pun terpental jatuh.
Keheningan sejenak menyelimuti. Pria itu terhuyung, bersandar lemah ke tembok. Napasnya memburu, keringat dingin bercampur darah membasahi wajahnya yang pucat.
Citra masih terpaku di atas motor. Matanya membelalak tak percaya, mulutnya ternganga tanpa suara. Darah, tubuh yang terjatuh, dentuman peluru—semuanya terasa begitu nyata dan mengerikan.
"Aku... aku..." Citra menunduk, air mata akhirnya menetes. "Aku memang kadang merasa hidupku tak berharga... tapi tidak dengan cara seperti ini..."
Pria itu menatapnya lekat. Wajahnya sangat pucat, namun ia tetap memaksakan diri melangkah mendekat. Dengan tangan yang bergetar, ia meraih wajah Citra.
"Dengar aku. Selama aku masih bisa berdiri, kau tidak akan mati. Aku berjanji."
Untuk pertama kalinya, Citra melihat lebih dari sekadar kekejaman atau ketegasan di matanya. Ada luka yang dalam, namun ada juga ketulusan yang tak bisa ia pura-pura.
"Kenapa... kenapa kau menyelamatkanku?" gumamnya lirih.
Pria itu tak menjawab. Ia hanya melirik tajam ke arah ujung gang, tempat suara deru motor kembali terdengar mendekat.
"Naik. Sekarang. Mereka belum selesai."