Part 5

1749 Kata
Anne-Marie Florist terletak tak jauh dari lokawisata Baturraden, utara Kota Purwokerto. Florist ini cukup terkenal di kota tersebut. Selain karena ragam tanaman dan bunga yang disediakan, buket, bunga hias/ dekorasi dari florist ini dinilai memiliki cita rasa berbeda dan nilai seni yang tinggi. Hingga di tahun ke-tiga florist itu berdiri, Anne-Marie Florist telah memiliki sekian banyak pelanggan tetap dari berbagai kalangan dan bahkan berhasil menjalin kontrak kerja sama dengan salah satu hotel terbaik di kota itu untuk memasok buket bunga secara rutin juga bunga dekorasi untuk event tertentu yang diselenggarakan hotel tersebut. Anne-Marie Florist juga menyediakan potpourri yang didesign menjadi hiasan yang cantik dan terdiri dari berbagai kombinasi aroma pilihan. Karena potpourri inilah Anne-Marie Florist kemudian mulai dikenal sebagai sesuatu yang berbeda di antara sekian banyak florist lain di kota itu. Meski pada akhirnya tak sedikit yang mencoba untuk meniru, tapi produk mereka dianggap tidak sebanding dengan produk yang dimiliki Anne-Marie Florist. Note: Potpourri adalah campuran bahan-bahan kering organik yang memiliki aroma atau wangi tertentu. Bahan yang biasa digunakan antara lain bunga-bungaan, kayu manis, kulit jeruk, dsb. Kadang bisa ditambahkan juga dengan esensial oil tertentu untuk menghasilkan aroma yang lebih kuat. Hari-hari awal Ramon bekerja di sana, ia pertama dilatih untuk menangani beberapa tugas gardener. Ardi yang sekilas nampak seperti orang yang tidak serius dan banyak bercanda, ternyata sangat ahli di bidang tersebut dan dapat menjelaskan berbagai hal dengan baik pada Ramon. Mulai dari mengenalkan jenis-jenis tanaman bunga, spesifikasi penyiraman dan pemupukan yang berbeda-beda, sampai bagaimana cara pembudidayaan setiap tanaman. Semua dimulai dari dasar karena Ramon memang tidak pernah punya pengalaman sebelumnya dengan hal tanam-menanam. Tak dinyana, Ardi dapat dengan sabar mengajari Ramon satu demi satu. Sementara itu, Ramon dengan rendah hati memperhatikan dan bahkan membuat catatan kecil mengenai apa yang ia pelajari. Meski daya ingatnya masih cukup tajam, tapi ia pikir tak ada salahnya mencatat untuk mencegah andai suatu hari ia melupakan sesuatu. Lagi pula ia harus sadar diri dengan usianya yang menjelang kepala empat dalam beberapa tahun lagi, dan itu sangat mungkin baginya untuk melupakan sesuatu. Hal ini juga ia pelajari dari pengalaman seseorang yang ia temui sebelumnya di sel tahanan. Tak terasa satu minggu pun berlalu. Ramon mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Dia juga dapat menjalin hubungan baik dengan rekan kerjanya meski ada jarak usia yang cukup jauh. Padahal sebelumnya ia sangat khawatir tidak akan bisa bergaul. Apalagi, ia harus memendam rahasia masa lalunya dengan baik yang membuatnya seringkali merasa was-was. "Bang Ramon, tinggalkan itu. Ayo kita makan siang dulu." Ardi memanggil Ramon yang tengah mencampur tanah dengan arang sekam, pupuk kandang dan dolomit untuk media tanam dalam pot. Note: Dolomit di sini maksudnya adalah kapur dolomit yaitu suatu mineral yang mengandung unsur hara kalsium oksida (CaO) dan magnesium oksida (MgO) dengan kadar yang cukup tinggi sehingga bisa menetralkan pH (tingkat keasaman) tanah. Selain itu berfungsi juga untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi tanah terhadap zat-zat hara di dalamnya, menjaga ketersediaan unsur hara dalam tanah, mengaktifkan berbagai enzim dalam tanaman, dsb. "Ya, tunggu sebentar. Saya cuci tangan dulu." Jawab Ramon. Ia lalu bergegas menuju kran air tak jauh dari tempatnya. Setelah mencuci tangan dengan sabun dan membasuh wajahnya supaya lebih segar, ia masuk ke dapur dimana Ardi dan Lestari sudah duduk dengan semangkuk mie ayam di hadapan mereka. Ramon mengeluarkan kotak makan siang yang ia bawa dari kontrakannya dan duduk bersama keduanya. Ia lalu bertanya, "Saka jaga di depan?" "Ya. Seperti biasa. Dia seperti seorang kakak yang memberi kesempatan adik-adiknya makan terlebih dahulu." Lestari menjawab sambil menuangkan saus cabai ke dalam mangkuknya. Setelah seminggu saling mengenal, gadis belasan tahun itu sudah tidak takut lagi pada Ramon. "Tenang saja, Bang Ramon. Tidak perlu mengkhawatirkannya. Seandainya dipaksa pun, Saka tidak akan mau makan duluan." Ardi turut menimpali. Ramon hanya mengangguk saja meski dalam hati masih merasa aneh dan bertanya-tanya, kenapa setiap kali istirahat makan siang Saka selalu memberikan kesempatan pada mereka terlebih dahulu dan ia akan menjadi orang terakhir yang makan siang. Tapi ia tak bertanya lebih lanjut. Ia lalu membuka kotak makannya dan mulai makan dengan tenang. Menu makan siangnya hari itu adalah nasi putih, sayur kangkung dan tempe goreng. Menu sederhana yang tetap ia syukuri. Ia harus benar-benar berhemat supaya sisa uang di dompetnya bisa cukup untuk memenuhi kebutuhannya hingga nanti ia mendapat gaji pertamanya. Sementara Ardi dan Lestari sesekali masih bisa jajan mie ayam atau bakso karena mereka bukan satu-satunya yang bekerja di keluarganya. Jadi, mereka masih bisa menyisihkan sebagian gajinya untuk memenuhi kebutuhan kesenangan masa muda. Meski kondisi setelah pandemi membuat ekonomi goncang, tapi keluarga keduanya masih cukup stabil. Sedangkan untuk Saka, Ramon tak tahu banyak karena pribadinya cenderung misterius dan yang lainnya juga tak banyak bercerita. Saat tiba giliran Saka untuk istirahat makan siang, Ramon, Ardi dan Lestari kembali ke pekerjaan masing-masing. Tak berapa lama kemudian, Ramon yang tengah mempelajari beberapa hal tentang pembudidayaan kaktus dengan Ardi tiba-tiba mengatakan ingin pergi ke toilet. Ketika melewati dapur, ia melihat Saka sedang makan sepotong roti murahan seperti yang biasa ia beli untuk sarapan. Ramon tertegun sejenak. Perkiraannya tentang Saka sebelumnya sepertinya benar. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya, "Makan roti saja? Tidak nasi?" Saka yang tidak menduga Ramon akan muncul nampak sedikit terkejut tapi dengan cepat menenangkan diri. Ia menjawab pendek, "Ya." Lalu, ia menundukkan kepala dan menyeruput kopi yang ia seduh sebelumnya. Di dapur tersebut, disediakan kopi, teh dan gula untuk semua orang. Sebenarnya peralatan di dapur juga cukup lengkap dan mereka bebas menggunakannya. Tapi selama ini mereka hanya akan masak mie instan sesekali. Sedangkan Anne-Marie sangat jarang ke dapur karena biasanya ia akan makan siang di Pawon Ageng. Melihat tanggapan dan ekspresi Saka, Ramon tak bertanya lagi. Ia lalu berbalik membuat Saka bertanya-tanya. Pemuda itu berpikir Ramon ke dapur untuk minum air, tapi kenapa malah pergi begitu saja, batin Saka. Keesokan harinya, Ramon berangkat lebih pagi. Ia sangat penasaran seperti apa kondisi geranium yang ia tanam kemarin sore bersama Ardi. Entah kenapa ia merasa sangat antusias. Padahal pekerjaan itu bukanlah pekerjaan utama yang ia inginkan. Tapi memang satu hal yang tak dapat ia pungkiri, melihat berbagai keindahan bunga di Anne-Marie Florist cukup membuat hatinya tenang dan nyaman. Ramon berjalan cepat dari kontrakannya menyusuri gang-gang sempit yang berkelok-kelok. Kakinya yang panjang membuat langkah-langkahnya lebar. Sangat kontras dengan orang-orang yang berpapasan dengannya. Mereka cenderung berjalan dengan lebih santai. Tepat ketika ia baru keluar dari gang ke jalan raya, ia melihat di seberang jalan ada seorang pemuda tengah dikelilingi beberapa orang berbadan kekar dengan berpenampilan seperti preman. Setelah memperhatikan lebih teliti, ia tersentak, tak salah lagi itu adalah Saka. Seorang pria dengan lengan penuh tato mencengkeram kerah baju pemuda itu. Ramon tak mengerti apa yang dikatakan orang itu karena menggunakan Bahasa Jawa. Namun melihat situasinya, ia rasa itu tidak baik. Refleks ia berteriak sambil berlari menyeberang. Pagi itu jalanan masih sangat sepi, apalagi itu hari Minggu. Kendaraan bermotor masih belum terlalu banyak yang lewat. "Hei, lepaskan anak itu!" Ramon meraih lengan pria bertato untuk membebaskan Saka. Tapi preman lainnya segera menghalangi dirinya sambil bersumpah serapah. Beberapa detik kemudian mereka sudah terlibat perkelahian. Ramon pernah menjadi seorang bodyguard profesional yang dibekali ilmu beladiri. Serangannya cepat dan sangat efektif dalam melumpuhkan lawan. Beberapa menit kemudian preman-preman itu sudah jatuh tersungkur. Tapi dengan susah payah mereka segera pergi dengan tertatih-tatih karena warga sekitar mulai berdatangan. Saka juga tak lolos dari perkelahian itu. Ia terkena beberapa pukulan dan tendangan. Ia meringkuk di trotoar dan mengerang kesakitan. Ramon dan seorang pria tua membantunya untuk duduk. Lalu seorang pemuda yang nampaknya tengah jogging menyodorkan botol minumnya. "Nak Saka, apa ayahmu membuat masalah lagi?" Tanya si lelaki tua. Rupanya ia mengenal Saka, batin Ramon. "Biasa, Kek." Saka meringis. Sudut bibirnya nampak robek dan berdarah. Sedangkan pipinya mulai membiru dan bengkak. "Tidak tahu malu. Ayahmu benar-benar kelewatan. Preman-preman itu juga, yang membuat masalah ayahmu, kenapa malah mencarimu. Harusnya kau laporkan hal ini ke polisi sejak dulu. Lihat, lagi-lagi kau jadi babak belur begini." "Tidak apa-apa. Saya baik-baik saja." Saka lalu menolehkan kepalanya dan melihat Ramon dengan tatapan yang rumit. "Terima kasih, Bang Ramon. Tapi harusnya Abang tidak melibatkan diri. Karena Abang menolong saya, mereka pasti akan mencari Abang juga suatu hari nanti." "Lalu apa saya harus diam saja dan menunggu, melihatmu dianiaya sampai mati?" Jawab Ramon dengan menahan geram. Setelah mendengar kata-kata pria tua di samping Saka, sedikit banyak ia paham masalah yang mungkin menjadi sebab preman-preman itu mencari Saka. Saka tertegun mendengar perkataan Ramon. Begitu juga orang-orang yang masih mengelilingi mereka. Terutama mereka yang sejak awal sudah melihat bagaimana Saka diintimidasi oleh kelompok preman itu tapi tidak berani membantu. "Ayo saya antar ke rumah sakit." Kata Ramon. "Hah? Oh, tidak perlu, Bang. Saya baik-baik saja. Lagi pula saya tidak bisa izin hari ini." Dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya, Saka berusaha bangkit. Ramon menghela nafas. Pemuda ini sepertinya bertekad baja, batin Ramon. Maka ia tak punya pilihan selain memapahnya dan berjalan bersama ke florist. Beruntung jarak yang harus mereka tempuh tak seberapa jauh lagi. Saka hari itu berangkat lebih pagi karena harus menyiapkan pesanan buket bunga karena Anne-Marie belum bisa kembali dari Jogjakarta. Tak disangka, sekelompok preman mencegatnya. Ia tahu persis kenapa preman-preman itu mengganggunya. Apa lagi jika bukan karena ayahnya yang membuat masalah di tempat perjudian, kalah dan berhutang. Ini bukan baru pertama kalinya terjadi. Jadi ia tidak terkejut. Hanya saja ia tak menyangka Ramon akan melihat dirinya dalam situasi seperti itu dan langsung bergegas membantunya. Ia juga tak mengira bahwa ternyata Ramon dapat berkelahi dengan baik, nampak terlatih. Hari ini, Saka mau tidak mau harus mengaku bahwa ia sangat beruntung. Sebelumnya, ketika kejadian serupa menimpa dirinya, ia bahkan lebih babak belur dan satu kali pernah menderita luka tusukan. ** "Kau sepertinya sangat mencintai pekerjaanmu, bahkan dalam kondisi seperti ini kau tetap nekad untuk berangkat." Kata Ramon sambil meletakkan teh manis panas di hadapan Saka. Ia tak menanyakan kejadian beberapa saat lalu karena masalah itu sepertinya cukup sensitif bagi pemuda itu. "Ya. Nona Anne-Marie banyak membantu saya di masa lalu. Dan saya hanya bisa membalasnya dengan cara bekerja sebaik mungkin." Jawab Saka jujur. Ramon hanya mengangguk tak bertanya lagi. Ia lalu membantu pemuda itu menyiapkan peralatan dan bunga-bunga yang akan dirangkai. Setiap orang punya kisahnya sendiri. Kadang ia akan bersimpangan dengan yang lainnya. Kadang hanya bersisian seperti rel kereta. Tapi setiap kisah itu selalu memiliki arti tersendiri bagi pelakunya, maupun mereka yang mengamati. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN