Part 6

2095 Kata
"Bu..." Parahita memanggil Laksmi yang tengah duduk termenung di serambi belakang rumah yang menghadap ke kolam ikan koi. Ia melihat ibunya sudah terlalu lama termenung seorang diri di sana. Teh di meja sampingnya dingin tak tersentuh. Angin berhembus cukup kencang sore itu. Ludwigia merah ditepi kolam bergoyang-goyang seolah menari. Telah bertahun-tahun lamanya Laksmi menjanda setelah suaminya Herjuno Wibisono meninggal karena gagal jantung. Tapi ia seakan masih melihat bayangannya dimana-mana. Apalagi ketika ia kembali ke rumah ini. Di rumah joglo pemberian orang tuanya inilah mereka menghabiskan masa-masa awal kehidupan rumah tangga yang manis sebelum akhirnya pindah ke Kota Purwokerto untuk mendirikan Pawon Ageng. "Bu, ayo masuk dulu." Parahita mencoba membujuk lagi. Ia sangat khawatir dengan kondisi kesehatan ibunya itu. Kemarin malam ia terburu-buru mengejar penerbangan terakhir dari Jakarta ke Yogyakarta setelah Anne-Marie memberitahunya bahwa nenek jatuh pingsan setelah menziarahi makam kakeknya. Anne-Marie sendiri sudah menyusul ke Yogyakarta sehari sebelumnya karena firasatnya membuat tidak nyaman. Laksmi menghela nafas. Pada ziarah ke makam suaminya kali ini ia merasakan kesedihan yang lebih mendalam dibandingkan ziarah-ziarah sebelumnya. Apalagi jika bukan karena situasi kritis yang dialami Pawon Ageng, restoran yang ia dirikan dengan jatuh bangun bersama sang suami. "Dimana Anne-Marie?" Tanya Laksmi begitu menolehkan kepala manatap Parahita. "Dia di dalam tengah menyiapkan makan malam." "Hmm. Baik, ayo masuk." Parahita memegang lengan ibunya dan memapahnya masuk ke dalam rumah. Mbok Darmi, pelayan rumah, menutup pintu di belakangnya lalu bergegas menutup jendela juga setelah menyalakan lampu. Di ruang makan, Anne-Marie telah selesai menyiapkan makan malam. Piring dan sendok pun sudah tertata rapi. Begitu melihat ibu dan neneknya datang, ia menarik kursi untuk neneknya duduk. "Nenek, saya sudah belajar memasak gudeg sesuai resep yang nenek berikan. Dimasak sejak pagi hingga sore di atas tungku dengan api kecil. Tapi tentu saja Mbok Darmi juga membantu saya menjaga api." Anne-Marie meringis. Ia tak masalah kalau harus memasak. Hanya saja jika harus memasak dengan tungku, ia bahkan tidak sanggup menyalakan api. Jadi, selama memasak gudeg itu Mbok Darmi lah yang bertugas mengurus api. "Kalau begitu nenek harus mencobanya. Kau sudah bekerja keras." Jawab Laksmi. Senyum di bibirnya mengembang. Segera mereka bertiga pun makan malam bersama. Selain gudeg, Anne-Marie juga memasak ayam semur, tempe bacem, dan sambal krecek. Setelah makan, Laksmi me-review hasil masakan Anne-Marie. Cucunya itu sebenarnya cukup berbakat. Meski selama hampir empat tahun hidup bersamanya tak terlalu sering praktek memasak, tapi sekalinya Anne-Marie melakukannya, hasilnya tak pernah mengecewakan. Hanya saja jika memakai standard untuk Pawon Ageng, itu masih belum cukup. Andai saja anak itu mau lebih menekuni dan giat melatih keterampilannya, Laksmi mengeluh dalam hati. "Katakan pada nenek, saat membuat tempe bacem tadi, apa kau yakin tidak ada langkah atau bumbu yang terlewat?" Laksmi bertanya. Anne-Marie mengerutkan kening lalu mencomot sepotong tempe bacem dan langsung menggigitnya. Ia memejamkan mata saat mengunyahnya perlahan. Seingatnya, semua sudah sesuai dengan resep sang neneknya. Dimana salahnya, batin Anne-Marie. Ia membuka mata dan menatap neneknya lalu ibunya, bergantian. Parahita mengangkat bahu tanda tak tahu apa yang kurang. Ia benar-benar menyerah tentang masakan Jawa. Melihat gelagat Anne-Marie yang kebingungan, Laksmi akhirnya berkata, "Ketumbar mestinya disangrai sampai aromanya keluar sebelum digunakan. Itu saja, bumbu lainnya sudah pas." "Bagaimana nenek bisa merasakan perbedaannya?" Tanya Anne-Marie heran sekaligus takjub. Memang benar ia lupa menyangrai ketumbarnya. "Itu hanya karena latihan dan kebiasaan bertahun-tahun. Ketumbar yang disangrai aroma dan rasanya akan menjadi lebih kuat. Kalau kau mencicipinya dengan lebih teliti dan hati-hati, kau akan tahu perbedaannya. Lain kali coba kau bandingkan." "Baik." Jawab Anne-Marie singkat. Meski ia suka memasak, tapi bukan itu passion utamanya. Laksmi tak membahas perihal masak-memasak lebih jauh lagi. Ia berkata, "Ngomong-ngomong, ayo kembali ke Purwokerto besok pagi." "Ibu.." "Nenek.." Parahita dan Anne-Marie serempak hendak mengatakan keberatannya. Mereka masih belum terlalu yakin apakah Laksmi sudah benar-benar sehat. "Apa? Pawon Ageng tidak bisa ditinggalkan begitu saja terlalu lama tanpa pengawasan. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Kemarin itu hanya kelelahan. Kalian dengar sendiri apa yang dikatakan dokter. Sekarang aku sudah cukup beristirahat. Kalau terus berdiam diri lama-lama justru aku akan benar-benar jadi sakit." Apa yang bisa dilakukan Parahita dan Anne-Marie hanya bisa menyerah dan patuh. Begitu seorang Nyonya Laksmi memutuskan sesuatu, maka tak akan ada satupun yang bisa mengubah keputusannya. Lagi pula, di saat-saat seperti ini, keduanya tahu betul bagaimana perasaan wanita tua itu. Jadi, mereka hanya bisa membuat wanita itu merasa senang. "Baik, ibu bisa kembali ke Purwokerto besok pagi. Tapi setelah Dokter Mitro memastikan bahwa kondisi kesehatan ibu benar-benar baik. Aku akan meneleponnya sekarang." Tanpa menunggu ibunya menjawab, Parahita langsung menghubungi nomor Dokter Mitro saat itu juga tanpa melihat bahwa saat itu sudah lewat pukul delapan malam. Laksmi yang melihat tingkahnya itu pun hanya bisa menghela nafas dan geleng-geleng kepala. ** Pagi harinya, Anne-Marie beserta ibu dan neneknya benar-benar kembali ke Purwokerto setelah malamnya Dokter Mitro mengatakan kondisi kesehatan Laksmi cukup stabil. Kali ini mereka bersyukur karena Bandara Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga baru saja beroperasi. Jadi, mereka tidak harus melalui jalur darat yang akan jauh lebih melelahkan dan memakan lebih banyak waktu. Awalnya Laksmi mengatakan Parahita bisa langsung kembali saja ke Jakarta khawatir Vincent akan jadi terlalu repot jika ditinggal sendiri terlalu lama. Tapi Parahita ngotot ingin mengantar ibunya itu supaya bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama. Ya, karena kesibukannya ibu dan anak itu memang cukup jarang bertemu. Sementara Anne-Marie juga senang ibunya ikut ke Purwokerto. Bagaimanapun ibunya besar di kota itu meski lahir di Yogyakarta. Jadi, ia pikir ibunya juga ingin mengenang masa lalu selain ingin quality time dengannya dan sang nenek. Sebelum jam makan siang ketiganya sudah sampai. Laksmi langsung istirahat di kamarnya. Sementara Anne-Marie dan ibunya memutuskan untuk ke pergi ke Pawon Ageng dan mampir ke florist sekalian. Sebenarnya tidak masalah untuk meninggalkan Pawon Ageng selama beberapa hari. Selama ini sistem managerialnya sudah cukup baik. Jadi, Anne-Marie hanya perlu memeriksa beberapa hal menggantikan neneknya. Parahita juga sempat beberapa kali melihat dokumen yang di baca putrinya, tapi ia tak berkomentar apa-apa. Ia tak pernah tahu kondisi real Pawon Ageng seperti apa. Selama ini ia hanya berperan sebagai orang ke-tiga yang hanya bisa menilai dari luar. Jadi, ia tak ingin terlalu banyak ikut campur. Mungkin nanti ia akan memberikan beberapa saran saja pada Anne-Marie. Tapi tidak sekarang. "Sayang, ibu akan melihat bunga-bungamu terlebih dahulu. Kau selesaikan saja tugasmu lalu susul ibu." Kata Parahita. "Baik. Nanti aku menyusul." Parahita berjalan sendiri keluar lewat pintu samping Pawon Ageng menuju Anne-Marie Florist di sebelahnya. Para karyawan di kedua tempat ini sudah mengenal dirinya, jadi ia bisa berkeliaran kemanapun ia mau sesuka hati. Dengan santai, ia masuk ke Anne-Marie Florist melalui pintu belakang supaya tidak perlu memutar ke depan. Ia sangat menghargai usaha yang dirintis secara mandiri oleh putrinya ini. Meski ia tahu usaha semacam ini tidak menghasilkan banyak keuntungan. Tapi ia tak peduli. Toh untuk masalah materi ia dan suaminya sanggup memberikan semuanya pada putri tunggal mereka itu. Yang lebih penting baginya adalah kondisi psikis Anne-Marie pasca percobaan bunuh diri yang dilakukan hampir empat tahun lalu. Ia sangat bersyukur putrinya kini terlihat lebih menikmati hidup. Melihat deretan berbagai jenis tanaman hias dan bunga-bungaan di florist putrinya ini, Parahita merasa sangat terharu. Ia menarik nafas dalam-dalam, menikmati segarnya udara di kota ini yang masih terasa cukup sejuk meski sudah tengah hari. "Nyonya Parahita?" Parahita membalikkan badan setelah mendengar suara yang ia kenali dari arah belakangnya. "Oh, hello Lestari. Lama tidak bertemu." "Ini benar Anda, Nyonya? Ya Tuhan, saya pikir tadi saya salah lihat. Kapan Anda tiba? Anda terlihat semakin cantik." Lestari berjalan menghampiri dengan wajah gembira. Ia lalu membungkuk hormat dan senyumnya tak kunjung turun. Parahita tertawa melihat tingkah gadis mungil di depannya itu. Ia lalu tak segan merangkul bahunya. Ia sangat menyukai Lestari karena kepribadiannya yang ceria. Orang-orang dengan kepribadian seperti gadis itu membawa energi positif untuk orang-orang di sekitarnya. Parahita berkata, "Kau juga semakin cantik. Apa kau sudah punya kekasih?" Gurau Parahita. "Nyonya, saya masih terlalu muda." Jawab Lestari malu-malu. "Bagus, bagus. Lebih baik sibukkan diri dengan mengejar apa yang kau cita-citakan terlebih dahulu. Sekarang, kau buatkan aku teh mawar dengan madu seperti biasanya. Aku baru sampai dan haus." "Tentu, Nyonya. Mari kita masuk ke dalam." Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri bagian samping kebun dan masuk ke dalam toko melalui pintu dapur. Lestari mempersilahkan ibu dari bosnya itu untuk menunggu di ruang santai sementara ia menyeduh teh. Tapi Parahita menolak. Ia memilih tinggal di dapur sambil terus mengobrol dengan Lestari. Duduk menghadap meja makan dengan tangan menopang kepalanya, nampak sangat santai. Ia lalu mengobrol berbagai macam hal dengan Lestari mulai dari A sampai Z sambil sesekali menyesap tehnya. Hingga mereka tak sadar sudah waktunya jam makan siang jika Ramon dan Saka tidak masuk ke dapur. Saka yang juga sudah sangat mengenali Parahita langsung mengucapkan salam. Sedangkan Ramon hanya bisa mengikuti apa yang dilakukan Saka dengan sedikit bertanya-tanya. "Apa ini karyawan baru?" Tanya Parahita pada Saka. "Benar, Nyonya. Namanya Ramon. Belum ada dua minggu di sini tapi Bang Ramon ini cepat belajar dan pekerja keras. Bang Ramon, beliau adalah ibu dari Nona Anne-Marie." "Senang bertemu dengan Anda, Nyonya." Ramon sekali lagi membungkuk hormat. "Ya. Senang juga bertemu denganmu. Semoga betah bekerja di sini. Oh, apa kalian mau makan siang? Duduklah, jangan sungkan. Bagaimanapun kita adalah keluarga. Kalian sudah menemani dan menjaga putriku dengan baik. Aku sangat berterima kasih pada kalian semua." Ramon yang baru pertama kali bertemu dengan Parahita cukup terkejut dengan sikap dari wanita itu. Sangat jarang seorang majikan memperlakukan karyawan seperti mereka dengan sangat ramah bahkan menyebutkan bahwa mereka adalah keluarga. Ramon mau tak mau teringat pada mantan tuannya. "Bang Ramon, ayo duduk. Jangan malu." Suara Lestari yang renyah menyadarkan Ramon dari lamunan singkatnya. Ia melihat Saka juga sudah duduk, maka ia pun juga ikut duduk di sampingnya. Ia lalu meletakkan plastik putih yang ia bawa di atas meja. "Sebentar, dimana Ardi?" Parahita bertanya pada Saka. "Dia berjaga di depan, Nyonya." Saka menjawab. "Suruh dia masuk. Ayo kita makan bersama hari ini. Aku akan minta putriku untuk menyiapkan makan siang dari Pawon Ageng." Ramon saling adu pandang dengan Saka, lalu keduanya menatap Lestari. Ketiganya seolah sedang saling lempar pertanyaan. Mereka tentu senang dan merasa terhormat bisa makan bersama dengan bos dan ibunya. Tapi mereka sudah punya rencana sendiri untuk makan siang hari itu sebelumnya. Tatapan Saka dan Lestari lalu berakhir pada Ramon. "Ada apa?" Parahita yang melihat keanehan tiga orang itu mengerutkan kening. Akhirnya Saka pun berusaha menjelaskan, "Sebenarnya hari ini Bang Ramon sudah menyiapkan bekal untuk makan siang kami Nyonya. Jadi,..." "Oh, benarkah?" Parahita mengalihkan pandangannya pada Ramon. "Benar, Nyonya. Hari ini adalah hari lahir putra saya yang ada di kampung. Jadi, karena saya tidak bisa pulang, saya membuat arem-arem untuk dimakan bersama. Putra saya paling suka makanan itu." Jawab Ramon dengan kepala tertunduk. Hatinya sakit setiap kali mengingat putranya. Note: Arem-arem merupakan penganan serupa lemper, yaitu nasi yang dimasak dengan santan dan berisi sayuran (umunya kentang dan wortel), bisa juga diisi ayam cincang atau sambal goreng yang dibungkus dengan daun pisang. Biasanya ukurannya dibuat lebih besar daripada lemper. "Oh, kalau begitu..begini saja. Biar aku minta Anne-Marie membawa lauk pauk saja untuk pelengkap arem-arem yang kau bawa. Apa cukup jika aku juga ingin mencicipi arem-arem yang kau buat itu? Aku juga ingin merayakan hari lahir putramu." Parahita memberikan solusi terbaik supaya arem-arem yang dibawa Ramon bisa tetap dimakan dan dia juga bisa mentraktir makan para karyawan putrinya. "Sa..saya rasa cukup, Nyonya. Tapi mungkin ini tidak sesuai dengan selera Anda. Harap maklum jika ada kekurangan." Kata Ramon. "Bang Ramon terlalu merendah. Nyonya, Bang Ramon ini benar-benar pandai memasak. Kemarin waktu saya mencicipi bekal yang ia bawa, rasanya saya ingin merampasnya untuk dimakan sendiri." Lestari berbicara dengan penuh semangat, mengingat saat ia mencicipi tempe yang dimasak dengan cabai hijau yang dihaluskan dengan entah bumbu apa lagi dan diberi sedikit air. Ia tak tahu apa nama masakan itu tapi rasanya sangat enak dilidahnya. Mendengar cerita Lestari, Parahita menatap Ramon dengan tatapan kagum. Meski ia tahu ada banyak chef berjenis kelamin laki-laki yang pastinya keahlian memasaknya tak perlu diragukan lagi. Tapi ia rasa cukup jarang laki-laki biasa selain chef yang benar-benar tahu memasak. "Bagaimana kau memasak tempe yang diceritakan Lestari?" Parahita merasa penasaran. "Oh, itu sebenarnya..saya memasak tempe dengan bumbu untuk mangut ikan pari, Nyonya." Jawab Ramon. Mata Parahita melebar. "Apa kau pernah bekerja di restoran sebelumnya, Ramon?" Tanya Parahita. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN