Hal yang paling berat bagi seorang mantan narapidana adalah ketika ia berusaha untuk kembali ke masyarakat. Bagaimana ia harus berjuang melawan stigma negatif yang seolah otomatis melekat di dirinya. Pandangan miring dan kecurigaan bahwa kejahatan yang pernah dilakukan di masa lalu bagai sebuah penyakit yang bisa saja kambuh suatu saat nanti, menjadi penghalang baginya untuk diperlakukan selayaknya manusia. Manusia yang bisa saja salah.
Bukankah Tuhan selalu memberi kesempatan untuk bertobat?
Ramon ingin menjalani hidupnya yang baru ini dengan sebaik mungkin. Tapi sekarang, ia merasa belum siap jika masa lalunya yang kelam harus diceritakan pada orang-orang dalam kehidupan barunya ini. Tentu karena ia khawatir mereka tidak akan bisa menerimanya. Justifikasi yang mungkin ia terima benar-benar membuat nyalinya ciut.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Anne-Marie berjalan memasuki dapur diikuti seorang pelayan Pawon Ageng.
"Oh, kau sudah datang. Baru saja mama mau meneleponmu."
"Aku tahu Mama pasti akan asyik mengobrol jadi aku membawa makan siangnya ke sini." Jawab Anne-Marie sambil meletakkan keranjang buah di tengah meja lalu duduk di samping Parahita. Pelayan yang mengikutinya juga meletakkan kotak makan bertumpuk yang ia bawa dan menatanya di meja di bantu Lestari.
"Ya, mama juga bermaksud makan siang bersama mereka semua. Ternyata kau bisa membaca pikiran mama." Parahita terkekeh. "Tapi, tadinya mama ingin memberitahu untuk tidak terlalu banyak membawa nasi. Hari ini Ramon membawa arem-arem untuk memperingati hari lahir putranya di kampung."
"Benarkah? Do'aku semoga putramu selalu sehat dan tumbuh dengan baik, Ramon." Anne-Marie mengatakannya dengan penuh ketulusan. Ia baru tahu bahwa Ramon ternyata memiliki seorang putra.
"Terima kasih, Nona."
"Kalau begitu ayo kita makan sekarang." Ajak Parahita.
Siang hari itu dapur yang sekaligus merangkap ruang makan di Anne-Marie Florist begitu ceria. Tak ada kesan perbedaan status di antara mereka yang duduk mengelilingi meja. Mereka makan bersama tanpa membeda-bedakan mana majikan mana karyawan.
Setelah makan, Ramon mendapat pujian untuk kelezatan arem-arem yang ia buat. Juga tentu saja do'a untuk putranya dari mereka semua. Kesedihan karena belum dapat berkumpul kembali dengan putranya pun sedikit terobati.
Satu hal lagi yang ia patut syukuri adalah pertanyaan Parahita sebelum Anne-Marie datang tak ditanyakan lagi. Bagaimanapun ia tidak ingin berbohong ataupun menutup-nutupi masa lalunya. Hanya saja saat ini ia merasa belum siap. Mungkin suatu hari nanti ia akan membagi kisahnya dengan mereka, pikir Ramon.
Keesokan harinya, Parahita kembali ke Jakarta dan Anne-Marie Florist kembali ke rutinitasnya.
Pagi itu, untuk pertama kalinya Ramon ikut dengan Saka untuk mengirim pesanan buket bunga ke beberapa customer termasuk ke hotel dan restoran yang telah menjalin kerja sama selama ini. Saat tiba di restoran itulah ia seperti melihat seseorang yang ia kenal di masa lalunya. Hanya saja orang itu nampak berjalan tergesa sehingga Ramon tidak bisa melihat dengan jelas. Karena itu Ramon akhirnya mengabaikannya begitu saja.
Menjelang siang, ketika keduanya telah kembali ke florist, tiba-tiba Ramon mendengar Anne-Marie memanggil Saka untuk menghadap ke ruang kantornya. Ia lalu melihat Saka berjalan lesu dengan menundukkan kepala. Ramon bertanya-tanya dalam hati, apakah ada kesalahan yang dilakukannya.
Sekitar lima belas menit kemudian, Saka memanggil Ramon yang saat itu sedang membantu Ardi merawat tanaman yang terkena hama. Dalam setiap langkahnya, Ramon memikirkan kesalahan apa yang ia perbuat. Ia khawatir akan dipecat. Sementara ia berpikir saat ini ia harus bisa bertahan di tempat itu.
Ramon mengikuti Saka ke ruang kantor Anne-Marie dengan gundah. Tapi tak juga berani bertanya pada Saka tentang apa yang terjadi karena pemuda itu juga nampak hanyut dalam pikirannya sendiri.
"Silakan duduk." Kata Anne-Marie.
Ramon pun duduk. Anehnya, Saka juga ikut duduk di sampingnya. "Maaf, Nona. Apa saya melakukan kesalahan?" Refleks Ramon bertanya demikian karena ekspresi Saka yang begitu mendung.
"Tidak. Bukan itu. Ini tentang kejadian tiga hari lalu. Aku sudah mendengarnya dari Saka. Sekarang aku ingin mendengar cerita itu darimu."
Tatapan mata Anne-Marie saat ini terlihat begitu tajam membuat Ramon merasa canggung. Lelaki itu mengerutkan kening, tiga hari lalu? Ia tidak yakin kejadian apa yang dimaksud oleh Anne-Marie. Ia lalu menengok ke samping, tapi Saka terus menundukkan kepala.
"Pagi tiga hari lalu, di tepi jalan. Masalah dengan preman-preman itu. Ceritakan dari awal kau melihatnya, Ramon. Aku ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Sejak kemarin aku sudah memperhatikan ada lebam yang belum sepenuhnya pudar di wajah Saka. Ini bukan pertama kali aku melihatnya dalam kondisi seperti itu. Tapi selama ini dia selalu tutup mulut. Dan aku tidak bisa membiarkannya begitu saja kali ini. Kalian semua adalah bagian dari florist ini dan merupakan tanggung jawabku untuk memberikan perlindungan pada kalian semua. Ditambah lagi, apa yang akan dikatakan customer jika melihat pegawai florist ini dalam keadaan seperti itu? Tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang curiga bahwa aku melakukan kekerasan pada para pegawaiku. Jadi, Ramon, katakan dengan jujur supaya aku bisa membantu menyelesaikan masalah itu."
Ramon tak punya pilihan lain, kata-kata majikannya itu memang masuk akal. Ia juga tak sanggup jika harus berbohong. Lagi pula, mungkin memang akan lebih baik jika Anne-Marie tahu masalah yang dialami Saka. Siapa tahu kali ini Saka akan mendengarkan nasihatnya, batin Ramon. Maka, Ramon pun menceritakan dengan detail apa yang terjadi, bermula dari ketika ia melihat Saka dikerumuni para preman hingga akhirnya terjadi perkelahian serta apa yang ia dengar dari pria tua waktu itu.
Anne-Marie yang mendengar cerita itu menghela nafas berat. "Bagaimana bisa kau tidak mengatakannya padaku, Saka? Kenapa kau tidak mengatakan bahwa ayahmu sudah kembali dan membuatmu dalam masalah? Aku sudah berjanji pada ibumu untuk menjagamu dengan baik. Sekarang terjadi seperti ini kau diam saja?" Nampak raut kekecewaan di wajah cantik Anne-Marie.
"Maafkan saya, Nona. Tapi selama ini Anda sudah terlalu banyak membantu saya. Saya hanya tidak ingin Anda nantinya juga terlibat dalam masalah saya. Saya hanya khawatir dengan keselamatan Anda."
"Tetap saja diam bukanlah solusi. Ibumu sudah berusaha keras membesarkanmu, tentu saja ia berharap kau bisa hidup dengan baik. Jika ibumu masih ada dan kau pasrah menerima perlakuan sewenang-wenang ayahmu itu, apa ia akan senang? Apa ia akan rela?"
Saka terdiam dan semakin dalam kepalanya tertunduk.
"Saka, aku tahu dia ayahmu. Kau mungkin ingin menunjukkan baktimu padanya. Tapi kau tahu uang yang kau berikan padanya ia habiskan untuk apa bukan? Setelah itu ia bahkan masih berani membuat masalah dan melemparkannya padamu. Jika kau diam saja, apakah itu tidak sama artinya dengan menjerumuskannya ke jurang yang lebih dalam? Orang yang bersalah harus ditegur, jika itu tidak mempan, maka ia perlu dihukum. Kali ini ayahmu sudah sampai pada tahap dimana ia benar-benar perlu dihukum. Bertahun-tahun menjadi pelarian menelantarkan anak istri, begitu kembali bukannya memperbaiki diri malah menjadi semakin parah." Anne-Marie lagi-lagi menghela nafas. "Pikirkan itu baik-baik Saka. Pindah saja ke sini dan biarkan ayahmu dengan jalannya sendiri. Kau harus memikirkan masa depanmu, Saka."
Ramon diam-diam memikirkan situasi itu. Ia semakin paham dengan kondisi Saka sebenarnya. Dalam hati ia juga setuju dengan apa yang disampaikan Anne-Marie. Ia juga berkaca pada apa yang telah ia lalui selama ini.
"Ramon, jika Saka tinggal di sini, apa kau bersedia menemaninya? Oh, maaf sebelumnya. Aku harusnya bertanya dulu tentang istrimu, apakah ia di kota ini atau di kampung dengan putramu?"
Ramon berpikir sejenak. Betapa menguntungkannya jika ia tinggal di sini, ia dapat menghemat uang bulanan untuk kontrakan dan bisa lebih banyak mengirimkan uang ke kampung. Lagi pula ia juga tinggal sendiri. Tinggal di sini dengan Saka akan sedikit mengurangi rasa sepi. Maka ia pun menjawab, "Saya bersedia, Nona. Saya sangat berterima kasih jika Anda juga mengizinkan saya tinggal di sini menemani Saka. Kebetulan di kota ini saya tinggal sendiri di kontrakan. Istri saya meninggal saat melahirkan."
"Maaf, aku baru tahu itu."
"Tidak apa-apa, Nona." Ramon menjawab dengan senyum tipis. Suasana sejenak menjadi canggung dan hening sesaat.
"Jadi.., bagaimana Saka?"
**
Mungkin memang benar kata pepatah, dalam hidup ini kita harus memiliki ambisi. Tanpa ambisi apapun, seseorang hanya akan nampak seperti cangkang kosong yang tergeletak menunggu lapuk. Tapi dengan ambisi, orang akan terdorong untuk terus bergerak, menemukan, dan meraih sesuatu yang dapat membuat hidup menjadi lebih berwarna dan bermakna.
Satria Kusuma Wijaya juga satu di antara sekian banyak orang yang memiliki ambisi dan benar-benar berusaha keras untuk itu. Sejak lulus dengan nilai yang sangat memuaskan dan meraih gelar Teknik Sipil, jalan kariernya terbuka lebar. Ia diterima bekerja di salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia, Blue Rock Corporation, sebagai konsultan konstruksi. Setahun kemudian ia mengambil gelar magister management rekayasa konstruksi sambil tetap bekerja. Sejak saat itu, kariernya semakin mulus dan ia terlibat dalam project-project besar.
Blue Rock Corporation adalah salah satu perusahaan bonafit yang sudah banyak membangun gedung-gedung apartemen, hotel, pusat-pusat perbelanjaan, bahkan juga jembatan. Dan saat ini, salah satu project besar yang sedang ditangani adalah pembangunan sebuah supermall di Kota Purwokerto, Jawa Tengah. Dimana Satria kini telah menjabat sebagai seorang project manager.
Project ini sangat penting bagi Satria. Selain karena nilai kontraknya yang besar, ini adalah project pertamanya sebagai project manager. Satu posisi penting yang hanya sedikit orang bisa meraihnya di usia semuda itu, dua puluh tujuh tahun. Hal lain yang membuatnya sangat bersemangat adalah karena lokasi supermall itu akan dibangun merupakan kota dimana orang yang dicintainya tinggal saat ini.
Ia akan segera dapat bertemu dengannya setelah hampir empat tahun terpisah. Ada banyak hal yang ingin ia bicarakan dengannya. Banyak kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
"Sepertinya kau merasa sangat bahagia belakangan ini?" Tanya seorang wanita muda dengan setelan kantor fashionable yang duduk menyilangkan kaki di hadapan Satria.
"Kau tahu aku sedang menangani project besar, tentu aku harus bahagia bukan?" Jawab Satria sambil terus menghadap ke layar komputer dan mengetikkan sesuatu. Ia sama sekali tak menoleh pada wanita di depannya.
"Tentu saja. Apalagi kau akan dapat menemuinya dalam waktu dekat. Kau pasti sudah tak sabar menunggu waktu itu kan?"
"Kau terlalu banyak berpikir." Setelah menekan enter Satria menurunkan tangannya ke lengan kursi. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan menatap wanita di seberang mejanya.
"Benarkah? Tenang saja. Aku tidak keberatan jika kau ingin menemuinya. Tidak masalah. Toh pada akhirnya kau akan kembali padaku. Kau tahu persis akan hal itu."
Satria tak menjawab. Ia mencengkeramkan tangannya ke lengan kursi hingga urat-uratnya nampak menonjol. Bertahun-tahun di bawah kendali orang lain dan berperan layaknya boneka membuatnya muak. Tapi ia tak punya pilihan lain kecuali terus bertahan hingga tiba waktunya nanti bagi dirinya untuk terbebas.
Ia harus mengabaikan penghinaan-penghinaan itu sementara ini. Semua itu tidak akan berarti apa-apa jika dibandingkan dengan tujuan yang ingin diraihnya. Bukankah sebanyak apapun kau menginginkan sesuatu, sebanyak itu pula pengorbanan yang diperlukan? Satria membulatkan tekad.
**