Bangunan utama Anne-Marie Florist awalnya adalah sebuah rumah dua lantai bergaya Eropa. Langit-langitnya tinggi dengan atap miring dan tinggi sehingga dari luar rumah itu nampak megah. Dua pilar tinggi dari permukaan tanah hingga lantai atas berdiri menjulang tepat di kanan kiri akses masuk rumah. Pintu depan merupakan pintu kayu dua daun dengan bagian atas membentuk setengah lingkaran. Jendela-jendela besar di setiap sisi dikombinasikan teralis.
Bangunan itu memiliki banyak ruangan. Aula depan saat ini digunakan sebagai area utama toko. Berbagai jenis bunga segar yang siap dirangai menjadi buket-buket cantik berjajar rapi. Terdapat pula etalase untuk memajang hiasan potpourri bersisian dengan counter kasir. Di sisi lainnya ditempatkan satu set sofa minimalis putih untuk menerima tamu ataupun customer.
Tiga ruang kamar di lantai satu dimanfaatkan sebagai kantor Anne-Marie, gudang dengan pendingin untuk menyimpan sementara stock bunga, dan gudang peralatan. Sementara di lantai atas terdapat dua ruang kamar dimana salah satunya difungsikan sebagai ruang istirahat dan satu lainnya kosong. Kamar itulah yang nantinya akan ditempati oleh Ramon dan Saka.
Setelah sebelumnya Anne-Marie menasehati Saka, pemuda itu akhirnya setuju untuk tinggal di florist bersama Ramon. Saka langsung pindah keesokan harinya sementara Ramon menyusul di akhir bulan setelah masa sewa kontrakannya habis. Keduanya benar-benar tidak dibuat pusing dengan masalah tempat tidur karena Anne-Marie langsung memesankan dua ranjang single lengkap dengan kasur busa, dan segala kelengkapannya.
Anne-Marie memang selalu memperlakukan pegawainya dengan baik. Apalagi Saka sudah ia anggap layaknya saudara. Almarhum ibu Saka dulunya merupakan asisten rumah tangga di kediaman neneknya. Dan selama empat tahun ia tinggal dengan sang nenek, Anne-Marie sudah tahu betul lika-liku kehidupan pasangan ibu dan anak itu. Belajar dari keduanya, Anne-Marie perlahan menjadi lebih menikmati dan mensyukuri kehidupannya.
Suatu pagi pada hari ke-dua setelah kepindahan Ramon, Anne-Marie yang datang ke florist lebih awal untuk membuat pesanan buket bunga melihat lelaki tinggi tegap itu tengah memasak nasi goreng di dapur. Anne-Marie diam-diam mengamati gerakan gesik Ramon dari arah belakang, bagaimana luwesnya tangan berotot lelaki itu memegang spatula saat mengaduk dan membolak-balik nasi di wajan. Ia tertegun dan tak sadar hingga terdengar suara 'klik' kompor dimatikan.
Ramon yang berbalik hendak mengambil piring terhenti seketika melihat Anne-Marie sudah berdiri di depannya. "Selamat pagi, Nona Anne-Marie." Sapa Ramon.
"Ah.. Selamat pagi." Jawab Anne-Marie sambil tersenyum ramah. "Baunya harum, sepertinya enak. Boleh coba?" Tanpa malu-malu wanita muda itu bertanya. Sebelumnya ia sudah merasakan arem-arem Ramon yang benar-benar enak dan sekarang begitu penasaran ingin mencicipi nasi gorengnya juga.
"Oh, tentu. Silakan duduk, biar saya ambilkan untuk Anda."
Ramon bergegas mengambil piring dan menyendokkan nasi goreng, menambahkan irisan tomat dan mentimun di atasnya. Ia lalu meletakkannya di depan Anne-Marie dan segera berbalik untuk menuangkan air hangat.
Saat itu, terdengar suara Saka memasuki dapur. "Bang Ramon, sarapan apa kita pagi ini?" Tanya Saka belum menyadari keberadaan Anne-Marie di sana.
"Nasi goreng." Jawab Ramon sambil meletakkan piring lain di meja.
Mengikuti arah pandangan Ramon, baru kemudian Saka melihat Anne-Marie tengah duduk dan makan dengan khidmat. "Ah, selamat pagi, Nona."
"Hmm." Yang bersangkutan hanya menjawab dengan gumaman karena tengah mengunyah dan sibuk menilai rasa dari nasi goreng Ramon. Setelah menelan, baru ia berkata, "Ayo duduk dan makan bersama. Ini benar-benar lezat. Aku tidak menyangka ternyata kau begitu pandai memasak, Ramon."
Nasi goreng yang Ramon masak pagi itu adalah nasi goreng cabai hijau dengan telur dan ikan teri yang digoreng kering. Anne-Marie dapat menemukan rasa kencur yang segar dan membuat perut hangat, aroma cabai hijau yang khas, dan semuanya itu diracik dengan seimbang.
Ini mirip dengan nasi goreng buatan nenek, batin Anne-Marie. Tiba-tiba sesuatu terlintas di benak wanita muda beriris hijau itu. Ia teringat pertemuan pertamanya dengan Ramon. Hampir saja ia terlupa bahwa awalnya lelaki itu hendak melamar pekerjaan di Pawon Ageng. Sepertinya ia perlu membicarakan masalah ini dengan Ramon nanti, kata Anne-Marie pada dirinya sendiri.
**
Sore hari sebelum florist tutup Anne-Marie memanggil Ramon ke kantornya. Ia merasa perlu memastikan keahlian memasak lelaki itu. Akan sangat disayangkan menahan Ramon tetap bekerja di florist sebagai gardener andai ternyata ia memang memiliki kemampuan dan kepantasan bekerja di dapur Pawon Ageng. Itu seperti menyia-nyiakan bakat.
Lagi pula, tak lama lagi Anne-Marie akan mengambil alih restoran neneknya itu. Maka sudah sepantasnya ia mulai memikirkan solusi yang inovatif untuk memajukan kembali Pawon Ageng. Mungkin salah satunya adalah dengan menciptakan kreasi-kreasi menu baru. Atau mungkin juga mencari bakat-bakat terpendam sebagai kru dapur. Bagaimanapun, kesuksesan sebuah restoran berawal dari dapurnya.
"Ramon, jujur saja aku baru ingat bahwa sebelum kau bekerja di sini awalnya kau berniat melamar pekerjaan di Pawon Ageng. Posisi apa yang kau inginkan di sana saat itu?" Tanya Anne-Marie langsung pada topik utama.
Ramon sempat terpana sesaat mendengar pertanyaan tersebut. Sudah sebulan ia bekerja di florist dan belum terpikirkan akan datangnya kesempatan untuk bekerja sesuai keinginan awalnya. Tapi tunggu dulu, batin Ramon, Nona Anne-Marie mungkin hanya sekedar bertanya dan belum tentu ia akan benar-benar dipekerjakan di Pawon Ageng. Ramon menghela nafas berat.
"Sejujurnya saya ingin melamar sebagai koki, Nona, atau mungkin paling tidak asisten koki." Jawab Ramon jujur.
"Menjadi seorang koki restoran tidak hanya perlu keterampilan memasak, tapi juga passion dalam memasak. Ketika kau memiliki passion itu kau akan dapat memasak dengan sepenuh hati dan menciptakan kreasi-kreasi unik dengan cita rasa berkualitas. Tapi kau juga harus dapat bekerja dalam tekanan, berkejaran dengan waktu demi kepuasan pelanggan. Dan masih banyak hal lain yang juga harus diperhatikan."
Anne-Marie menjeda sejenak. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. "Apa kau tahu, Pawon Ageng bukan sekedar restoran bagi keluarga kami. Ada banyak aturan dan tidak sembarang orang bisa memasuki dapurnya. Jika kau masih berniat bekerja di sana, apalagi di dapurnya, aku mungkin bisa memberimu kesempatan. Ini karena aku melihat kau cukup berdedikasi saat kau bekerja. Tapi tentu ada syaratnya."
"Syarat?" Jantung Ramon tiba-tiba seolah terpacu lebih kuat. Ia merasa aliran darahnya semakin cepat. Mungkinkah ia akan dapat meraih kesempatan itu sekarang. "Apapun syaratnya, Nona, saya akan bekerja keras memenuhinya."
"Ini mudah. Kau hanya harus melewati beberapa tes. Tapi satu hal yang harus kau ketahui, jika kau gagal melewati tes itu, maka kau tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk ke-dua kalinya. Bagaimana?"
Mendengar persyaratan itu Ramon jadi agak tertekan. Perihal tes itu sendiri ia belum tahu tapi ia sudah mendapat peringatan. Ditambah lagi, meski Anne-Marie mengatakan itu mudah, tapi entah kenapa Ramon punya dugaan bahwa itu tidak akan mudah sama sekali. Apakah ia mampu, batin Ramon. Tapi kesempatan ini sudah di depan mata. "Baik, Nona. Saya akan berusaha keras melewati tes itu." Lelaki itu bertekad.
"Bagus. Aku akan memberitahumu mengenai tes itu besok. Kau harus siap kapanpun aku memanggilmu."
Tanpa Ramon ketahui, tes yang Anne-Marie maksud sebenarnya sudah dimulai pada saat itu juga. Dan lelaki kekar itu baru saja melewati tes pertama.
**
Jarak yang memisahkan dan rindu yang tak berujung perjumpaan barangkali adalah dua hal yang menyakitkan bagi orang-orang yang saling mengasihi. Keinginan untuk selalu bersama mesti tertahan keadaan yang tak memungkinkan. Bertahun-tahun Ramon mengalami hal tersebut.
Semenjak ia menjadi bodyguard Tuan Handoyo dulu, ia hanya bisa pulang menemui ibunya yang sudah tua dan putri kecilnya di kampung paling banyak tiga kali dalam setahun. Tapi selama tiga tahun terakhir ia terpaksa tidak bisa pulang karena harus menjalani masa tahanan. Sekarang, saat ia telah dibebaskan, ia masih harus menunggu beberapa waktu lagi sampai ia cukup mengumpulkan uang dan membenahi diri.
Malam itu Ramon berniat membeli pulsa supaya bisa menelepon ibunya. Beberapa hari lalu ia telah menerima gaji pertamanya dan ponsel tuanya yang rusak sudah diperbaiki. Rasanya ia tak sabar ingin segera mendengar suara ibunya yang menenangkan juga ocehan ceria putri kecilnya, Bonnie.
Ramon berjalan santai menyusuri trotoar sambil menikmati udara malam yang lumayan dingin. Setelah melewati jalanan menurun dan menjumpai perempatan, ia berbelok ke kiri. Tak jauh setelahnya ada sebuah minimarket. Ramon berniat membeli pulsa di sana.
Seperti de javu, ia melihat seseorang yang ia kenal di masa lalu. Juga sosok yang ia lihat saat ikut mengantar bunga bersama Saka ke salah satu restoran beberapa waktu lalu. Ternyata itu bukan imajinasinya saja.
Ia tak mungkin melupakan wajah gadis itu. Bahkan selama ia menjalani hari-harinya di tahanan, perasaan bersalah masih membayangi hatinya. Sosok itu kini berdiri mematung di hadapannya, seperti halnya Ramon yang terpaku dan serasa tidak bisa bergerak. Sepertinya, gadis itu mengenali dirinya.
"Ramon?" Gadis itu bertanya lirih. Ekspresinya berubah. Sekilas nampak senyuman di bibir merah muda gadis itu, seperti ilusi.
"Nona Sophia?" Meski Ramon yakin dengan ingatannya, rasanya ia masih perlu memastikan benarkah gadis itu adalah Sophia dari masa lalunya. Tiga tahun telah berlalu dan sosoknya kini terlihat semakin dewasa.
"Ya, ini aku. Bagaimana kabarmu? Apa kau sekarang menetap di kota ini?"
Ramon merasakan sedikit keanehan. Hal pertama yang ditanyakan Sophia adalah bagaimana kabarnya, bukan perihal keluarnya ia dari penjara. Ditambah lagi ekspresi lembut dan ketulusan dari wajah gadis itu. Ramon tiba-tiba merasakan kehangatan dalam hatinya.
"Oh, bagaimana kalau aku mentraktirmu kopi dan kita bisa mengobrol sebentar. Atau kau sedang terburu-buru?" Tanya Sophia lagi.
"Tidak, tidak juga. Saya hanya ingin membeli pulsa. Tidak masalah untuk mengobrol sebentar." Jawab Ramon. Dalam hati lelaki itu meminta maaf pada ibu dan putrinya. Ia tidak mungkin menolak Sophia saat ini.
"Kalau begitu, apa tidak apa-apa kita beli kopi dari minimarket ini saja?"
"Tentu. Tidak masalah."
Minimarket itu memiliki mesin kopi dan mereka memesan dua espresso dalam gelas kertas. Keduanya lalu duduk di kursi yang terdapat di teras minimarket tersebut. Tak disangka, perlahan kecanggungan yang ada pun menghilang. Mereka berbincang ringan tentang beberapa hal layaknya dua orang kenalan lama yang baru bertemu setelah sekian waktu. Ramon juga tak mengira bahwa Sophia akan ingat pada putrinya, Bonnie, dan menanyakan perkembangan kesehatannya. Sementara itu, Sophia juga tak segan menceritakan sekilas tentang kehidupannya dalam tiga tahun terakhir.
"Jadi, kapan buku baru Anda diterbitkan? Apakah launching-nya akan diadakan di kota ini?" Tanya Ramon.
"Kami masih memilih tanggal, tapi mungkin itu sekitar seminggu dari sekarang. Launching-nya akan diadakan di kota ini, aku akan mengirimkan undangannya nanti. Anne-Marie juga sudah berjanji padaku akan datang. Oh ya Tuhan, aku tidak menyangka kau akan bekerja di Anne-Marie Florist. Sebenarnya aku cukup sering datang ke sana. Hanya saja belakangan ini aku sibuk dengan urusan penerbit."
Sungguh takdir memang penuh dengan rahasia. Siapa sangka ternyata Sophia bersahabat dengan Anne-Marie. Mau tak mau Ramon memikirkan ketika suatu hari nanti majikannya itu mengetahui masa lalunya. Meski Sophia terlihat dapat menerima dirinya dengan baik, bagaimana dengan Anne-Marie? Ramon menghela nafas panjang.
**