Part 9

1671 Kata
Di hari berikutnya setelah florist tutup, Anne-Marie kembali memanggil Ramon. Saka pun dibuat penasaran jadinya. Tapi ia tidak berani jika harus menguping pembicaraan mereka. Maka, ia hanya bisa menunggu untuk bertanya pada Ramon nanti. Sementara itu di dalam ruang kantor Anne-Marie, Ramon menatap selembar uang seratus ribuan yang baru saja disodorkan padanya. Keningnya mengernyit mencoba menerka apa maksud dari hal tersebut. Tapi untungnya, Anne-Marie segera menjelaskan. "Besok buatkan satu hidangan untuk makan siang yang kau rasa akan membuat seseorang seperti nenekku bisa bernostalgia tentang masa lalu senilai seratus ribu. Besok pagi kau dibebastugaskan sehingga bisa pergi untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Apa kau mengerti?" "Saya mengerti, Nona." Petunjuk yang diberikan sekilas terdengar cukup sederhana, hidangan yang bisa membuat orang bernostalgia dengan masa lalu. Tapi untuk memutuskan jenis hidangan yang tepat, Ramon perlu memikirkannya masak-masak. Di malam hari, ia jadi susah tidur, membolak-balikkan badan dengan gelisah. "Bang Ramon.." Saka memanggil. Meski mereka tidur di ranjang terpisah, tapi malam yang sunyi membuat suara sekecil apapun terdengar lebih keras. "Oh, apa saya mengganggumu?" Tanya Ramon dengan rasa bersalah. "Tidak. Hanya saja saya penasaran. Kalau boleh tahu, kenapa Nona Anne-Marie selalu memanggil Abang dua hari ini?" "Oh, itu... " Akhirnya, Ramon menceritakan pada Saka semuanya, tentang niat awalnya bekerja di Pawon Ageng, tes yang harus ia lalui untuk membuktikan bahwa dirinya cukup layak bekerja di dapur restoran tersebut, hingga tentang apa yang harus ia masak besok. Mereka lalu bercerita mengenai beberapa hal lain. Hingga tiba-tiba Ramon bertanya pada Saka di pasar mana ia bisa mendapatkan ikan segar di kota itu. Ia lalu mendapat rekomendasi Saka untuk belanja di Pasar Wage saja karena ia ingat almarhum ibunya dulu selalu belanja di sana. Mereka terus mengobrol hingga tak tahu pukul berapa pada akhirnya keduanya tertidur. Keesokan harinya, Ramon bangun pagi-pagi sekali untuk membuat sarapan dan setelahnya langsung pergi ke pasar, membeli bahan-bahan yang ia butuhkan. Beruntung karena masih pagi dan pasar juga masih sepi pembeli, ia bisa menjelajah untuk mendapatkan bahan segar yang sesuai kriterianya. Maka, tak butuh waktu lama bagi Ramon untuk berbelanja. Pulang dari pasar, ia langsung membersihkan ikan, menyiapkan bumbu-bumbu, dan yang lainnya. Ia akan mulai masak nanti menjelang jam makan siang. Satu hal di luar rencana, Ramon juga berniat membuat satu hidangan penutup. Ide itu muncul begitu saja karena ketidaksengajaan. Saat berbelanja tadi, ia melewati kios jajanan pasar dan melihat tape ketan hijau. Seketika itu juga, ia terpikirkan untuk membuat puding manuk nom yang legendaris. Note: Puding Manuk Nom adalah puding kukus khas Keraton Yogyakarta yang konon menjadi kegemaran para sultan. Bahan utamanya adalah tape ketan hijau dan uniknya disajikan dengan emping sebagai pelengkap. Setelah selesai menyiapkan dan menyimpan bahan-bahan untuk hidangan utama, Ramon pun mulai membuat puding terlebih dahulu. Ia mengocok tiga butir kuning telur dan satu putih telur lalu menambahkan s**u segar, gula pasir, vanili, dan tape ketan hijau kemudian mengaduknya hingga tercampur sempurna. Setelahnya, ia menuangkan adonan tersebut ke dalam pinggan tahan panas yang telah diolesi margarin terlebih dahulu dan mengukusnya hingga matang. Sambil menunggu puding matang, Ramon menggoreng emping melinjo untuk bahan pelengkap. ** Anne-Marie menatap laki-laki yang duduk di hadapannya dengan penuh tanda tanya. Mulutnya masih belum berhenti mengunyah makanan yang baru saja disajikan beberapa saat lalu. Dahinya mengernyit. Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya. Ia lalu menunduk menatap ke arah mangkuk yang berisi mangut ikan pari. Pedas dan wangi khas dari cabai hijau, segar dari kencur dan komposisi rempah lainnya sangat pas. Ia cukup terkejut karena rasa dari hidangan itu hampir sama persis dengan mangut ikan pari masakan neneknya, yang membedakan hanya aroma asap pada daging ikan parinya. Anne-Marie tahu betul, neneknya selalu menggunakan resep turun-temurun yang berbeda dari resep yang diketahui masyarakat umum. Tapi kenapa Ramon dapat memasak hidangan dengan rasa semirip ini, bahkan hampir tidak dapat dibedakan di suapan pertama. "Dari mana kau mempelajari resep mangut ikan pari ini?" Anne-Marie bertanya dengan nada tegas. Ramon tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia tidak menyangka Anne-Marie akan menanyakannya. Ia tentu tidak bisa menjawab karena itu artinya masa lalunya akan terungkap. Sedangkan ia sampai saat ini merasa belum siap untuk mengungkapkan semuanya. Ia takut, tentu saja. Ia khawatir jika Anne-Marie tahu apa yang ia alami beberapa tahun lalu, maka wanita itu akan membencinya. Bahkan bisa jadi ia akan dipecat, diusir, dan yang pasti ia gagal untuk memenuhi janjinya pada orang dari masa lalunya, seseorang yang telah mengajarinya memasak dan memberikan resep-resep rahasianya. "Kenapa kau diam saja, Ramon? Dari mana kau mempelajari resep ini? Aku penasaran kenapa rasanya bisa begitu mirip dengan masakan nenek, sementara nenek selalu menggunakan resep turun-temurun keluarga yang sangat dijaga kerahasiaannya." Anne-Marie tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi neneknya nanti begitu mencicipi mangut ikan pari ini. Mungkin bukan hanya akan membuat nenek bernostalgia tapi juga bertanya-tanya seperti dirinya bagaimana rasa itu begitu mirip. Sementara Ramon semakin dibuat bingung setelah mendengar penuturan Anne-Marie tersebut. Ia hanya mengikuti resep yang diberikan 'orang itu' dan ia tidak pernah terpikirkan untuk bertanya dari mana orang itu mendapatkannya, dan bagaimana bisa masakan dari resep itu rasanya mirip dengan masakan dari resep Nyonya Laksmi ia sama sekali tidak dapat menerka jawabannya. "Apa itu rahasia? Baiklah, lupakan saja pertanyaanku itu. Yang penting adalah kau memang benar-benar berbakat dan itu tidak boleh disia-siakan. Dengan ini, aku rasa ada kemungkinan kau bisa bekerja di dapur Pawon Ageng. Aku akan menunjukkan hidangan ini supaya nenek bisa mencicipi dan menilainya. Setelah itu kita lihat apa kata beliau. Jangan khawatir, aku akan membantumu bicara dengan nenek dan meyakinkannya." "Apa Anda serius, Nona? Ma..maksud saya, ini mengejutkan. Saya memang berharap bisa bekerja di sana. Tapi saya tidak punya latar belakang pendidikan kuliner." "Tapi kau bisa memasak. Bukan sekedar memasak, rasa dari masakanmu ini luar biasa, Ramon. Asal kau tahu, di dunia ini ada orang yang menjadi ahli karena kerja keras, tapi ada pula yang terlahir dengan bakat. Aku rasa kau adalah tipe kedua. Memang bakat saja tidak akan cukup. Tapi aku yakin dengan sedikit bimbingan, kau bisa menjadi ahli." Senyum mengembang di bibir Ramon. Tapi ia segera menunduk untuk menyembunyikannya. Benarkah ia memang seberbakat itu, benarkah kesempatan itu layak ia dapatkan, batinnya bertanya-tanya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Diangkatnya kepalanya dan ia arahkan pandangan matanya tepat ke iris hijau Anne-Marie. "Selama ini saya hanya melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diperintahkan. Saya terbiasa untuk patuh tanpa mencoba mempertanyakan apalagi membantahnya. Saat itu saya pikir memang itulah jalan takdir yang harus saya tempuh. Lalu, seseorang berkata bahwa manusia yang tidak punya kehendak atas dirinya sesungguhnya ia telah mati meski masih hidup. Orang itulah yang telah mengajari saya banyak hal, tak hanya memasak tapi juga bagaimana hidup sesungguhnya." "Jadi, orang itu juga yang telah memberimu resep mangut ikan pari ini?" "Benar. Tapi, saya tidak dapat mengatakan siapa orang itu. Setidaknya, tidak saat ini, mungkin suatu hari nanti. Maafkan saya, Nona." Anne-Marie tersenyum. Ia sadar dan tak menanyakan lebih lanjut mengenai orang itu. Ia yakin Ramon pasti punya alasan tertentu. Meski ada sebersit rasa curiga, tapi ia berusaha membuangnya jauh-jauh. Mungkin saja hanya kebetulan semata rasa masakan itu mirip. Atau, ia berpikir bisa menyelidikinya nanti. Sementara itu Ramon merasa lebih lega sekarang. Meski ia masih harus menyimpan sebagian informasi yang belum dapat ia kemukakan, setidaknya ia tidak berbohong pada Anne-Marie. Ia sudah berkomitmen pada dirinya sendiri bahwa ia akan hidup dengan lebih baik. Karena itulah ia berusaha untuk tidak membiarkan dirinya melakukan kesalahan sekecil apapun itu, termasuk berbohong. "Tidak masalah. Kita bisa membahas hal itu lain kali. Baiklah, sekarang kau bisa siapkan hidangan ini dalam kotak makan yang aku bawa." "Baik, Nona." Ramon meraih kotak makan tahan panas di meja yang sebelumnya di siapkan Anne-Marie dan dengan cekatan menyendok mangut ikan pari dari wajan. Setelah itu, ia teringat dengan puding yang telah ia buat. Ia berkata, "Nona, sebenarnya saya juga membuat makanan penutup. Apa Anda ingin mencicipinya dulu?" "Makanan penutup? Apa yang kau buat?" Tanya Anne-Marie penasaran. "Itu.. puding manuk nom, Nona." "Sungguh?" Anne-Marie agak terkejut mendengar Ramon menyebutkan puding manuk nom. "Langsung masukkan saja dalam wadah, aku akan memakannya bersama nenek." Puding manuk nom adalah salah satu dessert favorit Anne-Marie. Meski ia pertama kali mengenalnya setelah ia tinggal di Purwokerto dengan sang nenek, tapi rasa unik puding itu berhasil menggeser posisi dessert-dessert favorit lain yang sebelumnya sudah biasa Anne-Marie nikmati sejak kecil. Makanan penutup itu memang cukup mudah dibuat. Tapi rasanya akan sangat bergantung pada tape ketan hijau yang menjadi bahan utamanya. Dan butuh ketelitian tersendiri untuk dapat membuat tape ketan dengan tekstur dan rasa yang sesuai. Anne-Marie yakin Ramon tidak membuat tape ketan itu sendiri karena perlu waktu dua hingga tiga hari untuk proses fermentasinya. Satu-satunya kemungkinan adalah ia membeli tape itu. Sayang sekali, pikir Anne-Marie. ** Di waktu yang sama di tempat berbeda, hanya beberapa kilometer jauhnya dari Anne-Marie Florist, tepatnya di Stasiun Purwokerto, Satria baru saja turun dari kereta. Mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku dan kacamata hitam, lelaki tinggi berkaki panjang itu menenteng kopernya menyusuri peron. Di antara kerumunan, ia nampak menonjol dan seketika menjadi pusat perhatian. Tepat ketika ia melewati pintu keluar, ponsel dalam genggamannya berdering. Ia pun segera mengangkat panggilan itu sambil menolehkan kepala ke arah mobil-mobil di area parkir. Setelah mendengarkan pihak di seberang telepon, ia menjawab, "Ya, aku melihatnya. R 88 ABC? Baiklah, aku jalan ke sana." Setelah menutup panggilan, Satria berjalan menuju sebuah mobil SUV mewah berwarna merah yang nampak mencolok di antara mobil-mobil lainnya. Dalam hati ia mengumpat pada adik sepupunya yang terkenal badung itu, bukannya menyambutnya di luar peron atau pintu keluar sebagai wujud ramah tamah, malah dengan tidak sopannya membuat dirinya berjalan sendiri menghampiri. "Selamat datang di Kota Satria, Bang Satria. Hehe.." Kata pemuda awal dua puluhan berkulit putih di belakang kemudi begitu Satria memasuki mobil. Pemuda baby face itu menyunggingkan senyum lebar memamerkan giginya yang mengenakan behel. Satria memutar bola mata padanya mendengar ejekan yang selalu ia dengar setiap kali ia datang ke kota itu. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN