Di sebuah gubug di tengah ladang milik keluarga Bayu, tampak sepasang manusia tengah saling merapatkan tubuh dengan keadaan hampir tanpa busana. Temaram senja yang hampir menghilang di ufuk barat, semakin menyamarkan penglihatan karena minimnya cahaya.
Ladang yang ditumbuhi padi dan sayur mayur dengan luas puluhan hektar itu, tampak begitu sepi tanpa ada orang lain lagi. Seluruh buruh tani yang dipekerjakan keluarga Bayu sudah kembali ke rumah mereka sejak pukul lima sore. Situasi itu pun dimanfaatkan oleh sepasang manusia yang sedang dimabuk asmara untuk meluapkan hasrat terlarang mereka.
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar senandung selawat dari pengeras suara masjid yang menandakan waktu magrib sebentar lagi tiba. Namun, dua manusia yang telah dirasuki hawa nafsu itu justru tetap tidak beranjak dari atas balai bambu dan memilih melanjutkan kegiatan biadab di tempat yang tidak semestinya.
Ponsel yang berkali-kali berdering dan menimbulkan suara bising, seolah-olah tidak menjadi hal yang penting lagi. Dua orang tanpa ikatan pernikahan itu malah membiarkan suara gendang koplo yang dijadikan nada dering itu, terus berbunyi sebagai pengiring gerakan erotis mereka.
Peluh telah bercucuran di sekujur tubuh keduanya. Bahkan, pakaian yang sempat mereka kenakan pun sudah tanggal seluruhnya. Sudah tidak ada lagi sehelai benang yang membalut tubuh basah mereka, sehingga udara dingin petang itu, bisa dengan mudah membuat bulu-bulu roma berdiri kembali.
"Angkat dulu teleponnya, Bang. Siapa tahu penting." Wirna mencoba memberitahu meskipun suaranya tercekat di ujung bibir yang sedang dilumat.
"Ah, biarin aja. Paling nanyain soal Ki Mutar." Beno menjawab dengan suara tersengal-sengal dan tanpa menghentikan tempo gerakannya di atas tubuh mulus Wirna—janda kampung sebelah yang sudah beberapa bulan terakhir memiliki hubungan dekat dengannya.
Wirna merupakan salah satu pekerjaan perkebunan milik mertua Beno. Kedatangannya yang hampir setiap hari ke kebun, tanpa sadar menimbulkan ketertarikan lelaki berusia tiga puluh delapan tahun itu yang juga bertugas mengontrol keluar masuk logistik di sana.
Suami Haya itu juga dipekerjakan oleh mertuanya di ladang selepas ia keluar dari pabrik tempatnya bekerja dulu karena terkena PHK. Beno yang tidak punya pilihan lain pun menyanggupi tawaran mertuanya, meskipun pekerjaannya terbilang buruh kasar, yakni membantu mengangkut hasil panen ke dalam mobil pick up dan mencatat hasil laporan pengirimannya.
"Gak apa-apa lah, Bang. Daripada Abang ngojek seharian dan hasilnya gak tentu, mending kerja di ladang Bapak saja," ucap Haya kala itu, berusaha meyakinkan suaminya yang merasa sedikit malu karena bekerja di tempat mertua sendiri.
Tak ada pilihan lain membuat Beno menerima pekerjaan itu demi menutupi utang-utang warung yang sudah menumpuk. Saat ini, merupakan tahun ketiga ia bekerja di sana. Dan siapa sangka, ternyata Beno malah memanfaatkan posisinya untuk mencuri-curi pandang ke beberapa gadis atau wanita yang tidak bersuami. Dan saat laki-laki itu bertemu dengan Wirna, janda satu anak itu langsung menanggapinya dan mereka pun sama-sama bersedia menjalin kasih secara sembunyi-sembunyi tiap kali ada kesempatan.
Setelah segalanya tersalurkan, dua insan itu pun dengan cepat mengenakan kembali pakaian mereka dan merapikan tempat agar tampak seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Rambut Wirna yang sempat terurai acak-acakan itu, kembali ia gulung dan diikat dengan tali rambut, kemudian ia tutupi kembali dengan tudung.
Hari sudah hampir gelap. Tanpa berpamitan lagi, Wirna langsung buru-buru pergi meninggalkan Beno sendirian di gubuk. Wanita itu tidak ingin putra semata wayangnya mencari-carinya. Lagi pun, ia harus segera menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum kedua mertuanya kembali dari berdagang.
Beno yang masih sibuk mengancingkan baju, kembali dikejutkan dengan dering ponsel di sampingnya. Lekas ia raih benda persegi panjang itu, lalu menjawab panggilan sambil berusaha mengatur napas.
"Abang ke mana aja, Ibu sudah kesakitan di rumah." Suara Bayu—adik iparnya, langsung saja memekik gendang telinga.
"Ya—ya. Abang tadi lagi di jalan, jadi gak tahu kalau ada telepon."
"Terus. Sekarang, Abang di mana? Kami semua nunggu Abang dan Ki Mutar."
Mendengar pertanyaan saudara iparnya itu, Beno mendadak kebingungan. Pasalnya, ia sama sekali tidak pergi atau menghubungi Ki Mutar. Melihat Wirna sendirian di gubuk tadi, membuat Beno lupa akan niat awal dan memilih menghabiskan waktu bersama janda seksi itu.
"Em ... anu, Bay. Abang sudah ke rumah Ki Mutar tadi, tapi dia gak ada, lagi ada urusan katanya." Beno terpaksa berbohong, daripada dicurigai macam-macam oleh keluarga istrinya.
"Aduh, Abang! Kenapa gak langsung kasih tahu Kami? Kami udah nunggu lama-lama. Ibu udah kesakitan, Bang." Suara Bayu terdengar meninggi.
"I-iya. Abang minta maaf. Kalau sudah seperti ini, biar Ibu langsung dibawa ke rumah sakit saja supaya cepat dapat perawatan. Menunggu Ki Mukhtar pun, itu tidak pasti kapan dia selesai dengan urusannya." Beno kembali berdalih. Ia sudah tidak punya alasan lain lagi untuk menutupi perbuatannya.
"Ya sudah, aku sama Mbak Haya bawa Ibu ke rumah sakit sekarang."
Panggilan pun terputus sebelum Beno sempat bertanya ke rumah sakit mana mereka akan membawa ibu mertuanya. Tak mau ambil pusing, Beno akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah kontrakannya. Wajah berkeringatnya tampak semringah setelah berhasil menyalurkan peluh pada wanita yang berhasil memuaskannya.
Perihal kondisi ibu mertuanya, Beno sebenarnya sama sekali tidak peduli.
Di tempat lain, Bayu dan Haya dengan sigap memapah ibu mereka menuju mobil yang sudah lebih dahulu dikeluarkan oleh Bayu dari garasi. Keduanya pun beranjak menuju rumah sakit tepat di waktu azan magrib berkumandang.
Sementara itu, Hafsah dan putrinya tinggal di rumah ditemani Bu Nilam, tetangga sekaligus pengasuh Lala yang sudah mereka anggap seperti keluarga. Lala yang terus berceloteh tentang sosok berbaju putih, membuat Hafsah sedikit ketakutan dan memutuskan untuk mengajak Bu Nilam menginap di rumahnya semalaman.
Tak sulit bagi Hafsah mengajak wanita setengah baya itu untuk menginap. Sebab, Bu Nilam tidak memiliki anak dan sering ditinggal suaminya ke luar kota, jadi tidak ada yang perlu ia urusi wanita itu di rumahnya.
***
Di dalam perjalanan, Bayu terus memperhatikan ke arah spion belakang, tepat ibu dan kakaknya duduk. Suara ibunya yang terus menjerit-jerit kesakitan, membuat pemuda itu semakin panik, dan menaikkan kecepatan laju kendaraannya.
Tak ada yang bisa Haya lakukan selain mengusapi keringat di kepala ibunya. Wanita bertubuh mungil itu tak kalah khawatirnya setiap kali melihat keadaan perut ibunya yang semakin membesar.
"Bay, cepat, Bay. Perut Ibu sudah makin membesar. Mbak takut!" titah Haya pada adiknya.
"Iya, Mbak. Ini udah kenceng banget." Bayu menyahut sambil memperhatikan spion atas.
Namun, hampir saja pemuda itu hilang kendali ketika penglihatannya menangkap sesuatu yang janggal dari kaca spion. Sepasang tangan berwarna putih pucat, muncul dari arah bangku barisan belakang yang posisinya tepat berada di tengah-tengah ibu dan kakaknya.
Tanpa sadar, mobil yang dikendarai Bayu ternyata melaju di jalur tengah karena pengendaranya tidak fokus. Sebuah mobil truk tanah dari arah berlawanan terus membunyikan klakson. Bayu terkesiap, dibelokkannya setir ke arah kiri sembari menginjak rem.
Avanza hitam yang dikendarai Bayu mendadak oleng. Pemuda itu pun bersusah payah mengendalikan setir agar tidak sampai membuang diri ke ruas jalan yang penuh dengan pepohonan. Haya berteriak sambil memeluk ibunya. Ketiganya sudah pasrah jika sampai mobil mereka tergelincir, dan menabrak salah satu pohon besar di sisi jalan.