bc

Petaka Tanah Sengketa

book_age18+
93
IKUTI
1K
BACA
dark
tragedy
mystery
ghost
detective
secrets
horror
multiple personality
affair
brothers
like
intro-logo
Uraian

Kehidupan Bayu dan keluarganya mendadak berubah setelah kedua orang tua mereka meninggal secara tidak wajar.

Ibu dan ayah Bayu meninggal dengan jarak yang berdekatan, pun dengan cara yang hampir sama yaitu sakit dengan perut yang membesar seperti bola.

para tetangga sekitar pun berasumsi bahwa kedua orang tua Bayu meninggal karena guna-guna. Namun, sebagai seseorang yang berpendidikan, Bayu tidak lantas mempercayainya.

sampai pada saat Hafsah, kakak kedua Bayu, sering mengalami teror gaib yang hampir mengancam nyawanya beberapa hari setelah sang ibu meninggal dunia.

sejak saat itu, Bayu merasa ada yang janggal atas kematian kedua orang tua, serta teror gaib yang menimpa keluarganya.

Bayu mulai curiga. Rentetan kejadian di luar nalar yang terjadi pada keluarga Bayu penyebabnya tak lain adalah ulah seseorang di antara mereka yang sedang memperebutkan tanah sengketa.

chap-preview
Pratinjau gratis
Guna-guna
Kepalan tangan Bayu mungkin sudah mendarat di kepala seorang pria kalau saja dirinya tidak ingat dengan keadaan ibunya di rumah. Petang itu, ketika Bayu sedang tergesa-gesa mengendarai sepeda motornya, tiba-tiba dua orang preman berbadan tegap dengan sengaja berdiri menghalangi jalan sembari menengadah tangan. "Lo semua inget, ya! Gue sama sekali gak takut sama ancaman kalian!" tegas Bayu yang berada tepat di atas salah satu preman yang sudah babak belur terkena hantaman sepatu safety-nya. Di tengah jalan, tepat di depan pasar tradisional, Bayu diancam oleh dua orang preman yang tak segan-segan ingin membunuhnya jika ia tidak memberikan sejumlah uang. Tentu saja Bayu menolak. Dengan setengah sadar, ia menyerang kedua orang itu dengan tendangan bertubi-tubi. Bayu pikir, kehadiran mereka hanya akan memperlambat waktunya saja untuk bisa cepat sampai ke rumah. Salah satu preman bahkan sudah kabur terlebih dahulu meninggalkan rekannya tanpa setia kawan. Bayu kenal betul dengan dua laki-laki berkulit legam itu. Mereka adalah salah dua di antara puluhan pengedar barang terlarang yang dahulu sering Bayu temui. "Sial!" pekik Bayu seraya menelan ludah, saat menyadari cengkraman tangannya terlepas begitu saja. Preman yang hampir tak berkutik tadi ternyata berhasil melepaskan diri, dan lari menyusul temannya yang sudah lebih dulu pergi. Tanpa membuang-buang waktu, Bayu lekas berdiri dan menyalakan kendaraannya. Tak peduli orang-orang masih ramai menonton dengan wajah heran mengelilingi jalan. Mungkin orang-orang itu berpikir, bahwa pemuda seperti Bayu berani-beraninya melawan dua preman yang sangat disegani di wilayah itu. Bayu tidak sedikit pun menampik keadaan di sekitar. Dua orang berbadan tegap yang baru saja berurusan dengannya memang bukanlah orang sembarangan. Bayu kenal betul siapa mereka. Oleh sebab itu, pemuda itu tidak mau lagi berurusan dengan apa pun yang berkaitan dengan barang haram. Ia sudah bertaubat. Enam bulan menjalani proses rehabilitasi rupanya mampu menjauhkan Bayu dari pengaruh obat-obatan terlarang itu. Bayu dengan cepat menarik gas, tidak peduli banyak warga di jalan masih mengelilinginya hingga mereka tersaruk-saruk demi berupaya menghindar. Suara sang ibu yang memintanya pulang via telepon, terus terngiang-ngiang di telinganya sehingga memecah konsentrasi pemuda bertubuh tinggi kekar itu. "Nak, pulang, Nak! Ibu udah gak kuat!" Suara itu, suara yang Bayu dengar sebelum panggilan terputus, berhasil membuat pemuda itu memutar arah dan memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Padahal saat itu, kondisi kesehatannya sedikit menurun setelah seharian bekerja. Akan tetapi, pemuda itu tidak sama sekali menggubris rasa lelah, demi bisa pulang menengok sang ibu secepatnya. Perjalanan dari Jakarta Timur menuju Bekasi Utara, berhasil pemuda itu tempuh selama kurang lebih satu jam. Padahal biasanya, perjalanan bisa memakan waktu lebih lama mengingat kondisi jalan ibukota yang selalu diwarnai kemacetan di jam-jam segitu. Bayu memacu motor 4 tak miliknya dengan kecepatan penuh. Rasa khawatir akan ibunya berhasil membuatnya hilang kendali dan berkali-kali hampir menabrak pengguna jalan lain. Untung saja Tuhan masih menyelamatkannya. Kalau tidak, mungkin yang akan kembali petang itu bukanlah Bayu, tetapi sekujur jasad yang sudah tak lagi bernyawa. Bayu langsung memarkirkan kendaraannya setelah tiba di rumah. Ia berlari menuju pintu dan segera masuk menuju ruang keluarga. Di sebuah ruangan yang lumayan besar, tampak dua kakak perempuannya tengah bersimpuh di sisi tubuh sang ibu yang tampak begitu mengkhawatirkan, dengan bagian perut yang bulat membesar, seperti ada benda asing seukuran helm di dalamnya. Bayu dengan cepat meraih tangan ibunya, lalu mengusap-usap kening agar wanita enam puluh lima tahun itu lekas menyadari kedatangannya. "Bayu." Sang Ibu bergumam lirih sesaat setelah membuka mata. Dengan sigap, Bayu memeluk ibunya yang kembali terisak dan berteriak-teriak kesakitan. "Istighfar, Bu. Istighfar!" ucap Hafsah—kakak kedua Bayu yang juga tak kalah histeris. Bayu yang baru saja tiba pun terlihat panik. Melihat kondisi sang ibu yang sudah seperti itu, mengingatkannya pada sang ayah yang baru saja meninggal satu bulan yang lalu. Keadaan keduanya sama persis. Saat itu, ayah Bayu meninggal sesaat setelah perutnya tiba-tiba membesar, lalu mengempis kembali ketika darah tidak berhenti keluar dari mulut lelaki paruh baya itu. Dan sekarang, sang ibu justru mengalami hal serupa. Perutnya tiba-tiba membengkak, dan ia terus saja berteriak kesakitan. "Ayo, kita bawa Ibu ke rumah sakit!" titah pemuda itu pada kedua kakaknya yang hanya bisa menangis tanpa berani mengambil keputusan. "Apa katamu, ke rumah sakit?" Haya, kakak sulung Bayu, tampak tak setuju. Sejak kecil hingga dewasa, Haya memang tidak pernah sekali pun menyambangi rumah sakit maupun dokter di klinik. Wanita yang hanya mengenyam bangku pendidikan sampai kelas tiga sekolah dasar itu, lebih percaya dengan pengobatan tradisional dan ilmu perdukunan yang masih tumbuh subur di kampungnya. "Lalu, apa kita akan membiarkan Ibu sekarat seperti ini, hah?" gertak Bayu. Wajahnya sudah tampak memerah dengan rahang yang gemetar. "Ya, kita bawa Ibu ke rumah sakit saja. Bayu sudah datang, jadi kita gak usah ulur-ulur waktu lagi." Hafsah setuju dengan keputusan Bayu. Namun, ia kembali merasa tak enak saat melihat Haya melirik sinis ke arahnya. "Gak usah! Kita tunggu Ki Mutar saja! Mas Beno sedang menjemputnya. Sebentar lagi juga mereka sampai." Haya tetap pada pendiriannya. "Mau Mbak apa mengambil keputusan itu? Apa Mbak mau yang Ayah alami sebulan lalu terulang lagi sama Ibu? Kalau saja kita lebih cepat mengambil keputusan waktu itu, mungkin Ayah masih bisa tertolong dan masih berkumpul bersama kita sekarang." Bayu menatap kakak sulungnya dengan wajah nanar. "Oh, jadi kamu nyalahin Mbak?" Haya tak kalah menatap adiknya dengan wajah menantang. "Sudah jelas ini itu penyakit gaib. Dokter gak akan bisa sembuhin Ibu. Kamu harus paham, Bayu. Gak mungkin Ibu tiba-tiba seperti ini kalau tidak karena guna-guna." Haya semakin menaikkan nada bicaranya. "Sudah, jangan dilanjutkan. Kasihan Ibu." Suara Hafsah terdengar melengking dibarengi deru tangis yang semakin menjadi-jadi. Haya dan Bayu sontak diam. Keduanya tak lagi saling beradu argumen dan memilih untuk menenangkan sang ibu yang sedang menangis tersedu-sedu. Namun, di tengah kekacauan sore itu, tiba-tiba saja Lala—putri Hafsah yang baru duduk di bangku taman kanak-kanak—masuk ke dalam rumah dengan mata membeliak dan tangan kanan yang terus menunjuk ke arah mereka. "Lala, kamu kenapa, Sayang?" Hafsah langsung menengur putrinya yang tak berani mendekat, anak kecil itu terus berdiri di dekat pintu dengan wajah berkeringat. "Ibu, aku takut!" ucap bocah itu gemetar. "Takut? Takut kenapa, Nak? Sini, sama ibu!" Hafsah merentangkan tangan, berupaya agar putrinya mau datang padanya. Bukannya mendekat, Lala malah menjerit ketakutan sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Semua anggota keluarga pun terkejut, ketika bocah enam tahun itu berkata sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding. "Ibu, aku takut sama tante-tante baju putih yang berdiri di belakang Ibu." Semua mata lantas tertuju ke arah belakang Hafsah. Namun, nyatanya tidak ada siapa-siapa di sana selain celah kosong yang mengarah ke lorong menuju dapur. Hafsah segera beranjak menggendong putrinya yang menangis. Ia segera membawa Lala ke kamar agar keadaan ibunya tidak bertambah buruk mendengar perkataan Lala itu. "La, kamu tidak boleh ngomong seperti itu, Nak. Nenek sedang sakit," ucap Hafsah ketika mereka sampai di dalam kamar Lala. "Tapi, Bu. Lala beneran liat ada tante-tante. Mukanya serem, Bu. Lala takut." Lala semakin membenamkan wajah ke perut ibunya. Hafsah yang mendengar itu semakin tak bisa berkutik. Bulu kuduknya pun tak mau rebah sejak tadi. Wanita itu memang merasakan hawa lain di rumahnya, tetapi ia tidak bisa menjelaskannya pada siapa-siapa.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook