My Boss My WifeDiperbarui pada Jul 31, 2022, 19:23
"Tuhan, tolong kirimkan seorang wanita berparas cantik, putih, bersuara merdu, dan yang paling penting, berpenampilan sederhana. Aku lelah mencintai wanita yang punya standar tinggi sementara gajiku, masih di bawah standar. Jika suatu saat aku bertemu dengan wanita seperti yang kusebutkan tadi. Fix, aku akan segera menjadikannya istri," ucapku sembari membereskan beberapa paket di dalam karung.
Sudah hampir pukul delapan malam, tetapi pekerjaanku sebagai kurir, belum juga selesai. Terlebih, di tempatku berhenti saat ini, signal mendadak hilang.
"Abang!" tiba-tiba saja terdengar suara lembut memanggilku dari arah belakang.
Bulu kudukku langsung berdiri. Sebab sejak tadi, aku tidak melihat ada siapa pun yang lewat di sekitar jembatan ini.
"Dipanggil Abang, kok, gak nengok? Memangnya mau dipanggil apa, Sayang? Hihihi ...."
Mendengar lengkingan tawanya, sekujur tubuhku mendadak gemetar. Seandainya yang kualami ini hanyalah sebuah bab dalam novel horor, pasti segera aku skip dan langsung melompat ke ending.
"Si-siapa kamu?" tanyaku tanpa menoleh.
"Aku? Aku adalah seseorang yang kau sebut dalam doa. Wekawekaweka." Kuntilanak itu tertawa.
Aku refleks menoleh demi memastikan itu kuntilanak atau bukan. Sedikit tidak yakin karena masih terlalu sore bagi mereka untuk keluar kandang.
"Astagfirullah!" Setelah menengok, aku refleks menutup mata.
"Kenape, Bang? Muka Aye serem, ye?"
"Bukaan! Itu, dasternya kesingkap. Nyangkut di ranting pohon," kataku masih tidak mau membuka mata.
"Haaa? Daleman Aye ... Huaaa!"
Kudengar suara seperti sesuatu terbang. Keberanian diri mengintip dari celah jari untuk memastikan makhluk itu masih ada atau tidak. Ternyata, kuntilanak itu sudah tidak lagi terlihat, mungkin dia bakalan pindah planet karena kena mental.
Lagian, siapa suruh kagak pake leging?
Saat aku sibuk menggerutu, tiba-tiba ponselku berdering keras. Jantungku langsung jedag-jedug. Pasti Emak yang telepon minta beliin obat asam urat lagi. Aaargh! Belum selesai anter barang, ini udah ada kerjaan lagi.
"Halo, iya, Mak!" Kuangkat telepon cepat-cepat sebelum Emak darah tingginya kumat.
"Ki, entar pulang mampir ke Indoapril, ya!"
Hmmm .... sudah kuduga.
"Iya. Mau dibeliin apa, Mak?" tanyaku.
"Beliin Emak masker. Besok, Emak mau arisan di Ceu Titin. Biar muka Emak kelihatan cantik."
"Hadeuh!" Aku memutar bola mata ke atas.
"Iya-iya. Entar dibeliin," kataku dibarengi suara panggilan terputus.