Cerita Oleh Adita Kurniasih Puri
author-avatar

Adita Kurniasih Puri

TENTANGquote
penyuka horor, penulis 5 novel cetak dan belasan antologi di beberapa penerbit. Ibu tiga anak yang saat ini menetap di Bekasi Utara. Jejaknya dapat dilihat di akun FB Adita Kurniasih Puri
bc
Silent Love
Diperbarui pada Dec 7, 2022, 06:44
"Ki-kita keluar sekarang, yuk! Nanti guru nyariin kita," ucap Dinda dengan napas tergesa-gesa.   Bukan mengiyakan ajakan, Ryan justru makin memangkas jarak, hingga dua ujung hidup mereka hampir bersentuhan. Dua tangan pemuda itu menggenggam bahu Dinda kuat-kuat, membuat gadis bertubuh mungil itu tak mampu menolak.   Dinda dapat merasakan hangatnya napas yang saling bertemu di ujung dagu. Pemuda itu menatapnya dalam, tetapi Dinda justru memalingkan wajah hingga sebuah sentuhan lembut mendarat di pipinya.   "Maaf!" ucap pemuda itu sambil menjauh.   "Untuk apa?"   "Aku gak minta izin lagi."   "Gak perlu." Dinda menunduk. Wajahnya merah padam dengan binar mata yang tampak berkaca-kaca. "Kenapa semua ini terjadi di waktu-waktu terakhir kita bersama, Ryan?" Gemetar, gadis itu mengatakannya.   "Entah. Mungkin keputusanmu benar, menjaga jarak adalah pilihan yang terbaik. Setidaknya, kita bisa lebih fokus belajar dibanding sibuk bermesraan seperti ini." Ryan terkekeh, sambil melipat tangannya di depan dada.   "RYAN!" Dinda berteriak kencang.   Dengan sigap, pemuda itu langsung menutup mulut Dinda sambil ekor mata menilik ke arah pintu. "Jangan berisik! Kalau ada yang dengar, aku bisa disangka habis  ngapa-ngapain kamu." Telunjuk Ryan berhasil mengatup bibir mungil Dinda. Sejurus kemudian, wajah manis Dinda tak lagi tampak karena tenggelam dalam dekapan tubuh tegap pemuda di hadapannya.  
like
bc
My Boss My Wife
Diperbarui pada Jul 31, 2022, 19:23
"Tuhan, tolong kirimkan seorang wanita berparas cantik, putih, bersuara merdu, dan yang paling penting, berpenampilan sederhana. Aku lelah mencintai wanita yang punya standar tinggi sementara gajiku, masih di bawah standar. Jika suatu saat aku bertemu dengan wanita seperti yang kusebutkan tadi. Fix, aku akan segera menjadikannya istri," ucapku sembari membereskan beberapa paket di dalam karung. Sudah hampir pukul delapan malam, tetapi pekerjaanku sebagai kurir, belum juga selesai. Terlebih, di tempatku berhenti saat ini, signal mendadak hilang. "Abang!" tiba-tiba saja terdengar suara lembut memanggilku dari arah belakang. Bulu kudukku langsung berdiri. Sebab sejak tadi, aku tidak melihat ada siapa pun yang lewat di sekitar jembatan ini. "Dipanggil Abang, kok, gak nengok? Memangnya mau dipanggil apa, Sayang? Hihihi ...." Mendengar lengkingan tawanya, sekujur tubuhku mendadak gemetar. Seandainya yang kualami ini hanyalah sebuah bab dalam novel horor, pasti segera aku skip dan langsung melompat ke ending. "Si-siapa kamu?" tanyaku tanpa menoleh. "Aku? Aku adalah seseorang yang kau sebut dalam doa. Wekawekaweka." Kuntilanak itu tertawa. Aku refleks menoleh demi memastikan itu kuntilanak atau bukan. Sedikit tidak yakin karena masih terlalu sore bagi mereka untuk keluar kandang. "Astagfirullah!" Setelah menengok, aku refleks menutup mata. "Kenape, Bang? Muka Aye serem, ye?" "Bukaan! Itu, dasternya kesingkap. Nyangkut di ranting pohon," kataku masih tidak mau membuka mata. "Haaa? Daleman Aye ... Huaaa!" Kudengar suara seperti sesuatu terbang. Keberanian diri mengintip dari celah jari untuk memastikan makhluk itu masih ada atau tidak. Ternyata, kuntilanak itu sudah tidak lagi terlihat, mungkin dia bakalan pindah planet karena kena mental. Lagian, siapa suruh kagak pake leging? Saat aku sibuk menggerutu, tiba-tiba ponselku berdering keras. Jantungku langsung jedag-jedug. Pasti Emak yang telepon minta beliin obat asam urat lagi. Aaargh! Belum selesai anter barang, ini udah ada kerjaan lagi. "Halo, iya, Mak!" Kuangkat telepon cepat-cepat sebelum Emak darah tingginya kumat. "Ki, entar pulang mampir ke Indoapril, ya!" Hmmm .... sudah kuduga. "Iya. Mau dibeliin apa, Mak?" tanyaku. "Beliin Emak masker. Besok, Emak mau arisan di Ceu Titin. Biar muka Emak kelihatan cantik." "Hadeuh!" Aku memutar bola mata ke atas. "Iya-iya. Entar dibeliin," kataku dibarengi suara panggilan terputus.
like
bc
Petaka Tanah Sengketa
Diperbarui pada May 19, 2022, 08:07
Kehidupan Bayu dan keluarganya mendadak berubah setelah kedua orang tua mereka meninggal secara tidak wajar. Ibu dan ayah Bayu meninggal dengan jarak yang berdekatan, pun dengan cara yang hampir sama yaitu sakit dengan perut yang membesar seperti bola. para tetangga sekitar pun berasumsi bahwa kedua orang tua Bayu meninggal karena guna-guna. Namun, sebagai seseorang yang berpendidikan, Bayu tidak lantas mempercayainya. sampai pada saat Hafsah, kakak kedua Bayu, sering mengalami teror gaib yang hampir mengancam nyawanya beberapa hari setelah sang ibu meninggal dunia. sejak saat itu, Bayu merasa ada yang janggal atas kematian kedua orang tua, serta teror gaib yang menimpa keluarganya. Bayu mulai curiga. Rentetan kejadian di luar nalar yang terjadi pada keluarga Bayu penyebabnya tak lain adalah ulah seseorang di antara mereka yang sedang memperebutkan tanah sengketa.
like