bc

My Boss My Wife

book_age18+
9
IKUTI
1K
BACA
sex
family
pregnant
comedy
sweet
suger daddy
first love
secrets
virgin
husband
like
intro-logo
Uraian

"Tuhan, tolong kirimkan seorang wanita berparas cantik, putih, bersuara merdu, dan yang paling penting, berpenampilan sederhana. Aku lelah mencintai wanita yang punya standar tinggi sementara gajiku, masih di bawah standar. Jika suatu saat aku bertemu dengan wanita seperti yang kusebutkan tadi. Fix, aku akan segera menjadikannya istri," ucapku sembari membereskan beberapa paket di dalam karung.

Sudah hampir pukul delapan malam, tetapi pekerjaanku sebagai kurir, belum juga selesai. Terlebih, di tempatku berhenti saat ini, signal mendadak hilang.

"Abang!" tiba-tiba saja terdengar suara lembut memanggilku dari arah belakang.

Bulu kudukku langsung berdiri. Sebab sejak tadi, aku tidak melihat ada siapa pun yang lewat di sekitar jembatan ini.

"Dipanggil Abang, kok, gak nengok? Memangnya mau dipanggil apa, Sayang? Hihihi ...."

Mendengar lengkingan tawanya, sekujur tubuhku mendadak gemetar. Seandainya yang kualami ini hanyalah sebuah bab dalam novel horor, pasti segera aku skip dan langsung melompat ke ending.

"Si-siapa kamu?" tanyaku tanpa menoleh.

"Aku? Aku adalah seseorang yang kau sebut dalam doa. Wekawekaweka." Kuntilanak itu tertawa.

Aku refleks menoleh demi memastikan itu kuntilanak atau bukan. Sedikit tidak yakin karena masih terlalu sore bagi mereka untuk keluar kandang.

"Astagfirullah!" Setelah menengok, aku refleks menutup mata.

"Kenape, Bang? Muka Aye serem, ye?"

"Bukaan! Itu, dasternya kesingkap. Nyangkut di ranting pohon," kataku masih tidak mau membuka mata.

"Haaa? Daleman Aye ... Huaaa!"

Kudengar suara seperti sesuatu terbang. Keberanian diri mengintip dari celah jari untuk memastikan makhluk itu masih ada atau tidak. Ternyata, kuntilanak itu sudah tidak lagi terlihat, mungkin dia bakalan pindah planet karena kena mental.

Lagian, siapa suruh kagak pake leging?

Saat aku sibuk menggerutu, tiba-tiba ponselku berdering keras. Jantungku langsung jedag-jedug. Pasti Emak yang telepon minta beliin obat asam urat lagi. Aaargh! Belum selesai anter barang, ini udah ada kerjaan lagi.

"Halo, iya, Mak!" Kuangkat telepon cepat-cepat sebelum Emak darah tingginya kumat.

"Ki, entar pulang mampir ke Indoapril, ya!"

Hmmm .... sudah kuduga.

"Iya. Mau dibeliin apa, Mak?" tanyaku.

"Beliin Emak masker. Besok, Emak mau arisan di Ceu Titin. Biar muka Emak kelihatan cantik."

"Hadeuh!" Aku memutar bola mata ke atas.

"Iya-iya. Entar dibeliin," kataku dibarengi suara panggilan terputus.

chap-preview
Pratinjau gratis
Hari Sial Tidak Ada di Kalender
“Bang, Adek mau putus.” Tiba-tiba saja kekasihku berkata demikian sesaat setelah turun dari motor. “Loh, kenapa tiba-tiba minta putus? Abang salah apa?” Seperti ditagih hutang saat sedang bokek-bokeknya, aku kelimpungan tanpa tahu harus berbuat apa. “Apa Abang kurang tampan, kurang seksi, kurang tekanan?” tanyaku memelas. Adelia, gadis 22 tahun itu malah memilih membuang muka. Jelas saja aku panik saat tiba-tiba Adelia meminta putus. Tak ada hujan, tak ada angin, dengan begitu mudahnya ia mengakhiri hubungan yang baru seumur jagung ini. Padahal selama tiga bulan menjalin hubungan, aku tidak sama sekali pernah melakukan macam-macam, cuma satu macam seingatku. Namun kenyataannya, kata-kata putus justru keluar dari mulut wanita yang kukira bahagia bersamaku. Jantungku berdenyut cepat. Sambil menatap Adelia nanar, pikiranku terus berjalan mundur. Aku berusaha keras mengingat-ingat kesalahan apa yang sudah aku perbuat sampai Dia ingin putus. Aku benar-benar tidak mengerti. Seingatku, selama kami berpacaran, aku hanya sekali melakukan kesalahan. Aku pernah lupa bawa dalaman, dalaman dompet maksudnya. Gara-gara itu, Adelia terpaksa disita 30 menit oleh pemilik warung bakso sementara aku, pulang ke rumah pinjam duit Emak. Akan tetapi, aku tidak yakin kesalahan itulah yang membuat Adelia memilih mengakhiri hubungan kami. Aku masih berusaha memasang telinga baik-baik, demi mendapatkan penjelasan yang logis dari mulut Adelia. “Abang terlalu baik buat aku,” jawab Adelia singkat. Wanita itu menunduk, seperti tak berani menatap mataku secara langsung. Deg! Detak jantungku berhenti per sekian detik setelah mendengar jawaban itu. Kakiku gemetaran turun dari motor, sampai motorku memilih mati sendiri saking setia kawannya. Mungkin motorku khawatir, getarannya malah akan menambah beban pikiranku yang sudah kacau ini. Braaak! Motorku tiba-tiba jatuh ke kanan. Saking galaunya, aku sampai lupa memasang standar. “Maafin, Tor. Terkadang, hidup memang harus selalu memakai standar agar tidak tersisih oleh alam,” ucapku sedih. Aku meraih setang motorku dan memapahnya berdiri. Enggak motornya, enggak orangnya, sama-sama ngenes. Setelah mendirikan kembali matic cokelat tua yang angsurannya tinggal sedikit, sekitar 27 bulan lagi kalau nggak salah hitung, aku pun kembali menoleh ke arah Adelia yang masih mematung memegangi slim bag merah mudanya. “Sayang, aku bisa kok, jadi begal, biar kamu senang,” ucapku seraya meraih jemari mungil Adelia. Plak! Tamparan keras tiba-tiba melayang menghantam pipiku. Pedihnya enggak seberapa, tapi malunya sampai ke usus dua belas jari. Ekor mataku sedikit menangkap tawa kecil dari ibu-ibu kompleks yang sedang berkumpul mengelilingi tukang sayur gerobak pinggir jalan dekat kami. Tangan mereka sibuk memilah sayur, tapi mata terus saja melihat ke arah kami sambil bibir melebar mirip Emak pas lagi dikasih jatah bulanan. “Seneng, ya, Bu, dapat tontonan gratis pagi-pagi,” gerutuku kesal. Kulirik Adeli lagi. Ternyata bibirnya ikut melebar menertawakanku, lalu merengut kembali setelah kepergok. “Kenapa kamu marah sama aku? Tadi kamu bilang, aku terlalu baik buat kamu. Aku bisa, Kok, jadi begal, bandit, banci, bandar judi, buronan Polisi, Badman, Barongsai, Badut Ancol. Aku bisa, Sayang. Aku bisa!” Aku masih berusaha keras membujuk Adelia, meskipun harga diriku sudah hilang entah ke mana. Mungkin sudah diamankan oleh petugas pegadaian. Adelia lagi-lagi menarik tangannya. Dapat kulihat bibir tipis berbalut lipstik merah muda itu mengerucut kurang lebih satu senti. “Aku gak mau pacaran dulu. Aku mau fokus jomlo,” jawab Adelia sambil membuang muka. “Gimana-gimana?” Aku mendekatkan telinga ke arah bibirnya. “AKU MAU FOKUS JOMLO, ABAAANG!” teriak Adelia dengan tinggi nada 7 oktaf, mengalahkan suara Mariah Carey kalau lagi nyanyi. Telingaku langsung berdenging. "Memang, jomlo itu ada ujian nasionalnya, ya, sampai kamu harus fokus?” tanyaku heran. “Pokoknya, Adek mau putus sama Abang. Titid! Eh, titik!” Adelia refleks menutup muka. Dahiku sontak mengerut, "Aneh, mulutnya yang salah sebut, tapi mukanya yang ditutup," gumamku Kali ini, tak ada yang bisa aku lakukan selain mengempaskan kentut. Bunyi kalimat terakhir yang diucapkan oleh Adelia, berhasil membuat perut bagian bawahku bergejolak. Aku keceplosan. Padahal, aku sudah berusaha setengah mati menahan ini selama di perjalanan tadi. Akhirnya, senyawa yang isinya 57 persen berupa nitrogen itu pun keluar di waktu yang tidak tepat. Mata Adelia melotot ke arahku. Lubang hidungku seketika kembang kempis. “Abaaang!” Adelia memutar telingaku kuat. “Kenapa, Dek? Bau, ya? Maaf!” Dua tanganku menangkup di depan muka. “Gak usah di-loadspeaker bisa, gak?” teriak Adelia lagi sambil melayangkan jeweran yang kedua kali. “Iya, maaf! Abang lupa silent.” Aku menimpali sambil berusaha mengencangkan ikat pinggang. Sepertinya celana jeans yang kupakai ini sedikit kendur, suara kentutku sampai sulit diredam. Biasanya kentutku enggak nge-bass kayak gini, seringnya mirip suling dangdut, ada cengkok-cengkoknya sedikit. Adelia mendorong tubuhku yang belum sempat sarapan hingga terhuyung mundur. Ia pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan dan kesan, apalagi uang bensin. Sebagai seorang laki-laki yang punya harga diri, aku hanya membalas kepergiannya dengan lambaian tangan. Meskipun kutahu, dia yang kusayang, tidak akan pernah lagi menoleh untuk membalas lambaian. “Arrgh...! Siapa saja, tolong. Aku butuh oksigen,” ucapku pelan sampai kuman-kuman di tubuhku pun tidak mendengar. Aku rapuh, benar-benar rapuh. Dengan berat hati, aku akhirnya membalikkan badan menuju matic kesayangan yang kini menjadi satu-satunya teman. Di tengah perang antara hati dan pikiran, aku memberanikan diri menerobos ramainya jalan ibukota yang seperti tampak kosong di depan mata. Gila! Aku benar-benar sudah setengah gila. Andai saja aku tidak ingat hutang di Pay later dan cicilan kredit panci Emak yang masih dua ratus ribu lagi, pasti aku akan memilih gantung diri di patung pancoran. Enggak pengen mati, si. Cuma pengen viral aja, biar jadi artis terus banyak duit. Meskipun berat, aku tetap memutuskan untuk tetap melanjutkan hidup yang mulai terasa hambar. Aku berusaha menguatkan diri di tengah rasa sakit yang sulit kujelaskan di bagian mana. Hatiku yang dipatahkan, tetapi sakitnya justru di sekujur badan. Aku merasa seperti seonggok daging tak bernyawa ketika tidak bersama Adelia. Mati, aku merasa seperti orang mati yang dihidupkan kembali. Seram, tapi tetap tampan. Seorang Eki Aprilio sudah jomblo hari ini. Mungkin aku akan mengumumkan berita penting ini ke seluruh channel pertelevisian agar para gadis +62 tahu ada kembaran Song Jong Ki yang sedang butuh sandaran. Atau mungkin, aku ikut acara take me out saja agar cepat dapat jodoh. Aku sudah membayangkan diriku tampil di TV swasta dengan gagahnya, masuk ke stage dan memperkenalkan diri di depan puluhan gadis cantik dan seksi. Hallo, Ladies! Perkenalkan, namaku Eki Aprilio, 27 tahun, seorang pegawai swasta, dan orang-orang biasa memanggilku, Bengek. Kuharap para gadis nanti tidak ikut-ikutan bengek. Sebenarnya, aku sedikit keberatan saat semua orang memanggilku dengan sebutan itu. Tapi mereka bilang, panggilan itu unik dan gampang diingat. “Bang Ek ... Bang Ek! Ah, ribet manggilnya. Udahlah, panggil Bengek aja.” Begitu kata emak-emak dekat rumah yang sering menitip paket padaku. Ya, aku yang sudah tiga tahun berprofesi sebagai kurir di salah satu ekspedisi, seringkali mendapat pekerjaan tambahan, yakni mengangkut paket ibu-ibu ganjen yang hobi banget kirim kado ke artis idolanya. Pas aku baca nama penerima paket, di sana tertulis ... Ariel Noah. Aseeem bener, Emak-emak! Udah punya anak tiga masih aja ngarepin duda. Tapi tidak masalah mereka menitipkan paket. Meskipun tidak diberi upah, setidaknya aku aman dari keusilan mereka yang senang sekali bertanya, “Bengek, kapan kawin?” “Besok, abis lebaran. Siapin aja duit kondangannya,” jawabku asal. Dan mereka pun tertawa sampai keluar api. Keselek. Gaji dan insentif yang kuterima dari pihak ekspedisi, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan bayar angsuran. Tabungan? Ada di kota amal. Boro-boro nabung, buat bayar angsuran motor aja, aku kadang sampe rela gak jajan sebulan. Sesampainya di kantor, aku berusaha menyembunyikan sedih dengan pura-pura nyengir, padahal belum gosok gigi. Kuparkirkan kendaraan dan segera menuju gudang sortir. Baru saja kakiku berjalan beberapa langkah, seluruh rekan sesama kurir, kompak menyoraki. “Woy! Jam segini baru dateng. Gak sekalian aja datengnya pas warung padang buka, biar bisa langsung makan.” Gelak tawa mereka pecah. Hatiku semakin teriris menyaksikan seluruh dunia menertawaiku. “Kayaknya ada yang habis putus.” Tiba-tiba salah seorang rekan menyeletuk. Tentu saja aku terkejut. Kenapa dia bisa tahu? Apa dia punya kaca benggala warisan Mak Lampir? “Jangan sok tahu!” Aku menyahut kesal. “Ya tahu, lah. Orang pacarmu sendiri yang update di i********:. Caption-nya ... akhirnya, aku lepas juga dari batang korek." Semua orang pun tertawa lebih keras. Aku tertunduk malu. Rasanya setelah ini, aku mau mengundurkan diri jadi Eki. Dengan sisa semangat yang kupunya, aku pun berusaha mengalihkan pandangan dari kejamnya dunia. Seandainya saja hari sialku tertulis di kalender, mungkin aku akan memilih untuk pura-pura pingsan saja hari ini. Sambil berusaha abai, aku melanjutkan langkah menuju tumpukan karung yang sudah menjadi jatah pengantaranku hari ini. “Pagi Bang Ek!” sapa salah satu admin perempuan yang merupakan anak dari pemilik jasa pengiriman tempatku bekerja. Dia kebetulan sedang mencatat data pengiriman di dekat karung milikku. “Pagi, Gina.” Aku menjawabnya singkat. “Bang Ek. Mau aku kasih kata-kata penyemangat, gak?” Tawaran Gina sedikit menciptakan kehangatan di telingaku. “Boleh-boleh." Aku mulai excited dengan bentuk perhatiannya. “Kata-katanya adalah ....” Gina menaruh lengannya di pundakku. Perut sixpack-ku semakin naik-turun melihat wajahnya yang licin kayak ubin masjid. “kalau Abang gagal, jangan cepat putus asa, tapi berusahalah lebih keras. Siapa tahu, Abang gagal lagi.” Gina mengakhiri ucapannya dengan gelak tawa tak kalah heboh dari yang lain. "Awas kamu, ya. Aku doain semoga jodohmu Squidward dan ibu mertuamu Nenek Tapasya." "Lah ... Abang kok, tau Nenek Tapasya?" "Tau. Tetanggaan."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook