Akhirnya, dengan berat hati, Bayu mencoba melepas dendam di hati. Pemuda itu berusaha menerima meskipun di dalam hatinya begitu tersulut emosi.
Siapa manusia yang bisa diam saja melihat anggota keluarga disakiti, atau bahkan sampai kehilangan nyawa? Sungguh, Bayu tidak bisa melupakan apa yang menimpa almarhum dan almarhumah kedua orang tuanya. Bayu merasakan dendam yang begitu membara, terapi ia harus berusaha keras menahan itu semua demi menghormati keputusan Hafsah dan Jamil, dua orang yang menjadi pewaris rumah orang tuanya itu.
Meski begitu, Bayu tetap ingin mengusut, siapa dalang di balik hilangnya beberapa dokumen penting. Bayu juga masih ingin menyelidiki kasus Hafsah yang tiba-tiba ditemukan dalam kondisi bersimbah darah di dalam kamarnya sendiri.
Jika memang Bayu tidak bisa membalas perlakuan keji orang-orang itu, setidaknya hukum dunia harus tetap berlaku. Siapa pun nanti yang terbukti menjadi dalang atas semua peristiwa ini, ia harus menerima konsekuensinya, masuk ke dalam buih.
Begitu pula dengan Haya. Kakak tertua di rumah itu, begitu setuju dengan niat Bayu yang ingin membawa permasalahan ini ke proses hukum. Kiriman-kiriman gaib memang tidak mungkin dibahas dalam berita acara kepolisian. Namun, kasus menghilangnya berkas-berkas dan uang tabungan Haya, harus segera diusut sampai tuntas.
Pada malam melelahkan itu, Bayu dan yang lainnya pun beranjak ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Semua hal yang menyangkut pemagaran gaib, telah selesai dilakukan oleh Abi Malik dan Mas Jamil.
Abi Malik pun menginap di rumah Hafsah selama beberapa hari. Setidaknya, sampai malam tahlilan ibu mereka yang kesembilan dua hari mendatang.
Meksi ragu-ragu, Haya tetap bersedia menginap di rumah adiknya itu satu malam. Tidak mungkin juga wanita itu minta diantar pulang jam dua dini hari. Semua orang sudah tampak lelah. HaYa memutuskan untuk tetap menginap, apalagi suaminya belum juga bisa dihubungi.
“Mas Beno ke mana, sih? Aku yakin, pasti Mas Beno belum pulang ke kontrakan. Karena kalau Mas Beno sudah pulang, dia pasti akan langsung menghubungiku dan bertanya kenapa aku tidak di rumah.” Haya bergumam di tempat tidurnya.
Wanita yang usianya hampir kepala empat itu memang merasa kesal terhadap perlakuan Beno selama ini. Namun, Haya tetap tidak mengelak rasa dan asa yang masih betah singgah di dalam dirinya. Haya tidak bisa membenci suaminya. Meski kesal, rasa khawatir dan gelisah itu, tetap masih ada.
Jamil dan Hafsah pun sudah berada di kamar mereka. Tidak butuh waktu lama bagi Jamil menidurkan Lala karena bocah enam tahun itu sudah sangat mengantuk dan tidak kuat membuka mata. Abi Malik juga sudah istirahat di kamar tamu. Kini, giliran Hafsah yang memberanikan diri bertanya, apa maksud ucapan Jamil di telepon beberapa saat lalu.
Hafsah benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kiriman bala. Hafsah hanya bisa menerka-nerka tanpa tahu arti dari dua kata itu.
“Mas, memangnya ... kiriman bala itu, apa, sih? Aku benar-benar tidak mengerti. Tapi yang aku yakini, kiriman itu pasti memiliki tujuan yang tidak baik untuk keluarga kita.” Hafsah membuka obrolan saat Jamil hendak naik ke atas tempat tidur.
“Biar Mas jelasin sama kamu. Waktu Mas bertemu dengan Abi Malik, Abi bilang wajah Mas ini begitu gelap dan tidak bercahaya. Mas berpikir, mungkin karena banyak debu saat mengeluarkan mobil dari garasi, jadi wajah Mas sedikit kotor.”
“Taoi ternyata tidak. Abi saat itu langsung memegang pipi Mas. Dan Abi langsung terperanjat karena ternyata Mas sedang diincar oleh dua orang yang akan mengirimkan bala malam ini ke rumah. Dari penglihatan Abi sendiri, foto Mas dipakaikan di sebuah boneka yang boneka itu kemudian diperuntukkan untuk ritual ilmu hitam.”
Mendengar pernyataan sang suami, Hafsah sempat membisu dan menggeleng dua kali.
“Astagfirullohaladziim. Seram sekali, Mas.” Hafsah menutup mulutnya dengan tangan.
“Iya. Mas juga tidak pernah berpikir kalau Mas akan dijahati oleh orang. Apa salah Mas, ya? Padahal selama ini, Mas tidak pernah berbuat macam-macam, dan Mas juga sebisa mungkin berkata yang baik dan tidak menyinggung perasaan orang lain.” Jamil menatap wajah istrinya nanar.
Hafsah menghela napas panjang. Wanita yang sudah melepas kerudungnya itu, memiringkan kepala, lalu bersandar pada bahu suaminya.
Hafsah juga sama sekali tidak mengira, ada orang jahat yang tega mengincar keluarganya. Pertama dua orang tuanya, kemudian Hafsah. Lalu sekarang, suaminya justru kembali menjadi sasaran selanjutnya.
Semua kejadian-kejadian yang Hafsah alami, membuatnya semakin ingin pergi dari rumah yang ia tempati. Hafsah berpikir, rumah sebesar apa pun, jika tidak membawa ketenangan bagi para penghuninya, pasti tidak akan nyaman.
Pada malam itu, Hafsa pun membuat permintaan pada sang suami, agar kelak mengajaknya pindah ke luar kota, tempat suami bekerja. Hafsah tidak ingin ditinggal hanya berdua saja dengan Lala. Jika Hafsah mengikuti suaminya, mungkin semua teror mistis akan hilang dan Hafsah bisa hidup dengan tenang.
Masalah rumah warisan yang orang tuanya berikan, Hafsah berniat untuk menjualnya saja. Akan tetapi untuk hal itu, ia harus menemukan dulu di surat-surat tanah yang hilang.
Hafsah sedikit takut, jika ada orang yang sengaja mengambil sertifikat tersebut, lalu menggunakannya untuk hal-hal tidak baik. Jika benar, sudah dipastikan surat tanah itu akan dilelang atau digadaikan oleh seseorang yang mencurinya.
Hafsah hanya bisa pasrah jika memang benar rumah yang akan telah menjadi harta warisannya ini akan berpindah tangan kepada orang lain. Yang Hafsah takutkan hanyalah, jika rumah yang ia tempati sedari kecil itu, jatuh ke tangan orang yang tidak tepat. Jatuh ke tangan Beno misalnya.
Jamil yang mengerti kekhawatiran sang istri, memilih untuk menyudahi pembicaraan pelik ini. Dia tidak mau Hafsah semakin menduga-duga yang hanya akan menambah beban pikirannya saja.
***
Keesokan pagi, Haya bergegas menuju pasar untuk membuka kios lebih awal. Meskipun mengantuk karena peristiwa semalam, wanita itu tetap bersemangat demi kembali mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Uangnya di dompet hanya tersisa dua puluh ribu dan ia tidak bisa menebeng Bayu karena pemuda itu sudah berangkat lebih dahulu selepas subuh.
Haya merasa tidak enak meminta diantar oleh adik iparnya. Jamil sudah sangat kerepotan. Mengurus Hafsah, ditambah sedang ada Abi Malik yang menginap di rumah.
“Mbak ke pasar naik apa?” tanya Hafsah pada kakaknya yang masih berdiri di teras rumah.
“Anu, aku mau nunggu ojek aja,” Hafsah menjawab sambil terus mengedarkan pandangan ke depan jalan. Menyusur satu persatu kendaraan roda dua yang lewat.
“Diantar Mas Jamil aja, ya!” Hafsah berusaha menawarkan.
“Ah. Enggak usah. Sebentar lagi ojeknya nyampe, kok.” Haya menolak. Kali ini, matanya terus tertuju pada sebuah pesan di ponsel jadulnya.
[Saya sudah di depan rumah Bu Nilam. Kamu bisa ke sini?]
Sebuah pesan singkat berhasil membuat Hafsah senyum-senyum sendiri.
[Ke rumah aja. Ngapain berhenti di situ?]
Haya dengan lincah, membalas pesan tersebut sambil terus mengurai senyum.
Hafsah yang melihat itu, justru semakin penasaran. Di dalam pikirannya, wanita itu terus saja menerka-nerka, siapa gerangan yang sedang membuat hati kakaknya berbunga-bunga.
Apakah Mas Beno, tapi sepertinya tidak mungkin. Haya baru saja menceritakan perihal masalah rumah tangganya semalam.
Sampai sebuah sepeda motor tua lewat dan berhenti di depan pintu pagar rumah Hafsah, Haya pun langsung berpamitan pada adiknya.
“Mbak berangkat ke pasar dulu, ya! Terima kasih sudah jadi teman curhat Mbak. Kamu baik-baik di rumah. Nanti malam, kalau Mas Beno masih belum ada kabar, insya Allah Mbak akan menginap lagi,” ucap Haya sambil mengulurkan tangan.
“Iya, Mbak. Hati-hati di jalan, ya!” Balas Hafsah.
“Tapi ngomong-ngomong, Mbak ada uang tidak, buat bayar ojeknya?” Hafsah bertanya sembari merogoh saku roknya.
“ Eh, gak usah. Ini ojek gratis, kok.” Haya mendorong selembar uang lima puluh ribu ke adiknya lagi.
“Loh, ojek gratis. Maksud, Mbak?” Hafsah mengerutkan kening. Ditatapnya kembali sosok bertubuh tinggi yang tetap standby di motornya.
“Iya. Itu, kan, teman Mbak kecil dulu. Wijaya. Kamu ingat, gak?” ungkap Haya dengan wajah berbinar-binar.
“Wijaya?” Hafsah memutar bola mata ke atas, berusaha mengingat-ingat.
“Ya ampun. Mas Wijaya!” Hafsah langsung berjalan menghampiri setelah mengingat siapa sosok di atas motor di depan rumahnya kini.