Obsesi Beno

1103 Kata
“Bagaimana untuk kelanjutannya, Ki?” tanya Beno di sela membereskan sisa-sisa sesajen yang masih banyak tergeletak di lantai. Sajen-sajen itu rencananya akan dikirim ke salah satu makam yang orang desa percayai, jenazah yang terkubur di dalamnya adalah jenazah orang pintar semasa hidup. “Kamu sudah bawa pesanan saya?” Bukannya menjawab, Ki Mutar malah balik bertanya dengan lirikan tajam. “Bawa, Ki. Sebentar!” Dengan gerakan cepat, Bayu keluar mengambil sesuatu di dalam jok motor yang belum sempat ia keluarkan. “Ini, Ki!” ucap Bayu sambil menyodorkan dua buah botol kecil berisi minyak wangi berwarna cokelat kehitaman. “Yang lain?” Ki Mutar kembali menegaskan. Beno yang merasa tidak membawa persyaratan dengan lengkap, menggaruk-garuk kepala meskipun tidak gatal. Beno merasa tak enak sekaligus pusing memikirkan harus mencari uang ke mana lagi. “Sudah kuduga, kau tidak punya uang.” Seperti tahu betul isi hati pria di hadapannya, Ki Mutar langsung saja menekak Beno dengan sindiran menohok. “Ampun, Ki. Saya janji, dua sampai tiga hari lagi, uangnya pasti sudah terkumpul.” Beno berucap ragu-ragu. Ia takut, Ki Mutar tidak akan menerima permintaannya kembali setelah ini. Beno benar-benar tidak punya cuku4 uang untuk membayar Ki Mutat. Uang senilai satu koma tujuh juta di kantongnya, hanya tersisa tiga ratus ribu karena sudah ia pergunakan untuk membeli minyak wangi seharga tuju ratus ribu satuannya. Beno sama sekali tidak menyangka harga minyak wangi akan semahal itu. Sisa uang yang ia pegang, sudah tak lagi cukup untuk menggenapkan harga yang diminta Ki Mutar untuk mengirimkan bala sebesar satu koma lima juta rupiah. “Kamu hanya punya berapa sekarang?” Pertanyaan Ki Mutar, sontak membuat Beno tersadar dari lamunan. “Ti-tinggal tiga ratus ribu, Ki,” jawab Beno terbata-bata. Malu, tentu saja. Ia sudah seharian menjalani ritual bersama dukun tersebut. Di saat perjanjian awal mulai dibicarakan, Beno justru kalang kabut karena tidak dapat memberikan sesuatu yang Ki Mutar harapkan. “Tiga ratus ribu? Kamu kasih saya tiga ratus ribu untuk mengirimkan tentara gaib ke rumah adik iparmu? Ciih!” Ki Mutar membuang ludah ke kanan. “Kamu pikir anak buah saya itu tukang ojek yang cuma dibayar pakai ongkos bensin?” Mata Ki Muter melotot sempurna. Ia merasa Beno kali ini sudah mempermainkan kepercayaannya. “Maaf, maaf, Ki. Ini sungguh di luar dugaan saya. Saya pikir, harga minyak wangi itu hanya sekitar lima puluh sampai seratus ribu saja. Saya tidak mengira harganya akan semahal itu.” Beno berusaha berdalih meski ia sendiri tak yakin Ki Mutar akan menerima alasannya. “Lalu, apa maumu sekarang?” Ki Mutar kembali menekan pertanyaan. Kali ini, nada bicaranya sedikit pelan, tidak semangat seperti sebelumnya. Beno sempat memalingkan wajah dan menatap ke arah lain. Ia ragu-ragu untuk berucap sementara uang di kantongnya sudah sangat menipis untuk diberikan lagi pada Ki Mutar. “Aku ingin malam ini juga, Jamil tewas, Ki,” ucap Beno tanpa mau menatap Ki Mutar secara langsung. Sang dukun yang sedang menikmati isapan tembakau pun mengangguk-angguk. Sambil duduk bersila, dinyalakan kembali dupa pada wadah arang yang telah dilumuri oleh kembang tujuh rupa. “Baik kalau begitu. Aku akan melakukannya. Tapi ... dengan satu syarat.” Ki Mutar melirik Beno sejenak. “Sa-syarat apa, Ki?” Beno terbata-bata bertanya. Ia mulai ragu dengan permintaannya lantaran takut syarat yang Ki Mutar ajukan akan sangat berat. “Aku ingin darah perawan. Pada malam selasa kliwon, kamu harus membawakannya untukku,” ucap Ki Mutar seraya memejamkan mata. “Darah perawan, Ki?” Beno mengulang pertanyaan. Namun, Ki Mutar tidak lagi meladeni karena sudah memulai kembali proses ritual. Beno yang masih bergeming di tempat, hanya diam memperhatikan Ki Mutar yang sedang komat-kamit di depannya. Sebuah boneka berpikir kain kafan lusuh di lemari di belakang Ki Mutar, tiba-tiba saja bergerak seperti ada yang memainkannya. Beno menatap ke arah boneka tersebut tanpa berkedip. Sejurus kemudian, Ki Mutar membuka mata dan kembali memerintahkan Beno untuk mencari sesuatu. “Cari ayam hitam, sekarang!” seru Ki Mutar dengan wajah kesal. Beno terkejut. Ia tidak berani menyahut lantaran uang yang hanya tinggal tiga ratus ribu. “Kenapa diam saja? Kamu tidak dengar apa kataku tadi?” bentak Ki Mutar dengan suara yang makin tinggi saja “A-anu, Ki. Uang saya hanya tersisa tiga ratus ribu. Takut tidak cukup untuk membeli apa yang aku perintahkan.” Beno semakin menundukkan wajahnya lebih dalam. Ia malu sekaligus takut. Namun, laki-laki itu tetap enggan menyudahi rencananya yang sudah ia pikirkan jauh-jauh hari. Beno hanya bisa berharap, Ki Mutar mau berbelas asih menerima permintaannya dengan bayaran yang akan ia tangguhkan beberapa hari mendatang. Atau jika sampai Ki Mutar menolak, Beno bersedia memberikan sepeda motor satu-satunya sebagai barang sitaan. “Cukup. Harga ayam hitam tidak sampai segitu. Kamu bisa cari di warga kampung sebelah. Jangan mencari di pasar karena harganya pasti akan lebih mahal,” jelas Ki Mutar. Beno mengangguk-angguk. Tanpa berpikir lama, laki-laki itu pun beranjak dari tempat duduknya menuju sepeda motor yang terparkir di teras rumah Ki Mutar. “Dasar bocah gendeng! Kalau aku tidak memikirkan perut, aku tidak akan mau menerima permintaan orang melarat sepertimu. Bayaran kemarin saja masih belum lunas. Sekarang, dia sudah minta macam-macam lagi tanpa bisa kasih banyak uang. Cih!” Ki Mitar menggerutu sambil menyundut kembali lintingan tembakau di tangan. Asap yang keluar dari mulut Ki Mutar, bercampur menjadi satu dengan asap bakaran kemenyan di hadapannya. Lelaki setengah baya itu merasakan perih di bagian perut. Jelas saja, sejak pagi, ia belum sama sekali bertemu dengan nasi, padaal ia sendiri sedang tidak berpuasa hari ini. Sudah beberapa hari, Ki Mutar hanya makan satu kali sehari. Itupun hanya satu porsi nasi dan tumis daun mengkudu yang ada di belakang rumahnya. Bukan tanpa alasan Ki Mutar melakukan hal itu, keadaan keuangan yang buruk, membuatnya tak lagi bisa merasakan santapan nikmat semasa hidup. Ki Mutar mulai merasa bosan dengan profesinya sebagai orang pintar. Kemajuan zaman dan tingginya tingkat pendidikan, membuat orang-orang yang tinggal di desanya tidak lagi menggunakan jasanya untuk mengobati penyakit. Orang-orang desa sekarang, lebih memilih pergi ke dokter untuk berobat. Hanya sebagian kecil saja yang masih mempercayainya, itu pun hanya sekadar untuk menolak bala. Bayaran yang diterima Ki Mutar pun beragam. Dari puluhan, sampai ratusan ribu rupiah, tergantung tingkat kesulitan penanganannya. Terakhir kali ia meminta bayaran besar adalah saat mengobati Hafsah, itu pun ia lakukan atas permintaan Beno yang nantinya akan dibagi dua dengan laki-laki itu. Nahas, sampai sekarang, Ki Mutar belum juga mendapat uang sisa bayaran yang Keluarga Hafsah janjikan. Beno melarangnya untuk menagih ke rumah Hafsah lantaran ada Jamil yang sudah pulang ke sana. Oleh sebab itulah, Beno ingin membuat Jamil tersingkir, atau mungkin mengalami kesakitan terlebih dahulu agar ia bisa dengan mudah kembali memeras keluarga istrinya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN