You are Mine

1104 Kata
Bak sebuah pepatah yang mengatakan, pucuk dicinta ulampun tiba.... Sepertinya nasib baik memang sedang berpihak pada Eve. Tanpa menunggu lama, dengan status Keenan yang beberapa minggu belakangan ini memang melajang, tembakan maut untuk Eve siap dia lancarkan. "Yes, I do...." dengan pipinya yang bersemu merah Eve menerima permintaan laki-laki yang menekuk lututnya itu untuk menjadi kekasihnya. Suatu momentum yang membuat beberapa orang teman lelakinya ngomel sendiri karena kecewa. "Target lu keduluan si kumbang jantan..." celetuk salah satunya. "Kasian....seminggu lagi juga jadi mantan..." "Hooh, mending juga sama gua, menyandang status mantan pacar itu ya kalau sudah jadi bini gua...ckckckckckck pilih pilih tidak kepilih itu si kucing betina..." decak yang lainnya. No comments, itulah yang dilakukan sepasang kekasih yang sedang kasmaran ini. Mereka terlihat sangat serasi. Sepasang otak cerdas dan paras rupawan. Dapat di bayangkan hasil persilangan mereka pasti best of the best kalau sampai naik ke pelaminan. Tak terasa kebersamaan mereka lewat sudah hampir 6 bulan. Pandangan sinis dan iri kaum hawa fans Keenan tentunya sudah jadi makanan sehari-hari. "Mereka sepertinya ingin mencakar-cakar wajahmu Eve..." Wina bergidik ngeri melihat ekspresi wajah mereka. "Kenapa?" tanya Eve dengan santainya. "Tentu saja karena kamu pacaran sama Keenan bisa lama sampai sekarang....!!" "Mereka bukan termasuk golongan ras kucing Win, tidak akan mencakar...." bisik Eve sambil terus melangkah dengan anggunnya menyusuri koridor gedung fakultas menuju halaman luar. "Haiizzzz.... terserah kau saja! berhati-hatilah..." Keduanya berpisah di ujung lorong. Wina enggan jadi obat nyamuk menemani Eve sampai sore di tempat kostnya Keenan. Tinggal beberapa bulan lagi, seharusnya jadi moment-moment terakhir yang akan Keenan habiskan di kampus karena dia sedang menjalani semester terakhirnya dan dalam proses penyusunan skripsinya yang terjal. "Aku perlu riset lanjutan..." Keenan menekan tengkuknya seperti orang kehilangan harapan. "Lalu kenapa tidak dilakukan?" Eve yang sepaham dengan ilmu yang Keenan pelajari tentu saja mengerti. "Dananya besar..." akhirnya ganjalan di hatinya keluar juga setelah sejenak terdiam. "Berapa yang diperlukan?" Eve duduk mantap menghadap kekasihnya. Sangat menyedihkan melihat laki-laki yang dicintainya bermuram durja seperti sekarang. "Terlalu besar, jangan ikut kamu pikirkan.." Keenan dengan lembut membelai pucuk kepala Eve dan mengecup dahinya. Matanya kembali fokus ke layar laptop yang beberapa bulan lalu dibelikan Eve karena miliknya rusak parah dan Tidka bisa lagi dibetulkan. "Katakan...." Eve menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Keenan dan mengarahkan untuk kembali melihat ke arahnya. Rupanya Eve sudah tahu, Keenan juga berterus-terang. Kekasihnya ini adalah seorang yatim piatu yang bertahan hidup dan mendapatkan pendidikan setinggi ini sampai sekarang karena faktor keberuntungan. Dia dikarunia anugerah otak yang cerdas membuatnya dibanjiri beasiswa. Dia juga memiliki tampang yang di atas kata lumayan. Membuat tak sedikit orang menjulukinya jual tampang untuk mendapatkan yang dia butuhkan. Mobil yang dikendarainya sampai sekarang statusnya bahkan kredit di bank dengan entah cara apa laki-laki itu membayar cicilannya Eve sungkan untuk menanyakan. "Kak, katakan...." Eve yang dibutakan dengan segala pandangan miring orang-orang tentang Keenan seolah tak peduli. Keenan menatap mata keabuan itu dengan cara yang tak biasa. "Tidak usah Eve...." jawabnya seolah tahu Eve pasti akan mengucurkan sejumlah dana seperti yang beberapa bulan belakangan ini selalu dia lakukan setiap kali Keenan memerlukan bantuan. "Ayolah...." Eve tak gentar untuk rela berkorban. ***** "100 juta ?!" dengan terkejut seorang pria berambut putih kembali duduk di meja kerjanya setelah sesaat tadi beranjak ingin pulang dengan tamunya. "Anda baik-baik saja Pak Hamzah?" tamunya terlihat khawatir. Pria berambut putih yang bernama Hamzah itu mengangkat tangannya dan menganggukkan kepala menyatakan dia baik-baik saja. "Ayolah Pa...sekali ini lagi saja. Kak Keenan memerlukannya untuk riset lanjutan, plizzzz....." Pria itu mendengus resah. Sebenarnya ada rasa mengganjal di hatinya mengenai hubungan putri tunggalnya itu dengan laki-laki yang bernama Keenan beberapa bulan belakangan ini. Walau sedikit banyak telah berubah setelah menjalin hubungan dengan putrinya, tapi rumor tak sedap tentang perilakunya tetap terdengar. "Eve, kamu sadar sudah berapa banyak rupiah yang kamu berikan padanya nak?" "Ya...tapi setelah lulus dia pasti akan mendapatkan pekerjaan yang bagus Pa. Kak Keenan janji akan mengembalikannya..." Eve terus membujuk. Hamzah melirik sepintas tamunya. Kemudian meneruskan berbicara dengan Eve yang terus merengek tak henti. "Ayolah Pa, Eve akan ikut sedih kalau Kak Keenan tidak dapat menyelesaikan semua ini...??" Hamzah menimbang dan menimang permintaan putrinya. 100 juta bukan selembar uang yang bisa di cari dengan mudah di dunia ini. "Baiklah, tapi kamu harus berjanji pada Papa akan menuruti apapun permintaan Papa setelah ini..?" Hamzah tersenyum penuh arti saat Eve menyahut dengan cepat tanpa berpikir lagi. "Tentu saja Pa... Terimakasih.....!!!" soraknya girang. Tangannya telentang lebar menyambut pelukan Keenan yang sesaat tadi dalam kondisi tegang menunggu jawaban. "Thank you....you are the best one Eve..." tak hentinya Keenan menghujani wajah kekasihnya dengan kecupan kecupan lembut dan berlabuh di bibir ranum Eve yang baru dialah laki-laki pertama yang menyesap manis rasanya. Gerakan lincah memabukkan yang sudah lihai dimainkan oleh seorang laki-laki seperti Keenan. Sangat berhasil menuntun Eve yang polos dan belum tersentuh siapapun juga. "Arghhhh....kak hentikan....!" erangan syahdu Eve malah semakin mendongkrak hasrat Keenan untuk berpacu. "Jangan....!" Eve berusaha meloloskan diri dari pagutan bibir Keenan yang semakin liar. Jemari lentiknya sibuk menahan jari jemari kokoh Keenan yang tanpa dia sadari sudah berhasil menerobos masuk menyambangi salah satu aset berharganya. "Sedikit saja.... " bisik Keenan sambil mendesak mundur Eve dan mendudukkannya di atas meja belajar setelah terlebih dahulu memastikan laptop barunya tidak akan rusak lagi. "Arghhh....kak, plizzzz hentikan..." pinta Eve memohon di sela deru nafasnya yang tak kuasa menahan sentuhan-sentuhan eksotis Keenan di kedua aset berharganya secara bergantian. Darahnya berdesir hingga ke ubun-ubun kepala. Mulutnya menolak, tapi otaknya justru memberi instruksi pada tubuhnya untuk bekerja terbalik. "I want you...." bibir lincah Keenan bermain di kulit putih mulus leher Eve yang jenjang. Rok model payung sepanjang lutut yang dia kenakan sudah tersibak naik mempertontonkan paha mulusnya. Membuat mata Keenan semakin berkilat karena gairahnya yang menggebu tak tertahan. Jari jemarinya beralih meraih sesuatu yang mulai basah di bawah sana, di balik rok yang Eve kenakan. "Stop it....!!!" pekik Eve yang refleks melepaskan pagutan bibir mereka dan hampir saja menendang Keenan kalau laki-laki itu tidak buru-buru menghindar. Berulangkali selama beberapa bulan kebersamaan mereka, Eve memang berbeda. Dia bukan perempuan seperti kebanyakan yang jadi mantannya. Pertahanan dirinya luar biasa. "Sorry......" Keenan buru-buru menyatukan kedua telapak tangannya dan memasang tampang penuh penyesalan untuk meminta maaf. Tangan kokohnya terbentang lebar saat Eve dengan kesal memukuli d**a bidang itu bertubi-tubi. "Sorry Eve...., aku hanya terlalu bahagia..., jangan marah ya? aku mencintaimu...." bujuk Keenan dengan kata-kata pamungkasnya. Dan lagi-lagi atas nama cinta Eve tidak akan sulit memaafkan Keenan atas tindakannya. "Ya...." jawabnya lesu sambil menguasai nafasnya kembali supaya teratur. "Do you love me?" Keenan melebarkan senyumnya yang meluluh lantakkan jiwa para kaum hawa saat Eve tanpa ragu menganggukkan kepalanya dengan cepat. "You are mine Eve...." Gumam laki-laki ini dalam hati. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN