bc

Love After Lost

book_age18+
8
IKUTI
1K
BACA
second chance
goodgirl
drama
bxg
soldier
city
regency
gorgeous
seductive
civilian
like
intro-logo
Uraian

Warning....⚠️

Beberapa konten yang muncul nantinya mungkin harus disesuaikan dengan usia pembaca yaa🔞

Ada pepatah Jawa mengatakan,

"Witing tresno jalaran soko kulino"

Artinya kurang lebih begini,

"Cinta akan ada karena terbiasa."

Tapi, bagaimana jika cinta itu ada saat yang terbiasa sudah tak ada lagi?

Hi, gadis berparas cantik dengan tubuh molek ini bernama Evelyn Hamzah. Putri tunggal seorang duda kaya yang digandrungi banyak laki-laki disekelilingnya.

Hidupnya nyaris sempurna sampai saat pertemuannya dengan seorang laki-laki yang dibawa pulang Ayahnya berujung pada kata Sah yang diucapkan saksi di depan penghulu.

"Evelyn, perkenalkan ini nak Arkhan...."

Bagaimana kelanjutan biduk pernikahan keduanya di saat Eve sudah memiliki sendiri tambatan hatinya?

Seorang laki-laki yang setengah mati selalu memujanya selama ini. Cinta pertama dan satu-satunya yang pernah dimiliki oleh seorang Evelyn.

Akankah pernikahan mereka bisa dipertahankan?

Atau akan berakhir begitu saja, meninggalkan luka bagi Arkhan yang dengan tulus mencintai Evelyn dengan segala perangainya.

Atau bahkan akan menjadi cerita panjang yang akan menguras emosi dan air mata?

Ada yang penasaran?

Yukssss diintip dulu,

Boleh diluangkan waktunya untuk membaca yaaaa😊🙏

chap-preview
Pratinjau gratis
Love is Blind
"Ev....watch out...!!!" Bruuuukkkk..... Suara gaduh langkah kaki yang mendekat terdengar bergemuruh di telinga Eve yang samar-samar kehilangan kesadarannya. Pandangan matanya kabur. Rasa pening merambat masuk terasa menusuk-nusuk kepalanya yang berdenyut sakit. "Ev...you OK?" suara dengan nada khawatir tak hentinya memanggil nama Eve sejak tadi. "Dia baik-baik saja?" suara bariton seorang laki-laki mendongkrak kesadaran Eve saat bayangannya mulai jelas tertangkap manik mata keabuannya. Kelopak mata yang dipayungi bulu mata lentik asli ciptaan Tuhan itu tak hentinya mengerjap. Bagai mimpi, laki-laki yang tak pernah sedetikpun melirik ke arahnya saat ini sedang menelisik keadaan dirinya. Laki-laki berkostum khas pemain basket itu duduk jongkok tepat di sisi Eve yang mencoba bangkit dari posisinya yang telentang dengan bantuan uluran tangan perempuan yang begitu mengkhawatirkan kondisinya. "Mana yang sakit?" "Aku baik-baik saja Win...." gleg... Eve meneguk air liurnya dengan susah payah. Merasa salah ucap saat denyut dikepalanya terasa semakin menjadi-jadi, bertolak belakang dengan kata-kata yang baru saja diucapkannya. "Oh no...apa yang terjadi?? aku masih ingin melihatnya dalam jarak dekat seperti ini..." dengan bodohnya Eve masih sempat memikirkan laki-laki itu daripada dirinya yang mulai kehilangan kesadaran. Tiba-tiba bumi terasa berputar. Bayang laki-laki yang bersamanya samar-samar menghilang. Seiring dengan tepukan bertubi-tubi di kedua pipinya dan panggilan khawatir Wina yang tiada henti. ***** ciittttt..... Suara rem diinjak mendadak karena pengendaranya mendapatkan instruksi mendadak pula untuk berhenti di sana. "Maaf...." "Kenapa meminta maaf? Tunggu di sini, aku antar turun. Nanti mobilmu Chris yang antar bersama temanmu tadi..." ucap laki-laki itu sembari turun dari pintu sisi kanan mobilnya. klik... Seatbelt terbuka. Tangan kokoh itu masih dalam posisi melingkari separuh tubuh Eve yang menahan nafas untuk tidak terlalu terlena dengan aroma maskulin laki-laki yang bersamanya. "Aduh, dia benar-benar membuat hatiku keracunan virus, virus cinta...." gumamnya sambil terkikik sendiri di dalam hati. Mata Eve tak lepas dari memandangi sosok laki-laki yang tadi memutari mobil dan membukakan pintu untuknya. Laki-laki yang membopongnya dari lapangan ke Ruang Unit Pelayanan Kesehatan saat dia tak sadarkan diri sesaat tadi. Laki-laki yang menopang tubuhnya supaya tidak terhuyung dan mengantarkannya pulang saat ini. Laki-laki pertama yang berinteraksi sedekat ini dengannya. "Masih sakit ya?" tanya laki-laki itu melihat Eve masih saja terbengong duduk di kursinya ketika pintu sudah dibuka lebar dan tangannya terulur untuk membantunya turun. "Eh, tidak....aku baik-baik saja..., Aku bisa jalan sendiri.." Eve menyembunyikan wajahnya yang mungkin saat ini merona. Untung saja memar bekas hantaman bola basket di wajahnya cukup membantu menyamarkan rona malu yang menghiasi wajahnya sekarang. Rasa peningnya juga sudah berangsur hilang. Jadi dia bisa berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain untuk berpegangan. "Silahkan masuk..." setelah melewati gerbang tinggi yang dibukakan oleh Satpam dan pintu utama yang langsung dibukakan oleh pembantu, Eve mempersilahkan tamunya untuk duduk di ruang tamu super eksklusif di rumahnya. "Kak Keenan mau minum apa?" Eve meletakkan barang bawaannya dan menawarkan minum. "Apa saja...." jawab Keenan cepat. Eve segera berlalu menuju dapur. Meninggalkan Keenan yang diam-diam sedang terpesona dengan pemandangan sekilas dari interior rumah mewah yang baru saja dimasukinya. "Pantas saja banyak laki-laki yang mengejarnya...." Gumam Keenan menyadari perempuan yang tidak lain adik tingkatnya ini ternyata selain cantik dan berbody apik, ternyata juga seorang anak keluarga kaya raya. Walau tak pernah serius memperhatikan keberadaan Eve selama ini, tapi pamor perempuan itu di mata laki-laki cukup dia ketahui. Keenan Abimanyu, laki-laki ini berusia masih sangat muda, 22 tahun. Mahasiswa Teknik Kimia semester akhir kampus bergengsi di Ibukota. Otaknya yang encer membuatnya mengantongi sederet prestasi dan juga sponsor beasiswa. Paras dan postur tubuhnya jangan ditanya lagi. Mantan ketua BEM ini digandrungi banyak mahasiswi segala jurusan di kampusnya. Jadi jangan heran kalau setiap bulan atau bahkan minggu dia dapat dengan mudah mendapatkan pengganti untuk teman kencan malam minggunya. Laki-laki dengan penampilan bak titisan dewa Yunani ini tidak perlu bersusah payah mengejar perempuan. Baginya perempuan akan datang mengantri sendiri untuk mengencaninya dan dengan bangga mereka sukarela menyandang status sebagai mantannya. "Diminum kak...." suara lembut Eve menyadarkannya dari segala macam hal yang dia pikirkan. Sebelum meneguk air hangat berwarna kehitaman dalam cangkir yang pasti barang mahal ini Keenan melirik sepintas wajah Eve yang ternyata cukup efektif membuat jantungnya berdetak naik satu oktaf. Mahakarya Tuhan yang duduk manis di depannya sekarang. "Menarik...." bisik hatinya sambil tersenyum simpul sebelum menyeruput teh di cangkirnya. Evelyn Hamzah. Perempuan cantik ini berusia 20 tahun. Putri tunggal seorang duda kaya yang sukses di bidang usaha yang digelutinya. Banyak laki-laki yang mengejarnya, tapi sayang tak ada satupun dari mereka yang sanggup membuat hatinya bergetar. Dia adalah adik tingkat Keenan yang diam-diam sudah jatuh hati padanya sejak hari pertama OSPEK di kampusnya. Bahkan laki-laki yang terkenal sebagai seorang player ini masih saja mendekam di relung hatinya yang terdalam. "Jangan menatapku dengan cara seperti itu..." Eve merasa canggung saat manik hitam legam Keenan tak lepas memandanginya. "Jangan lupa mengompresnya. Besok pagi aku yang jemput jangan berangkat sendiri. OK?" Keenan menyentuh pelan sebelah kanan pipi Eve yang memar karena ulahnya. Siang tadi dia sedang asyik bermain basket saat Eve memang sengaja berdiri di bibir lapangan untuk menyaksikan laki-laki yang diam-diam memang mencuri hatinya. Tak disangka kejadian nahas ini malah berujung pada kedekatan yang sepertinya akan berlanjut sesuai harapan hati Eve yang masih tidak percaya Keenan ada di hadapannya, bahkan di rumahnya. Deru mobil yang datang terdengar, diiringi suara gerbang yang terbuka dan juga percakapan antara beberapa orang yang salah satunya sangat Keenan kenal milik siapa suara itu berasal. "Diammu aku anggap OK. Sampai ketemu besok pagi Eve..., lekas baik yaaa...." Keenan beranjak berdiri. Di luar dugaan Eve yang masih terbengong, Keenan tanpa permisi mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipinya yang lebam. "Kak....!" pekik Eve pelan dengan matanya yang membulat antara terkejut dan senang. Untung saja bola mata itu tidak sampai terloncat keluar. "Kamu cantik Eve, sekalipun pipimu sedang memar karena ulahku." Keenan tersenyum. Senyum menawan yang memporak-porandakan pertahanan hati seorang Eve untuk tidak lebih jatuh hati lagi. Jemarinya refleks menyentuh bagian yang tak terduga akan mendapat kejutan seperti itu. Sentuhan yang membuat hatinya begitu berbunga-bunga. Selepas Keenan pergi, masih dengan terbengong menatap mobilnya yang sudah terparkir di halaman diantar Chris dan Wina, Eve meraba d**a kirinya. "Oh Tuhan, jangan biarkan jantung ini terlepas dari tempatnya....." gumam Eve dalam hati. "Jangan berpikiran yang terlalu jauh Eve..." Wina menyentil dahi Eve berharap sahabatnya itu bisa kembali kewarasannya. "Dan tolong jangan mematahkan harapan Win...." ucap Eve dengan pipi yang bersemu merah cukup membuat Wina jengah. Bola matanya berputar sambil berkacak pinggang menatap Eve gregetan. "Kamu tahu sendiri buaya darat macam apa dia. Berhenti memikirkannya...!" Wina tak kunjung bosan menasehati. "Siapa tahu dia akan berubah saat aku yang berada di sisinya." Cinta itu buta. Ya, mungkin ini yang sedang seorang Evelyn alami saat ini. Dimatanya tak ada hal buruk tentang Keenan walau itu sudah rahasia umum perusahaan. Baginya Keenan adalah laki-laki terkeren yang pernah dia jumpai. Smart person dengan segudang prestasi baik non maupun akademik. Seorang laki-laki supel yang dekat dengan hampir semua kalangan mahasiswa bahkan dosen dari fakultas mana saja. Memang satu minusnya, Keenan terlalu sering berganti teman kencan. Tapi, rupanya Eve cukup memiliki kepercayaan diri yang tinggi bisa membuat Keenan jatuh hati dan tak akan pernah berpaling pada perempuan lain lagi. *****

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook