Ajeng menangis lagi. Setiap kali melihat nama kontak Ale, atau melakukan apa pun yang berhubungan dengan cowok itu, dia selalu menangis. Menangis, karena dirinya sangat merindukan sang pacar. Rindu dan juga rasa bersalah menyerangnya. Bersamaan dengan kekhawatiran yang beberapa hari ini menghantui. Khawatir bahwa Ilham akan menyebarkan foto laknat itu. Foto yang dirinya sama sekali tidak pernah melakukannya. Dia takut foto itu tersebar, tetapi juga tidak mau melakukan hal yang diperintah oleh Ilham. Kembali pada cowok itu, apalagi setelah peristiwa ini, rasanya sama saja menyerahkan diri sendiri pada seorang penjahat. Dia sungguh tidak mau berhubungan dalam hal apa pun dengan seorang Ilham Prana. Setiap hari, bahkan setiap saat, Ajeng ingin sekali menelepon Ale dan menceritakan apa y

