Rewind 3

4184 Kata

 “Gila! Dingin banget, bray!” Galih merapatkan jaket berbahan jeans yang dikenakannya. Cuaca akhir-akhir ini memang tidak menentu; pagi menjelang matahari sudah muncul, dan beberapa saat kemudian berubah mendung—bahkan bisa dikatakan gelap. Tidak jarang juga turun hujan ketika matahari sedang terik-teriknya. Mahasiswa yang kebetulan sedang berada di luar gedung pun berlarian, menyelamatkan diri dari guyuran hujan. Galih pernah mengalami itu, sehingga pakaian bagian atasnya basah. Alhasil, teman Ale itu pun bolos kelas terakhir. “Iya. Biasanya panas banget,” timpal Fatir. “Kalau panas dingin mah namanya meriang.” Ale menimpali, membuat kedua temannya terbahak tak karuan. “Si any*ng bisa aja, dah.” Galih menepuk keras bahu Ale. Ale balas menepuk Galih di bagian tangannya. Beberapa saa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN